Manisnya Madu

Manisnya Madu
110


__ADS_3

Pagi pagi di rumahnya, Johan sendirian di ruang kerjanya. Ketiga asisten baru sudah diminta pulang ke kampung menyusul mbok Senah. Pak Dadang dan Satpam yang kena imbas tepaksa makan terbang pesan melalui online.


"Tidak ada orang di rumah, untuk apa memelihara pembantu," jawab Johan saat Devan datang pagi pagi mau sarapan, protes melihat meja makan yang biasa banyak makanan sekarang bersih terang benderang gak ada apa apa.


"Iya, hunian gini gede Johan. Bagaimana kalau Dewi pulang? Apa dia yang harus ngerjain semua pekerjaan rumah!" tegur Devan gak ngerti jalan pikiran Johan.


"Nanti minta pak Dadang memanggil petugas housekeeping profesional seminggu sekali atau dua tergantung kebutuhan."


Jelas Johan tersenyum devil. "Itu bekas kamar 3 asisten rumah tangga dirapikan saja, biar Shopie tidur di situ sekalian ngurusin dapur. Dia kemari bukan untuk jadi Nyonya," lanjut Johan lagi tatapan menerawang.


Ck ck ck, Devan berdecak. "Tapi bukan untuk jadi pembantu juga!" ketus Devan.


Johan makin lama makin menyebalkan. Ngapain lama lama disini, sementara perut keroncongan minta diisi.


"Johan, aku keluar dulu nyari sarapan, apa kamu gak lapar?" tanya nya berdiri, menyambar kunci mobilnya.


"Lapar dong, mau sarapan dimana? Oh iya, Apa jadwal?" tanya Johan ikut berdiri, mereka berdua menuruni tangga.


"Pergi ke Jaguk kota kembang ganti display, dari sana Ke Jaguk Deptstore melihat bahan yang semalam baru tiba dari kapal. Sekalian jumpa Hendra katanya ada suatu yang ingin dibicarakan, serius." jelas Devan.


Johan mengernyit, "Bicara serius, apa jangan jangan ada hubungannya dengan Niah?" tanya nya was was kemungkinan ada niat si Beno mau menekan dirinya.


"Menurut intel, anak mantan suami Niah sudah pulang ke London kemaren dan Niah gak diajak. Istrimu itu kesana kemari naik mobil Bernard," jawab Devan.


Hm. "Aku nelpon juga gak diangkat, benar benar si Niah ini mau dikasi pelajaran," geram Johan.


Di mobil setelah mereka lama terdiam.


"Bagaimana kalau Bernard stop distribusi bahan untuk menekan mu menceraikan Niah?" tanya Devan tiba tiba.


Hm, "Begitu, apa ada pilihan kita mendapatkan bahan bahan dari tempat lain?" balik tanya Johan.


"Tidak ada." jawab Devan singkat.


"Atau kita meminta pengusaha lokal membuat bahan serupa dengan cara meminjam mesin, kita yang impor bahan baku," sambung Johan.


Hm, "Mirip mirip dikit kan gak apa," lanjut Devan, semangat.


"Tidak, kita rubah konsep aja sekalian. Aku rasa WJ gak akan keberatan, brosur belum dicetak," sambung Johan lagi


"Kalau gitu display kota kembang masih ada kontrak 8 bulan, apa kamu tidak akan lanjutkan?" tanya Devan.


"Kita lihat saja setelah bertemu Hendra baru tau apa maunya dia. Naikkan harga dua kali lipat sekiranya dia menekan kita pada bahan bahan. Devan, ruko reklamasi proyek pertama..."


Hm, "Kenapa?" tanya Devan memotong Johan.


"Tidak usah disewakan lagi, kita pakai sendiri. Kalau Bernard menekan perusahaan, aku resign kamu ambil alih kepemimpinan. Paling, proyek WJ yang terbengkalai dan kita sudah ada usaha cadangan."


"WJ akan mengambil alih Perusahaan, Johan,"


Devan gak senang dengan keputusan Johan, bagaimana pun dia butuh otak Johan dan ide ide cemerlang nya masa mau resign.


"Aku tetap mendukung, hanya formalitas anggap aku sebagian karyawan freelance." jelas Johan.


"Johan, aku tetap gak setuju. Aku sangat sayang pada perusahaan dari nol kita merintis jangan kamu korbankan hanya karena perempuan," kecam Devan, keberatan.


"Iya tahu, aku tidak sebodoh itu. Aku hanya tidak mau di bawah kendali siapa pun orangnya dalam mengurus istri istriku," jawab Johan menarik nafas kasar.


Paling aku banting stir jadi dosen lagi.


Batin Johan, nekad mau melawan Beno sampai titik darah penghabisan bukan karena cinta Niah tapi harga diri laki lakinya.


*

__ADS_1


Di kantor WJ.


Biasa Dewi melihat jadwal di email, hari ini ada kunjungan ke proyek tahap satu dan dua.


"Sepertinya aku diajak, hah! Baiklah, kita standby." gumam Dewi.


Arjit dan Yudi keluar dari lift, ada juga Barus dan Sabit tidak ketinggalan Lee.


Sepertinya Lee sudah masuk petinggi WJ, mengawal Sabit ke sana ke mari, hem.


"Dewi kita akan ke proyek, kamu siap siap," ujar Arjit saat melewati Dewi.


"Baik, Tuan." jawab Dewi.


*


Di kota reklamasi, Dewi sangat antusias melihat ada satu rumah kecil masih asli belum direnovasi. Ada tulisan dijual tanpa perantara, tertera nomor ponsel lalu Dewi mencatat nya.


"Apa kamu ingin membeli nya?" tanya Lee, menyenggol Dewi.


"Hm, kalau cocok harga. Ini rumah asli jadi masih bebas mau mengubah sesuka hatiku," jawab nya.


"Hanya 900 juta langsung jadi hak milik," jawab Barus.


Dewi berbinar, 2M pun dia mau mengingat rumah di sini 4M ke atas.


"Kenapa murah?" tanya nya heran.


"Tiga bulan yang lalu ada pembunuhan. Pemiliknya kaum sodom, si suami menusuk istri prianya karena ketahuan selingkuh dengan perempuan," jelas Barus berbisik.


Oh, Dewi kaget menelan ludah.


Prufth.


Cis, dengus Dewi menghapus nomor, takutnya nanti yang angkat hantunya si pemilik pula.


"Perusahaan akan merobohkan nya jadi taman bermain atau lapangan olah raga," jelas Barus lagi.


Dewi manggut manggut, Lee tersenyum mengejek.


"Kenapa mau beli rumah, ada yang gratis." ujar Lee.


"Hm," Dewi menoleh.


"Menikahlah denganku setelah ketuk palu dengan Johan 4 bulan lagi." Lee tersenyum genit.


"Yearkk."


Dewi mau muntah, Barus tertawa memegangi perutnya.


*


Selesai makan siang, Johan di Deptstore Jaguk di hadapan Manager Hendra.


Benar saja dugaan Johan, Manager hendra memberikan salinan surat cerai resmi yang sudah ditanda tangani Niah.


"Hendra, aku tegaskan. Beritahu Bernard, terima kasih sudah menjaga istriku tapi mengenai perceraian aku perlu bicara dengan Niah, dia tau nomor ku. Jadi silahkan telpon, aku tunggu." Johan nada marah lalu berdiri.


"Lain kali jangan panggil aku membicarakan masalah pribadi," tegas nya meninggalkan ruangan Hendra.


"Johan, tunggu dulu." panggil Hendra.


"Biar aku yang simpan," Devan mengambil surat cerai agar Hendra jangan mengejar Johan.

__ADS_1


"Ada ada saja si Bos, apa kali ini dia serius akan menikah." gumam Hendra kepikiran Beno.


Jarang jarang dia ikut campur urusan perempuan selain Kiara, hah!


*


Malam di rumahnya ditemani Devan, Johan menunggu telpon dari Niah namun Niah tak kunjung menghubungi nya.


Johan ke kamar Niah ingin mengambil pakaian nya, terlihat baju baju Niah. Masih ada bau Niah, hah. Desah Johan membuka laci cd, ada kartu debit and kredit yang diberikan nya pada Niah.


"Hm, tenyata dia tidak membawa nya. Niah...Niah." gumam Johan.


Nantilah kalau dia nelpon, aku akan langsung men-talak nya.


Dalam hati Johan, akhirnya ia tertidur memeluk satu sweater Niah.


*


Pagi pagi Johan membuka mata.


"Sayang," panggil Johan.


"Hm, kenapa tidur di sini?" tanya Niah tersenyum pada Johan.


"Sini peluk, aku merindukan mu." Johan menarik tangan Niah.


Arrrgg.


"Johan, lepaskan!" teriak Devan sangat jijik dipeluk Johan.


Johan kaget mendengar suara Niah seperti suara pria. "Kau!" pekik nya mendorong Devan.


Hum,


"Kau kira siapa? Apa kau lupa Niah berada di Amrik!" ketus Devan.


Ck, Johan kembali berbaring, telungkup.


"Cepat mandi Johan, ada meeting mendadak dengan WJ." seru Devan.


"WJ?" tanya Johan berbalik badan. Ada apa?"


"Tidak tau," jawab Devan.


"Mana daya khayal mu, apa kira kira masih berhubungan dengan Niah?" tanya Johan.


"Sebaiknya kau bergegas kalau mau tau," jawab Devan cuek memandangi ponselnya.


Dengan malas Johan gerak ke kamar mandi Niah, alat alat mandinya masih lengkap.


Selesai mandi. "Devan, bagaiman Dewi? Kapan mau pulang ke mari?" tanya Johan sambil memakai lotion wajah Niah yang ketinggalan.


Devan menoleh. "Nanti tanya saja langsung pada orang nya, hais!"


Devan kaget segera keluar dari kamar karena tiba tiba Johan melorotkan handuk nya.


Hihihi, Johan terkikik.


Gila kali dia.


Dalam hati Devan mendengar suara tawa Johan.


******♥️

__ADS_1


Jumpa lagi


__ADS_2