
Niah diam termangu mendengar penuturan Dewi
Terlalu baik atau terlalu bengak, kalau mau cerai untuk apa lagi program. Tidak mikir apa bagaimana nasib anak, lahir lahir keluarga udah gak utuh.
Apa maunya perempuan ini, mau cerai atau enggak itu urusan dia kenapa aku yang terjebak di sini.
Seketika Karunia berdiri mengejar Dewi, bertemu di tangga dengan tatapan kesal Niah mencekal tangannya.
"Arhg!" pekik Dewi, kaget.
"Lepas! Kamu nyakitin saya." Dewi menarik tangannya, namun Niah menggenggam nya kuat
"Nyonya, jangan bersikap pasrah dan sok baik! Karena sikap Nyonya saya jadi serba salah. Atas permintaan Nyonya saya menikah, suka suka hati Nyonya menggantikan saya dengan Shopie. Saya mau jadi rahim pengganti kemaren karena ada imbalan, uang Nyonya...uang!" teriak Niah menjeda ucapannya menarik nafas.
"Sekarang saya jadi tidak bebas pergi ke mana mana. Saya gak maksud mau nikah muda, tolonglah Nyonya jangan lepas tangan. Bereskan kekacauan hidup saya akibat ulah Nyonya!" ketus Niah.
Dewi menarik tangannya namun Niah masih belum mau melepaskan. "Bukankah kamu senang mas Johan memilih kamu, bahkan dia gak sabar mau menceraikan aku." Dewi balas ketus.
"Jangan anda merasa paling menderita di sini, saya juga stres terjebak diantara kalian. Mau cinta atau tidak lagi suami Nyonya pada anda itu bukan urusan saya, kalau memang rahim saya gak jadi dipake, lepaskan saya." teriak Niah gak tahan lagi, air matanya jatuh berderai.
"Kan bisa buat anak sendiri dan kamu dapat status Nyonya. Apanya yang terjebak? Bukankah kamu menyukainya, tidur dengan Johan." sinis Dewi gak mau ngalah.
Plak!!!
Ahhhk! Dewi kaget meraba wajahnya.
Niah menatap tangannya, juga kaget terulur begitu saja melayang ke wajah Dewi.
"Dewi! Niah! Ada apa?"
Suara Johan keluar dari ruang kerja, begitu juga mbok Senah akhirnya keluar dari dapur.
Dewi merah padam, Niah benar benar ngelunjak sudah berani menampar nya. Ingin rasanya membalas namun keburu Johan datang menghampiri, Dewi mengepal tangannya menahan diri.
__ADS_1
Biar Johan lihat sendiri, seperti apa aslinya Niah.
"Dasar kurang ajar, anak gak jelas. Mau lepas, mintalah cerai padanya ayah biologis kamu!" ketus Dewi menunjuk Johan, menatap sinis.
Niah naik emosi, gak senang dikatain anak gak jelas. "Dasar perempuan sundal, mau cerai alasan selesai program. Ngapain program kalau mau cerai! Kamu gak mikir nasib anak kamu nanti setelah lahir, jangan munak. Kalau anda masih mencintai suami anda pertahankan, jangan sok tabah merasa teraniaya!" Niah masih teriak, air matanya semakin deras.
Johan menghampiri Niah yang menangis dan memeluk nya. "Sudah, sudah."ujarnya memujuk Niah.
"Kamu, jangan keterlaluan Dewi." sergah Johan pada Dewi.
Ah, Dewi mendelik marah pada Johan malah menyalahkan nya.
"Aku yang di tampar, aku yang keterlaluan. Kamu benar benar buta, Johan!" ketus Dewi berbalik badan meninggalkan dua sejoli yang sedang berpelukan.
Asisten rumah tangga baru sudah mulai beraktifitas melihat perseteruan mereka menyingkir tidak jadi bertugas. Di belakang mereka bergosip, bahwa Niah lebih seperti pelakor. Pembantu yang ngelunjak jadi Nona muda, melayani Tuan tidur juga berani main tampar Nyonya.
"Menjijikkan." kata yang satu.
"Benar, jalang gak ada akhlak." maki Yang lain.
Ck, Johan menggendong Niah kembali ke kamarnya.
Di depan pintu kamarnya juga Dewi menatap mereka, marasa miris pada nasib dirinya lalu menutup pintunya, terduduk menangis sejadi jadinya.
Mbok Senah gak jadi mengikuti Dewi, kembali ke dapur duduk termenung di meja makan.
Di dalam kamar Niah sesenggukan di pelukan Johan. "Sudah sayang, jangan nangis lagi." pujuk Johan mengusap wajah basah niah, mengambil sesuatu dari kantong jubah tidurnya.
"Ini kartu kamu pegang, katanya mau nge-mall." Johan memberi Niah dua kartu debit dan kredit.
Niah mendorong tangan Johan, hiks hiks masih terisak. "Tuan, aku ada uang kalau hanya nge-mall." ujar Niah mengembalikan kartu Johan.
Ck, "Kamu gunakan belanja apa saja, jangan menolak pemberianku. Dan tolong jangan panggil aku Tuan, aku suamimu sudah kewajiban ku menafkahi kamu." Johan maksa memberi kartu ke genggaman tangan Niah.
__ADS_1
Tadi Johan di ruang kerja mendengar perdebatan Dewi dan Niah, mulai dari dapur sampai ke ruang tengah. Merasa tidak perlu ikut campur, toh hubungannya dengan Dewi tidak bisa diperbaiki lagi, karena Dewi tidak mungkin mau menerima nya akibat perselingkuhan nya dengan Shopie.
Cinta, ah masih adakah cinta suci jaman now.
Desah dalam hati Johan. "Niah, ayo pindah tinggal di Apart. Kamu tidak perlu mengantar Dewi dan Shopie, aku akan membatalkan program. Lebih baik kita buat anak sendiri, ehm."
Mendengar itu, Niah mendongak menatap Johan.
Mati aku, akan selamanya terperangkap bersama lelaki ini. Lelaki yang mungkin saja pernah meniduri ibu, ah.
"Tuan, anda padaku hanya obsesi karena mirip ibu. Jangan lakukan ini padaku." ujar Niah nada memohon.
"Tidak Niah, aku mencintai mu. Aku yakin karana hanya padamu ini bereaksi."
Johan membawa tangan Niah ke balik Jubahnya di mana sesuatu yang lonjong panjang mengeras, sekeras kayu.
Tatapan mereka bertemu, sayu. Entah siapa yang mulai dulu, tiba tiba saja bibir mereka saling bertaut.
Niah mencium Johan lebih agresif melepaskan rasa sakit hatinya, Johan menyeringai senang. Daun muda di pelukannya membalas cintanya.
Merasa kehabisan oksigen mereka melepas ciuman, saling bertatapan.
"I love you." ucap Johan.
Hm, Niah menggeleng. "Aku cuma nafsu, terbawa suasana." jawab nya.
Hehe, Johan terkekeh senang kembali memeluk Niah
"Bersiap lah, kamu ikut ke kantor. Nanti sore kita ke Apart, aku akan minta pak Dadang dan Bibi, mengurus barang barang mereka akan ikut pindah dengan kita." ujar Johan.
******♥️
Hi, ikuti terus ya. Jangan lupa like, vote dan hadiah juga.
__ADS_1
Jumpa lagi, 👍