
Johan duduk bersandar di headboard kasur, setelah puas mencumbui Niah. Walaupun tidak ada perlawanan dari istrinya itu, Johan tetap menikmati nya. Sayang sekali Niah lagi datang bulan, kalau tidak saat ini juga Johan akan mengambil apa yang menjadi haknya sebagai suami.
Berani beraninya mau kabur dariku, hah jangan mimpi.
Batin Johan memeluk istrinya itu geram. "Niah, jangan berpikir untuk lari dariku, kemanapun aku akan menemukan kamu. Paham Karunia Sukriman!"
Johan suara tegas pada Niah, janda ting ting di pangkuannya itu terisak hanya cd yang melekat di tubuhnya kerena Johan melucuti pakaiannya agar Niah tidak berpikir lagi untuk kabur dari nya.
Beruntung aku lagi datang bulan kalau tidak, mungkin benteng pertahanan ku sudah dijebol si cabul ini saat ini juga, dasar maniak!
Bagaimana aku bisa kabur dari sini..
Si bapak ngapain sih belain Johan, gak kasihan apa sama Nyonya Dewi. Nanti aku bilang sama Bibi, biar dia diomelin.
Gerutu dalam hati Niah, kesal atas sikap Pak Dadang. "Hiks hiks." Karunia masih terisak, malu banget topless di depan Johan.
"Jangan karena aku baik padamu, kamu bisa seenaknya. Apa perlu aku kejam dulu baru kalian takut, baru ngerti patuh pada suami, hm!" Johan menggertakkan giginya, mengusap air mata di pipi Niah.
Niah mendongak, menatap Johan. "Tuan, apa gak kasihan pada Nyonya. Kenapa anda di sini seharusnya Tuan di kamar bersama Nyonya, beliau sedang sakit." jawab Niah.
"Ini karena kamu, kalau kamu kasihan pada Dewi. Duduk diamlah di sampingku, jangan berpikiran untuk kabur." sergah Johan.
Ck, pergi salah tinggal di sini salah.
"Yang membuat Nyonya sakit itu saya, biarkan saya pergi Tuan." mohon Niah.
"Aku minta kamu tinggal di Apart gak mau, sekarang minta aku biarkan kamu pergi sesuka mu. Jangan harap! Kalau kamu gak mau Dewi sakit, tinggallah di Apart, ehm." Johan suara lembut memujuk Niah.
Kalau aku di Apart, si cabul ini akan lebih leluasa melakukan nya padaku, hah serba salah.
"Gak mau di Apart." Karunia suara pelan.
"Kenapa?" tanya Johan pura pura, padahal ia sangat ngerti kenapa Niah tidak mau tinggal di Apart, heh.
Kenapa kamu takut Niah, padahal aku akan memanjakan kamu. Belum tau rasa kamu, kalau sudah coba sekali bakalan kamu yang ngejar ngajar aku.
Batin Johan, terkekeh geli dalam hati melihat Niah seperti tikus yang terperangkap tapi masih coba melawan.
"Ini kenapa kecil sekali?" Johan meremas susu.
__ADS_1
Ck, "Tuan, sana keluarlah. Ngapain di sini." Niah menepis tangan Johan.
"Aku akan disini sampai pagi, jadi jangan harap bisa kabur."
"Aku gak kabur, pergilah lihat Nyonya. Dingin, aku mau pakai baju." Niah berusaha bangun dari pangkuan Johan, namun Johan menarik nya lagi lalu memeluk Niah.
"Aku akan menyelimuti kamu dengan tubuhku, ayo tidurlah sudah larut juga."
"Pergilah aku mau ke kamar mandi, ganti pembalut." ujar Niah, akhirnya Johan melepas nya.
*
Devan berbaring di kamar tamu, terpaksa ia nginap lagi malam ini di rumah Johan, hah!
Devan benar benar kecewa pada sikap Johan, dalam keadaan Dewi begitu menderita bisa bisanya dia masih memprioritaskan Karunia.
Kalau Pak Dadang tidak ikut campur, Devan dengan senang hati akan membantu Niah kabur, ah! Devan mengepal tangan geram, pingin rasanya menonjok Johan.
Kalau bisa mendapatkan hatimu, aku dengan senang hati menolong kamu Niah.
Arghh!
*
Dewi di kamarnya terpejam mbok Senah menunggui nya.
"Ya Tuhan, mengejutkan sekali. Cobaan ini datang tiba tiba." gumam Si mbok memandang wajah pucat Dewi kasihan.
Cklekk.
Pintu dibuka, suami mbok Senah datang menghampiri lalu memanggil istrinya itu bicara agak jauh dari Dewi.
"Niah berusaha kabur tapi Tuan berhasil menahan nya." jelas Pak Dadang.
"Jadi bagaimana sekarang, kalau Karunia masih di sini kasihan Nyonya yang akan tertekan batin." keluh mbok Senah.
"Kamu pujuk lah Niah, agar mau tinggal di Apart." mohon Pak Dadang.
Ck, " Niah tidak mau Dadang, takut diapa apain sama Tuan. Bagaimana kalau beritahu Nyonya besar agar Niah diusir seperti si Kurni dulu." usul Mbok Senah.
__ADS_1
"Hush, kamu mau melawan Tuan muda sekarang dia majikan kita. Kalau dia tahu kamu menghubungi Nyonya besar, habislah. Bagaimana biaya Kuliah Adam dan Seno, bisa putus ditengah jalan. Kamu gak mau apa melihat kedua putra kita sarjana." Sergah Pak Dadang marah dengan ide istrinya.
Anak mereka ada 3, satu anak bungsu perempuan bernama Nurlela telah menikah. Kedua anak lanang masih Kuliah hukum dan Ekonomi tentu saja biayanya tidak sedikit dan semua itu dalam tanggungan Johan.
Mbok Senah memandang Dewi yang terpejam serba salah. "Sudah, kamu keluar sana!" si mbok menghalau Dadang.
Dasar tak berguna.
Batin si mbok mengutuk suaminya.
*
Setelah ganti pembalut, Niah kembali ke pelukan Johan akhirnya tertidur tetap masih polos kecuali cd yang melekat di tubuhnya.
Johan membaringkan nya lalu menyelimuti nya sebelum keluar dari kamar Niah. Lalu memberi perintah pada satpam agar memperketat pengawalan dan mengancam akan memenjarakan satpam yang bertugas jika Niah sampai kabur dalam pengawasan nya.
*
Dewi membuka matanya, karena merasa sunyi tidak ada suara. Terlihat mbok Senah duduk di sofa ngantuk ngantuk
Cklekk.
Pintu kamar dibuka kembali Dewi memejamkan matanya.
"Bi, bibi." terdengar suara Johan membangunkan mbok Senah.
"Eh, maaf Tuan saya ketiduran." ucap mbok Senah, mengusap mulutnya takut kalau kalau ada ilernya.
"Pergilah tidur di kamar Bi, saya yang akan menjaga Dewi." ujar Johan.
"Iya Tuan, permisi." angguk si mbok lalu keluar dari kamar Johan.
Dewi merasa ada yang mengusap wajahnya kilas, jemari Johan. Lalu terdengar suara pintu kamar mandi di buka tutup, Dewi kembali membuka matanya.
Apa yang harus kulakukan, Johan tidak ingin melepas ku begitu juga dengan Niah. Dia mau beristri dua secara paksa, tapi tidak bisa adil. Kalau tidak ada nafkah batin bagaimana bisa disebut suami istri...
Malam terlewati sampai pagi, Dewi di kasur melamun sendiri Johan di sofa juga sendiri. Kelihatan gelisah, putar sana putar sini.
******♥️
__ADS_1
Jumpa lagi, 👍