Manisnya Madu

Manisnya Madu
58


__ADS_3

Karunia masuk ke kamarnya, bersandar di pintu memegangi dadanya yang nyesek. Melihat Johan dan Dewi di tangga ada rasa aneh di relung hati Karunia.


Apa ini? Jangan bilang aku cemburu. Oh, tidak!


Niah meletakkan botol air di nakas, menghempaskan tubuhnya di kasur. Tadi Johan sangat seksi pakai jubah tidur kelihatan dada yang berbulu halus. Biasanya Johan datang ke kamarnya dengan tubuh yang berantakan paling bersih pakai piyama sopan.


"Oh Niah, jangan sampai kau buka hatimu pada si cabul itu...usianya sangat jauh di atas mu." kata berjubah putih sebelah kanannya.


"Tapi bibirnya sangat manis..sentuhan sentuhan yang membuat mu merinding. Oh Niah, tidak kah kamu menyukainya." kata berjubah hitam sebelah kirinya.


Arghhh!


Niah menutup telinganya dengan bantal, menghalau suara berbisik bisik dari dalam pikirannya.


*


Di dalam kamar Johan menghempas Dewi di kasur, berdiri di sisi tempat tidur menatap istrinya itu.


Segera Dewi bangun duduk mojok di ujung tempat tidur menarik bantal menutupi dirinya. "Jangan mas, aku mohon," air mata Dewi jatuh berlinang, benar benar ketakutan Johan akan menyentuh nya.


"Apa kekasih gelap mu itu yang membantu kamu mendapatkan pekerjaan di group WJ?" Johan berkacak pinggang.


Kekasih gelap, hah!

__ADS_1


Dewi menatap sinis Johan. "Mas jangan asal tuduh, aku lihat iklan sudah lama ada di website," jawab Dewi ketus.


"Kapan kamu akan menggugat ku?" tanya Johan, menatap tajam Dewi.


Gleg, Dewi menelan ludah susah payah menguatkan hatinya. "Kenapa harus nunggu aku gugat, kalau kamu mau ucapkan saja segera aku keluar dari rumah ini."


Dewi menantang Johan, suaranya bergetar. Tak ayal jantungnya berdegup kencang menunggu Johan melafazkan talak padanya, Dewi tak mampu menahan tubuhnya gemetar.


Johan melihat wajah pias Dewi, putih memucat. "tinggallah di sini, biar aku yang keluar," Johan berbalik badan meninggalkan Dewi menghempas pintu kamar, hilang sudah seleranya.


Hufh!


Dewi bernafas lega, air mata kembali mengalir deras. Berbaring meringkuk, menutup tubuhnya dengan selimut tidak berani menutup mata.


Dewi bangun dengan langkah gontai berjalan ke pintu dan mengunci nya, walaupun ia tau itu tak ada gunanya karena ada pintu rahasia yang menghubungkan kamar dengan ruang kerja. Dan belum tentu juga Johan balik lagi malam ini, mengingat beberapa malam kemarin Johan tidak tidur di kamarnya.


~


Niah takut dengan kegelapan, ada saja makhluk aneh yang mengganggu nya. Makanya Niah tidur dengan lampu yang terang dan jarang mengunci pintu kamarnya. Karena kalau tiba tiba mati lampu dia bisa langsung keluar tanpa repot membuka pintu yang terkunci


Tapi beberapa hari ini ia tidur di ruangan yang gelap.


Astaga, kok bisa. Apa karena ada Johan.

__ADS_1


Batinnya, walaupun tanpa Niah sadari karena tidurnya sangat nyenyak.


Cekklekk.


"Kamu tidak mengunci pintu, Niah."


Hah! Ada apa Tuan kemari?


Dalam hati Niah kaget mendengar suara Johan dan pintu kamarnya dibuka. Niah kira tadi karena Johan Sibuk sama Dewi gak akan ke kamarnya.


"Aku mau tidur di sini, Dewi mengusir ku dari kasur." ujar Johan melihat tatapan heran Niah, lalu berbaring di samping gadis itu.


Hais, tidur dalam keadaan sadar bersama Johan sangat berbahaya.


Niah terdiam berbalik badan kembali memejamkan matanya. Johan memeluk nya dari belakang, jantung Niah dag dig dug.


Johan semakin menimpa tubuhnya, menghirup daun telinga Niah. "Kapan kamu bersih sayang, aku sudah tidak sabar. Rasakan lah dia sudah memberontak." Johan berbisik di telinga Niah.


Arghhh!


Johan mengerang, tubuh Niah membeku terbenam di pelukan Johan.


******♥️

__ADS_1


Jumpa lagi, 👍


__ADS_2