Manisnya Madu

Manisnya Madu
105


__ADS_3

Di kantor WJ, Dewi duduk manis di mejanya. Tidak ada meeting pagi hari ini sepertinya sore juga jadwal kosong.


Ada Yudi di ruangan manager Arjit, diskusi proyek tapi Dewi tidak di ikut sertakan. Boleh dikatakan pekerjaan Dewi gampang banget hari ini, datang duduk diam, 3D.


Siang di kantin juga makan sendirian, matanya nanar nyari nyari Lee gak ada. Beruntung Barus menghampiri Dewi.


"Nyonya Dewi," sapa Barus, duduk di depan Dewi membawa makanan nya.


"Barus, kamu lebih tua dari ku. Kamu boleh memanggil ku cukup nama saja," Dewi menjawab sapaan Barus, jutek.


"Hehe, baiklah Nyo..eh Dewi. Aku lebih tua dari kamu, bolehkah kamu memanggil aku abang Barus?" jawab barus balik nanya, bercanda.


Ha!


"Hei, paling beda dua tahun itu masih dihitung sebaya." Dewi alasan menolak.


Abang, ih!


Dewi merinding, memandang Barus yang kekar seperti bodyguard.


Kan memang bodyguard, kepala bodyguard lagi...


Dewi lihatlah, masih banyak stock pria keren di dunia ini...


"Kemana Lee, dia gak kerja di kantin lagi?" tanya Dewi pada Barus, dari tadi gak melihat Lee.


Barus berhenti mengunyah memandang Dewi, "Di ruang latihan bersama Sabit, Lee terancam deportasi kalau hari ini Sabit tidak dapat 10 jurus, hehe," ujar Barus sepertinya senang melihat Lee menderita.


"Ya, tapikan harus makan juga," Dewi ketus.


"Mereka makan di ruang latihan, tenang saja." jelas Barus, gak mau membuat Dewi khawatir.


"Oh, syukurlah. Aku khawatir pada Sabit bukan pada Lee," jelas Dewi agar Barus tidak salah paham mengira dia ada apa apa dengan Lee.


Hm, Barus hanya tersenyum pada Dewi.


Syukurlah.


*


Jam 13.30wib.


Selesai makan Dewi solat zuhur lalu kembali ke mejanya, seseorang yang familiar menghampiri nya.

__ADS_1


"Damien?" gak percaya Dewi pada penampakan Damien datang ke WJ.


"Hallo Dewi, aku ada meeting dengan Arjit di ruangannya." jawab Damien tersenyum senang bertemu Dewi.


Oh, aku enggak diberitahu.


Batin Dewi. "Maaf, waktu itu aku ninggalin kamu begitu saja," ucap Dewi teringat saat di rumah sakit.


"Hm," Damien mengangkat bahu, no coment. Lagian ini di kantor WJ gak elok berbicara masalah pribadi.


"Farrel gak diajak kah?" tanya Dewi lagi.


Ehm, Damien menggeleng. "Ini bukan perusahaan bapaknya, aku bawa kalau inspeksi pas hari minggu. Kalau mau aku minta supir ngantar El dengan Nanny nya nanti sore, pulang kerja kita makan malam bersama, gimana?"


Hah, Dewi berpikir pikir dari pada bosan cepat pulang di rumah besar, sepi.


Kasihan Ibu Dwi gak ada yang menemani, gimana kalau hari minggu aku ajak dia jalan jalan.


"Iya, mau mau," angguk Dewi, melihat Damien menunggu jawaban nya.


Damien tersenyum lebar. "Oke Dewi, aku masuk dulu. Kamu duduk saja biar pintu aku buka sendiri, kedatangan ku juga sudah ditunggu," jelas Damien.


"Sip," Dewi mengacungkan jempol nya


Saat Tuan Arjit sendirian di ruangan perasaan tidak sewangi ini deh, hanya saat ada asisten Yudi ruangan jadi semerbak harum. Hm, beruntung sekali Laras bisa mencium nya, Oh.


Dewi menutup mulutnya kaget.


Apa yang kau pikirkan Dewi, bukankah Johan juga wangi. Johan sialan itu juga wangi tapi aku harus melupakan nya.


Dalam hati Dewi sedih, meraih hapenya browsing browsing mengenai program kehamilan pada wanita singel.


"Ah, kapan ya kira kira aku ada waktu." gumam Dewi.


Baiklah aku akan usahakan konsultasi pada saat Tuan Yudi dan Tuan Arjit ke Amrik, bukankah putri Manager dua minggu lagi akan melahirkan.


Batin Dewi rencana mau permisi pada perusahaan, boleh tidak hamil sementara ia baru masuk kerja tidak ada suami pula.


*


Di kantornya Johan juga sibuk.


Setelah WJ transfer dana biaya operasional berdua Devan, ia sibuk ke lapangan hunting bahan bahan.

__ADS_1


Beruntung ada Jaguk deptstore di ibukota yang menyediakan bahan bahan import kwalitas tinggi terlengkap lagi. Jadi gak perlu eksport sendiri keluar negri buang waktu dan merepotkan. Keluar negri itu bukan untuk kerja tapi buat jalan jalan seperti Niah, ah.


Johan menghela nafas kasar teringat Niah lalu pikirannya nyebrang pada Dewi.


Mengapa mulutku lancang sekali men-talak Dewi waktu ada Niah, sekarang gak ada Niah mau manja manja pada Dewi jadi gak bisa kan, hah!


Dalam hati Johan menyesal semenyesal menyesalnya.


Melihat bosnya, "Johan, intel sudah dibebaskan pemilik club, Ludwig. Aku sudah membayar upahnya dan juga sudah memecat nya." jelas Devan, Johan menoleh.


"Apa saja informasi yang keluar dari mulutnya?" tanya Johan.


"Tidak ada, hanya seorang suami meminta nya untuk mengawasi istrinya yang kabur."


"Baguslah, jadi tidak akan ada yang mengganggu Niah. Apa mungkin si Ludwig itu pebinor sama seperti si Damien!" kesal Johan


Hais, dasar. Kamu itu apa?


Dalam hati Devan, "Intel menawarkan rekannya untuk menggantikan nya mengawasi Niah, bagaimana?" tanya Devan.


"Lakukan saja Devan, jangan mencolok beritahu dia. Kalau masih ketahuan lagi, aku akan datang ke Amrik untuk mencolok biji matanya," kesal Johan, ketus.


Sejenak terdiam, tiba tiba Johan bersuara lagi. "Sebenarnya Niah menyukai ku tapi karena Dewi dia mundur, apa pendapat kamu Devan?" tanya nya lanjut.


"Kamu memang harus pilih salah satu, kedua mereka gak ada yang mau dimadu," jawab Devan.


"Ya Tuhan, berilah petunjuk pada siapa aku menjatuhkan pilihan." gumam Johan berdo'a masih bisa didengar Devan.


Shopie aja, aamiin.


Jawab dalam hati Devan, tersenyum.


"Atau aku bebaskan Niah saja, Dewi terlalu berharga untuk dilepas," gumam Johan lagi.


Devan tersungging, "Terserah kamu, saja." jawab Devan, yes dalam hatinya ngarep Niah secepat bisa bebas dari Johan.


"Akan tetapi Dewi sudah tidak menginginkan aku, apa sebaiknya aku pertahankan Niah," gumam Johan lagi.


Ck, "Jangan plin plan, kamu bukan remaja lagi sok labil!" Devan ketus.


******♥️


jumpa lagi, 👍

__ADS_1


__ADS_2