
Di dalam mobil Johan menjaili Karunia, berusaha mencium bibir gadis di pangkuannya.
"Tuan, jangan lakukan ini sebelum kita secara resmi tercatat di negara." ujar Niah nada memohon, menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya.
Johan menarik nafas dalam. "Hanya cium, boleh ya sayang." Johan menarik tangan Niah.
Karunia menggeleng semakin menutup rapat mulutnya. "Ya sudah, baiklah." ujar Johan gak habis akal.
Memeluk Karunia, membersihkan rambut dari pundak lalu mencium nya. Melu mat dan menyesap di leher mulus dan halus agresif, sambil menahan diri untuk tidak meninggalkan jejak.
"Argh!" Johan mengerang seksi.
Hais, dasar.
Keluh dalam hati Niah menutup matanya. Bagaimanapun dia perempuan Normal dan visual Johan lumayan menggoda.
Johan menyeringai, membelai di sekujur tubuh Niah yang bisa di jangkau oleh tangannya. Berlama lama di tungkai dan pangkal paha.
Walaupun mulut Niah berkata tidak namun sebagai orang yang sudah berpengalaman, Johan tau tubuh Niah menginginkan nya.
Kelihatan Devan mendekati mobil, Johan menahan aksinya. "Cukup sekian dulu." ujar nya suara serak, menurunkan Niah dari pangkuannya.
Hah.
Niah bernafas lega, membenahi bawahan gaunnya.
"Devan, kita ke Apartemen sebentar sebelum pulang." Johan memerintah, setelah asistennya itu duduk di bangku kemudi.
"Baik, Bos. As you wish." jawab Devan, melirik wajah pias Niah dari spion.
"Jalan!" Johan menendang belakang jok bangku kemudi Devan.
"Hehe." Devan terkekeh, mengejek.
~
Selesai mengantar Shopie ke kantor, Dewi memacu mobil pulang ke rumah.
Dert dert dert.
Ponsel berbunyi, panggilan dari Elfarrel.
__ADS_1
Hm, "Damien." gumam Dewi memasang headset.
"Hallo." jawab nya.
"Hallo Auntie." suara anak kecil.
Oh, "Hallo Elboy, apa kabar sayang?" jawab Dewi gembira mendengar suara El.
"Papa Dami lindu katanya." ujar El.
Cis, "El, rindu tidak sama Auntie?" tanya Dewi.
"Neh Pa." El menyerahkan ponselnya pada Damien alih alih menjawab Dewi.
"Hallo, Dewi." suara Damien.
"Aku istri orang Damien, berani sekali kamu rindu." sergah Dewi.
"Hahaha, maaf Dewi. Mau bagaimana lagi? Apa perlu aku membunuh suamimu agar kamu cepat jadi janda." ujar Damien nada bercanda.
Tidak perlu Damien, sebentar lagi juga aku jadi janda.
"Hei, tidak perlu pura pura jumpa El, aku sudah menyukai mu dari dulu." goda Damien.
"Damien diamlah, aku serius." Dewi suara ketus.
Hehe, "Baiklah. Dimana kita jumpa, aku akan membawa El bertemu denganmu."
"Apa terlalu malam kalau aku bilang sekarang mau ke mansion kamu?"
"Delapan tiga puluh Dewi, masih sore. Apa suami kamu gak di rumah?"
"Tidak, dia di luar kota."
Jawab Dewi, tiba tiba menyadari sudah di gerbang menuju mansion Damien. "Lima menit lagi aku sampai."
"Baiklah, ditunggu." jawab Damien tersenyum samar.
Lalu memutus sambungan, segera memerintah anak buahnya agar memberi akses untuk Dewi.
*
__ADS_1
Di Apartemen kota reklamasi, Johan membawa Niah masuk melihat lihat. Devan menunggu di mobil karena Johan melarang nya naik.
"Gimana? Kalau kamu suka sekarang juga bisa pindah." Johan berbisik sambil memeluk Niah dari belakang.
Niah memutar tubuhnya mendorong Johan. "Tunggu sampai bibi selesai cuti, aku sudah janji akan bantuin Nyonya sampai saat itu." jawab Niah.
"Kapan itu?" tanya Johan.
"Kalau bibi cuti bulan depan, ditambah selama di kampung dua bulan. Kira kira tiga bulan dari sekarang." jelas Niah mencoba mengulur waktu, cukuplah sambil mencari cara kabur dari Johan.
Lebih baik di rumah Dewi dari pada di Apart.
Dalam hati Niah, gak yakin juga terhadap perasaannya.
Hais, lama nya! Apa junior bisa tahan.
Dalam hati Johan. "Tapi aku ingin mencium mu." Johan suara berat, menatap bibir.
Apa aku bisa menjaga benteng gak jebol kalau terus jual mahal. Gimana kalau si cabul ini maksa, bagaimanapun aku istrinya.
Batin Niah, "Hanya ciuman." ujar nya.
Seketika Johan menyentak Niah ke dalam pelukannya, menekan tengkuk meraih bibir.
Niah hanya mangap, berusaha menahan untuk tidak membalas ciuman Johan.
Johan tau Niah menahan dirinya.Tidak masalah untuk sekarang ini sudah merupakan kemajuan. Malah seru sensasinya seperti saat masih muda.
Johan teringat saat mulai berpacaran dengan Dewi sepuluh tahun yang lalu, istrinya itu juga lumayan susah untuk dia dapatkan. Lima tahun setelah pacaran tanpa pegang pegang, butuh lima tahun lagi bagi Johan meyakinkan Dewi agar mau menikah dengan nya.
Walaupun untuk s€ks tetap ia dapatkan secara acak dari mana saja yang penting gak ada komitmen, hayuk aja.
Ah!
Mengingat itu Johan melepaskan pagutan nya, memandang nanar pada Niah.
Kenapa aku jadi ingat Dewi saat mencium Niah.
****♥️
Jangan lupa like, vote dan hadiahnya ya guys, jumpa lagi.👍
__ADS_1