Manisnya Madu

Manisnya Madu
62


__ADS_3

Devan mengikuti Johan turun, menuju ruang makan.


Di tangga bawah. "Devan kamu duluan," ujar Johan, sementara ia belok kanan mau ke kamar Niah.


Cis, dengus Devan berjalan terus belok kiri ke arah dapur. Membalas tersenyum pada asisten baru yang dilewati nya.


Devan menggelengkan kepalanya, "Apa dia mencoba merayu ku." gumam Devan melihat keberanian si asisten yang tersenyum duluan malu malu.


~


Cklekk.


Johan membuka pintu kamar Niah, gadis itu sedang berbaring di kasur berselimut. "Niah." panggil Johan lembut menghampiri Niah, duduk di pinggir kasur.


Niah membuka matanya, "Hm." gumam nya.


"Apa kamu demam, sudah sarapan?" Johan meraba kening Niah, hangatnya normal.


Hm, Niah menggeleng. "Aku ngantuk, Tuan belum berangkat?" tanya Niah.


"Iya, ini mau sarapan. Niah, kamu pikirkanlah tinggal di Apart kota reklamasi lebih modern. Banyak tempat shoping standard internasional." jelas Johan coba membujuk Niah lagi


"Hm." lagi lagi Niah menggeleng. "Pergilah, nanti terlambat." Niah mengusir Johan.


"Baiklah, cium dulu." Johan menunduk, Niah menyambut ciuman Johan. Johan mengangkat tubuh Niah, gak cukup hanya kecupan.


Ahh!


Niah mendorong Johan, merasa keenakan takutnya jadi ke-syoran. Johan sumringah mengusap bibir Niah. "Jam berapa mau nge-mall?"


"Siang, aku ngajak bibi kalau dia mau." jawab Niah. "Pergilah," lanjutnya menahan dada Johan, saat pria dewasa itu kembali ingin mencium nya.


"Pergi!" titah Niah, melotot pada Johan.


Hm, desah Johan bangun meninggalkan Niah keluar dari kamar menutup pintunya.


**


Setelah rapi, Dewi turun dari kamar diikuti si mbok yang ingin mengantar nya sampai ke mobil. Sekilas ia melirik ke ruang makan ada Johan dan Devan lagi sarapan.


Melewati ruang tengah Dewi melihat kamar Niah yang tertutup, hampir jatuh lagi air matanya. Rasa panas di wajah Dewi tak sepanas rasa sakit hatinya. 


Itu anak gak sekolah, gak diajar orang tua. Merasa Johan pasti memihak nya makanya dia berani. Nasib, jangan salahkan apalagi berpikir semua ini salahmu. Dewi, anak itu perlu dikasi pelajaran. Anggap saja kasih sayang seorang kakak pada adiknya.


Dewi nyetir sendiri, membawa mobil ke kawasan perkantoran gedung WJ, namun di tengah jalan ia terpaksa berhenti karena air matanya kembali jatuh. Takut apa apa terjadi padanya, Dewi berhenti di sisi jalan raya yang lebar.


Dewi tetaplah tegar, jangan minta cerai kecuali Johan menceraikan kan kamu. Tapi pergilah dari rumah itu, kamu perlu suasana baru.


Batin Dewi, saat ingin menekan gas ponselnya berdering.


Damien, gumam Dewi, "hallo." menjawab panggilan.


"Kamu tunggu di situ, aku jemput kamu!" suara Damien tegas dari dalam telepon.


"Ha."


Dewi celingukan mengitari pandangannya ke jalan raya.

__ADS_1


Darimana Damien bisa melihat diriku.


Kelihatan Damien menyebrang jalan di lampu merah. Dewi membuka kaca mobil, Damien melambai padanya.


"Hm." Dewi menarik ujung bibirnya.


"Bagaimana kamu tau ini aku?" tanya Dewi setelah Damien berdiri di sisi mobilnya.


"Ayo, ikut aku. Biar mobil kamu supir aku yang bawa." ujar Damien, mengernyit menatap mata Dewi yang basah.


"Apa kita searah?" tanya Dewi, salah tingkah ditatap Damien.


"Ada meeting pagi di WJ, apa aku belum beritahu kamu?" ujar Damien.


Bagaimana kamu bisa nyetir dengan keadaan kacau begitu.


Batin Damien memaksa buka pintu mobil Dewi. "Keluar." titah nya.


Hm, "Baiklah." desah Dewi keluar dari mobilnya.


"Kemari kan kunci." Damien mengulur tangannya, Dewi memberi kunci lalu menarik tangan nya saat Damien ingin menggandeng nya.


Hm, desah Damien kembali meraih paksa tangan Dewi membawa nya menyeberang jalan. Dewi akhirnya pasrah, Damien menyeret nya.


Supir membuka pintu mobil depan, Damien mendorong Dewi masuk lalu memberi kunci mobil Dewi pada supirnya.


"Bawa ke bengkel." titah nya, kemudian masuk ke bangku kemudi.


"Aku sudah pernah bilang, kalau aku tau kamu tidak bahagia tunggulah aku akan menculik mu." gerutu Damien, menekan gas membawa mobil menuju gedung WJ.


"Jadi itu air mata bahagia, hah! Jangan membodohi aku Dewi dengan alasan mata masuk debu!" ketus Damien.


"Sebelah sisi utara mansion ada guest house, tinggallah di situ kalau kamu ingin menenangkan hatimu. Jika segan bayarlah sewa." lanjut Damien, Dewi diam berpikir pikir.


Hm, baiklah. Aku akan minta bibi mengemas beberapa pakaian ku.


"Berapa sewa nya?" tanya Dewi, menatap Damien serius.


Damien menarik ujung bibirnya. "Bayar semampu kamu." jawab Damien cool, dalam hati ia tersenyum.


Gak lama mobil sampai di gedung WJ, masih ada waktu Damien ngajak Dewi ngopi.


"Maaf, aku langsung saja. Ini hari pertama, masih harus belajar menyiapkan meeting." tolak Dewi halus.


Saat ingin turun Damien menahan Dewi. "Dewi, apa kamu tau suamimu juga akan hadir dalam meeting pagi." jelas Damien.


Deg, tak ayal jantung Dewi berdegub. "Saat bekerja dia, dia hanya klien. Kamu juga, jadi bersikaplah profesional." jawab Dewi.


"Good girl." Damien mengacungkan jempolnya. "Ayo, turun." ajak nya.


Mereka berpisah di lobby, Damien ke coffee shop menunggu asistennya yang membawa mobil Dewi.


Dewi naik ke lift menuju meja kerjanya di samping ruangan Arjit. Di meja kerjanya, Dewi membuka ponselnya menghubungi mbok Senah.


"Mbok, koper yang kemarin belum dibongkar nanti aku jemput siapkanlah di satpam nanti sore saat aku menghubungi mbok lagi." ujar Dewi.


"Baiklah, Nyonya." jawab si mbok menghela nafasnya, sebak di dada.

__ADS_1


Dewi touch up sedikit mengurangi sembab di wajahnya walaupun seputar mata susah tertutupi. Setelahnya, ia ke meeting room mengurus segala sesuatu nya.


*****


Johan juga sudah sampai di gedung WJ, berdua Devan mereka dibawa Resepsionis masuk ke ruangan meeting.


Di dalam ruangan sudah ada wajah orang yang tidak ingin dilihat nya. Damien duduk bersama seseorang di sampingnya, Johan bisa menebak pastilah itu asistennya.


Johan mengepal tangan geram, pingin rasanya meninju Damien. Karena barusan seseorang yang diperintahkan Johan mengikuti Dewi, melapor padanya bahwa Dewi berhenti di tengah jalan lalu dibawa masuk ke Mobil Damien bergandengan tangan. Menurut laporan intelnya, mobil Dewi dibawa ke bengkel.


Hah, berani bermain di belakangku. Mobil bagus dibawa ke bengkel, apa maksudnya ingin mengelabui ku. Jadi kamu sudah mempersiapkan semuanya Dewi, mendapatkan kerja juga atas rekomendasi selingkuhan mu.


Batin Johan menarik nafas kesal, mengambil duduk di belakang meja yang ada tertera namanya, setelah Devan menarik kursi untuknya. Tatapan Johan bertemu dengan Damien yang juga menatap tajam padanya.


Cekklekk.


Dewi membuka pintu, mengitari pandangan nya lalu masuk membawa beberapa cemilan fresh from the open. Agak telat sih, karena harus nunggu dari pantry yang seharusnya disiapkan sebelum anggota memasuki ruangan.


Menarik nafas pelan, Dewi berjalan membagikan masing masing di depan para anggota meeting mulai dari sebelah Damien.


"Terima kasih." ucap Damien tersenyum pada Dewi, Dewi balas tersenyum seadanya.


Sampailah pada Johan. "Ah!" Dewi terpekik kaget, Pria yang masih berstatus suaminya itu menarik tangannya sehingga Dewi terduduk di pangkuan Johan.


Begitu juga Devan yang duduk di sebelah Johan, terkejut. Padahal tadi sudah diingatkan agar bersikap profesional, hah! Devan menarik nafas kasar, kasihan pada Dewi.


Tidak terkecuali Damien reflek berdiri dari duduknya segera ditahan oleh asistennya.


"Dewi, silahkan kamu menggugat ku tapi jangan harap aku akan menceraikan kamu dan membiarkan laki laki itu mendapatkan kamu dengan mudah," seringai Johan, menatap Damien sinis.


Mendengar itu, Damien mengepal tangan geram. "Tolong jaga sikap anda Tuan, jangan menyakiti wanita," sergah nya.


"Kenapa kamu keberatan, dia istriku. Aku sudah sering menyakiti nya saat bercinta dan dia tidak keberatan bahkan mengerangerang nikmat." sinis Johan, tersenyum devil menatap pada Dewi yang meringis kesakitan.


Hais, dasar. Kesambet setan apa si Johan jadi semakin brengsek.


Kesal Devan. "Proyek ini susah payah aku dapatkan jadi jangan bertingkah, bahlul." bisik Devan ketus di telinga Johan, barulah Johan melepaskan Dewi.


Segera Dewi keluar dari ruangan kembali ke mejanya terduduk lemas, meraba pergelangannya yang perih akibat cengkraman Johan. Setelah merapikan dirinya, Dewi masuk ke ruangan Arjit.


"Tuan, waktunya meeting." lapor Dewi pada atasannya tertunduk gelisah.


Hm, Arjit menatap Dewi prihatin. Ia dapat melihat jelas apa yang terjadi di ruang meeting, melalui layar laptopnya.


"Kita menunggu asisten Yudi. Kamu bawa berkas pada partner di ruang meeting, minta mereka mempelajari nya." titah Arjit memberikan USB pada Dewi.


"Baik Tuan." jawab Dewi menunduk hormat pada Arjit lalu keluar dari ruangan.


Di balik pintu Dewi menyandarkan tubuhnya sesaat, merasa resah harus masuk lagi ke ruang meeting.


Dewi mantapkan hatimu meninggalkan Johan, entah itu di cerai ataupun tidak.


*******♥️


Jumpa lagi, 👍.


Jangan lupa selalu like ya guys. Vote dan hadiah juga, 🙏.

__ADS_1


__ADS_2