Manisnya Madu

Manisnya Madu
103


__ADS_3

Selasa 08.00wib waktu Jkt sama dengan senin 21.00 waktu NYC Amrik.


Niah mengekori bodyguard yang menggotong Zan dan dua orang asistennya yang mabuk, muntah muntah sangat menjijikkan.


Ternyata pemilik hotel tempat mereka nginap mengenali Zan sebagai tamu dari Ludwig hotel adalah pemilik dari club ini juga.


Flashback on.


Niah dan Zan makan di resto mewah Ludwig hotel tempat mereka nginap.


Ada menu masakan Nusantara, jengkol sambal kesukaan Niah dan petai bakar sambal belacan sayur asem. Lengkap lah sudah kebahagiaan nya, penasaran Niah bertanya pada Zan.


"Benarkah ini NYC, Amrik? Jangan jangan Kamu bohong lagi!" ketus Niah, pamer jengkol di depan Zan satu kali ngap masuk mulutnya.


"Hm, enaknya." seru Niah.


Yeakh! Zan mengeluh, ia tidak menyukai rasa jering terutama baunya.


Hais, kenapa lah aku suka sama perempuan neh.


Batin Zan mengernyit, teringat Neneknya masa hidup juga suka jering padahal sudah susah kencing.


"Betul lah! Kamu enggak bisa baca masa kita sampai kat airport ada tulis JFK internasional airport, NYC."


Suara Zan ketus, masih ngilu melihat cara mulut kecil Niah makan, mana baunya kemana mana. Apalagi mereka mengambil ruangan privat, tertutup apa gak tambah ngap.


"Ada jengkol siapa mau makan, emang bule doyan?"


Tanya niah serius heran melahap dengan nikmat. Sudah lama juga dia gak makan semenjak Nenek Zan meninggal, jering dilarang keras di Mansion milik keluarga Zan, makruh kata abah Zan.


"Tak taulah, Zan pun baru kali ini pergi Amrik. Kat London pun tak pernah nampak benda neh," jawab Zan.


"Zan, belikan aku nomor Amrik ya." tiba tiba Niah ganti topik.


Zan mengerut, "Buat apa, aku cuti cuma 5 hari saja. Satu hari pergi jemput kamu kat Jkt, dua hari kita dalam pesawat pulang pergi. Sisa dua hari buat kita jalan jalan, maka dari itu cepatlah makan Niah biar kita pergi shoping dan keliling tempat hiburan disini,"


Zan suara ditahan mendelik pada Niah, tak ingin buang waktu hanya untuk lihatin Niah makan banda busuk tuh.


"Oke lah, ehegh." jawab Niah sambil sendawa.


"Alamak, Niaaaaaah!!!"


Jerit Zan seketika kabur keluar dari ruangan, disusul dua asisten Zan yang kalem ikut terkekeh melihat si bos mereka mabok mau muntah padahal belum minum alkohol seperti cita citanya datang ke Amrik.


Tinggallah Niah sendirian makan sambil senyum senyum, ternyata ia sengaja biar Zan ilfil padanya. Biar gak niat macam macam, gak kebayang kan kalau Zan tiba tiba nembak dan minta cium, gitu.


"Hahahaha,"


Enggak tahan Niah tertawa terbahak bahak teringat raut Zan dan dua asistennya yang ngacir kebau-an.


*


Setelah makan siang Zan membawa Niah jalan jalan ke pusat perbelanjaan kota NYC, berhubung Zan juga baru ini ke Amrik lebih kurang sama katrok nya seperti Niah. Belanja barang barang diskon, berburu jam tangan, dasi dan sepatu tidak ketinggalan parfum.


Sementara Niah, hunting cemilan aneh aneh yang belum pernah ia makan sebelum nya.


"Niah, kenapa hanya pikirkan makanan?" Zan geleng kepala sikap kekanakan Niah.


"Aku hidup untuk makan," jawab Niah, mengambil satu pack cemilan seperti snack meruku rasa kare.


"Makan untuk hiduplah, bukan hidup untuk makan. Keropok tuh, kat malaysia pun ade," sergah Zan.


"Iya lah, bawel." jawab Niah sambil jalan ia gak sabar ngemil.


Ck ck ck ck. Zan berdecak


"Beli lah satu atau dua barang kenang kenangan, kasut kah, jam atau bag, tak tau bila kita kemari lagi," tawar Zan.


"Baiklah,"


Niah masuk ke toko tas menyambar satu yang menurut nya lucu, catet. Namun lucunya jadi hilang pas lihat harga.


"Zan, aku gak usah beli tas ya, kayak nya aku butuh sendal deh," ujar Niah alasan menarik Zan keluar dari toko, mengambil satu stik meruku menyuapi Zan.


Zan membuka mulutnya, menahan Niah. "Niah ambil kataku, kan aku yang bayar," ujar Zan mengerti kenapa Niah berubah pikiran.


Karena harga tas setelah dirupiahkan jadi 150 juta, mendelik mata Niah sebesar jengkol yang dimakan nya tadi.

__ADS_1


"Tapi itu mahal, bisa beli jering seratus kontainer." ujar Niah suara gak bisa pelan marasa karyawan toko gak ngerti bahasa nya.


"Hahahaha,"


Enggak tahan Zan ketawa begitu juga dua asisten yang sudah keberatan membawa barang belanjaan mereka jadi sedikit terhibur.


"Cepatlah ambil, lepas neh kita pergi club." ujar nya pada Niah.


"Nyonya, bungkus tas nya." perintah Zan pada pramuniaga setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.


Setelan mendapatkan tas, Zan membawa Niah ke toko perhiasan, alasan mau membeli ketiga Uminya cincin dengan masing masing ukuran setelah itu Zan membeli satu lagi ukuran lebih kecil.


"Ini untuk mantan ibu tiriku," ujar nya menarik tangan Niah tanpa sempat mengelak Zan telah menyematkan di jari manisnya.


"Astaga," ucap Niah kaget bukan karena terharu tindakan Zan yang tiba tiba tapi harga cincin yang gak kira kira, 2,5 M.


"Tak Nak!" Niah lantang melepas cincinnya.


Zan memandang sekeliling, lalu menatap Niah sayu.


"Niah, kalau tak suka padaku tak apa tapi jangan lah tolak depan orang ramai, kan aku malu," ucap Zan nada sedih.


Ahh! Kan apa kataku, nembak deh dia.


Batin Niah serba salah, "Zan, jangan salah paham. Bukan aku gak suka tapi dari pada belikan aku batu kecil ini 2M, lebih baik kamu berikan aku cash nanti aku beli rumah batu, dapat dua tingkat lengkap dengan kolam berenang dan satpam." ujar Niah, barulah Zan tersenyum.


"Aish, comel nya budak." ujar Zan menangkup pipi Niah tatapan pada bibirnya hampir hampir mau menyambar, teringat tadi Niah makan jering, hem.


Niah menelan ludah matanya sudah melotot, seketika lega.


Ah, beruntung gak jadi.


Batin Niah saat Zan melepas tangkupan nya, keduanya tersipu malu menahan grogi.


"Ambil lah, ini hari jadi aku ke 21 biarkan aku senang hm." Zan nada memohon agar Niah jangan menolak pemberian nya.


Dengan terpaksa Niah rela menerima cincin pemberian Zan, memang cantik kelihatan bertengger di jari manisnya.


"2 ember," gumam Niah memandang cincinnya.


Hm, ya sudahlah.


Habis maghrib mereka ke Club, musik memekakkan telinga jantung Niah berdegup kencang.


"Bu, maafin Niah," ucap Niah, rasa dadanya mau pecah baru pertama masuk club.


"Ayo kita menari," Zan menarik Niah bergabung dengan pengunjung lainnya.


Niah kaget, "Aku gak bisa nari," ujar Niah, suara keras pun masih harus dekat telinga baru kedengaran.


"Tak apa goyang goyang saja bahu, gini," Zan memberi contoh menggoyang goyang tubuhnya.


Hais, ya sudahlah demi Zan, kan dia ulang tahun.


Dalam hati Niah terkikik geli, akhirnya ikut bergoyang acakadut. Zan ikut tertawa melihat goyangan Niah, kaku macam kayu.


Di satu sudut club seseorang yang mengikuti mereka sejak dari hotel mengambil photo untuk dikirim pada klien yang membayar nya.


*


Acara yang ditunggu tunggu Zan adalah minum sedikit keras dari biasanya, satu satunya yang belum dijajal Zan sampai usia dua puluhan yaitu alkohol.


Asisten Zan sudah memesan minuman untuk dua orang yaitu Zan dan salah satu dari asisten karena satu orang lagi harus nyetir gak boleh minum.


Niah menatap Zan, "Jangan minum Zan, kenapa kamu mau merusak dirimu." ujar Niah.


"Terpulanglah jawaban kamu," jawab Zan.


"Aku?" tunjuk Niah ke depan hidungnya, gak ngerti ngapa dia dibawa bawa.


"Hm," angguk Zan.


"Niah, abah menjodohkan aku dengan anak perempuan sultan," Zan to the point.


"Baguslah, kan cantik tuh sekolah pun U kat UK pulak," jawab Niah cepat.


Ck, decak Zan. "Dengar dulu, aku tanya habis baru jawablah," sergah nya.

__ADS_1


"Ya udah," Niah deg degan, sudah tau kemana arah pembicaraan.


"Apa kamu mau menikah dengan orang yang kamu tak ada rasa cinta?" tanya Zan.


Hm, "Aku nikah sama abah kamu mana ada cinta," jawab Niah cepat, memang kenyataan.


Pletak.


"Aduh!" satu sentilan di kening Niah.


"Itukan nikah pura pura. Ini nikah sungguhan, berketurunan, berkembang biak," Zan suara keras, diiringi hingar bingar musik.


"Hihi," tawa Niah sumbang teringat dirinya.


"Nikah aja dulu nanti cinta lah," jawab Niah. Zan mengernyit.


Kenapa Niah gak kaget atau shock gitu kan aku dah bagi cincin tadi kata dia suka, deg.


Batin Zan udah mulai gak enak, "Adakah macam tuh?" tanya nya.


"Adalah, contohnya aku. Cerai dari abah kamu, nikah lagi gak ada cinta juga," jawab Niah menatap Zan. Apa boleh buat hanya ini cara menolak Zan walaupun semula Niah mau merahasiakan nya.


Benar saja, Zan membelalak. "Kamu, sudah nikah lagi?" tanya nya.


"Hm," angguk Niah, seketika Zan lemas.


"Kamu pikir kenapa aku ajak kamu lari neh?" tanya Niah.


"Karena gak cinta," jawab Zan.


Hm.


Niah menggeleng, menarik nafas dalam.


"Kalau abah kamu bilang gak ada kontak pisik ya udah, enggak. Tapi suami baru aku neh bohong, dia mau buat anak denganku. Suka pegang sana pegang sini, aku pula suka disentuh olehnya lama lama jadi cinta," jelas Niah teringat Johan.


"Terus, kenapa kamu lari kalau suka?" tanya Zan gak percaya.


"Laki orang lah!" jawab Niah lemas.


"Aku mau nyanyi duet, tak mau trio apalagi kuartet," lanjut Niah mengangkat tangan ke mulut seolah memegang mic.


Dua asisten terkikik geli, mikir ngeres pasti maksud Niah bukan nyanyi keluar suara tapi keluar air ketuban. Zan terdiam.


"Dia gak masalah menceraikan istrinya, tapi aku yang kasihan pada istrinya baik sangat. Jadi ya udah, lebih baik aku pergi." jawab Niah sedih.


Tanpa pikir lagi Zan meneguk habis minuman di gelasnya. Gelas besar sekali tenggak, gak cukup Zan pesan 10 gelas lagi.


"Kalian dua ikut aku minum," Zan memerintah asistennya.


Masing masing mereka memegang satu gelas, ting!


Mereka tosh, kalau asisten satu gelas macam minum air putih kalau Zan setengah gelas rasa macam minum air kencing kuda langsung mabuk. Tapi maksa lagi minum sampai pingsan dan kedua asisten ikut teler, deh.


Semua itu tak luput dari perhatian intel, bahkan merekam nya melalui aplikasi vidio yang akan dikirim pada kliennya yang membayar yaitu Tuan Johan.


Niah terbengong, bagaimana cara membawa pulang ketiga orang mabuk.


Saat intel hendak berdiri menghampiri Niah, seseorang mendahului nya.


Hm, "Saya Bernard Ludwig pemilik club ini dan Ludwig hotel tempat kamu menginap. Kamu mau ikut pulang, saya juga mau ke hotel biar nanti teman teman kamu diurus anak buah saya," ujar Beno pada Niah, ia kebetulan sedang inspeksi sekalian jumpa klien.


Niah heran ada bule bisa bahasa indonesia dengan lancar dan dia tau mereka nginap dimana, ya udah. Lagian gak ada waktu untuk curiga sekarang yang penting bisa keluar dari club yang berisik.


"Terima kasih, Tuan." ucap Niah.


Beno memperhatikan Niah perawakan mirip Kiara, Kiwawa nya. Jelas jelas Beno tau Niah orang indonesia baru pertama ke Amrik lalu memerintahkan Bodyguard club mengangkat ketiga orang mabuk, membawa nya ke Ludwig Hotel.


Sementara Niah ikut mobil Beno duduk di belakang tepaksa karena Beno yang membukakan pintu untuk nya, di depan asistennya Lucita bertindak sebagai supir.


Beno juga mengatur anak buahnya agar menahan seseorang yang mencurigakan dari tadi mengambil photo Niah.


Flashback of.


******♥️


Jumpa lagi, 👍

__ADS_1


__ADS_2