
Di ruang kerja.
Devan meletakkan nampan di meja di depan Johan, menatap sinis pada bosnya.
"Johan, ada apa denganmu?" tanya Devan gak tahan lagi, kasihan pada Dewi atas perlakuan Johan yang menyebalkan.
"Sarapan dulu, katamu kau lapar." Johan mengambil sandwich lapis, satu kali ngap lenyap di dalam mulutnya.
"Jadwal ke kota reklamasi batal, meeting jam sembilan dengan Seroja group. Makan siang dengan Hendra dari Jaguk." Devan memberitahu jadwal.
"Deptstore Jaguk kota kembang, masalah apa?" tanya Johan membuka plastik lemper rumput laut, salah satu kue kesukaan nya.
"Tidak ada, hanya ingin design interior dirubah, mereka ingin sebulan sekali." jelas Devan.
"Hm." gumam Johan.
"Aku kira Hendra bukan owner Jaguk, deh. Kabarnya pemilik aslinya pengusaha dari Amrik bernama, Bernard Ludwig." lanjut Devan.
"Terserahlah, urusan kita dengan Hendra." jawab Johan.
"Apa kamu gak terlalu pada Dewi. Kamu yang salah kenapa malah kamu yang cuekin dia? Aku sebagai teman menasehati kamu jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari, Dewi benar benar menyerah denganmu." ujar Devan.
"Aku panas kalau ingat saat dia menampar Niah, di depan ku." jawab Johan.
"Hm." Devan menarik nafas pelan.
"Niah saja sudah melupakan nya, kenapa kamu yang lebay?"
"Sudahlah aku kenyang. Gerah harus sarapan di sini, kita cari angin di luar." Johan malas membahas sesuatu yang bikin naik darah tinggi.
"Cis, banyak gaya." cibir Devan.
"Aku butuh suasana baru, nanti sore kita ke pulau reklamasi. Minta supir menjemput Niah." titah Johan keluar dari ruang kerja.
Hm, "Siap Bos." Devan meledek Johan hanya berani dari belakang.
*
Di kantor Johan.
Shopie kesenangan saat Dewi menelpon nya mau diajak ke Salon segera keruangan Johan mau konfirmasi.
"Johan, aku akan pergi dengan Dewi ke salon." lapor Shopie, wajahnya ceria.
__ADS_1
"Hm, pergilah." jawab Johan acuh.
"Kamu benar benar tidak ingin menyentuh ku lagi, tapi aku berjanji akan menjaga anakmu di dalam rahimku." ujar Shopie lalu keluar dari ruangan Johan.
Hah! Desah Johan melempar berkasnya.
Kenapa hasratnya bercinta lenyap, hanya untuk Niah bahkan setelah memeluk Dewi semalam tidak ada reaksi pada junior yang biasanya langsung on bahkan hanya membayangkan istrinya itu merengut.
*
Dewi memacu mobil ke kota reklamasi baru, Karunia di sampingnya sementara Shopie duduk di belakang sendirian.
Walaupun heran kenapa Dewi yang nyetir, sementara Niah duduk manis. Shopie menutup rapat mulutnya agar tidak salah bicara yang berujung penyesalan.
Ayo Shopie, semangat. Fokus, fokus, fokus...
Batin Shopie mengucap mantra. Akhirnya mereka sampai di klinik viral, yang baru baru ini banyak diperbincangkan ibu ibu sosialita. Klinik kecantikan Alisha beauty care, yang terkenal karena menggandeng dokter kecantikan dunia, asal Thailand. Daniel Mendoza.
"Selamat datang Nyonya." sambut resepsionis.
Shopie terkesima melihat interior klinik sangat mewah.
Beruntung sekali aku bisa perawatan di sini, seberapa kaya si Dewi mampu membayar perawatan di klinik kecantikan bahkan budget-nya ngalahin Korsel soal fermak wajah.
"Hallo Nyonya Dewi, saya Alisha Wijaya." sapa sang wanita anggun.
Oh!
Dewi yang sudah mendengar mengenai Alisha terkesima menatap tak percaya bisa bertemu orangnya langsung. "Terima kasih Nyonya, saya sangat beruntung bisa bertatapan langsung dengan anda. Nyonya lebih cantik kalau dilihat dengan mata kepala sendiri." ucap Dewi.
"Ah, anda bisa saja. Saya yang terima kasih, anda perawatan di klinik saya itu artinya anda ngantar duit untuk saya, hahaha." Alisha tertawa, Dewi mengerut dahi.
Aih, jadi ilfil.
"Baiklah Nyonya, kami ingin merasakan perawatan eksklusif klinik anda." ujar Dewi.
"Salma." panggil Nyonya Alisha pada asistennya.
"Saya, Nyonya." jawab si asisten Salma.
"Eksklusif treatment untuk tiga orang." perintah Alisha pada Salma.
"Silahkan Nyonya dan Nona ikuti saya." jawab asisten Salma, membawa ketiga perempuan cantik ke ruangan treatment.
__ADS_1
Alisha mengikuti mereka, hari ini agak lapang jadi ia bisa jalan jalan mandorin anak buahnya kerja. Sampai di ruangan Dewi treatment, Alisha melihat ketiga tamunya di relaksasi.
"Ma." panggil satu anak cewek usia 8 tahun.
"Ada apa Sora?" tanya Alisha.
"Sora juga mau perawatan, dong. Nanti kalau datang bulan udah cakep, jadi Om Ze semangat buat debayi nya." ujar Sora.
"Kamu belajar yang benar, buat bayi nanti usia 25 tahun baru boleh." jawab Alisha, sambil ngoreksi kerjaan anak buahnya.
"Kiara 19 tahun udah lahiran, juga mama Laras." protes Sora.
"Nah, kan masih lama. Umur kamu kurang berapa tahun lagi biar 19?" tanya Alisha.
Sora menggunakan tangannya untuk menghitung. "Oh my God, sebelas tahun lagi. Ya Tuhaaaaaaan!" jerit Sora histeris, suara menggelegar.
Dewi, Shopie dan Karunia terbangun, padahal lagi enak enaknya tiduran sambil di lulur.
Hehe, "Maaf." ucap Alisha menyeret Sora keluar dari ruangan treatment.
*
Waktu menunjukkan pukul 16.30 sore.
Selesai treatment, Dewi mengajak Shopie dan Karunia wisata kuliner. Kali ini gantian Karunia yang nyetir, Dewi di belakang duduk di samping Shopie.
"Makasih ya Dewi, sudah ngajak aku treatment." ucap Shopie tersenyum ikhlas. Seingat dia baru kali ini ia ikhlas tersenyum pada Dewi.
Hm, Dewi menarik nafas pelan lalu bicara, "Aku melakukan nya bukan untuk kamu, tapi untuk calon bayi yang akan kau kandung. Lahan tempat mereka tumbuh harus steril dari noda dan daki." jawab Dewi.
Cis, kan! Sudahlah Shop, lebih baik kau diam daripada sakit hati. Balas dendam masih sembilan bulan lagi, sampai bayi lahir. Sabar Shop, sabar..
Batin Shopie menyemangati diri sendiri, membuang wajahnya memandang ke luar jendela mobil.
Percuma relaksasi bayar mahal mahal, kalau toh akhirnya mukaku berkerut lagi mendengar omongan si Dewi.
****♥️
Hi, guys.
Ini bukan sequel TMR, jika ada nama nama yang muncul anggap saja Cameo, seperti di drama drama.
Jangan lupa like, vote dan juga hadiah ya, jumpa lagi, 👍
__ADS_1