Manisnya Madu

Manisnya Madu
119


__ADS_3

Barus sampai di rumah besar. Parkir di halaman utama, segera ia turun dari mobil membukakan pintu untuk Iskandar.


Bagaimanapun dia adalah tamu, amanat Tuan Arjit. Aku ini siapa lah, hanya seorang pengawal keamanan perusahaan WJ.


Batin Barus menyabarkan hatinya. "Silahkan Tuan," ujar Barus pada Iskan.


"Terima kasih, Barus." senyum Iskan turun dari mobil.


Di depan pintu terlihat Lee dan seorang pria dewasa serta wibawa menunggu nya.


Yang satu aku sudah lihat, apakah yang satunya Yudi. Wajahnya serupa anak muda yang bergabung di meja sebelah saat di restoran Seroja, katanya dia putra Yudi...baiklah!


"Tuan Iskan, ini Bos Yudi." ujar Barus memperkenalkan Yudi pada Iskandar.


Iskan mengangguk tersenyum. "Saya sudah menduga dengan melihat putra anda, hallo Tuan Yudi. Saya Iskandar, teman sekolah Arjit," sapa Iskan memperkenalkan diri, mengulurkan tangannya pada Yudi.


Yudi menerima uluran tangan Iskandar, ia sudah diberitahu Arjit bahwa seorang temannya akan menginap di rumah besar.


Jadi ini orangnya yang ingin dijodohkan pada Dewi. Memanglah Barus akan kalah kemana mana dibandingkan dengan orang ini kalau dilihat pake mata kasar tapi tidak kalau pakai hati dan rasa.


Batin Yudi saat membaca Dewi belum ada yang disukai nya dari semua kandidat, hm.


Hm, "Silahkan masuk, Tuan," jawab Yudi, mempersilahkan.


"Maaf Tuan Yudi saya jadi merepotkan anda bertamu malam malam." ucap Iskan sungkan mengikuti Yudi masuk.


"Tidak apa apa, anda teman dari majikan saya. Saya berkewajiban melayani anda." jawaban Yudi menambah rasa respect Iskandar pada Yudi.


Semua yang dilakukan nya dihitung pengabdian, benar benar low profile. Katanya Tuan muda lebih tampan jadi seberapa tampan si Bramasta Wijaya itu.


Dalam hati Iskan menilai penampilan Yudi dan Bramasta si Presdir utama yang fenomenal hanya pernah melihat photonya saja dulu saat pernikahan yang heboh.


Yudi membawa Iskan ke ruang keluarga. "Anda ingin langsung istirahat di kamar?" tanya Yudi.


"Ah, saya mau ngobrol dengan Tuan Yudi si misterius man, boleh kah?" jawab Iskan balik nanya, sekalian biar ia ada teman menunggu kiriman kopernya dari asisten.


Iskandar sudah reservasi kamar di hotel Sibolon yang sudah ganti kepemilikan oleh Ludwig Trump.


Tapi rumah ini lebih nyaman dari hotel.

__ADS_1


Iskan melihat di dinding ruangan ada bingkai besar photo wedding.


Inikah si Wijaya dan istrinya, hm cantik sekali masih muda sudah punya anak, kabarnya. Apa yang kau lakukan Iskan hari gini belum nikah...


Keluh dalam hati Iskan.


"Hm, silahkan Tuan." Yudi mengambil duduknya di sofa, mempersilahkan Iskan.


Yudi dan Iskan berdua di ruang keluarga. "Bagaimana Nyonya Dewi, apa dia baik baik saja? Saya gak nyangka kalau mantan suaminya sangat arogan." Iskan memulai pembicaraan, bingung juga mau bahas apa.


"Dia baik lagi istirahat di kamarnya, sedikit agak shock. Besok masih bisa bertemu saat sarapan atau anda mau makan lagi mungkin masih lapar karena tadi ada gangguan." tawar Yudi, itu juga karena ia tau di meja makan dapur banyak stock makanan.


"Sebaiknya menunggu Arjit, katanya dia akan ke mari setelah mengantar isterinya." jawab Iskan sambil mengitari pandangan nya.


Hm, angguk Yudi sungkan gak tau lagi apa yang mau dibicarakan, berharap Arjit segera datang mengurus temannya, huh.


"Silahkan Tuan," Bu Dwi datang membawa teh dan camilan Karipap kare ayam (Pastel ayam).


"Terima kasih, Bu." ucap Iskan tersenyum ramah pada Dwi.


"Hm," senyum Dwi pada si Tuan tampan.


Sementara Lee tertahan di ruangan tengah utama, ada yang perlu dibahas nya bersama Barus mengenai Dewi. Lee mengenal Iskan, seniornya dulu saat pelatihan jadi agen.


Dalam hati Lee.


*


Di rumahnya Johan makan masakan Pak Dadang.


Perut Pak Dadang suka mulas, gak cocok makan nasi bungkus atau makanan dari luar jadilah ia memasak sendiri ternyata Johan menyukai nya.


Beruntung tadi masak banyak maksudnya mau makan bareng satpam, biarlah nanti minta satpam beli nasi bungkus sendiri.


Dalam hati Pak Dadang senang juga Johan menyukai masakan nya walaupun itu terpaksa karena lapar. Memang Johan suka masakan rumahan, apalagi saat ada Dewi.


Perut Johan memang masih lapar tadi di Seroja gak makan karena sibuk ngopek untuk Dewi malah dikasih ke pria lain jadi emosi kan, ah.


Devan menemani Johan, ia hanya minum es buah kalengan. Untuk makanan berat Devan masih kenyang tadi sempat icip icip di dapur Seroja.

__ADS_1


"Devan apa rahasia yang kamu sembunyikan dari ku, bersama si bodyguard from London?" tanya Johan.


"Bukankah aku sudah pernah bilang, karena kamu membawa Dewi kabur jadi si Prana calon suami Dewi dulu mengancam ayahnya dengan sebuah perjanjian. Orang tuanya terancam miskin kalau kamu menceraikan Dewi dalam waktu 4 bulan ini." jelas Devan


"Jadi karena itu Dewi menggugat cerai nunggu 4 bulan." gumam Johan.


"Dewi gak tau saat kamu men-talaknya, sesaat dia galau saat diberitahu Lee."


"Tapi sepertinya sekarang dia sudah tidak perduli pada ayahnya walaupun jatuh miskin terserah, asalkan ia tidak diminta kembali padamu. Makanya kamu jangan terlalu memaksa nya Johan, Dewi akan semakin menjauhi mu."


Huh, desah Johan.


*


Pagi pagi Dewi bangun kaget saat ke dapur melewati ruang makan.


Ada senior Iskan sarapan bareng atasannya, Manager Arjit dan Tuan Yudi. Lee dan Sabit juga Barus tidak ketinggalan ikut bergabung


Ini kan hari libur weekend, kenapa para pria pria ini cepat sekali bangunnya sementara aku perempuan malah bangkong.


Batin Dewi menghampiri Dwi yang sibuk di dapur, jadi segan.


"Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dewi berbisik di telinga Dwi.


"Kamu sarapan aja, di sofa kalau segan di ruang makan. Itu semua masakan diantar chef dari resto WJ, saya cuma nyiapin meja." jawab Dwi agar Dewi tidak perlu sungkan.


"Ibu sudah sarapan?" tanya Dewi lagi.


"Sudah, selesai ini saya temani kamu. Pergilah sarapan sana, sudah ada di meja sofa." ujar Dwi, dia lagi buat jus pare untuk Arjit.


"Terima kasih Bu,"


Ucap Dewi ke sofa melihat menu ada macam macam surabi. "Wah, bisa habis lima porsi ini mah makanan kesukaan ku." gumam hati Dewi melirik ke ruang makan yang dibatasi kaca transparan.


Barus hari ini sangat bergaya, pakai baju santai. Benar benar seperti orang mau pergi kencan, astaga.


Dalam hati Dewi sangat lucu memikirkan Barus.


Bisa bisanya dia menyukai ku, kayak gak ada perempuan lain yang lebih pantas, hah. Gimana kalau untuk manas manasin Johan aku berkencan saja dengan nya...

__ADS_1


******❤️


Jumpa lagi, 👍


__ADS_2