Manisnya Madu

Manisnya Madu
63


__ADS_3

Karunia keluar dari kamarnya mencari mbok Senah.


Di dapur tidak ada lalu di mana?


Niah bertanya pada asisten baru yang lagi menggosok gosok tangga.


"Mbak, lihat bibi gak?" tanya Niah.


"Bibi! Siapa itu?" ketus asisten acuh, balik nanya tanpa melihat Karunia.


Karunia mengerut dahi. "Apa kamu ada masalah denganku?" tanya nya gak senang dengan sikap jutek si asisten yang baru masuk udah belagu.


"Kamu kok gak ada sopan nya sih sama yang lebih tua, manggil kamu...kamu! Kamu kira umur saya berapa? Walaupun wajah saya baby face, gini gini umur saya sudah banyak. Oh aku lupa kamu kan Nona muda kesayangan Tuan, gak heran Nyonya besar saja kamu berani nampar." sindir asisten panjang kali lebar mengomeli Niah dengan tatapan sinis.


Hah! Niah naik pitam.


"Tadi aku panggil kamu mbak, tapi sikap kamu yang membuat kamu tidak pantas dihormati. Aku tanya baik baik, kamu jawab jutek. Kamu tau aku Nona muda kesayangan Tuan, kenapa tidak tunjukkan sikap hormatmu padaku. Kalau Nyonya saja aku berani nampar apalagi kamu!" ketus Niah kesal suara ditahan.


Ais, cari mati gua! Kebiasaan nie mulut ah, habis gedek sih lihat mukanya.


Dalam hati si asisten baru terdiam.


Terus saja menggosok gosok tangga, untuk apa gaje banget deh.


Batin Niah. "Hei, aku bicara dengan kamu." panggil Niah, merasa dicuekin. Kasian juga melihat si asisten baru yang mati kutu, menyesal telah cari gara gara dengannya.


"Maaf, Nona muda." ucap si asisten mulai kembut, menunduk hormat pada Niah.


"Kamu akan jadi pelajaran pada yang lain, dan semoga ke depannya kamu akan lebih tau diri di manapun kamu bekerja." tegas Niah, melihat pada asisten lain yang mengintip mereka.


"Aku akan mengadukan kamu pada Tuan agar dipecat, jadi silahkan berkemas!" tegas Karunia berbalik badan tidak lagi memperdulikan si asisten.

__ADS_1


"Maaf, Nona muda." si asisten menahan tangan Niah.


Karunia mendelik kesal. "Singkirkan tangan kamu!" hardik nya.


Asisten mengkerut. "Maaf kan saya Nona, sekali ini, hiks hiks." tangis nya memohon ampun.


"Ada apa, Niah?" suara mbok Senah, turun dari tangga.


"Bibi, temani aku ke mall." Niah menjawab si mbok, tidak perduli pada asisten yang menangis.


Mbok Senah mengernyit. "Niah, bibi ada kerjaan dari Nyonya Dewi. Kamu bisa kan pergi sendiri?" tolak si mbok halus.


Melihat bagaimana Niah memperlakukan asisten baru si mbok gak mau cari gara gara walaupun ia juga gedek melihat Niah, masih suka emosi jika teringat saat Niah menampar Nyonya Dewi.


"Kerjaan apa mbok?" tanya Niah, melihat si mbok hanya alasan. Terlihat jelas di mata Karunia raut gak senang mbok Senah terhadap dirinya.


Ck, apa urusan mu.


Hm, Niah memandang si mbok mencari kejujuran pada ucapannya.


Apa karena aku telah kurang ajar menampar Dewi, si mbok jadi jaga jarak denganku.


"Bibi jadikan cuti awal? Aku serius ingin ngantar, Bi." Niah menatap si mbok, yang tidak lagi bersikap hangat seperti biasa.


"Ehm." mbok Senah mengangguk.


"Nyonya sudah memberi ijin kalau kamu memang serius mau ngantar, baiklah." ujar si mbok.


"Baiklah, Bi. Aku keluar dulu cari angin, di sini sesak nafas." ujar Niah berlalu dari hadapan mbok Senah.


Hm, Kurni...Kurni, kok bisa yang Niah mirip banget kamu, gak buang. Ya wajahnya ya sifatnya.

__ADS_1


Gumam mbok Senah, teringat ibu Niah.


*


Di ruang meeting Dewi menghidupkan layar monitor, menyambungkan USB. Sedikit gugup, entah karena masih baru atau karena menyadari tatapan Johan tak lepas memperhatikan setiap gerak geriknya.


"Tuan tuan, blutooth dan Wi-Fi ada di pojok kanan atas silahkan dipelajari sembari menunggu asisten Yudi masih dalam perjalanan." ujar Dewi menunjuk ke layar lebar.


"Mbak." suara Johan memanggil nya saat hendak keluar dari ruangan, Devan di sampingnya geleng kepala menepuk pundak Johan sebagai peringatan agar jangan bertingkah konyol.


Dewi menahan tangannya, menghadap Johan. "Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dewi berdiri di depan pintu yang belum sempat dibuka.


"Bisa datang lebih dekat." panggil Johan lembut menatap sayu Dewi.


Dewi menghampiri Johan mengambil jarak satu meter, namun tangan Johan yang panjang mampu meraih Dewi menarik ke arahnya.


Aih si Johan, batin Devan kesal.


"Maaf."


Ucap Johan, mengusap tangan Dewi yang kelihatan merah di pergelangan.


Dewi menyentak tangannya. "Tidak apa. Tolong dipelajari saja itu yang di layar, permisi!" ucap nya keluar dari ruangan.


Johan menatap sendu kepergian Dewi teringat lagi saat Niah menampar nya. Johan menoleh pada Damien yang juga sedang menatap nya, lalu tersenyum sok imut pada Damien.


Hm, Damien buang muka fokus ke layar.


******♥️


Jangan lupa like ya guys, vote dan Hadiah juga, 🙏

__ADS_1


Jumpa lagi,👍


__ADS_2