
Niah kembali dari luar membawa belanjaan berupa jajanan, ia tidak jadi nge-mall cuma ke market yang terdekat.
Ingin memberi bibi oleh oleh, apa dia mau mengingat wanita yang sudah dianggap nya sebagi ibu sendiri itu belakangan bersikap dingin padanya.
Niah ke dapur memasukkan jajanan berupa coklat dan minuman berkarbonasi ke kulkas sedangkan keripik kerupuk ia bawa ke kamarnya buat di ngemil biar gak bosan sambil nonton drakor di ponselnya.
Asisten baru yang tadi siang bertengkar dengannya takut takut menghampiri Niah. "Nona maafkan saya, tolong jangan pecat saya Nona muda." mohon asisten suara dibuat memelas penuh penyesalan.
Hm, Niah menoleh padanya. "Saya bukan Nona muda, kamu tau itu. Saya istri Tuan Johan." tegas Niah.
"Maafkan saya, Nyonya." Ucap si asisten lagi meralat ucapannya.
"Saya maafkan namun mengenai pecat memecat biar suami saya yang mutusin, jadi berdoalah." jawab Niah berlalu dari hadapan si asisten baru, membawa plastik kripiknya ke kamar.
"Ais, dasar perempuan sialan belagu banget, pengen gua jambak mukanya." gerutu si asisten sampai di dalam kamar pada teman temannya.
"Dia gak mau maafin, Lu?" tanya temannya bagian cuci gosok.
Si tukang bersih bersih menggeleng. "Beritahu Bi Senah, biar dikasih tau Nyonya besar." usul si tukang masak.
"Bi Senah sudah tau, dan melihat kita ribut. Kamu gak lihat dia diam saja, kayaknya takut pada Niah." sinis si tukang bersih bersih lagi.
"Kamu sih mulut gak bisa dijaga. Orang tipe kayak dia, banyakan muka tembok gak punya malu." kesal si cuci gosok.
Karena untuk ke depannya ia harus menunduk pada Niah yang usianya jauh lebih muda. Padahal sama derajat, sama sama berasal dari profesi asisten rumah tangga. Bahkan jam terbangnya jauh lebih lama, tapi kenapa gak ada satu majikan pun yang meminta nya jadi istri muda, hah!
__ADS_1
"Aku gak nyesal, biarlah dipecat. Habis geram banget liatnya, sok cantik. Kasihan Nyonya Dewi, gak liat mukanya sembab banget tapi ya bego gak mau balas. Kalau aku udah ku seret keluar rumah Jambak jambak rambutnya. Lihat suami akan bela siapa?" geram si tukang bersih bersih lagi.
"Ya, bela Niah...gak lihat istri pertama ditampar malah dibentak sama Tuan." ujar si tukang masak merinding, amit amit punya laki kayak gitu.
Hm, "Ya sudahlah, sementara aku pulang kampung dulu sebelum dapat kerjaan baru." ujar si tukang bersih bersih pasrah.
Mbok Senah mendengar pembicaraan mereka dari dalam kamarnya hanya mendesah, hah!
Pandai pandai lah kalian mau hidup.
Batinnya membuka pintu kamar ingin keluar mencari Niah, bagaimanapun ketiga orang itu, suaminya yang bawa.
*
Terpaksa Dewi mengikuti mobil Johan, pulang.
"Duduk di sampingku, kamu masih istriku."
Dewi diam saja, manut dirinya diseret Johan ke belakang duduk dipojokan.
"Kamu mau ke mana packing baju?" tanya Johan setelah separoh jalan mobil, mereka hanya diam.
"Perusahaan memberi aku fasilitas rumah dan mobil. Kebetulan suamiku sudah tidak menginginkan ku, ya aku pindah. Ada masalah?" jawab Dewi.
"Apa kamu mau memaafkan aku, dan memulai lembaran baru?"
__ADS_1
"Aku memberi maaf siapapun yang minta namun lembaran baru, baik dijalani masing masing."
"Kamu ingin bercerai banget?" tanya Johan.
Hm, angguk Dewi menahan sakit di hatinya. Matanya kelilipan.
"Tapi aku akan membatalkan program Shopie." tegas Johan.
Hm, angguk Dewi lagi. "Terserah." jawab nya.
Bagaimana aku bisa lupa cara merayu Dewi, bukankah dulu aku ahlinya mudah saja bagiku. Bukannya susah mengelabui nya, dulu dengan bercinta sudah beres kalau kalau Dewi curiga aku pulang kemalaman dengan Shopie. Baiklah malam ini aku akan mencoba nya.
Batin Johan meraih tangan Dewi mulai melancarkan serangannya, Dewi menepis tangan Johan. Johan menatap tangannya hampa.
Masalahnya disini, sentuhan. Kenapa bersentuhan dengan Dewi terasa malas gak ada gairah. Kemana setan yang menggodaku dulu selalu ingin selingkuh dengan Shopie pergi.
*
Sampai dikediaman Johan, Dewi keluar buru buru tanpa basa basi pada Devan.
Sekarang juga aku akan pindah ke rumah tamu Damien, bagaimana kalau malam ini Johan maksa meminta haknya kayak kemaren malam. Bagaimanapun aku masih istrinya, hah! Tak sudi aku...
Batin Dewi berlari menaiki tangga ingin segera menelpon Damien, dan menyiapkan kopernya.
Johan mengikuti Dewi langkahnya panjang panjang. Devan hanya bisa menghela nafasnya, meninggalkan kediaman Johan.
__ADS_1
*****♥️
Jumpa lagi, jangan lupa selalu like ya guys. 👍