Manisnya Madu

Manisnya Madu
36


__ADS_3

Johan kembali ke kamarnya memandang Dewi yang memunggungi nya. Setelah berganti baju tidurnya yang terkena noda, Johan baring perlahan di samping Dewi. Mendekati istrinya itu memeluk nya dari belakang.


Dewi memejamkan matanya, mengeraskan hatinya sehingga tidak ingat entah kapan ia terlelap, tiba tiba bangun Johan sudah tidak ada di sampingnya.


Dewi menggeliat merasa tubuhnya kaku, semalaman tidur menyamping gak gerak gerak. Melihat dinding jam sudah pukul 06.00wib pagi pintu kamar mandi dibuka, Johan keluar dengan jubah tertutup, Dewi pura pura memejamkan matanya.


Sopan sekali pakai jubah mandi, biasanya hanya handuk-an bahkan polos. Satu lagi perubahan kamu mas, apakah ini ke arah kebaikan ataukah sebaliknya kau ingin menjaga tubuh mu dari disentuh olehku.


Batin Dewi bangun dari kasur menuju kamar mandi tanpa bertegur sapa dengan Johan yang membelakangi nya sedang mengenakan pakaian nya di wardrobe.


Setidaknya sudah aku siapkan.


Selesai dari kamar mandi, Dewi mendapati Johan sudah tidak ada, hm. Dewi memandangi wajahnya di cermin, wajah sembab mata bengkak.


Sebaiknya aku ke salon memanjakan diri, lihat apakah Johan masih khawatir kalau aku nyetir atau ngajak Niah aja, hm baiklah.


Selesai mengenakan gaunnya, Dewi touch up menutupi wajah sembab. Lumayan lah sedikit tersamarkan walaupun daerah seputar mata masih kelihatan.


~


Seperti biasa, pagi pagi Karunia melakukan rutinitas nya sebagai asisten rumah tangga. Mencuci baju, bantuin si mbok membuat sarapan barulah ia menyetrika pakaian. Membersihkan ruangan entar aja kalau Johan sudah berangkat ke kantor.


Karunia gak habis pikir, bagaimana tadi subuh saat bangun mendapati dirinya ada di kamar. Jelas jelas di ingatannya semalam ia baring di sofa menunggu Johan selesai mandi. Dan mimpi itu sangat erotis Min ho oppa datang mencumbui dirinya.


Tatapan Niah bertemu dengan Johan yang sudah rapi sangat tampan mirip oppa Lee min ho, masuk ke ruang makan disusul Devan.


Apakah, jangan jangan...oh no.


Karunia menelan ludah, cepat cepat buang muka. Johan tersenyum devil melihat tingkah Niah.


Jadi dia mengingat nya, hehe gadis nakal.


"Pagi, Bos." suara Devan.

__ADS_1


Johan kaget menoleh ke belakangnya, "Sejak kapan kau di belakangku!?" ketus Johan salah tingkah.


"Sejak kau senyum senyum sendirian memandang ke arah sana." bisik Devan menunjuk ke arah Niah dengan memajukan bibirnya.


Cis, "Niah!" panggil Johan, lalu ia mengambil duduk di tempatnya biasa.


"E,e copot!"


Astaga!


Karunia hampir menjatuhkan setrikaan nya. "I-iya, Tuan." jawab Niah gugup, segera menghampiri Johan.


Johan memandang Niah dari atas sampai bawah, rambutnya digulung handuk sepertinya ia keramas.


"Kenapa belum siap, mau lihat apartemen tidak!" Johan suara keras menatap tajam Karunia.


"Saya masih banyak kerjaan, Tuan." jawab Niah, buang muka. Wajahnya merah, gak kuku memandang wajah Johan.


"Saya, Tuan." jawab mbok Senah.


"Cari orang dari kampung yang butuh pekerjaan bawa kemari secepatnya tiga orang." ujar Johan.


Mbok Senah melongo, tiga orang? "Baiklah, Tuan." jawab si mbok, pergi dari hadapan Johan kembali ke dapur.


"Mau kemana?" sergah johan saat Niah mau beranjak.


"Nyetrika, Tuan." jawab Niah.


"Pergi bersiap, kita lihat apartemen." titah Johan.


"Tapi, Tuan."


"Tuan..tuan! Aku bilang panggil papi." bentak Johan.

__ADS_1


"Ada apa ini?" suara Dewi masuk ke ruang makan melihat Niah ketakutan di depan Johan.


"Niah, kamu temani aku ke salon nanti jam sepuluh." ujar Dewi duduk di samping Johan.


"Baik, Nya." jawab Karunia, kesempatan kabur dari hadapan Tuan dan Nyonya, kembali nyetrika sambil nonton tv.


"Pagi, mas." Dewi menyapa Johan seolah tidak terjadi apa apa semalam.


Aku akan menebalkan wajahku, untuk sementara menunggu hatiku membatu agar mati rasa bila tiba saatnya aku meninggalkan mu, mas Johan.


Batin Dewi, "Aku pinjam putrimu menemani ku perawatan, apa Mas keberatan?" tanya Dewi memandang Johan.


"Hm." gumam Johan menggeleng, hilang sudah selera makannya gak jadi pergi dengan Niah.


"Ah, juga sekretaris mu. Aku ingin dia bersih saat mengandung anak kita." lanjut Dewi, mengoles roti dengan selai.


"Terserah kamu saja, ayo Devan kita ke kantor." ajak Johan, acuh pada Dewi.


"Ha, masih pagi saya lapar Bos." jawab Devan, pura pura gak peka.


Ck, Johan mendelik. "Bawa sarapan ke ruang kerja, kita meeting." titah Johan akhirnya, ia juga lapar biasa sarapan di rumah.


"Baik, Bos." angguk Devan, ikut tegang merasakan suasana canggung antara Johan dan Dewi.


Devan mengambil dua porsi sarapan menyusul Johan yang telah terlebih dahulu ke lantai dua.


"Dewi, aku ke atas dulu." pamit nya.


"Hm." angguk Dewi, tersandar di kursinya melempar roti bakar yang baru digigitnya.


*****♥️


Jangan lupa like ya guys, vote dan juga hadiah. Jumpa lagi, 👍

__ADS_1


__ADS_2