Manisnya Madu

Manisnya Madu
84


__ADS_3

Dewi mengantar Farrel ke mobil Damien sebelum ia masuk ke mobilnya bersama Barus.


"Dah Farrel, kapan kita makan Burger lagi." ujar Dewi nada tanya pada bocah ganteng.


"Kapan Pa?" El nanya Damien.


"Kapan aja El mau, Papa antar." jawab Damien, mengusap ujung kepala putranya sayang.


"Cool." ucap El, tersenyum senang.


"Besok boleh," jawab Farrel pada Dewi.


"Cool." jawab Dewi, jempolnya mengacung.


"Bye Dewi," ucap Damien menutup kaca jendela mobil.


*


Selesai drama perpisahan dengan Elboy, Dewi masuk ke mobilnya. Mobil dinas maksudnya.


"Maaf ya, Pak. Karena saya bapak jadi repot," ucap Dewi pada Barus gak enak hati, baru masuk kerja sudah berlagak seperti bos.


"Tidak apa Nyonya, apapun yang diperintahkan asisten Yudi itu adalah tugas bagi saya," jawab Barus.


Hm, Dewi tersenyum singkat melihat alamat rumah barunya di Email, mengerut dahi. "Rumah besar Wijaya?"


Apa maksud asisten Yudi meminta ku tinggal di rumah besar Wijaya.


Hm, baiklah. Di mana saja yang penting keluar dari rumah Johan.

__ADS_1


Batin Dewi, menarik nafas membuang nya perlahan, ini pertama ia keluar dari rumah Johan semenjak menikah. Bahkan ke rumah mertuanya gak pernah nginap lagi semenjak Papa Johan meninggal karena serangan jantung dua tahun yang lalu.


Karena itu Nyonya Ambar jadi kesepian, semakin ribut masalah cucu. Dewi jadi teringat ucapan dokter mengenai program bayi.


Masih ada sisa embrio, apa aku lakukan program pada diri ku sendiri saja. Tidak usah mengharapkan anak yang dikandung Shopie, belum tentu Johan mau berbagi...


Barus membawa mobil masuk ke pekarangan rumah WJ, parkir di depan pintu utama. "Silahkan Nyonya, di dalam ada Ibu Dwi yang baik hati," ujar Barus melihat Dewi belum mau turun.


"Terima kasih, Pak," ucap Dewi.


"Panggil saya Barus, Nyonya. Saya belum bapak bapak walaupun usia sudah tiga puluh tahun genap saya masih jomblo," jawab Barus malu maluin.


"Baiklah Barus, kita bahasa santai aja. Aku turun dulu, terima kasih sudah ngantar aku keluar masuk ibu kota," ucap Dewi.


"Sama sama Nyonya, saya juga terhibur gak melulu lihat muka asisten Yudi yang dingin dan kaku. Ikut dengan anda hidup saya lebih berbunga dimana mana," ujar Barus nada bercanda.


"Hei," Dewi mendelik pada Barus.


"Baiklah Barus, aku turun." ujar Dewi, menarik nafas.


"Santai saja Nyonya, di rumah besar gak ada orang jahat. Selain pelayan dan tukang kebun, hanya ada Ibu Dwi dan juga Sabit, anak tertua bos Yudi." jelas Barus.


"Oke, baiklah. Kamu tau aja aku gugup." ujar Dewi, turun dari mobil membawa tas bajunya.


Dewi melangkah masuk, Dwi menyambut nya di pintu.


"Selamat malam Bu," ucap Dewi, mengulurkan tangannya.


"Malam, silahkan masuk Dewi," jawab Dwi, menyambut uluran tangan Dewi, mengajak nya masuk.

__ADS_1


"Terima kasih ibu, nama kita hampir sama ya. Kalau gak salah Ibu Dwi." ujar Dewi, melangkah masuk ke rumah besar Wijaya.


Hm, angguk Dwi.


"Mari saya antar ke kamar kamu, setelah itu kita makan malam." ujar Dwi.


"Terima kasih, Bu." ucap Dewi.


Dewi pernah melihat rumah besar Wijaya di berita TV dan media sosial saat pernikahan Tuan muda yang fenomenal.


Gak nyangka akhirnya aku tinggal di sini.


Dalam hati Dewi meletakkan tas bajunya di lantai setelah Ibu Dwi memberi nya kamar tamu bawah di samping kamar Dwi sesuai pesan asisten Yudi.


*


Di kediamannya Johan duduk mematung di sofa di ruang tengah di depan kamar Niah.


Devan menghubungi Damien bertanya di mana Dewi. Damien, karena penasaran sempat bertanya pada Barus kemana Dewi akan dibawa, jawabnya rumah besar Wijaya.


Ya udah, "Rumah besar Wijaya," jawab Damien apa adanya.


Hm, "Johan, bagaimana sekarang. Apa rencana kamu, sepertinya Dewi dalam pengawasan group WJ?" tanya Devan.


Johan bergeming, menyesali keputusan nya men-talak Dewi buru buru. Rencananya berpoligami, sepertinya gagal total.


Bukan mudah menghadapi group WJ, karier yang telah susah payah dibangun nya jadi taruhan.


********♥️

__ADS_1


Jumpa lagi, jangan lupa selalu like ya guys. Vote dan hadiah juga, terima kasih 👍


__ADS_2