Manisnya Madu

Manisnya Madu
45


__ADS_3

Setelah puas menangis, Dewi mengurai pelukan si mbok yang juga ikut menangis bersamanya.


Hah!


Dewi menghela nafas agak susah karena dadanya terasa sesak. Mbok Senah mengusap wajah Dewi, hatinya ikut sakit melihat perbuatan Niah dan Johan padanya.


"Buatkan makanan mbok antar kemari, aku lapar." ujar Dewi hendak beranjak dari kasur.


"Nyonya mau kemana?" tanya si mbok nada khawatir, menahan tubuh Dewi.


"Kamar mandi." jawab Dewi singkat.


"Biar saya bantu, Nya."


"Tidak apa apa mbok, aku bisa. Mbok siapkan makan gih." titah Dewi menarik tangannya dari pegangan si mbok.


"Hati hati, Nya." ujar si mbok sendu, merasa iba pada nasib majikannya yang baik hati.


Mbok Senah menghela nafas sebelum menutup pintu kamar Dewi.


Aku yang salah telah membawa Niah kemari. Sudah tau dulu si Kurni bermasalah dengan nyonya besar, sekarang si Niah gantian bikin sakit hati Nyonya Dewi. Jadi ini maksud Niah ngebet banget minta kerja di rumah Tuan.


Kesal dalam hati si mbok, teringat sudah dari tahun lalu Niah minta di masukkan kerja di rumah Tuan Johan bahkan saat ia masih di malaysia. Akhirnya tertunda karena harus menikahi majikannya.


Hm, desah mbok Senah. Ia ke dapur lewat tangga belakang, malas dari ruang tengah. Hatinya benci membayangkan Johan di kamar Niah.


Pingin rasanya menggedor kamar si Niah, pura pura aja gak tau. Kira kira bagaimana reaksi Tuan? Nyonya sih gak mau gerebek, ah. Kalau aku, sudah ku dobrak pintu nya seumpama pun di kunci.


Geram dalam hati mbok Senah menyesali sikap Nyonya yang lembek.


Sampai di dapur segera ia menyiapkan makanan untuk Dewi. "Enaknya masak soup tulang kaki sapi buat mengembalikan semangat Nyonya." si mbok bergumam sendiri.


"Bi." suara Johan memanggil di belakang si mbok.


"E-e, iya Tuan!" jawab si mbok kaget, pisau di tangannya terarah kehadapan Johan.


Gleg, Johan bergidik mengangkat kedua tangannya, menyerah. "Mbok, tolong pisaunya." Johan meminta si mbok menyingkirkan pisau dengan mengibas ngibas tangannya.


"Maaf, Tuan." ucap mbok Senah menyimpan pisaunya.


"Mbok tadi bilang apa, kaki sapi untuk apa?" tanya Johan berjalan ke kulkas mengambil botol air mineral.


"Soup Tulang kaki sapi, Tuan. Baik untuk mengembalikan stamina Nyonya yang lemah." jawab mbok Senah, berharap si Tuan majikan merasa bersalah telah membuat istrinya bersedih.


Hm, "Saya akan minta Devan beli, mbok siapkan bumbunya." ujar Johan menenggak air mineralnya.


"Oh, iya Bi. Besok kalau asisten baru sudah datang, atur kerjaan mereka. Jangan biarkan Niah melakukan pekerjaan rumah tangga lagi. Dia putriku, Nona muda di rumah ini." tegas Johan.


"Baik, Tuan." jawab si mbok mengangguk lalu berbalik badan.

__ADS_1


Apa? Nona muda! Bukan nya istri muda, Tuan.


Mbok Senah menggerutu hanya berani di dalam hati.


"Bibi..."


"Eh, copot." si mbok kaget tenyata Johan belum pergi.


"Iya, Tuan." jawab nya.


"Bibi juga jangan terlalu capek, cukup awasi saja kerja mereka." tegas Johan, berlalu dari hadapan si mbok.


"Iya." jawab si mbok, lalu menyusun buah naga yang baru dikupas nya, di mangkok. Di nampan sudah ada nasi, ayam bakar paha dua, tahu tempe dan lalapan lengkap dengan sambal. Dewi paling suka sambal bawang buatan si mbok.


Semoga Nyonya terbit selera makannya, biar ada tenaga melawan pengacau rumah tangganya, fighting Nya..


Si mbok membawa makanan ke kamar Dewi lewat tangga belakang.


~


Johan di ruang tengah membuat panggilan pada Devan. Dia harus menunggu lama baru Devan mengangkat nya.


"Hallo, Bos." jawab Devan, ngos ngosan.


"Hais, lagi ngapain kamu? Kenapa nafas mu besar besar!" sentak Johan nada marah.


"Aku di kamar mandi, ada apa?" tanya Devan ketus.


"Baiklah, itu saja? Kalau kamu mau yang matang, aku tau dimana tempat jualan yang rasanya enak." jelas Devan.


"Begitu? Ya udah, beli yang udah matang aja." jawab Johan menutup panggilan.


Melihat kamar Niah, ingin rasanya masuk lagi tapi sudah diusir yang empunya kamar bahkan menguncinya dari dalam. Johan tersenyum Devil membayangkan tadi Niah membalas ciumannya.


"Ada kemajuan, gadis nakal itu paling bisa jual mahal. Bersabarlah Johan, Niah akan jadi millik mu seutuhnya." gumam Johan melangkahkan kakinya ke tangga naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Terlihat Dewi di meja rias masih mengenakan jubah mandi, rambutnya basah baru keramas. Johan mendekati nya, "Bagaimana keadaan kamu?" tanya nya.


"Baik mas." jawab Dewi berusaha bersikap biasa, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Johan menatap wajah Dewi tidak banyak berubah, masih halus seperti pertama kali dia terpesona pada kecantikannya dulu sepuluh tahun yang lalu. Cuma sekarang jadi lebih pucat dan sembab, matanya juga bengkak sepertinya habis menangis, hah! Desah dalam hati Johan.


"Aku mandi dulu, kita makan malam bersama Niah. Niah putriku Dewi, kita harus biasakan Niah makan satu meja dengan kita, hm." ujar Johan meraih tangan Dewi membawa ke bibirnya, Dewi menarik tangannya saat Johan ingin mengecup nya.


Johan menatap tangannya hampa. "Baiklah, aku mandi." ujarnya mengusap kepala Dewi sebelum meninggalkan istrinya itu lalu masuk ke kamar mandi.


Johan membuka shower mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Memberi pelumas pada urat ototnya yang tegang. Keluar dari kamar mandi Johan melihat Dewi di sofa sedang makan masih memakai jubah mandinya.


Hm, Johan menghela nafas sebelum bicara, "Karena kamu sudah makan duluan, aku akan makan berdua dengan Niah." ujar Johan nada gak senang dengan Dewi yang tidak mengindahkan kata katanya ingin makan bersama Niah.

__ADS_1


Makanan sangkut di tenggorokan Dewi mendengar Johan asik asik menyebut nama Niah.


Ya Tuhan, jangan biarkan air mataku jatuh di hadapan orang ini.


Doa dalam hati Dewi menepuk dada nya pelan sambil minum air memaksa makanan masuk ke lambungnya.


Setelah berpakaian Johan ke ruang kerja, tanpa sepatah kata pun lagi menegur Dewi.


Dewi juga menganggap Johan seolah gak ada, fokus dengan makanannya jadi bertambah asin karena bercampur dengan air matanya yang luruh. Dewi gak bisa menahan nya lagi kembali terisak, sesenggukan.


~


Di kamarnya Niah berpikir pikir.


Bagaimana cara melepaskan diri dari Johan, jika berciuman dengannya membuat ku ketagihan.


Hah! Batin Karunia, melamun di depan kaca riasnya. Dia juga baru selesai mandi.


Atau aku kabur saja, tapi status ku yang masih istri johan bagaimana aku bisa nikah lagi kalau belum ditalak cerai.


Dalam hati Niah. Segera ia berpakaian mau bantuin si mbok di dapur nyiapin makan malam.


"Bi, masak apa?" tanya Niah, menghampiri mbok Senah.


"Mau buat soup untuk Nyonya, kamu bisa bantu blender semua bahan ini." mohon si mbok.


"Bisa Bi, sini biar Niah aja." ujar Niah meraih mangkok bahan bahan bumbu masak lalu mengeluarkan alatnya.


"Bi, Niah mau jenguk Nyonya di kamarnya. Apa boleh?" tanya Niah.


"Sebaiknya jangan Niah, Nyonya gak apa apa. Nanti dia turun, kamu kan bisa lihat." jawab si mbok, ia khawatir Dewi akan kembali bersedih melihat Niah.


Hm, "Bibi..." panggil Niah.


"Ada apa?" tanya mbok Senah menatap Niah.


"Ah, enggak. Ini bumbu sudah jadi." jawab Niah memberi bumbu yang baru di blender nya. Menelan kembali kata kata yang ingin diucapkan nya.


Telepon di dinding dapur berbunyi, si mbok melihat nomor yang berkedip di layar. Dari ruang kerja, batinnya, "Hallo." jawab si mbok mengangkat panggilan.


"Bi, minta Niah bawa makan malam ke ruang kerja." suara Johan di ujung sambungan.


"Baik, Tuan." jawab si mbok, melihat ke Niah lalu terdengar bunyi sambungan diputus, si mbok menggantung telepon.


"Kenapa Bi." tanya niah.


"Kamu bawa makan malam ke ruang kerja Tuan." jawab si mbok, menatap gak senang pada Karunia.


Ck, Niah berdecak. Ini pasti modus, dalam hati nya.

__ADS_1


*******♥️


Hai, terima kasih like, vote dan hadiahnya ya guys. Jumpa lagi, 👍


__ADS_2