
Efek dari sisa obat bius Dewi masih merasa ngantuk. Ada Johan menemani nya, Dewi merasa nyaman dan terangkat sedikit beban. Gak lama ia pun terlelap.
Johan menaikkan selimut sampai dada, mengecup kening Dewi. Setelahnya ia keluar mencari Niah.
"Tuan." Niah kaget tiba tiba Johan membuka pintu kamarnya.
Niah sedang pakai pembalut buru buru ia memakai cd nya, "bisa tidak ketuk dulu kalau mau bertamu!" ketus Karunia.
"Hm." Johan tersenyum menggeleng.
Ah! Niah kesal pada kebiasaannya yang suka lupa mengunci pintu kamarnya. Johan mendekati Niah, "Berani sekali kamu menghajar ku." Johan suara berbisik, memeluk nya.
"Maaf." ucap Niah, membiarkan saja dirinya dipeluk Johan.
Johan mengurai pelukan, "Kenapa kamu tidak mau tinggal di Apart?" tanya Johan nada marah.
Hm, "Tidak mau menerima kebaikan Tuan." jawab Niah.
"Kamu itu istriku, sampai kapan aku harus menunggu?"
"Apa yang Tuan tunggu?" jawab Niah pura pura bodoh, walau ia tau jelas kemana arah bicara Johan.
Ck, "Apa kamu jenis perempuan yang suka dipaksa. Aku bisa saja melakukannya disini." Johan nada mengancam.
Gimana caranya keluar dari perangkap si kucing garong ini hah.
Karunia mendorong Johan, "Nanti tiga bulan lagi kalau Tuan sudah menceraikan Nyonya."
Johan mengernyit, "Kamu mau aku menceraikan Dewi?" tanya nya.
"Bukankah Nyonya yang minta cerai pada Tuan?" sergah Karunia balik nanya.
"Aku tidak akan menceraikan Dewi, Niah." ujar Johan suara lembut meraih jemari Niah.
"Baguslah, Nyonya sangat mencintai Tuan sampai dia mau melakukan program hamil. Tuan pasti menyesal kalau Nyonya meninggalkan Tuan." Niah nada sedih teringat Dewi di ruang perawatan.
"Tapi dia juga harus menerima kamu sebagai istriku." Johan nada sendu.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya taunya kita ayah dan anak. Kenapa mau dua istri kalau sudah ada istri yang baik. Aku mau menikah dengan lajang bukan suami orang." sergah Niah, memelototi Johan.
"Apa katamu, lajang? Sudah terlambat untuk itu, kamu istriku aku gak akan melepas mu." Johan nada kesal mencubit bibir Niah.
Arrgh! jerit Karunia.
"Sana keluar lah, aku mau istirahat." ketus Karunia mengusir Johan, malah dirinya ditarik ke pelukan pria mesum itu.
"Kamu tidak bisa pergi dariku, aku ikat kau di ranjang ini." ujar Johan seketika mengangkat Niah, membaringkan nya di kasur.
"T-tuan mau apa?" tanya Niah gugup saat Johan ikut baring di sampingnya.
"Meminta hak ku." ketus Johan.
"Tuan, s-saya lagi datang bulan." Niah suara bergetar ketakutan.
"Selesai bulannya pergi, boleh?" Johan tersenyum jail.
Ehm, Karunia menggeleng. "Nanti, usia 25. Itu target aku punya anak." jawab Niah.
Niah bergidik menarik tangannya. "Selesaikan program dulu, sampai Shopie melahirkan." tegas nya.
"Itu kelamaan Niah!!" sergah Johan menekan gigi nya geram.
"Nyonya kan ada, untuk Tuan ena2." jawab Niah malu, kenapa kata lucah itu harus keluar dari mulutnya.
"Gak bangun dia." Johan, manyun.
"Maksudnya?" Niah, mengernyit.
"Dia hanya reaksi kalau denganmu." jelas Johan kembali meraih tangan Niah, meletak nya pada Junior.
"Tidak mungkin, jadi selama ini sama siapa? Alasan!" sergah Niah menarik tangannya, bangun dari baringnya.
Johan menyentak lagi Niah baring di sampingnya lalu menekan tubuh kecil gadis dipelukannya. Johan menatap Niah sayu. "Benar Niah, sejak kehadiran mu, ini gak reaksi kecuali dengan mu. Kamu kan tau aku dengan Shopie ada affair, setelah dengan Shopie di kantor pulang ke rumah sama Dewi masih sanggup lima putaran. Sekarang gak tau, hanya padamu dia bangun." jelas Johan mengusap wajah Niah mengecup bibirnya kilas, mengecup lagi, lagi dan lagi akhirnya melu mat memperdalam ciuman.
Selanjutnya hening....
__ADS_1
*
Dibalik pintu kamar Niah, Dewi berurai air mata melorot hampir jatuh. Beruntung ada si mbok menahan tubuhnya, membopong Dewi naik ke kamarnya.
Tadi Dewi terbangun merasa haus, pingin minum dia ke dapur sekalian ada yang ingin ia tanyakan pada Niah.
Terdengar suara lelaki di kamar Niah, Dewi tidak jadi mengetuk pintunya berdiri menguping pembicaraan.
"Mbok, Jangan bilang apa apa pada Niah aku sudah mengetahui nya." ujar Dewi pada si mbok suara lemah. Mengusap wajahnya yang basah air mata.
"Kenapa Nya, sebaiknya Nyonya tangkap basah mereka dan usir Niah. Bila perlu jambak jambak, pasti Niah dengan senang hati pergi," jelas si mbok gak ngerti jalan pikiran Dewi.
"Johan pasti akan menemukan nya, mbok. Johan akan gigih kalau sudah menginginkan sesuatu." ujar Dewi teringat, bagaiman Johan meyakinkan dirinya dulu sampai akhirnya dia luluh.
Makin Niah teraniaya, akan makin bertambah rasa cinta Johan pada nya. Sementara aku akan dianggap jahat dan Johan ada alasan membenci ku.
Dewi menatap mbok Senah. "Niah, saya yang meminta nya menikahi Johan tapi apa mbok dengar tadi kalau Johan mengakui dia ada affair sama Shopie. Pantes saja si Shopie ngotot mau jadi ibu pengganti." Dewi sendu, air matanya mengalir lagi.
"Jadi sekarang bagaimana, apa Nyonya akan membatalkan program hamil Shopie?" tanya mbok Senah.
"Tidak mbok, biarkan si Shopie mengandung dan melahirkan anakku dan Johan. Johan tidak menginginkan Shopie lagi karena ada Niah,...bahkan denganku dia udah gak selera." Dewi lanjut dalam hatinya perih, argh!
Minta ampun rasanya, ibarat luka disiram air garam ditambah air asam.
"Setidaknya luka gak infeksi dan kena bakteri, dan akan cepat sembuh tinggal dioles obat pengering luka." Ceracau Dewi, mbok Senah mengerut dahi.
Hais, jangan sampai Nyonya jadi gila kerena perlakuan suaminya.
"Nyonya, kalau mau marah jangan ditahan. Tidak baik untuk kesehatan jiwa." ujar si mbok.
Dewi menatap nanar mbok Senah. "Marah sama siapa mbok, sama siapa?!" jerit nya histeris.
"Maaf, Nya." si mbok suara sendu, Dewi menangis sejadi jadinya. Mbok Senah memeluknya, ikut menangis.
*****♥️
Jangan lupa like, vote dan juga hadiahnya ya guys. Jumpa lagi, 👍
__ADS_1