
Jumat pagi di kantor WJ, Dewi mengetahui bahwa Johan akan datang. Tapi tidak meeting di ruang meeting namun di ruangan Yudi.
Kalau bukan masalah pekerjaan lalu masalah apa?
Dalam hati Dewi menduga duga.
Ada Barus siaga di depan pintu ruangan Yudi, tatapan mereka bertemu. Barus melempar senyuman pada Dewi.
Hum.
Dewi membalas senyuman Barus kilas, segera buang muka.
Janda baru masih wangi masih banyak yang nampung namun aku masih ingin sendiri, belum mau bersuami dulu. Tapi kalau lama lama keenakan jadi menutup diri takutnya kebablasan gak selera nikah, hah!
Batin Dewi teringat kue kering yang diberikan Bu Dwi tadi pagi lalu memakan nya menunduk di bawah meja.
Enaknya, hm.
Dewi melempar lagi kue kering ke mulutnya, terpandang Barus yang senyum senyum memandang Dewi.
Hehe, "mau," tawar Dewi pada Barus.
Barus mengangguk menghampiri nya, ikut makan bareng Dewi tapi pandangannya tetap fokus ke pintu ruangan Yudi.
Raganya di sini tapi jiwanya kesana, benar benar siaga. Apakah dia se-siaga ini menjaga hati istrinya, kelak.
"Hei, gak usah dilihatin itu pintu gak akan lari. Apa Yudi akan membunuh kamu kalau pintunya kabur?" tegur Dewi.
Hehe, "Iya, enak kue keringnya. Apalagi pemberian kamu," Barus memberanikan diri nge-gombal Dewi.
"Ini dari Bu Dwi, gratis," jawab Dewi, tersenyum jail.
"Iya tambah enak karena makan bareng kamu," jawab Barus gak mau patah semangat.
"Huh, dasar gombal!" senyum Dewi.
"Besok libur weekend, mau kemana?" tanya Barus, merenung Dewi.
__ADS_1
Dewi teringat lagi pada Bu Dwi, "Jalan sama Bu Dwi ke Mall kota reklamasi, katanya belum pernah pergi," jawab Dewi.
"Aku antar, besok juga aku libur." jawab Barus, Dewi dilema.
Nanti dia anggap date enggak ya, tapi kan ada Bu Dwi.
"Benarkah, bukankah kamu bayang bayang Yudi. Emang Asisten Yudi besok juga libur?" bisik Dewi mendekatkan wajahnya, penasaran pada kegiatan Yudi.
Tatapan mereka bertemu, gak nyadar duduk mereka juga hampir nempel. Tak ayal Barus nervous tapi Dewi biasa saja.
Johan yang baru datang diantar resepsionis mendelik melihat kedekatan Barus dan Dewi, biji matanya membesar seolah mau keluar dari rongga nya namun dibuat ketat lagi saat Dewi menoleh.
Dewi melihat senyuman resepsionis cantik gak lepas menghiasi bibirnya, tatapan mata penuh kekaguman pada wajah mantan suaminya itu.
Namun Johan bagai tembok mukanya datar gak ada ekspresi.
Ada apa lagi serius sekali tampang si Johan, apa Niah belum kembali, by the way kemana anak itu pergi.
Batin Dewi sambil melempar lagi cemilan kue kering ke dalam mulutnya.
Johan masuk ke ruangan Yudi, Barus membukakan pintu.
Gumam Dewi pada diri sendiri, terpandang Devan yang gak lupa tersenyum mengangguk pada Dewi, Dewi hanya menarik ujung bibirnya.
*
Hah!
Johan menarik nafas pelan di hadapan Yudi, ada Devan dan juga Arjit yang jadi saksi.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa menanda tangani surat cerai tanpa bicara dulu pada istri saya, Karunia." jelas Johan tegas mendorong satu salinan surat lagi dari Yudi yang isinya sama dengan yang dari Manager Hendra.
"Tuan Johan, pihak Jaguk akan menyetop distribusi bahan bahan. Kita akan mengalami kerugian kalau proyek tidak sesuai planning dan tepat waktu, kepercayaan customer dipertaruhkan." Arjit yang bicara.
"Bagaimana bisa mereka sangat tidak profesional, mencampur adukkan masalah bisnis dan pribadi. Mereka penjual kita pembeli, itu saja kan. Bukankah Presdir anda ada di Amrik, bisa tolong tanyakan?" tanya Johan kesal, ia tau jelas perusahaan sebesar WJ masih kalah dengan Ludwig Amrik apalagi dirinya.
Tapi ini masalah pribadiku kenapa dibawa bawa ke bisnis, sangat menjijikkan.
__ADS_1
Yudi menghela nafas membaca isi pikiran Johan.
"Justru ini berita dari Tuan Presdir. Tuan Bernard mengunjungi Tuan Presdir bersama istri siri anda dan istri anda ingin bercerai namun anda keberatan menanda tangani nya, benarkan begitu?" jelas Yudi.
"Perusahaan besar memang begitu sifatnya, mereka suka memakan perusahaan perusahaan kecil yang mereka gak suka, kadang tidak melihat permasalahan," Yudi lebih lanjut walaupun ia tau Johan masak betul akan hal ini secara dia lulusan terbaik universitas London.
"Tuan Yudi, saya sudah berpesan pada Manager Hendra agar memberitahu istri untuk menelpon saya langsung, saya sudah tunggu tapi mana? Gak ada, tentu saja saya gak percaya kalau keinginan cerai itu dari Niah." Johan jeda.
"Kalau pun iya, saya beri tahu anda bahwa saya sudah men-talak Dewi dan saya menyesal ingin kembali rujuk dengan nya. Namun Dewi bersedia rujuk asalkan saya menceraikan Niah jadi, saya hanya akan menceraikan Niah di depan Dewi sebagai bukti untuk menagih janji Dewi." tegas Johan masih mengelak sekalian mengulur waktu.
Hm, Yudi menarik nafas dalam membaca Johan. Memang sih ia kesal pada Johan yang berniat poligami tapi gak bisa adil bahkan menyakiti Dewi sebagai istri pertama.
Gak ada itu ceritanya suami bisa adil tanpa cela berbagi kasih sayangnya pada dua istri, gak usah munak pasti istri muda lebih prioritas dari istri tua.
Kadang sama anak, darah daging sendiri belum tentu bisa adil. Contohnya aku, lebih sayang Sebi dan Sevi daripada Duta, hah? Waktu hanya sampai minggu depan kalau masalah ini tidak beres bagaimana bisa pulang menjumpai anak istriku, aku sudah rindu berat.
"Masalah bahan kami punya solusi." jawab Johan yakin melihat semuanya terdiam.
"Kalau menurut anda mau ganti konsep, tidak bisa diterima," jawab Yudi cepat.
Darimana Yudi tau bahkan ia belum bicara.
Dalam hati Johan mengerut dahi pandang pandangan dengan Devan.
Johan berpikir lagi. "Maaf Tuan Yudi, saya hanya bisa menceraikan Niah di depan Dewi. Kalau tidak ada telpon gak ada perceraian, itu saja. Sekian dan terima kasih, kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya permisi." Johan berdiri keluar dari ruangan Yudi.
Devan menelan ludah, pasrah menyusul Johan.
Di luar Johan menemui Dewi berdiri tepat di depan perempuan yang sudah ditalak nya itu. Dewi balas menatap Johan mukanya sendu, mereka saling pandang.
Hm, ada apa dia memandangku dengan tampang sedih gitu, batin Dewi.
Barus menatap kedua orang, jelas kelihatan di wajah mereka masih saling cinta.
Mungkinkah ini yang membuat Dewi dan Johan mengulur waktu, tidak ada yang mau menggugat.
"Tuan Johan, Nyonya Dewi bisa masuk sebentar saja. Ada yang ingin di tanyakan pada anda berdua," suara Arjit memanggil dari pintu ruangan Yudi.
__ADS_1
******♥️
Jumpa lagi. Jangan lupa selalu like ya guys, vote dan hadiah juga. Ikuti in terus, terima kasih, 👍