Manisnya Madu

Manisnya Madu
80


__ADS_3

Di rumah sakit Bagus di ruangan inapnya, walaupun marah Shopie benar benar sedih dan tak berdaya. Sekarang ia di posisi yang lemah.


Cuma dalam hati ia bersumpah kalau urusan program kelar mau nusuk perut si Johan pakai pisau buah, kan gak mati ini cuma bikin ususnya terburai seperti zombi, benar benar gak punya hati tuh orang.


"Kau, benar benar keterlaluan Johan!" ujar Shopie suara pelan, mendengar ancaman Johan barusan.


Niah dapat melihat ada air bening menggenang di sudut mata Shopie, Johan melepaskan genggaman tangannya pada Niah lanjut memeluk nya mencium ubun ubunnya.


Apa wajar sebagai Bapak dan anak mereka peluk pelukan mesra begitu.


Batin Shopie menatap Niah dan johan bergantian, tubuh mereka benar benar menempel di bagian depan. Air jatuh meluncur membasahi kedua sisi wajah Shopie.


Melihat itu Johan menarik nafas kasar, hah!


"Shopie dari awal kamu sudah setuju bahwa hubungan kita cuma sebatas partner di ranjang, hak guna pakai, jadi jangan bawa perasaan. Kamu bisa menikmati tubuhku, dapat bayaran yang lebih dari cukup daripada kamu menjual dirimu di luaran," jelas Johan menahan suaranya, masih mencium cium ujung kepala Niah.


Niah prihatin melihat Shopie yang nelangsa. Saat Johan meraih dagunya, Niah jengah mendorong Johan membuang muka saat Johan berusaha mencium nya. Johan membesarkan matanya, belum mau melepaskan Niah.


"Aku mau ke toilet, ganti pembalut," ujar Niah melepas paksa dirinya dari Johan, masuk ke dalam kamar mandi ruangan Shopie.


Apa! Hak guna pakai.


Batin Niah menghidupkan air keran terduduk di kloset, melamun. Melihat kenyataan nasib Shopie, Niah semakin ingin kabur dari Johan tapi gimana caranya.


Sementara Shopie sudah bertekad mempertaruhkan nasib dirinya, sekarang atau gak akan dapat kesempatan lagi setelah ini.


"Johan, aku akan mengandung anak kamu dan Dewi, aku tuh cuma butuh dukungan moril dari kamu. Sebagai penyemangat, cuma minta kamu nengokin aku, apa susahnya. Kamu juga gak perlu meluk meluk atau cium cium aku kayak barusan pada Niah," Shopie jeda, menahan sebak di dadanya, menghela nafas pelan, ha!


"Karena kamu sudah datang, ya terima kasih. Aku tetap akan melanjutkan program, tapi aku juga butuh jaminan," Shopie suara lembut menatap ke iris Johan, gak guna juga pakai emosi hanya akan mempercepat hidupnya berakhir di jalanan.


Hm, Johan mengernyit mencoba menangkap maksud Shopie.


"Berikan aku surat Apartemen asli sebelum hari senin dan pembayaran dimuka lima puluh persen," ujar Shopie suara tegas lalu berbaring menutup tubuhnya dengan selimut memunggungi Johan.


Hm, Johan menghela nafas menoleh ke Devan yang diam saja di sofa jadi pendengar yang budiman. Johan memberi kode Devan agar memberi apa yang diinginkan Shopie.

__ADS_1


Ck, ck ck. Devan berdecak kemudian melengos malas memandang wajah Johan fokus ke ponselnya.


Pesan masuk di ponsel Johan, "Devan, siapkan mobil!" titah nya buru buru, menghampiri kamar mandi ruangan Shopie.


Hah, desah Devan segera berdiri berjalan menuju pintu keluar.


Tok tok tok.


"Niah," panggil Johan mengetuk pintunya.


Dor dor dor.


"Niah," panggil Johan gak sabar lalu menggedor.


Cklekk.


Pintu kamar mandi dibuka, Niah keluar wajahnya basah barusan cuci muka menghapus make up-nya, belum kelar udah digedor.


"Ayo jemput Dewi sekarang, lebih baik menunggu daripada dia kabur entar," ujar Johan menarik Niah keluar dari ruang inap Shopie


Shopie berbalik badan, saat pintu ditutup ruangannya jadi sunyi.


Hm, kenapa Dewi mau kabur dari Johan, apa karena Niah?


Istri mana yang gak cemburu melihat suami memeluk anak gadisnya seperti itu tadi atau jangan jangan Niah bukan darah daging Johan beneran...


Kalau dilihat dari cara Johan memeluk Niah sih, ah! Ternyata nasib Dewi juga sedang dipertaruhkan.


Batin Shopie mengeluarkan ponselnya, ingin menelpon Dewi.


*


Dewi dan Damien di parkiran Vip WJ. Elboy, duduk di pangkuan Dewi.


"Damien ini area privasi Presdir, kenapa minta aku nunggu di sini?" ujar Dewi gak enak hati.

__ADS_1


"Aku ada akses masuk ke setiap sudut kawasan gedung Dewi, aku malah gak nyangka kamu dapat hak eksklusif dari WJ." ujar Damien menatap kagum Dewi,


Bahkan Yudi memberikan Barus anak buahnya nyupirin aku kemana saja, dapat mobil dan rumah.


Dalam hati Dewi, hm. "Asisten Yudi yang memberikan," jawab Dewi.


"Kamu bawa tas baju, mau kemana? Apa yang telah terjadi Dewi, bisa beri tahu aku?" cecar Damien lagi bertanya pada Dewi.


"Bisa tidak kita bicara lain kali, aku ada urusan ke rumah sakit." jawab Dewi tatapan memohon pada Damien.


"Program hamil?"


"Hm," angguk Dewi.


Bunyi ponsel Dewi, masuk panggilan dari Shopie.


"Hallo," jawab Dewi.


"Dewi, Johan ada di rumah sakit bersama Niah tapi barusan pulang katanya mau jemput kamu, emang kamu di mana kenapa belum kemari?" di ujung panggilan Shopie pura pura, basa basi.


Hm, "Oh gitu, ya udah aku bersiap sekarang," jawab Dewi menutup panggilan.


"Damien, aku harus pergi sekarang!" Dewi mengusap rambut El di pangkuannya.


"Aku antar." ujar Damien cepat, berdiri dari duduknya.


Dewi menggeleng. "Aku pergi bersama pengawal," unjuk Dewi pada Barus yang berdiri di samping mobilnya, menolak tawaran satu mobil dengan Damien.


"Kamu boleh nyusul dengan mobilmu, biar El ikut mobilku," lanjut Dewi tidak mau menghampakan Damien atau setidaknya ia ada alasan menyusul anaknya kalau kalau ditanya Johan.


*****♥️


Hi, Othor ucapkan ribuan terima kasih pada ribuan pembaca, walaupun yang like bisa dilihat di beranda, ada berapa pada tau ya.


Jangan lupa selalu like, vote dan hadiah juga ya guys.

__ADS_1


Jumpa lagi, tetap jaga kesehatan. 👍


__ADS_2