Manisnya Madu

Manisnya Madu
112


__ADS_3

Dipanggil ke ruangan Yudi berdua Johan, hah! Dewi menghela nafas setelah tau duduk persoalan nya.


Niah minta cerai langsung dari Amrik, hebat sekali anak itu sudah sampai Amrik saja.


Dalam hati Dewi sekarang dilema, walaupun ia kecewa pada ayahnya namun mereka adalah orang tuanya, Dewi berpikir pikir.


Bagaimana caraku mengulur waktu 4 bulan untuk menyelamatkan perusahaan ayah tanpa perlu rujuk dengan Johan, ah. Terserahlah perusahaan ayah mau diambil si Prana bukan urusanku.


Dalam hati Dewi gak perduli, biarlah ikuti saja kemana takdir membawa nasib.


"Mas, mau cerai atau enggak dengan Niah itu bukan urusan ku. Dan aku gak bisa rujuk walaupun mas menceraikan Niah di depanku sekarang, kalau mas mau menggugat silahkan."


Jawaban Dewi membuat Johan bersorak dalam hati memunculkan senyuman yang samar di ujung bibirnya.


Setidaknya bisa mengulur waktu, karena Dewi gak akan menggugat. Dia menunggu aku yang gugat.


"Maka dari itu Tuan Yudi yang terhormat, saya perlu bicara dengan Niah untuk mengkonfirmasi hal ini. Apakah dia masih mau cerai setelah tau saya dan Dewi bukan lagi suami isteri, Niah mundur karena Dewi. Dan Niah belum tau kalau saya sudah men-t...ah." Johan tak sanggup meneruskan kalimatnya.


Kenapa penyesalan selalu datang terlambat, mana Dewi semakin cantik dan seksi lagi. Itu kambing kambing bandot pada nempel, ha!


Dalam hati Johan kesal memandang Dewi sayu dan nafsu, apalagi sudah lama ia puasa bahkan bermain solo pun gak selera.


"Untuk sepengetahuan Tuan tuan, saya dan Dewi sedang program bayi tabung dengan ibu pengganti. Jadi saya minta penangguhan masalah ini sampai bayi lahir, anggap mediasi. Bukankah di pengadilan juga begitu, hakim tidak serta merta mengetuk palu."


"Dan kamu Dewi, kembalilah ke rumah paling lambat hari minggu ini karena ibu pengganti senin akan pindah ke rumah." lanjut Johan pada Dewi. Dewi menatap Yudi dan Arjit bergantian tatapan memelas.


Hm, Yudi kesal kenapa harus ngurusin yang beginian. "Manager Arjit," panggil nya.


Merasa Yudi akan menyalahkan nya karena menggandeng Johan dalam proyek. "Yudi, bukan Tuan Johan yang bawa masalah pribadi ke dalam bisnis tapi Beno yang cari gara gara." jawab Arjit membela dirinya.


Ah, Bernard kenapa suka istri orang sih. Dulu Kiara sekarang Karunia. Kenapa gak Lucita kan cantik juga, hebat jago berkelahi lagi.


Ck, Yudi berdecak, membaca pikiran Arjit.


"Tuan Johan, kita akan minta live meeting dengan Tuan Presdir, kapan dia bisa. Kalau sekarang sepertinya tidak mungkin mengingat waktu Amrik 23.30 bisa jadi beliau sudah tidur. Kita akan kabari kapan bisanya kalau bertepatan malam hari waktu Jkt harap anda luangkan waktu, kita akan mengundang anda ke Hotel WJ. Makan dan akomodasi akan ditanggung WJ, Manager Arjit." jelas Yudi.


Oh, bibir Arjit membulat lega. Kirain, mau nyalahin aku.


"Baiklah, saya ikuti rencana asisten Yudi yang bijaksana," jawab Johan.


"Bahan bahan sebagian sudah dikirim dan ada di gudang. Kalau WJ mau proyek diteruskan se-cukup bahan, kami akan kerjakan. Kalau tidak, kami bisa apa selain mengembalikan dana yang sudah di transfer full, tentunya. Itu saja dari saya," lanjutnya suara pelan, hah?


Berurusan dengan WJ bukan nya untung malah buntung, tidak apa asalkan harga diriku sebagai lelaki tidak diinjak injak si Bernard, pebinor itu.


Yudi senyum dalam hati membaca pikiran Johan.

__ADS_1


Kasihan Beno dikatain pebinor hehe, kenapa dia menyukai perempuan yang sudah bersuami? Bagaimana kalau kali ini aku membantu nya, hm.


Yudi mengangguk angguk, "Saya akan minta Tuan Bernard dan istri siri anda juga ikut hadir saat live meeting," jelas nya, menantang Johan.


Gleg, Johan menelan ludah merasa ini jebakan, sepertinya ia akan ditekan untuk menceraikan Niah.


Johan menatap Yudi gak senang, Yudi menarik ujung bibirnya.


*


Selesai meeting Johan menyeret Dewi bicara empat mata di pojok kantin jadi enam mata karena ada Devan, sepuluh mata karena Lee dan Sabit mengintip dari ruangan latihan.


"Mas, aku gak mau pulang ke rumah kalau kita satu kamar!" tegas Dewi bahkan Johan belum bicara.


"Iya, terserah kamu. Aku bisa tidur di mana saja, di ruang kerja juga bisa. Kamu urus saja Shopie, pulanglah besok, hm." ajak Johan suara lembut.


"Tidak bisa, aku sudah ada janji sama Bu dwi mau jalan ke Mall reklamasi." Dewi alasan.


Jadi kamu menikmati kebebasan mu Dewi.


Batin Johan mengerut dahi. "Aku antar, dari situ kita langsung pulang. Tidak usah bawa baju yang kamu bawa kabur itu. Baju kamu masih banyak di lemari," pujuk Johan lagi.


"Tidak tidak, aku jalan sama Bu Dwi diantar pengawal Barus. Hari minggu aku pulang," tolak Dewi cepat.


Ck, decak Johan. "Apa kamu berkencan dengan si hulk itu?" sergah nya bertanya suara keras.


Biarin, walaupun aku tidak benar benar berkencan hanya agar Johan menganggap aku sudah move on.


Dalam hati Dewi.


Johan cemburu namun begitu. "Dewi, selesai kan dulu program, baru kamu pikirkan cari pasangan!" ujar nya lembut.


"Kenapa?" tanya Dewi pura pura bodoh.


"Bagaimana dengan sandiwara di depan Shopie dan lagi kalau Mama datang. Hah, hampir lupa. Mama akan datang minggu ini ke rumah, nginap. Maka pulanglah Dewi, aku minta sampai bayi lahir berpura pura lah kita masih suami istri, hm." Johan.


Ah, "Kalau Mama datang Shopie kamu kenalkan sebagai apa?" tanya Dewi.


"Sebagai apa lagi, ya ibu pengganti. Sepertinya Mama akan datang dengan sepupuku yang pengacara," jelas Johan.


Ah, Dewi terperangah. "Perempuan yang dijodohkan dengan mas dulu?"


"Hm, kamu tau dia belum nikah kenapa?" angguk Johan bertanya pada Dewi.


Menunggu mas Johan, jangan jangan.

__ADS_1


Johan tersenyum devil, seolah tau pikiran Dewi. "Hm, kamu benar menunggu aku." ujar nya, ingin membuat Dewi cemburu.


Memanglah kepolosan Dewi yang menawan hati Johan dari dulu, jarang berpikiran negatif dan cepat lupa dengan sakit hatinya.


Maka aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik baiknya, mengambil hati Dewi kembali, hehe.


"Dewi, kalau dia tau kita sudah bercerai bagiamana senangnya Mama, jadi tolong sampai bayi lahir kembalilah jadi istriku hm, Dewi sayang. aku gak mau Shopie mengambil kesempatan terhadap ku dan juga si pengacara itu," tegas Johan menangkup wajah Dewi.


Cis, "Kamu menyebalkan," ketus Dewi kesal.


"Aku tau tapi aku mencintai mu." kedip mata Johan.


Ck, menjijikkan. Makan itu cinta dusta, aku gak mau.


"Tapi aku ada syarat," ujar Dewi.


"Apa?" tanya Johan.


"Lee, si bodyguard ku dari London, ikut ke rumah untuk jaga jaga jangan sampai Mama kamu berbuat kasar padaku."


"Hanya selama Mama di rumah, kalau Mama sudah pergi Lee juga harus pergi."


Ck, decak Dewi terdiam.


"Jadi deal besok kamu pulang."


E-ehm. Dewi menggeleng. "Minggu."


"Setelah 4 bulan lewat dikit kalau mas belum menggugat juga maka aku yang akan mengurus nya ke pengadilan." tegas Dewi.


Ha! Johan melotot.


*


Lee dibalik ruangan mendengar pembicaraan, antara senang dan kesal.


Senang karena Dewi akan tetap bercerai dari Johan tapi kesal karena Dewi akan berkencan dengan Barus besok, ah.


"Yudiiiiiiii!??" geram Lee yang bisa didengar Sabit.


"Jangan khawatir guru, besok aku akan minta permisi sama ayah mengunjungi Sora, adikku di kota reklamasi. Jadi guru bisa ikut kencan bertiga dengan Nyonya Dewi dan pengawal Barus." ujar Sabit menyenangkan hati gurunya.


"Oh Sabit," Lee kesenangan memeluk Sabit.


*******♥️

__ADS_1


Jumpa lagi, 👍


__ADS_2