Manisnya Madu

Manisnya Madu
33


__ADS_3

Dewi termangu di tempatnya, menatap kepergian Johan menghilang di balik pintu kamar. Akhirnya ia beranjak naik ke kasur ingin rebahan.


Berapa lama lagi rumah tangga ini bertahan, sanggupkah aku hidup tanpa mas Johan. Usiaku sudah 28 tahun, jadi janda belum terlalu tua kalau ingin menikah lagi. Tapi kalau dapat yang lebih baik, kalau enggak jadi bahan omongan keluarga besar aja ntar,


Batin Dewi, menarik nafas rasanya berat seperti ada batu yang menghimpit dadanya.


Sementara Johan menuju dapur ingin melihat keadaan Karunia. Baru semenit sudah rindu, batinnya tersenyum devil.


~


Di ruang santai dapur, Devan dan Karunia juga si mbok terdiam sambil menikmati acara televisi, menonton drama kesukaan si mbok.


Sebenarnya aku ingin merahasiakan hasil test, cukup Johan aja yang tau untuk meminta cerai. Malah si Nyonya jadi ikut tau hm, sakit hati kan!


Kepo sih makanya...jadi berantam deh.


Batin Karunia terduduk lemas, "Bi, Niah gak bisa lagi tinggal di sini. Besok pagi pagi Niah pergi saja." suara Karunia tiba tiba pada mbok Senah.


"Baiklah Niah terserah kamu, kemana kamu akan pergi beritahu bibi." jawab si mbok.


"Kalau kamu mau aku ada tempat, tinggallah di sana sementara Niah." tawar Devan.


"Hm." Karunia memandang Devan, hanya menatap.


"Niah pulang kampung saja Bi, mau jualan aja jagain warung Tari." Niah berkata pada mbok Senah alih alih menjawab tawaran Devan.


"Kamu tidak boleh kemana mana."


Suara Johan masuk dapur, Karunia menoleh pada Johan yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Devan, gimana apartemen kota reklamasi?" tanya Johan pada Devan.


"Sudah bisa ditempati Johan." jawab Devan.


"Besok ikut papi, pagi pagi kita bareng pergi lihat apa kamu suka. Kalau gak kita cari yang sesuai selera kamu." Johan pada Karunia mencubit gemas pipinya.


Iya, tapi gak pakek pegang pegang kali Tuan.


Batin Niah tatapan benci pada Johan.


"Tuan, mau disiapkan makan malam?" tanya mbok Senah, mengingat Tuannya biasa makan di rumah dari tadi belum sempat sepertinya.


"Devan, ayo kita makan." ajak Johan pada Devan, merasa perutnya memang lapar.


Seketika mbok Senah mengerti segera bangun menyiapkan meja, Niah juga bangun mau bantuin bibinya.


"Niah juga lapar, Bi." bisik Niah pada si mbok.


"Hm." angguk Karunia membuka pintu lemari dinding.


"Kamu mau ngambil apa?" tiba tiba Johan berdiri di belakang Niah yang ingin menjangkau mie instan yang ketinggian.


"Ini." Johan memberi Niah 4 bungkus mie.


"Ini kebanyakan Tuan." ujar Niah mengambil satu bungkus.


"Masak semua, aku dan Devan juga mau." Johan memberi semua mie ke tangan Niah.


"Baik, Tuan." jawab Niah termangu di tempatnya. Tubuh Johan sangat dekat, mana gak ngerti beranjak lagi, hm.

__ADS_1


"Saya mau masak, Tuan boleh pinggir enggak." ujar Karunia.


"Enggak." jawab Johan, meski begitu dia beranjak dari hadapan Niah.


Hm, gemas sekali aku pada gadis ini. Gak sabar rasanya ingin melahap tubuh mungilnya.


Seringai Johan. Sembari menunggu makanan disiapkan ia ke toilet kamar Karunia, ada yang tegang minta dilemaskan.


Aih, ini pertama aku buang ke toilet setelah menikah, hah!


Desah dalam hati Johan. Sementara Devan geleng kepala memperhatikan gerak gerik Johan, dalam hatinya miris kenapa dalam masalah cinta temannya itu lebih beruntung darinya.


Keluarga besar Devan bukannya orang susah, namun waktu Johan mengajak nya membangun bisnis lepas dari perusahaan keluarganya ia yakin bisa maju bersama Johan dan benar saja.


Mereka maju tanpa membawa nama besar keluarga, bahkan lebih maju. Johan juga berbagi saham dan gaji yang tidak sedikit dengan nya.


~


Di kamarnya Dewi meringkuk di kasur, sesekali air matanya masih jatuh.


"Mereka hanya ayah dan anak, bukankah seharusnya hatimu lega Dewi. Tapi kenapa dada ini masih sesak?" gumam nya pada diri sendiri.


Ya gak bisa instan kali, baru kena shock terapi pasti masih ada efek kejut. Apakah kali ini Johan pantas mendapatkan maaf dariku, toh itu kesalahan masa lalu sebelum aku hadir di kehidupannya.


Dalam hati Dewi lalu ke kamar mandi hendak berendam di bathub.


Sambil menghirup lilin aromatherapy mudah mudahan pikiran ku bisa tenang dan jernih, jangan sampai gegabah mengambil keputusan.


******♥️ Jumpa lagi

__ADS_1


Makasih yang udah like, vote dan hadiahnya ya guys, 👍


__ADS_2