
Di ruang inapnya, Shopie kaget melihat Dewi datang dengan siapa. Namun dengan cepat ia bersikap biasa, turun dari kasur menyambut tamunya.
"Dewi, kamu gak bareng Johan dan Niah?" tanya Shopie tersenyum pada Dewi.
Hm, gumam Dewi menarik ujung bibirnya dikit. "Damien kenalkan, ini Shopie yang akan jadi rahim pengganti untuk anak aku dan Johan." Dewi memperkenalkan Shopie pada Damien.
"Hm," senyum Damien kaku, mengulur tangannya pada Shopie. Ia juga gak kalah kaget melihat Shopie tapi karena Shopie akting seperti gak kenal, syukurlah dalam hati Damien.
Shopie menerima uluran tangan Damien tak kalah kaku dan sedikit salah tingkah.
Damien merasa jemari Shopie yang sedingin es ketika bersalaman yakin bahwa Shopie gak mungkin lupa padanya.
Dewi memperhatikan kedua teman dari masa sekolah nya itu, "Apa kalian benar benar tidak saling kenal?" tanya Dewi heran melihat sikap keduanya yang terlalu formal.
"Ha," gumam Shopie dan Damien berbarengan memandang Dewi.
Dewi mengambil tempat duduk di sofa disusul Damien sementara si kecil Farrel duduk diantara mereka.
"Shopie, kita tuh satu sekolahan dengan Damien. Kakak kelas saat SMP dan SMA." jelas Dewi, sejenak ia lupa rasa bencinya pada Shopie.
Siapa yang gak kenal Damien, Dewi kamu tuh polos banget ya.
Batin Shopie, tersenyum entah kemana tak berani menatap Damien maupun Dewi. "Ah, begitu ternyata, pantas saja seperti pernah lihat. Tau dong itu kan sudah lama, jadi ya lupa." jawab nya, pandangan entah kemana.
"Padahal Damien cukup populer dan ramah dengan siapa saja, gak mungkin kamu yang gaul gak kenal cowok setampan Damien. Aku aja yang kuper, kenal!" sentak Dewi.
__ADS_1
"Dewi aku tuh SMA cuma satu tahun di Pancasila, tahun kedua kan aku pindah. Lagian kamu bukannya kuper tapi sombong sementang juara kelas," Shopie balas ketus.
Tentu saja aku pindah karena kamu Damien, batin Shopie.
"Kamu, apa tidak mengenali nya juga?" tanya Dewi pada Damien.
"Tau sih, tapi ntar aku bilang kenal dia nya enggak kan malu," jawab Damien asal goblek, mengikuti sandiwara Shopie.
Ah, "Ya sudahlah." Dewi pasrah.
"Apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Dewi pada Shopie sudah cukup basa basi.
"Selain uang aku gak butuh apapun, Dewi." jawab Shopie, tiba tiba malu atas kejujurannya.
Hm, "Kamu butuh berapa chat aja," jawab Dewi.
"El, sini sama Aunti." Dewi meraih Farrel mendekati nya.
"Tadi Johan kemari, bilang apa?" tanya Dewi, tiba tiba mereka berdua jadi canggung.
"Tidak ada, dia sibuk dengan Niah," jawab Shopie sambil memperhatikan raut Dewi.
Hm, Dewi senyum dipaksa.
"Dewi, apa kamu percaya kalau Niah itu darah daging Johan?" tanya Shopie, hati hati.
__ADS_1
"Percayalah, kan ada tes DNA. Emang bisa direkayasa?" jawab Dewi balik nanya, pura pura bodoh.
"Kalau aku gak percaya." ujar Shopie mencoba mancing Dewi.
"Kenapa, kamu gak percaya dari segi mananya?" lanjut tanya Dewi, dia juga merasa penasaran.
"Kalau boleh jujur sih, satu dari segi wajah gak mirip dan mereka terlalu mesra kalau mau disebut Bapak sama anak," jelas Shopie.
"Mesra gimana maksud kamu?" tanya Dewi serius nanya karena memang ia gak pernah lihat.
"Ah, gak usahlah bicara. Entar salah lagi, kamu tau kan Johan itu sangat kasar dan kejam padaku?" Shopie nada sendu.
"Masa, tapi kamu betah jadi sekretarisnya bahkan kamu mau menikah hanya untuk rahim pengganti... bahkan kamu mau jadi selingkuhan nya," lanjut dalam hati Dewi.
"Maaf Dewi, aku janji selesai program aku akan resign dari perusahaan Johan." ucap Shopie yakin, tatapan bertemu El.
Tampan nya mirip Damien.
Dalam hati Shopie jadi teringat lagi kejadian masa lalu yang ingin dilupakan nya.
Damien selesai nelpon, memanggil Dewi keluar ruangan. Dewi menghampiri Damien, Farrel juga mengikut nya keluar.
"Sebaiknya kamu pulang Dewi, Johan mendatangi mansionku dan membuat keributan gak mau pulang sebelum bertemu kamu."
Damien nada khawatir memandang Dwi.
__ADS_1
*****♥️
Hi, jumpa lagi. Jangan lupa selalu like ya guys. Vote dan hadiah juga, 👍