
Betapa kesalnya Lee mendapat berita dari para bodyguard WJ.
"Apa! Arjit membawa Dewi double date dengan temannya dikawal Barus, hah!" gerutu Lee sambil nyetir.
Bukan double date nya yang aku kesalkan tapi si Barus yang menempel terus pada Dewi.
"Tenang guru, jangan sampai kita nabrak! Guru yang rugi gak bisa bersama Nyonya Dewi, malah masuk UGD," seru Sabit prihatin pada Lee, ini untuk kedua kali dia dibawa ngebut oleh gurunya itu.
"Ayahmu itu tega sekali, dia sengaja membuat ku sibuk denganmu terus membiarkan Barus kesana kemari dengan Dewi!" Lee emosi.
"Maaf guru, asisten Barus bertugas mengawal Nyonya Dewi. Menjaga nya dari pria yang dijodohkan Paman Arjit pada Nyonya." ucap Sabit gak enak hati mencoba membela ayahnya.
"Buktinya kita diijinkan libur besok ke kota reklamasi, itu artinya ayah gak pilih kasih," lanjut Sabit.
Ck, mudah mudahan feeling ku salah.
Dalam hati Lee. "Semoga saja begitu, tapi kamu dengar juga apa kata Dewi. Dia lebih memilih Barus daripada rujuk dengan suaminya si Johan. Jadi kalau sering sering Barus dan Dewi bersama lama lama bisa tumbuh cinta, you know." kesal Lee memacu mobilnya, mengikuti jejak mobil Barus dan Arjit.
Hm, "Tenanglah guru, Nyonya Dewi membawa anda pulang ke rumah mantan suaminya sebagai pengawal, artinya anda juga sama dengan Barus di mata Nyonya. Sama sama teman bodyguard,"
Lee menoleh pada Sabit.
Aku masih satu rumah dengan Dewi tapi sama saja, waktuku terbuang bersama Sabit.
Di tatap Lee, Sabit menarik ujung bibirnya. "Kalau menurut aku neh, guru jangan terlalu agresif deh. Bisa bisa Nyonya ilfil, bukankah dia baru saja kecewa. Cerai saja belum tuntas, cooling down guru..cooling down jadilah penyejuk hatinya." lanjut Sabit sok dewasa
Hm, "Nanti waktu aku ke rumah Dewi kamu juga ikut, kita lihat kamar yang bisa barengan seperti di rumah besar." ujar Lee, dia juga butuh penyejuk hati seperti Sabit kayaknya cocok.
Sabit tersenyum lebar. "Terima kasih guru, kemana guru pergi saya akan ikut," ucap nya.
*
Sementara Johan juga gelisah mendapat laporan bahwa Manager Arjit janji makan malam dengan temannya yang akan dijodohkan dengan Dewi.
Arrrgg!
Johan mendesah kasar. "Belum ketuk palu, sudah banyak sekali yang ingin mendekati Dewi. Aku harus bagaimana Devan, cepat lakukan sesuatu menjauhkan kambing kambing itu!"
"Tenang Johan, tunggulah sebentar kita akan melihat seperti apa pria yang dijodohkan dengan Dewi. Kabarnya mereka reservasi di restoran Seroja, kita bisa melihat nya dari sini, itu mejanya yang ada di pojok," jelas Devan.
"Hm,
Gumam Johan mulutnya monyong, gak sabar lagi mau melihat kencan buta si Dewi.
Enggak lama, seorang pria baju kotak kotak motif glen warna abu dipadu celana bahan hitam datang menghampiri meja yang dimaksud Devan, seorang asisten menarik bangku untuknya duduk.
Johan menilai, perawakan tampan dan gagah di usia dewasanya. Rambut sedikit botak di depan kelihatan intelek, menunjukkan kecerdasannya. Tidak gemuk tidak kurus, tinggi badan serupa Johan, tipe Dewi banget
Tapi kepalanya, apa Dewi suka pria yang gak ada rambutnya seperti Yudi. Kalau Yudi botak karena sering dicukur, kalau pria ini botak alami. Senyumnya manis saat berbicara pada asistennya, artinya dia juga bos, hah!
"Itu prianya?" tanya Devan, udah tau pake nanya.
Wakil ketua Seroja juga ikut mendekat, ingin melihat siapa kira kira yang mengganggu ketenangan Johan.
"Wow, sesuatu. Siapa perempuan yang menolaknya, rugi." celetukan wakil ketua Seroja mendapat tatapan tajam dari Johan dan Devan.
Ck, decak Devan.
"Hm, maaf Bos," ucap Wakil ketua Seroja.
Hah! Keluh Johan menatap lagi pada pria yang akan dijodohkan pada Dewi.
Wajah yang familiar tapi dimana pernah melihat nya, ya?
__ADS_1
Johan mengingat ingat. "Sepertinya aku mengenal nya, tapi di mana?" gumam nya yang masih bisa didengar Devan dan wakil Seroja.
"Namanya, Iskandar Leonard. Baru habis masa bakti tugas di kedutaan Australia." jelas Devan.
Seketika Johan berbinar. "Iya, kamu benar Devan, jadi dia pindah ke Australia. Namanya memang Iskan, ayo kita dekati." ajak Johan, berdiri dari duduk nya tersenyum lebar, Devan lega melihat perubahan wajah Johan.
"Kamu bertemu dimana?" tanya devan mengikuti Johan.
"Di Kedutaan London saat aku diundang upacara kemerdekaan. Diminta ke depan baca undang undang, dia itu yang punya kerjaan, hah! Akhirnya jumpa lagi, setelah sekian lama." jelas Johan semangat, turun ke restoran.
*
Barus memarkir mobil masuk halaman parkir Seroja restauran, lalu turun membuka pintu mobil untuk Dewi.
"Barus, aku bukan bos kamu biar aku buka sendiri." tegur Dewi.
"Untuk calon istri buka pintu mah masalah kecil, silahkan Nyonya Barus." Barus mempersilahkan Dewi turun, semakin berani melancarkan rayuannya.
Cis, "Kamu ikut masuk kan?" tanya Dewi.
"Tidak Dewi, tadi Tuan Yudi memerintah ku jangan menganggu pertemuan." jawab Barus, memelas butuh belas kasihan.
"Hei, kamu gak mau lihat saingan kamu di dalam. Ayo masuklah! Kamu pesan meja nanti aku bayar, duduk jangan jauh jauh,"
Dewi mengeluarkan card Banknya, "neh." lalu memberi nya pada Barus. "
"Oh tidak tidak!"
Tolak Barus, walaupun ia senang tapi gak enak hati menerima card Dewi, entar dikira pelit. Ih, amit amit jangan sampai membuat Dewi Ilfil.
"Aku akan masuk tapi biar aku yang bayar. Jangan khawatir Dewi, WJ memberiku gaji yang banyak. Selama 7 tahun kerja, tabungan sudah cukup untuk membangun rumah tangga, ups."
Dewi melotot, Barus mengatup mulutnya. "Apa aku terlalu maksa?" tanya Barus, manyun.
"Nah, itu tau." jawab Dewi.
"Hm, aku belum kepikiran. Johan juga tampan tapi gak menjamin ia setia kan! Bikin sakit hati malah." jeda.
Dewi menarik nafasnya sesak tiba tiba teringat Johan. Barus jatuh kasihan, ingin banget ia jadi tempat sandaran Dewi.
"Besok jalan sama Bu Dwi aku yang traktir, oke." lanjut Dewi.
"Oke," angguk Barus.
"Ayo!" ajak Dewi berjalan mendahului Barus menghampiri Arjit dan Olivia, Barus mengikuti nya.
"Dewi, kenapa kamu meminta nya ikut masuk?" tanya Olive berbisik tapi masih bisa didengar Arjit dan Barus, cis dengus Barus.
"Hm, bolehkan Tuan Arjit?" Dewi balik nanya Managernya.
"Iya sayang, Barus sudah ngerti. Dia tidak ikut bergabung, akan duduk di meja lain. Ayo kita masuk temanku sudah di dalam," jelas Arjit mengandeng tangan Olivia.
Walaupun kadang Arjit kurang suka sifat Olive tapi karena keseksian tubuhnya dan dia gak akan selingkuh, membuat Arjit bertahan.
O...,mulut Olive membulat melirik Barus.
Bukankan dia bodyguard Yudi, baik banget dia memberi Barus jadi pengawal Dewi. Apakah jangan jangan....ah. Mungkin hanya kasihan, Yudi kan gitu orangnya...hatinya baik sama siapa saja kecuali denganku..
Olive menepis pikirannya sendiri,
*
"Hallo, Iskan!"
__ADS_1
Panggil Johan tersenyum menghampiri Iskandar.
Iskandar mengerut dahi melihat siapa yang datang menghampiri nya.
Ya tuhan kenapa harus sekarang.
Dalam hati Iskandar, gak percaya tapi wajahnya yang tidak berubah membuat ia yakin ini adalah juniornya yang dulu saat kuliah di London University.
Namun Iskandar kesal, semasa kuliah Johan yang sombong tidak mengenal nya. Jadilah ia mengundang Johan ke kedutaan saat magang di kantor perwakilan negara RI untuk menjadi panitia peringatan hari kemerdekaan sebagai pembaca undang undang dasar.
Yang sukses membuat Johan kesal. "Kamu jelas jelas mengingat ku, jangan pura pura lupa! Kita gak ada masalah kan?" sinis Johan mengambil duduk di bangku di depan Iskandar.
"Johan! Apa kamu jadi mengingat ku karena bacaan undang undang itu?" tanya Iskandar balik sinis.
"Hm, tentu saja. Kau berhasil membuat ku kesal, apa itu jadi kenangan manis untukmu?"
Iskandar tidak mendengar lagi bicara Johan, pandangan nya tercuri atas kehadiran Arjit menggandeng seorang wanita dan satu lagi perempuan muda dan cantik, berjalan di belakang mereka.
Siapa itu yang berbadan besar, seperti Hulk.
"Iskan," suara Arjit di belakang Johan kaget melihat mantan suami Dewi itu ada di sini
"Arjit," Iskandar berdiri menyambut Arjit.
Johan menoleh ikut berdiri tersenyum melihat Dewi membelalak, lalu menghampiri nya tidak memperdulikan Arjit.
"Sayang, kamu cantik sekali malam ini tapi ini gaun open too much tidak sesuai dengan pribadi kamu."
Johan memeluk Dewi, mengusap punggungnya yang terbuka menampakkan pundak mulusnya.
Dewi mengurai pelukan Johan. "Memangnya kenapa kalau aku ingin merubah image lebih sedikit terbuka," jawab Dewi jutek.
"Tentu saja boleh, tapi tahun depan hm." bisik Johan di telinga Dewi, membuka jasnya menutup pundak Dewi.
Hais, Arjit menghela nafas pelan, gak enak hati memandang Iskan.
Apa rencanaku menjodohkan Iskan dan Dewi akan gatot gegara Johan.
Iskan balas memandang Arjit, dia bisa maklum karena sudah diberitahu masalah Dewi dan Johan.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Arjit pada Iskan menunjuk Johan.
"Tidak terlalu," jawab Iskan cepat.
Johan menoleh, menatap Iskan senyuman mengejek. "Manager Arjit, kami ini teman lama di universitas London." ujar nya pada Arjit lalu menoleh ke Dewi.
"Senior, perempuan cantik ini istriku, dia juga lulusan London. Tentu saja senior tidak mengenal nya karena dia masuk kuliah saat kita sudah lulus," Johan memperkenalkan Dewi ke Iskan.
Dewi merasa risih dipanggil istri oleh Johan. "Mas, ngapain kamu di sini, jangan bilang kamu ngikutin aku?" Dewi suara di tekan marah di wajah Johan.
"Aku kebetulan ada meeting dengan ketua Seroja, tanya saja Devan."
Jawab Johan mencari keberadaan asistennya itu tenyata dia duduk di dekat Barus. Devan melambai.
"Oh, itu dia." unjuk Johan.
Menoleh lagi ke Iskan sambil memeluk Dewi di pundaknya.
"Beruntung sekali kita jumpa di sini, bisa reunian sambil makan bareng. Senior yang akan membayar nya. Bukankah begitu, Tuan duta besar?"
Johan gak tau malu merampok Iskan.
******❤️
__ADS_1
Jumpa lagi.
Do not miss to push the button like nya, ya guys. Thanks, 👍