Manisnya Madu

Manisnya Madu
94


__ADS_3

Pagi pagi, Devan kaget melihat Johan masih tengkurap seperti saat ia tinggalkan semalam.


Beruntung aku datang cepat, udah feeling bakalan begini jadinya.


"Johan! Johan, bangunlah! Meeting pagi dengan WJ," Devan menarik tubuh Johan.


"Hm," gumam Johan membuka matanya redup.


"Cepat bersiap, kita ke WJ." ujar Devan.


"Bisa tidak dikensel besok saja," Johan malas kembali tengkurap.


"Johan, saingan kamu berat. Masih muda, tampan dan pintar, punya jet pribadi, ahli waris pemilik super Mall se-asia. Kalau proyek ini batal kamu tidak punya apa apa lagi selain penyesalan," jelas Devan.


Mendengar itu, biji mata Johan membulat besar. "Jet pribadi! Devan, aku juga mau beli jet pribadi, kita jemput Niah."


Johan semangat duduk dari tengkurapnya mengguncang bahu Devan.


"Iya, mandi dulu terus kerja biar dapat uang,"


Devan suara sengau kerena menutup hidung nya saat berbicara, takut kecium nafas Johan yang bau jigong.


Cis, Johan menghempas tubuh Devan. "Aku gak sebau itu!" ketus nya beranjak dari kasur menuju kamar mandi, dari semalam ia belum mandi bahkan gak makan malam.


Devan keluar dari kamar ke ruang makan jumpa si mbok.


"Tuan Devan, siang saya pulang kampung. Panggil lah Nyonya, pulang." ujar nya suara sendu.


Hm, Devan, menghela nafas pelan. "Nanti saya bicarakan pada Johan, mbok tenang aja menikmati cutinya, ehm." jawab Devan.


"Terima kasih Tuan," ucap mbok Senah.


*


Dewi melajukan mobilnya ke gedung perkantoran WJ.


Oh, begini rasanya jadi orang bebas, saat menjabat sebagai istri mana bisa aku begini.


Dalam hati Dewi menikmati jalanan ibu kota, masih pagi belum terlalu macet namun sudah ramai mobil dan motor berlalu lalang. Ada Bus trans, di halte halte sudah menunggu beberapa orang berpakaian resmi.


Ah, nikmatilah kebebasan mu, Dewi. Ngapain takut pada Johan, ini kantor WJ. Berani macam macam dia, aku gak akan segan segan memenjarakan nya bila perlu. Enggak usah menghindar apalagi sembunyi.


Dewi memutar mobil masuk pintu gerbang WJ, merasa ingin lewat depan seperti karyawan normal lain nya. Sekuriti tersenyum pada Dewi sambil membuka portal penghalang keluar masuk kendaraan.


Dari lobby sampai ke dalam ruangan beberapa karyawan mengangguk senyum pada Dewi.


Ramah nian karyawan WJ, Alhamdulillah.


Gleg,


Pantes saja ramah.


Dalam hati Dewi menelan ludah melihat gambarnya terpampang di papan stand banner ukuran 1 x 1 meter saat menuju lift, lengkap dengan jabatannya sebagai sekretaris Manager Arjit.


Astaga! WJ, benar benar ya. Bagaimana nanti kalau Johan melihat nya.


"Memalukan," desah Dewi saat masuk ke lift VIP.

__ADS_1


"Apanya yang memalukan," suara Arjit di belakang Dewi.


"Ah, Tuan. Lihat gambar saya itu jelek sekali, kapan diambil nya itu?" tanya Dewi menutup pintu lift, menekan tombol paling atas gedung.


"Sekeliling gedung ini ada kamera candid, kenapa heran." jawab Arjit.


"Oh, kalau tau kan saya bisa bergaya lebih cantik," ujar Dewi.


"Photonya kan cantik, apalagi melihat aslinya lebih cantik," senyum Arjit.


Ah, Dewi tersipu malu menutup mulutnya. "Terima kasih Tuan, saat gajian pertama saya akan mentraktir Tuan Burger sama es krim," ucap Dewi jadi teringat Elboy.


"Benar ya Dewi, aku akan tagih nanti."


"Siap Tuan, anda tidak darah tinggi atau diabetes kan?" angguk Dewi bertanya.


"Saya ini sehat lahir batin Dewi, semua saya makan yang penting bisa ditelan,"


Ting!


Lift terbuka. Arjit membiarkan Dewi keluar duluan, Dewi menunggu Arjit mereka bareng menuju ruangan Manager.


"Gimana Dewi, apa tidur kamu nyenyak?" tanya Arjit sampai di ruangannya duduk di bangku kebesaran nya. Dewi berdiri di hadapan nya, setelah menyalakan lampu dan AC.


"Alhamdulillah Tuan, kasur di rumah besar sangat empuk dan gak ada nyamuk." jawab Dewi nada bercanda.


"Saya lihat mobil kamu ada di parkiran depan?" tanya Arjit memandang Dewi.


"Iya, Tuan. Saya pikir tidak perlu sembunyi, saya ingin hidup merdeka jauh dari rasa takut kecuali pada Tuhan."


"Tidak Tuan, nanti kalau urgent saya parkir di VIP lagi." jawab Dewi.


"Hm, baguslah kalau gitu, kamu tau Barus kan? Dia kepala bodyguard di WJ kalau ada yang ganggu kamu laporkan saja padanya nanti saya email kan nomor extension nya." jelas Arjit.


"Dewi menunduk. "Terima kasih, Tuan," ucap nya.


"Baiklah Dewi, kamu boleh siapkan meeting. Santai aja ya, jangan gugup oke," Arjit menyemangati Dewi, teringat nanti masih ada Johan design interior ikut meeting.


"Siap Tuan, saya permisi," ucap Dewi keluar dari ruangan Arjit.


Dewi duduk di mejanya, touch up dikit lalu ke ruang meeting mengurus segala sesuatunya.


Akan ada beberapa kepala bagian yang ikut meeting selain Johan dan Devan, nama Damien gak ada.


Dewi kembali duduk di belakang mejanya, masih ada setengah jam dari yang dijadwalkan. Tidak ada yang dilakukan nya hanya memeriksa Email, Dewi teringat Shopie. Merasa prihatin dan kasihan, tidak ada yang menemani nya.


Ingin minta tolong Niah aku segan walaupun dengan senang hati ia akan melakukan nya, hah!


Dewi teringat lagi saat Niah menampar nya, lalu teringat lagi bahwa ia juga pernah menampar Niah masalah tes DNA.


Aku sudah membayar hutangku Niah, kita impas.


Dalam hati Dewi meraba wajahnya.


Entar sore saja aku menjenguk Shopie kalau dia belum pulang. Kira kira dia langsung ke kediaman Johan atau ke apart nya, ya.


Dalam hati Dewi menoleh pada beberapa perwakilan kepala bagian yang satu persatu sudah mulai memasuki ruangan meeting, sampai akhirnya Johan dan Devan keluar dari lift diantar resepsionis.

__ADS_1


Tanpa menoleh pada Dewi, Johan masuk ke ruang meeting sedangkan Devan tersenyum basa basi pada Dewi.


Hm, ada apa dengan Johan seperti gak ada gairah hidup gitu.


Saat meeting, Dewi memerhatikan Johan presentasi bahan bahan interior dan setiap fungsi serta kegunaan nya. Proyek tahap 3 menjual satu paket dengan isi dalam ruangan dan Johan membuat nya model rumah penduduk inggris. Berbekal pengalaman hidup di London tidak susah bagi Johan, membuat modifikasi sesuai iklim di Jkt.


Sangat mempesona, kalau saja aku belum mengenal Johan, hm bukan tidak mungkin aku kepincut. Johan lebih tampan sekarang daripada dulu sepuluh tahun yang lalu, masalahnya dia sudah basi bagiku. Aku sudah tau kebusukan nya.


Dalam hati Dewi. Selesai meeting para peserta semua bubar, tinggallah Dewi membereskan ruangan sebelum keluar.


Waktu menunjukkan pukul 12.30wib waktunya makan siang, hm lama juga meeting hampir 3 jam lebih,


Dalam hati Dewi, kelihatan Johan datang menghampiri nya. Devan mengawasi agak jauh.


Deg.


Mau apa dia, batin Dewi


"Dewi," sapa Johan.


"Hm," tanya Dewi hanya bergumam tanpa menoleh.


"Kamu tau Shopie sudah menjalani program?"


"Hm," gumam Dewi lagi, pura pura sibuk dengan pekerjaan beres beres nya.


"Karena aku yang keluar duit program, tugas kamu yang urus semua keperluan Shopie. Pulanglah, karena aku gak suka dia merengek pada ku masalah kehamilan, ngerti." tegas Johan.


Dewi menunjuk hidung nya. "Aku?"


"Iya, kamu! Siapa lagi? Kamu kan ibu dari janin janin itu." ketus Johan.


Cis, kan ada si mbok. Ah iya, pulang kampung.


Batin Dewi menghela nafas. "Aku datang sore pulang kerja setelah dua jam aku pulang ke rumah besar Wijaya." jawab Dewi yakin Johan sudah tau di mana ia tinggal.


"Dengar Dewi, aku gak mau Shopie tau kita sudah bercerai sampai anak lahir. Setelah itu terserah, jadi pulanglah! Kita akan tetap berlagak seperti suami istri, tidur dalam satu kamar selama Shopie tinggal di rumah...."


"Kau gila, aku gak mau!" tegas Dewi, memotong Johan bicara.


"Kamu pikir aku mau!" bentak Johan.


Dewi kaget, Johan menatap sinis.


"Devan akan atur menambah kasur satu lagi di dalam kamar utama dan juga kamar mandi yang terpisah serta lemari baju. Dua minggu lagi saat Shopie dinyatakan hamil aku harap kamu sudah ada di rumah menjalankan peranmu sebagai Nyonya. Aku gak mau Shopie meraja lela di rumahku, kamu atur dia. Mengerti!" ketus Johan di wajah Dewi, ludahnya muncrat.


"Puih!!" Dewi mengusap wajahnya.


Sialan, umpat nya dalam hati.


Dengan menyeringai Johan meninggalkan Dewi, keluar ruangan diikuti Devan yang tetap gak lupa dengan basa basinya tersenyum pada Dewi.


******♥️


Jumpa lagi, 👍


Jangan lupa selalu like guys, vote dan hadiah juga, oke thanks.

__ADS_1


__ADS_2