
Lucita membawa mobil menuju rumah sakit Daniel, tempat di mana Zan menginap.
Kalau ikut Ludwig pulang dua minggu lagi, secepatnya Johan pasti akan menemukan ku apalagi di Jkt. Ke Amrik aja dia kirim mata mata, ah!
"Tuan Ludwig, ehm." Niah ragu ragu mau bicara.
Hm, "Katakan, ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Beno.
Niah menatap tepat ke iris Beno. "Tuan, boleh tidak saya bekerja di bengkel, saya gak mau pulang dulu ke Jkt. Saya sudah berhasil kabur masa mau balik lagi," ujar Niah memohon.
Beno menatap Niah, mata bulatnya memancarkan cahaya pengharapan. "Kamu yakin gak ingin membereskan dulu urusan kamu dengan nya?" tanya Beno.
Hm, "Urusan apa?" tanya Niah, bingung.
"Kamu masih terikat pernikahan dengan nya, cepat atau lambat dia pasti akan memaksa kamu kembali padanya," jelas Beno
"Tapi gak mungkin dalam waktu dekat ini kan. Saya malas bertemu dengan nya. Takutnya nanti dia meminta haknya sebagai suami, saya berdosa kalau menolak. Dia sangat cabul, sangat menyeramkan, ih!" ujar Niah bergidik tanpa malu malu pada Beno.
Beno senyum dikulum mendengar Niah yang apa adanya. "Kamu kabur saja sudah salah, kalau mau bawa bawa agama."
Hm, desah Beno merasa perlu menanyakan sesuatu hal yang terpenting dalam satu hubungan.
"Apa kamu menyukai nya hanya belum siap saja?" tanya Beno menatap Niah mencari kejujuran di matanya.
"Tidak ada urusan suka atau tidak, pertama saya dikontrak untuk jadi ibu pengganti tapi tiba tiba istrinya berubah pikiran mencari pengganti lain. Johan gak mau menceraikan saya karena terobsesi pada mendiang ibu dulu waktu mereka masih muda. Kami itu hanya nikah siri, apa yang mau dibereskan? Hanya perlu ucapan cerai dari mulutnya kan, aku rasa dia gak akan mau, deh!" ketus Niah nada putus asa.
Hm, Beno mendesah lagi. "Lucita." panggil Beno ingin tau bagaimana dengan hasil penyelidikan nya tentang Johan.
"Johan interior design adalah customer Jaguk sekaligus partner kerja, Tuan. Hendra mengenal nya, orangnya profesional dalam bekerja sangat teliti. Display Jaguk Jkt dan Kota kembang juga hasil Johan design interior. Sekarang sedang ada kerja sama dengan WJ, proyek reklamasi tahap 3. Bahan bahan kulit, kain dan sponge mereka mengambil nya dari Jaguk Deptstore." jelas Lucita.
"Good," Beno mengepal tangan yes tersenyum pada Niah.
"Kamu bisa bekerja di bengkel selama kamu mau, saya pastikan Johan tidak akan mengganggu lagi. Apa kamu benar benar ingin berpisah darinya, selamanya?" tanya Beno, deg degan.
"Benar, Tuan. Saya tidak ingin bahagia di atas kesedihan istri pertamanya. Kalau Nyonya Dewi ikhlas pun, saya yang gak ikhlas. Saya tidak mau kongsi kongsi suami, yeakh." Niah suara tegas, bergidik.
"Hm," Beno mengangguk angguk.
Dua kali jadi istri siri, sudah pasti dia gak perawan, hah! Dimana akal sehatmu Beno, apa kamu tidak akan menyesal dikemudian hari dan menyakiti nya...
Ya sudahlah, gak usah dipikirkan sekarang masalah nanti gimana. Kita lihat saja seiring dengan waktu apakah aku masih menginginkan nya.
"Saya akan membantu kamu melepaskan diri darinya, jangan khawatir." ujar Beno akhirnya,
"Terima kasih Tuan, tapi..." Niah ragu ragu.
Beno mengernyit.
Apa lagi! jangan jangan dia berubah pikiran gak mau cerai. Kalau kamu gak ingin pun, saya yang akan memaksa Johan melepaskan kamu...Niah.
"Tapi apa?" tanya Beno menanti dengan berdebar.
"Kenapa ada menu jengkol balado di Ludwig restoran, siapa yang mau makan?" tanya Niah out of topik banget, kan!
"Hahaha," mau gak mau Beno tertawa, hah! Seketika bernafas lega.
Niah...kamu itu penuh kejutan.
"Itu ada sejarahnya bahkan presiden Amrik sebulan dua kali akan makan di Ludwig restoran menu ala Nusantara dan kemarin adalah waktunya. Apa kamu enggak jumpa?"
"Hm, bahkan tampang presiden nya saya gak tau," jawab Niah, polos banget. Beno tersenyum lebar sampai ke telinga.
Melihat raut wajah Beno memandang Niah, hah!
Apa aku terima saja ajakan kencan Pedro.
Desah dalam hati Lucita memutar mobil masuk parkiran rumah sakit Daniel.
*
Zan gelisah menunggu Niah.
"Kemana Mr. Bernard membawa Niah, ah!" geram Zan terdengar oleh asistennya.
"Tuan, Dato' dah bagi tau Encik Niah tak boleh ikut ke London." jelas asisten mengingatkan Zan agar jangan melawan perintah Dato'.
__ADS_1
"Hais, kamu neh cerewet. Say good bye pun tak boleh ya," Zan marah pada asistennya.
"Maaf, Tuan." ucap asisten, menunduk.
Mengingat sudah lama Ludwig menjadi rekan bisnis keluarga Zan, banyak produk Ludwig manufacturing dijual di Super Mall milik keluarganya dan semua barang menjadi best seller. Maka dari itu Zan diwanti wanti agar jangan cari masalah dengan Ludwig.
Cklekk.
Pintu dibuka, ada Niah tersenyum manis pada Zan.
"Aih, Niah. Kamu dari mana saja, tak nak tengok aku balik kah?" Zan sumringah menyambut Niah.
"Neh kan aku dah datang, kapan kamu balik ke London?"
"Abah minta sekarang, heli sudah ada di atap," jelas Zan kecewa.
"Maaf, aku gak bisa ikut kamu pulang." ucap Niah pura pura sedih.
"Hei, aku yang kena minta maaf. Enggak bisa bawa kamu keliling dunia," ucap Zan balas, sangat menyesal kebersamaan mereka hanya sekejap dan dikacaukan lagi oleh dirinya yang mabuk.
"Ini kan sudah keliling, satu benua terlampaui," ujar Niah.
Zan tersenyum, gemas. "Kamu comel sangat, Niah. Nanti aku cari cara lepas dari tunang aku dan kamu cepat urus cerai dari suami kamu, amacam?" tanya Zan tersenyum nakal.
Niah mengerut dahi. "Jangan pikir macam macam, tunangan kamu orang baik. Cobalah untuk menyukai nya, kita berteman saja oke!" tegas Niah mulut maju satu inci
Zan mengada ngada. Enggak mungkin kan, lepas dari bapak pindah ke anak, yeakh.
"Encik Zan, dah waktunya bertolak." ujar asisten mengingatkan lagi.
"Iye lah...iye lah," sewot Zan pada asisten.
"Niah, antar aku ke atap ya." mohon Zan pada Niah.
"Iya, ayo cepat lah berhambus!" ketus Niah.
Cis, dengus Zan mencubit pipi Niah.
"Aaaaa!"
"Ha," Zan dan Niah terbengong menatap Beno.
Apa aku terlalu lebay.
Batin Beno, "Ayo cepat, katanya mau kerja di bengkel. Aku masih banyak urusan!" ketus nya pada Niah kalah malu.
*
Di foodcourt acara makan bersama berlangsung khidmat.
El jadi jinak pada Johan, enggak mau turun dari pangkuannya. Dengan telaten Johan menyuapi El gantian dengan Dewi, selang seling mereka ketawa.
Dewi, memandang Johan. Alangkah indahnya jika El adalah anak mereka sendiri.
Lee yang sudah sampai, hanya menghela nafas ikut bergabung makan juga sabit setia menemani guru beladiri nya itu.
Walau hati Lee gak senang melihat Johan tapi dia bisa apa, dia tidak sendirian. Raut kecewa Barus saja jelas kelihatan di wajahnya apalagi raut kecewa Damien lebih jelas lagi.
Johan dan Dewi juga El, seperti sebuah keluarga bahagia.
"Auntie Dewi, kentangnya dong kasi El." ujar Johan kekanak kanakan.
"Oh, iya Om Johan, pake saos ya El," jawab Dewi mencocol stik kentang ke dalam saos tomat.
"Om, El udah kenyang." ujar El menahan tangan Dewi yang hendak menyuapi nya. Satu hotdog gede sudah habis ditambah soup cream jagung satu mangkok.
"Hm, ya udah. Buat Om aja auntie Dewi, aaa." Johan membuka mulutnya, Dewi menyuapi johan. Johan mengecup jari Dewi, ck. Dewi berdecak, merengut manja.
Hah!
Ketiga Damien, Lee dan Barus mendesah lemas bersamaan, gak nyadar. Sabit senyum dikulum.
"El mau main lagi?" tanya Johan menunjuk arena bermain.
"El, waktunya pulang sudah malam. Besok El sekolah pagi," tegur Damien menggeleng pada putranya, di samping ia juga enggak ingin El terlalu akrab dengan Johan.
__ADS_1
El menggeleng pada Johan, menatap kecewa.
Syukurlah.
Dalam hati Johan, sesungguhnya dia juga sudah jenuh. Kalau gak karena ingin menarik perhatian Dewi gak bakalan dia mau, huh. Johan sudah gerah pake bingit.
"Kapan kapan kita main lagi ya, El." Johan membujuk El, tau anak itu kecewa ingin main lebih lama.
Barulah El tersenyum mengangguk, tiba tiba mencium pipi Johan.
Johan kaget, padahal ia cuma pura pura baik pada El bersandiwara di depan Dewi taunya ditanggapi ikhlas oleh El.
Johan memeluk El gak terasa ada air keluar di sudut matanya, Dewi ikut haru memandang Johan.
Sekiranya mereka lebih cepat mendapatkan anak, gak akan Johan kesepian dan mencari kebahagian di luaran sebagai pelampiasan.
Pelampiasan? Hah!
"Air mata buaya," desis Dewi masih bisa di dengar Johan.
Cis, seringai Johan tiba tiba menarik pundak Dewi paksa, akhirnya mereka bertiga berpelukan.
"Hehehe,"
El tertawa senang ikut memeluk Dewi lupa pada Damien papa kandungnya ada di situ menatap iri.
Hah!
Desah Damien, Lee, dan Barus bersamaan. Sabit kembali tersenyum, terpandang pada cewek baju perawat warna putih yang juga tersenyum ikutan baper.
Oh ternyata dia orang, kirain patung diam saja.
Dalam hati sabit memandang Nanny, mereka bertukar senyuman.
*
Acara makan selesai, Johan mengantar El ke mobil Damien menemani Dewi agar sandiwara berakhir sempurna.
Hah! Johan bernafas lega, saatnya pulang.
Dewi kembali pusing kerena Lee dan Johan rebutan. Masing masing mereka merasa berhak mengantar Dewi, akhirnya Dewi memilih pulang dengan Barus seperti saat ia pergi.
Di mobil, "Dewi," panggil Barus memandang melalui spion.
"Hm," jawab Dewi.
"Enak ya, jadi rebutan?" tanya Barus, menggoda Dewi yang melamun.
"Hm," senyum Dewi dikulum, dari tadi dia kepikiran Johan.
*
Pagi pagi bangun tidur seperti biasa, kembali ke rutinitas harian. Teringat semalam Lee mengetuk pintu kamarnya, Dewi pura pura enggak dengar. Jadilah di meja makan mereka jumpa saling diam.
"Aku ke kantor sama siapa?" tanya Dewi menegur Lee duluan.
Lee menatap Dewi, "Ikut aku dan Sabit," jawabnya tegas.
"Apa kamu benar benar akan rujuk dengan Johan?" lanjut tanya Lee.
Dewi mengernyit. "Bukankah kamu yang minta agar aku baik baikin Johan, ingat!Bayaran kamu kita bagi dua, aku butuh uang untuk memulai hidup baru." jawab Dewi jutek.
Apa urusannya aku baik sama siapa.
"Jadi kamu gak baper pada Johan kan?" tanya Lee lagi agak marah.
"Kalau itu yang membuat kamu diam-in aku dan tiba tiba marah, jangan khawatir. Lebih baik aku dengan Barus dari pada rujuk dengan Johan!" ketus Dewi.
Deg.
Barus yang baru masuk ke ruang dapur terhenti langkah. Jantungnya berdebar, ia ke rumah besar atas perintah Yudi untuk mengantar jemput Dewi gak nyangka mendengar kabar bahagia ini.
Ah, Barus memegangi dadanya agar jantungnya jangan sampai melompat keluar.
*******♥️
__ADS_1
Jumpa lagi, jangan lupa selalu like ya guys. Vote dan hadiah juga, ikutin terus terima kasih, 👍