Manisnya Madu

Manisnya Madu
88


__ADS_3

Di resto hotel WJ


Dewi dan Arjit membantu Yudi menyusun laporan, mereka duduk di samping taman yang ada kolam. Arjit dan Dewi satu meja berdua, Yudi satu meja sendirian.


Hm, masih ada bangku kosong ngapa gak duduk bareng sih, meja juga lebar.


Batin Dewi, sambil nyemil donat kering, enak. Dewi suka rasanya, hm bikin mood kerja bagus.


Yudi, walaupun fokus di laptopnya tak lupa ia memindai mindai sekeliling hotel. Terlihat di kejauhan mobil Johan, melaju cepat menuju parkiran.


Yudi membaca Dewi, sudah bulat keputusan ingin bercerai. Hm, Yudi menghela nafas pelan.


*


Johan masuk ke dalam resto, mengitari pandangannya disusul Devan. Sesuai laporan intelnya, memang ada Dewi duduk satu meja dengan Arjit.


Hah, syukurlah.


Dalam hati Johan melihat ada meja kosong jarak satu meja dengan Dewi, bisa pewe nungguin Dewi selesai kerja.


"Johan." Devan menahan tangan Johan, saat hendak menghampiri meja.


"Iya, aku tau. Jangan khawatir aku gak akan cari masalah dengan WJ, urusan ku dengan Dewi." Johan suara di tekan.


*


Walaupun kaget melihat Johan, Dewi coba bersikap biasa.

__ADS_1


Ngapain dia di sini.


Dalam hatinya melirik kedua orang sahabat kental itu mengambil duduk tak jauh dari meja mereka.


"Jangan khawatir, dia gak berani macam macam." ujar Arjit seolah tau kegelisahan Dewi.


"Terima kasih, Tuan." ucap Dewi.


Meski begitu ia tetap gelisah jadi gak bisa memandang ke depan karena ada Johan tepat memandang ke arahnya.


*


Mengetahui Johan keluar menjumpai Dewi, Niah segera makan secepat kilat. Yang penting terisi perut lalu masuk ke kamarnya bersiap mengambil barang barang yang penting penting miliknya.


Aku harus cepat ke Bandara jumpa Zan, baju gak usah bawa biar gak curiga.


Batin Niah, ia memakai baju dua lapis untuk mengelabui intel nanti di market siapa tau ada yang mengikuti nya.


"Niah," suara si mbok.


Hais, ada apa sih, ganggu aja.


"Ada apa Bi?" jawab Niah, setengah tension.


"Bibi mau bicara bentar, bisa buka pintunya?"


Ck, "Bentar Bi, Niah belum pake baju!" jerit Niah kesal, terburu buru menyelipkan kartu debit kredit pemberian Johan ke dalam laci lalu membuka pintu.

__ADS_1


Mbok Senah melihat Niah dari atas sampai bawah. "Kamu mau ke mana?" tanya nya menyelidik, soalnya tadi Tuan pesan agar mengawasi Niah jangan sampai kabur.


"Mau ke market Bi, beli jajanan habis." jawab Niah.


"Kenapa?" lanjut tanya Niah, bersikap normal walaupun jantungnya udah deg degan.


"Begini Niah, besok Bibi dijemput abang mu Seno langsung ke rumah ini. Kalau kamu mau ikut juga, jangan kabur ya. Kasian Seno kuliahnya, dikit lagi. Tuan sudah tau kamu mau ikut ngantar Bibi ke terminal, jadi pulangnya harus bareng Seno lagi, kalau gak Tuan akan menyetop pembayaran uang kuliah nya," jelas si mbok, memohon.


Hm, syukurlah. Jadi Tuan taunya aku rencana kaburnya besok


"Iya, Niah gak kabur, ngapain. Bukan Niah yang bikin Nyonya sakit hati, yang ada Nyonya yang bikin sakit hati Niah. dua hari lagi gajian kan sayang gak diambil." jawab Niah.


Hm, "Baiklah Niah, bibi lega. Ya udah, sana gih beli jajanan." ujar si mbok.


Ah, Niah menarik nafas lega menyampirkan tas selempang nya ke bahu memandang lemari pakaian.


Hm, baju baju kesayangan ku, maaf aku gak bisa bawa kalian.


Batin Niah sedih namun begitu, "Bibi, Mau dibelikan cemilan apa?" tanya nya pura pura lalu keluar dari kamar diikuti si mbok. Beruntung tadi Niah udah duluan pesan mobil online.


"Apa aja, terserah kamu." jawab si mbok.


"Baiklah, dah Bibi,"


Senyum Niah berjalan ke luar rumah menuju satpam di mana mobil online nya sudah menunggu.


Aku akan memaksa si Zan membawa ku kabur.

__ADS_1


*


Hi, jumpa lagi.👍


__ADS_2