Manisnya Madu

Manisnya Madu
123


__ADS_3

Di Ludwig hotel.


Karunia membuka pesan dari Dewi yang isinya agar mengangkat teleponnya karena ada perlu sesuatu yang penting.


Hm, "Hal penting apa yang hendak disampaikan nya," gumam Niah pada diri sendiri.


"Baiklah Nyonya," tulis Niah menjawab pesan lalu meletakkan ponselnya di meja rias sembari menunggu panggilan Dewi, Niah berdandan.


Tok tok tok.


"Nona," panggil Lucita.


"Iya," jawab Niah membuka pintu kamarnya.


"Anda ditunggu di meja makan,"


"Terima kasih Lucita, saya akan sarapan nanti. Kalau Tuan sudah lapar silahkan duluan, bisa tidak kamu sampaikan pesan begitu," mohon Niah segan harus makan satu meja dengan Beno, ditambah lagi ia menunggu panggilan dari Dewi.


"Cepatlah bersiap Nona, Tuan tidak bisa menunggu lama. Beliau ada pertemuan penting." tegas Lucita.


Ngapain sih mesti makan bareng kayak suami istri, ah. Jangan jangan memang dia menginginkan aku, setelah cerai dari Johan.


Batin Niah lemas memikirkan itu.


Kawin cerai...kawin cerai, mau berapa kali. Gimana kalau Ludwig juga sama, sudah punya istri juga, ah.


Namun begitu. "Hm, baiklah." jawab Niah pasrah, kebetulan ia juga sudah siap ya tinggal keluar saja, tidak lupa membawa ponselnya.


Melihat Beno di sofa sudah tampan ngalahin Johan tapi ini muka bule lebih tampan dan lebih muda.


Hm, Niah tersenyum sekedarnya saja pada Beno. Beno berdiri dari Sofa mengikuti Niah yang telah berjalan duluan ke meja makan.


Saat di meja makan.


Ponsel Niah kembali berbunyi, panggilan dari Dewi.


"Tuan Ludwig maaf, saya angkat panggilan dulu dari Nyonya Dewi katanya penting." pamit Niah langsung berdiri kabur ke kamarnya meninggalkan Beno yang terbengong.


Nyonya Dewi, artinya mantan isteri Johan.


Batin Beno, dia jadi gak selera makan. Beno telah menyelidiki Johan dan orang orang di sekitarnya termasuk Dewi si mantan istri yang statusnya gak jelas itu.


Sampai di kamar. "Hallo," Niah menjawab panggilan.


"Niah, aku dengar kamu mau menggugat cerai Johan. Asal kamu tau aku sudah dicerai Johan saat kamu masih lagi di rumah Johan karena itu aku memilih keluar dari sana. Aku beritahu kamu, Shopie telah menjalankan program dan akan pindah besok Senin ke rumah jadi kalau kamu ingin mempertahankan pernikahan kamu dengan Johan segera lah pulang, itu saja yang ingin aku sampaikan." Dewi tanpa basa basi menutup panggilan.


Tit it it.


Sambungan terputus gak lama masuk pesan yang isinya sama seperti yang diucapkan Dewi.


"Apa sih maunya, ngomong gak jelas." kesal Niah kembali ke meja makan.


"Ada apa?" tanya Beno melihat raut Niah.


"Tuan, kapan VCall dengan Johan?" Niah balik nanya Beno.


"Belum ada kabar dari WJ, apa yang dikatakan Nyonya Dewi mu itu?" tanya Beno nada serius.


Sejenak Niah ragu ragu, tapi sudah lumayan banyak juga Beno ikut campur dengan masalah hidupnya termasuk menekan Johan untuk segera menceraikan nya.


"Katanya, Johan sudah menceraikan Nyonya dan dia meminta saya agar segera pulang," jawab Niah.


"Apa kamu mau pulang?" tanya Beno menatap lekat Niah.


Ehm, "Entahlah," jawab Niah.


Hah! Beno menghela nafas pelan. "Cepatlah sarapan, kita akan ke suatu tempat," ujar nya.


"Ke pabrik Tas?" tanya Niah.


"Tidak!" jawab Beno cepat.


Jadi kemana?


Dalam hati Niah, gak ngerti.


"Menghadiri jamuan makan di Mesir, sebelum itu kita ke korea ke rumah Mama," jawab Beno.


Etdah, makan malam di Mesir, ke Korea juga. Enak sekali hidupku, batal keliling dunia dengan Zan keliling dunia dengan Beno.


Hm, angguk Niah tersenyum datar.


Beno sudah tau, Johan membeli jet pribadi dan akan menjemput Niah ke mansion Daniel. Maka dari itu Beno membatalkan niatnya mempekerjakan Niah di bengkel Laras, dan akan membawa Niah kemana pun dia pergi walaupun itu ke Jkt nanti dua Minggu lagi.


*


Dewi di kamarnya, baring baring melihat pesannya sudah dibaca Niah.


Semoga Niah tergugah.


Tok tok tok.


"Dewi, ayo makan malam." panggil Dwi.


Masih ada Iskan, jangan bilang dia juga akan tinggal di sini.


"Iya Bu," jawab Dewi, malas malas pun ia beranjak juga keluar dari kamarnya.


Benar saja, kali ini mereka makan satu meja hanya bertiga, Iskan, Dwi dan Dewi sendiri. Lee dan Sabit sedang latihan di lantai atas di ruangan gym.

__ADS_1


Selesai makan, Dewi tidak diizinkan masuk ke kamarnya. Iskan mengajak nya mengobrol sambil jalan jalan di halaman luar cari angin.


"Dewi, apa kamu akan mengurus perceraian sendirian?" tanya Iskan.


Hm, Dewi menggeleng. "Aku akan minta jasa pengacara," jawab Dewi.


"Bagus Dewi, setelah mendapatkan dokumen yang diperlukan serahkan padaku. Akan aku minta pengacaraku mengurus nya untuk kamu," ujar Iskan.


Ck, aku gak mau terutang budi pada Iskan tapi bagaimana cara menolak nya.


"Tuan..."


"Dewi please, stop calling me Tuan." Iskan memotong Dewi bicara.


"Just call my name or you can call me Senior. Kak Iskan kalau bahasa kita." tegas Iskan.


Hm, Dewi bisa apa selain menuruti Iskan. "Baiklah kak," jawab nya.


"Tapi biar aku pakai pengacara WJ saja. Kalau Johan tau Kak Iskan ikut campur mengurus perceraian ku, aku khawatir dia akan mempersulit dan prosesnya akan menjadi semakin lama. Bisa bisa Johan ngegantung aku, lagi," lanjut Dewi menolak tegas.


Hm, lagi lagi Dewi benar. Kalau WJ tidak mengakuisi perusahaan Johan, aku mau saja tapi itu tidak bisa jadi alasan menekan Johan. Orang cerdas seperti nya tidak akan mudah bangkrut.


"Jadi bagaimana cara aku menolong kamu, katakan Dewi. Aku ingin sekali membahagiakan kamu,"


Ah, " Tu..."


Dewi mengatup mulutnya sesaat Iskan melotot pada nya.


Hm, "Kak...aku bahagia. Ada tempat tinggal, pekerjaan yang mapan. Orang orang baik di sekelilingku, itu cukup membuat ku bahagia," jelas Dewi.


Hm, tapi aku tidak bahagia Dewi. Maukah kamu bahagia bersama ku.


Dalam hati Iskan.


"Apa kamu berencana memanfaatkan Barus, aku dengar dari Arjit bahwa Yudi mendukung hubungan kalian?" tanya Iskan to the point.


Dewi kaget, "Manager Arjit ngomong gitu?" gumam nya.


Iskan masih bisa dengar, hm angguk nya.


"Aku tau bahwa kamu belum bisa membuka hatimu pada siapapun termasuk Barus. Belum ada yang bisa menggantikan Johan di hatimu dan kamu bukan jenis perempuan yang bisa dengan mudah berpindah dari satu laki laki ke laki laki lain." Iskan suara sedikit keras.


Dewi melihat kiri kanan, apa ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Ada dua orang wajahnya familiar berdiri agak jauh.


"Jangan khawatir, mereka anak buah ku," jelas Iskan.


Dewi terdiam, risih banget membahas hubungan sekarang.


"Kenapa tidak manfaatkan aku saja, aku lebih berkuasa. Yatim piatu, tidak ada keluarga yang disakiti dikemudian hari jika kamu ingin meninggalkan aku setelah misi kamu itu selesai. Hanya aku sendiri yang sakit hati dan itu pilihanku maka aku tidak akan menyesali nya."


Ucapan Iskan membuat Dewi ternganga, bagiamana dia bisa tau tentang misinya.


Tapi Barus tidak keberatan tuh dan aku sudah janji padanya.


Lebih baik memutus sekarang dari pada pehape tarik ulur.


Hah! Iskan menghela nafas.


"Dewi please, biarkan aku yang menolong kamu ehm." mohon Iskan.


Ck, gimana sih ini.


"Aku belum bisa memutuskan sekarang. Besok aku akan pulang ke rumah Johan, tidak boleh ada hal yang mencurigakan. Apalagi ada orang ketiga dari pihak aku, Kak Iskan menjauh lah dariku at least sementara sampai proses perceraian ketuk palu."


Selesai berkata Dewi meninggalkan Iskan.


Hah! Desah Iskan.


*


Pagi pagi selesai sarapan, Dewi telah bersiap. Pamitan pada Dwi dan Iskan juga ada menghantar nya di halaman utama. Telah diputuskan Barus yang akan membawa Dewi ke rumah Johan.


Lee juga membawa Sabit dengan mobil berlainan. Yudi telah memberi ijin Sabit mengikuti Lee kemana saja kecuali ke akhirat.


"Siap Dewi, kita berangkat." ujar Barus sesaat Dewi masuk mobil.


Hm, angguk Dewi.


Setelah mendapat surat nikah dan KK aku akan langsung gugat saja si Johan, pusing lama lama ini urusan gak kelar kelar. Semoga kedua surat itu masih ada di tempat semestinya berada.


Batin Dewi.


*


Johan telah diberitahu Lee bahwa mereka dalam perjalanan, alangkah senangnya Johan menyambut kedatangan Dewi.


"Devan, jantungku deg degan." ujar Johan meraba dada sebelah kirinya.


Devan rasa mual dan mau muntah. "Aku harap mereka duluan sampai dari Nyonya Ambar," ujar nya.


Hais, "Dasar si Mama kenapa harus datang hari ini sih!" keluh Johan.


Melihat kegelisahan Johan. "Tenanglah Johan, aku sudah meminta intel sementara menghalangi mobil mereka." jelas Devan.


"Bagus Devan, tapi jangan sampai mama kenapa kenapa." ujar Johan dengan senyum gak bisa ditahan menunggu kedatangan Dewi.


"Iya, iya." jawab Devan.


*

__ADS_1


Mobil Barus tiba di rumah Johan.


"Terima kasih Barus," ucap Dewi.


"Baiklah Dewi, jumpa lagi. Aku akan menjemput kamu besok jam tujuh pagi."


Cis, "Itu kepagian Barus, jam delapan saja. Oke!"


Hm, "Kan kita bisa sarapan dulu di luar," mohon Barus.


"Siang saja kita makan bareng di kantin, ya," Dewi juga memohon.


"Tunggu aku bebas dulu dari Johan barulah berani macam macam," lanjut nya lagi.


"Maaf Dewi, baiklah." ucap Barus suara pelan.


Dewi turun dari mobil Barus, gak lama Lee juga sudah sampai bersama Sabit.


Hm, Dewi menghela nafas.


Aroma rumah masih sama tapi gak ada mbok Senah yang membuat beda, sekarang aku merindukan dua orang. Mbok Senah dan Bu Dwi.


Kelihatan Johan sumringah menyambut Dewi di pintu, sangat tampan. Sepertinya dia juga habis cukuran dan potong rambut jadi kelihatan rapi dan lebih muda.


"Sayang, selamat pulang." ucap nya meraih tangan Dewi, hampir saja ia mencium bibirnya kalau saja Dewi terlambat menarik wajahnya.


Hehe, Johan membawa nya masuk.


He.


Sinis Dewi membiarkan saja dirinya dibimbing Johan ke dalam rumah. "Sepi, mana ketiga asisten rumah tangga?" tanya Dewi terpandang bekas kamar Niah.


"Sudah aku pecat semua sayang, kamu gak ada ngapain mereka di sini. Selanjutnya kita akan panggil petugas bersih bersih profesional seminggu sekali dan mengenai makan, apa kamu keberatan memasak?" Tanya Johan suara lembut, tangan Johan melingkar di belakang Dewi sok mesra.


Dewi mendelik, "sorry!"


"Aku bisa sarapan di luar, siang dan sore di kantin WJ. Mas terserah, urus diri sendiri saja ya," jawab Dewi.


"Baiklah sayang, urusan makan gampang nanti biar Devan yang atur."


Cis, di belakang mereka Devan mendengus.


"Sebentar lagi Mama sampai, jadi kamar tidak aku sekat. Kedatangan Shopie juga dipercepat, hari ini ia dijemput supir sekalian memberitahu Mama bahwa kita sedang menjalankan program untuk mendapatkan anak."


Jelas Johan sampai di pintu kamar, ia membuka nya. Terlihat suasana yang berbeda, wallpaper dinding telah ditukar ke warna lebih fresh.


Tapi Kasurnya walaupun telah diganti baru dan lebih lebar, gak bisa juga gini.


Dewi melihat sofa juga telah bertukar warna senada dinding, Johan mengambil remot mengerti kekhwatiran Dewi.


"Untuk memisahkan kita saat tidur, taraaaa."


Serunya menekan tombol maka turunlah sekat di tengah tengah kasur mirip layar untuk proyektor.


Dewi melongo.


Percuma, sama saja kalau sekatnya transparan. Ya kelihatan..


Hah! Lebih baik aku tidur di sofa.


"Bagaimana kalau kita rujuk, sayang? Kalau sekarang tidak perlu nikah ulang,"


Johan memeluk nya dari belakang.


Oh, tidak. Dewi gerah.


"Ehmm," Devan berdehem, jangan cari masalah itulah maksudnya.


Johan melepaskan pelukannya.


"Aku akan mengawasi kamu Johan," suara Devan.


Hm, "Boleh kalian silahkan keluar, aku mau ganti pakaian." Dewi mengusir Johan dan Devan, mereka berdua pandang pandangan.


"Baiklah sayang, take your time," jawab Johan, mencubit kedua pipi Dewi gemas.


Ah.


Dewi mendorong Johan, berdua Devan mereka keluar.


Sesaat pintu ditutup, secepatnya Dewi ke lemari ada brankas tempat di mana biasa mereka menyimpan surat Nikah dan kartu keluarga.


Mana suratnya, kenapa gak ada. Apa maksudnya mas Johan menyembunyikan nya ah. Kenapa aku lupa membawa surat nikahku sih..


*


Di balik pintu kamar, Johan cengar cengir melihat raut Dewi yang kecarian dari ponselnya.


Hehehe,


"Devan, apa kamu tau kalau di pengadilan agama, cerai kami berdua dianggap menjadi tidak sah kalau aku tidak mau mengulangi lafaznya di depan saksi saksi."


"Kenapa begitu?" tanya Devan.


"Hm, aku juga gak paham betul mengenai agama tapi statement ini membantu aku. Dan aku tidak akan mau mengulangi kesalahan ku lagi yang sembarangan mempermainkan talak. Bantu aku berpikir, bagaimana caranya mengambil hati Dewi, oke."


"Lalu kenapa kamu menyembunyikan surat surat?" tanya Devan.


Hm, "Buat jaga jaga, aku takut telah salah baca," jawab Johan.

__ADS_1


*****❤️


Jumpa lagi, 👍


__ADS_2