Manisnya Madu

Manisnya Madu
42


__ADS_3

Dewi ingin membangunkan Johan, tapi ia segan atau sebenarnya suaminya itu sudah bangun hanya tidur pura pura. Itu juga yang membuat Dewi enggan.


Hm, Dewi ke Wardrobe hendak menyiapkan baju kerja Johan, setelahnya ia ke balkon membawa peralatan kustum nya. Suasana balkon yang sejuk angin berhembus masuk ke paru paru, lumayan sedikit bisa melapangkan dadanya dari kemaren terasa sesak.


Dewi menarik gorden pembatas kamar dengan balkon, warnanya yang transparan membuat Dewi bisa melihat Johan begitu juga sebaliknya.


~


08.00wib, teng!


Devan sampai ke kediaman Johan, mau jemput si bosnya ke kantor.


"Pagi, Niah." sapa Devan pada Niah yang lagi nyetrika.


"Pagi, Tuan Devan." jawab Niah tersenyum manis, walaupun kemanisan gak membuat Devan khawatir kena diabetes.


"Tuan mau kopi atau jus?" Karunia menawari Devan minum.


"Kopi niah, gak pake gula." ujar Devan, duduk di sofa sambil menonton tv menunggu Johan turun sarapan.


"Ya pahit dong, gak ada kopi instan sachet." seru Niah.


"Cukup melihat kamu Niah, ntar juga kopinya jadi manis sendiri."


Pletak. Satu sentilan di tengkuk Devan.


"Aduh." pekik nya.


"Johan, aku ini sudah tua. Kamu jangan sentil di kepala, gak sopan!" sergah Devan pada Johan. Sejak kapan pula dia berdiri di belakangnya.


"Dari pada kening kamu yang aku sentil, kamu pilih mana jomblo akut." ketus Johan.


Cis, dengus Devan.


"Ayo, sarapan." ajak Johan pada Devan, tak lupa melirik Karunia yang pura pura sibuk nyetrika sejak ia menghampiri Devan. Hm, Johan menarik ujung bibirnya.


Semalam ia nginap di kamar Niah untuk menghindari pertengkaran dengan Dewi. Bagaimana tidak ia tidak naik darah tinggi, status Dewi masih istrinya kenapa pergi jumpa pria lain yang statusnya juga single.


Aku tidak akan pernah mau menceraikan kamu Dewi, kita lihat apa kamu juga tipe wanita yang suka selingkuh di belakang suami.


~


Di kamarnya, Dewi terdiam di balkon kamar.

__ADS_1


Tadi menunggu Johan bangun, Dewi mempelajari pola dasar di tabletnya. Balkon kamar lumayan lebar, ada bangku dan meja sangat cocok dibuat tempat santai sambil belajar online. Dewi tau Johan ada meliriknya sebentar, namun setelah itu....


*


Satu hari lewat begitu saja, dia turun hanya untuk makan. Sampai malam Dewi hendak tidur, Johan belum kelihatan batang hidungnya.


Namun begitu pagi pagi saat bangun Dewi melihat ada tanda tanda Johan masuk kamar, itu karena di keranjang baju kotor ada teronggok baju bekas Johan.


Siang nanti jadwal ke rumah sakit, apa Johan akan datang? Baik aku minta Shopie buat ngingatin saat nanti mereka jumpa di kantor.


Batin Dewi cukup mengirim pesan aja pada Shopie gak usah telpon, Dewi malas mendengar suaranya.


Dewi turun hendak sarapan, di ruang makan ada Johan dan Devan.


"Pagi mas! Pagi Devan!" sapa Dewi duduk di samping Johan.


"Hm." gumam Johan.


"Pagi Dewi." jawab Devan.


"Siang ini jadwal program ke rumah sakit Bagus, mas jangan lupa datang." Dewi mengingatkan walaupun tadi dia sudah mengirim pesan pada Shopie, buat jaga jaga kalau kalau mereka lupa.


"Baik Dewi, aku pastikan Johan akan sampai di sana tepat waktu." Devan yang jawab.


"Terima kasih, Devan." ucap Dewi meraih gelas susu rendah lemak, meminum nya setelah menggigit sehelai roti bakar. Sarapan favorit Dewi.


"Aku tunggu di ruang tengah." ujar Johan pada Devan melihat di piring asistennya itu masih ada tersisa makanan.


"Hm." jawab Devan, gak niat juga mau cepat cepat berdiri, makan pelan pelan sembari menemani Dewi sarapan.


Dasar, Johan sialan.


Dalam hati Devan mengumpat bosnya yang keterlaluan.


~


Di lantai dua di ruang kerja Johan, Karunia membersihkan lantai menggunakan vacum cleaner sambil bicara di telpon dengan Tari.


"Kenapa lama baru kamu hubungi aku?" ketus Karunia.


"Aku sibuk, anak aku demam tinggi. Sekarang udah mendingan sore bisa pulang." jelas Tari nada sedih.


"Hm, syukurlah kamu cepat datang. Sepertinya ikatan batin kalian cukup kuat, walaupun kamu cuma mengandung bibit dari majikan kamu."

__ADS_1


Ujar Karunia teringat Dewi, gimana nanti kalau jadi anaknya lahir dari rahim Shopie. Si bayi tetap mencari ibu yang mengandung dan melahirkan nya.


"Udah dulu, Niah. Nanti ada lapang aku telpon lagi." pamit Tari.


"Oke, dah Tari."


"Dah, Niah." terdengar Tari menutup panggilan.


"Ah!" Karunia terpekik di dalam kerongkongan, Johan menyumbat bibirnya menekan tubuhnya kebalik tembok di pojok ruangan kerja Johan.


Karunia meremas kemeja di pundak Johan, menahan sensasi ciuman Johan di bibirnya. Sesaat Karunia teringat, hampir tiap malam ia merasakan ini dalam mimpi tidurnya.


Johan, melu mat bibir memeluk Niah erat. Walaupun gadis yang telah sah jadi istrinya itu tidak membalas namun ia membuka bibirnya memberi ruang bagi lidah Johan menyesap ke dalam mulutnya.


Argh!


Johan mendesah disela hisapan nya, gadis belia di pelukannya sangat enak. Masih muda dan segar, harumnya semerbak ibarat bunga di taman yang sedang mekar di pagi hari sangat indah di pandang.


Hah!


Desah Niah menatap tajam sesaat Johan melepaskan pagutan nya.


Johan menyeringai keluar dari ruang kerja mengusap bibirnya dan membenahi kemejanya bekas remasan tangan Niah.


Jumpa Dewi di tangga bawah, Johan tersenyum canggung berlalu dari hadapan nya.


"Mas." panggil Dewi.


Johan berhenti melangkah, menghadap Dewi namun tak bersuara hanya memandang tanda ia mendengarkan seandainya Dewi mau bicara.


"Sampai kapan mas menghindari ku?" tanya Dewi, menatap ke iris Johan.


"Sampai kamu tidak lari ke pria lain saat ada masalah dengan ku." jawab Johan.


Dewi termangu, hatinya panas bercampur sedih namun ia menahan dirinya.


Kenapa jadi aku yang terlihat buruk pada pandangan mu, sedangkan apa yang kau lakukan aku tidak boleh mempermasalahkan nya.


Batin Dewi segera berlalu dari hadapan Johan naik ke lantai dua menuju kamarnya. Tubuh nya terhempas di kasur jatuh air mata. Menangis lah ia sejadi jadinya.


Karunia dari balik pintu sedikit banyak melihat perdebatan menjadi kasihan pada Dewi.


Maaf Nyonya, bagaimana aku bisa menolong mu. Menolong diri sendiri saja aku tidak mampu.

__ADS_1


*******♥️


Jumpa lagi, 👍


__ADS_2