
Masih di kamar.
Dewi sesenggukan, "Hiks hiks..." terdengar suara tangis Dewi yang memilukan, Johan membelai lembut punggung istri di pelukannya.
"Sayang, maafkan aku. Mas juga shock tiba tiba punya anak, aku mohon kamu jangan salahkan Niah apalagi membenci nya. Dia tidak tau apa apa, Dewi." Johan suara merayu.
Hah! Masih sempat kamu membela nya, Mas.
Batin Dewi merasa sakit hati, "Apa mas sudah menceraikan nya, hiks." suara Dewi masih terisak, wajahnya terbenam di pundak Johan.
"Tanpa dicerai kalau memang terbukti Niah darah daging ku, otomatis akan gugur ikatan pernikahan apalagi cuma nikah bawah tangan."
Ujar Johan mengusap rambut Dewi, dalam hati ia berharap tidak akan pernah mengucapkan lafaz talak pada Niah.
"Jadi benar dia anak Mas?" tanya Dewi mengurai pelukan menatap Johan.
"Menurut golongan darah kemungkinan, .." Johan terdiam.
Hm. Desah Dewi, "Nyonya Ambar pasti senang, akhirnya dia punya cucu. Lalu untuk apa lagi program hamil!" Dewi suara pelan.
"Kita tunggu hasil tes darah. Tapi aku masih mau anak, anak kamu dan aku. Aku pengin merasa merawat anak dari bayi, bukan anak ketemu gede kayak Niah."
"Bagaimana bisa dibilang anak kita kalau yang hamil dan melahirkan bukan aku tapi Shopie. Ikatan batin anak pasti pada ibu yang mengandung, Lama lama bisa saja kamu ada ikatan batin dengan Shopie." Dewi nada sedih.
__ADS_1
Johan menatap Dewi sendu. "Tidak akan! Benihnya dari kita, ya anak kita. Sudahlah, mas beritahu kamu sesuatu." Johan menjeda bicara nya.
Apa! tanya Dewi dalam hati balas menatap Johan.
"Mama tidak menyukai ibunya Niah. Kalau boleh mama jangan tau tentang Niah. Makanya, kita lanjut programnya, biar Mama gak berisik lagi, ehm." Johan nada memohon.
"Apa rencana Mas pada Niah?" tanya Dewi.
"Kalau kamu tidak suka dia ada diantara kita, Mas sebagai bapaknya akan memberikan tempat tinggal yang layak, kasihan dia yatim piatu." jawab Johan.
"Bagaimana mas yakin begitu saja kalau dia anak mas?"
"Dewi, aku akui masa remaja ku tidak terlalu suci tapi setelah kita menikah hanya kamu satu satunya wanita di hidupku." yakin Johan.
"Cemburu? Hah! Aku sakit hati mas!" ketus Dewi.
"Maafkan aku Dewi, satu kali ini. Aku juga kaget, aku masih akan menyelidiki masalah ini. Mama sengaja merahasiakan pada mas kenapa ibu Niah tiba tiba harus berhenti kerja dan menikahi satpam rumah. Sumpah sayang, aku gak ngerasa pernah meniduri ibunya Niah."
Dewi menarik nafas berat. "Apa dulu kalian pacaran?"
"Ehm,...."
Jawab Johan pura pura malu, untuk memperkuat kepercayaan Dewi bahwa Karunia bisa jadi darah dagingnya.
__ADS_1
"Biarkan saja Niah di sini." ujar Dewi, setelah dipikir pikir lebih baik mengawasi nya dari dekat.
"Sayang, bagaimana kalau mama datang dan melihat Niah?" Johan keberatan, karena ia rencana ingin memberikan Niah satu apartment agar bisa bebas berkunjung.
"Katakan saja dia asisten rumah tangga." ketus Dewi.
"Dewi, kalau terbukti Niah darah daging mas, apa kamu tega membiarkan nya jadi pembantu!" sergah Johan gak senang.
"Bukankah dia memang anak pembantu! Profesinya selama ini juga kan pembantu!" Dewi masih ketus.
"Dewi, jaga bicara kamu!" hardik Johan.
"Sebagai lulusan luar negri mas anggap kamu cukup berpendidikan, gak nyangka kata kata itu keluar dari mulut kamu." suara Johan semakin keras.
"Kenapa! Mas gak suka, tinggal ceraikan aku." tantang Dewi.
Johan menatap Dewi, giginya gemeretak sejenak terdiam lalu bersuara, "Katakan kamu tidak lagi mencintai ku, akan aku kabulkan permintaan mu."
Dewi terdiam. "Aku beri waktu sampai program hamil, Shopie mengandung anak kita 3 bulan. Kalau kamu memang merasa sudah tidak mencintai aku katakan, saat itu aku tidak lagi menahan mu."
Tegas Johan melepaskan Dewi, bahkan sedikit mendorong tubuh istrinya itu.
*****♥️ Jumpa lagi.
__ADS_1
Yang udah like, vote dan juga hadiah, trima kasih ya guys.👍