Manisnya Madu

Manisnya Madu
85


__ADS_3

Dewi masuk ke kamar mandi pengen berendam gak ada bathtub nya. Hah, teringat kamar mandinya di rumah Johan yang luas dan mewah, sengaja Johan design untuknya sekelas hotel bintang lima.


Aku harus terbiasa, gak apalah shower hangat aja dulu. Aku harus berhemat nanti kalau udah dapat beli rumah sendiri barulah bisa suka suka punya bathtub.


Selesai membersihkan dirinya, Dewi mengenakan pakaiannya lalu keluar menemui Dwi. Setor muka sekalian kenalan sama penghuni Rumah besar.


Dewi ke ruang santai dapur, ada Bu Dwi. "Bu," sapa nya.


"Hm, duduk sini." ajak Dwi menunjuk sofa lesehan di sebelahnya.


Sejak Keluarga kerajaan pada pindah, Sofa tinggi di ruang santai dapur diganti jadi sofa lesehan sekalian santai sekalian bisa jadi ruang makan.


Dan karena keluarga kerajaan Wijaya semua udah pada get out, koki juga ikut pindah dibagi bagi. Ada yang ke resto Hotel Wijaya, ada yang ke kantin kantor WJ, ada yang ke mansion Alisha.


Tinggallah Dwi sebagai tulang punggung mendapat tugas memasak untuk pelayan, satuan pengaman dan juga tukang kebun. Sekali sekali kalau ada orderan katering Dwi ngambil juga lumayan buat nambah jajan. Walaupun Tuan muda Bram, gak pernah absen transfer uang bulanannya.


"Kita makan di sini ya, ruang makan utama mejanya terlalu lebar untuk kita." ujar Dwi.


"Gak apa Bu, enak malah santai. Tapi Sepi ya, rumahnya," jawab Dewi.


Hm, gumam Dwi.


Seorang pemuda tanggung keluar dari kamarnya. "Bu," panggil nya tersenyum pada Dwi dan Dewi bergantian.


"Sabit. Ayo duduk, kenalin ini bu Dewi. Beliau akan tinggal disini bersama kita."


"Sabit." mengulurkan tangan sambil menyebut nama, duduk diantara Dwi dan Dewi.


Mirip banget asisten Yudi.


Batin Dewi. "Dewi." ucapnya mengulur tangannya.


"Ayo makan, hanya kita bertiga." ajak Bu Dwi, membuka tutup wadah satu satu


"Besok Sora katanya kemari bersama Mama Alisha juga," jelas Sabit sambil membuka piringnya.


"Ayah kamu ikut?" tanya Dwi.

__ADS_1


"Enggak, Samsir yang nyupir." jawab Sabit.


"Besok masak apa, ya?" gumam Dwi berpikir pikir.


"Masak bubur dong Bu, kan hari minggu." request Sabit.


Hm, Dwi mengangguk tersenyum.


Dewi ikut tersenyum senang bisa keluar dari rumah Johan namun dadanya sebak tiba tiba teringat bubur dan melihat Dwi perawakannya serupa mbok Senah jadi kangen.


*


Niah di kamarnya, habis mandi tadi ia tertidur baru sebentar sudah terbangun. Merasa sesak nafas seolah ditimpa makhluk halus.


Arrrgg. "Tuan," panggil Karunia mendapati dirinya dipeluk seperti guling oleh Johan, pantes aja sesak, ah!


"Ee~ehm," Johan merajuk manja semakin memeluk Niah.


Arrrgg, "Aku gak bisa nafas," Niah memberontak. Hehe, Johan melonggarkan pelukannya.


"Ngapain tidur di sini sempit sempit, di kamar Tuan kasurnya lebih lebar!" ketus Niah.


"Ya Allah, di kamar sendiri takut. Makanya jemput Nyonya pulang!" sergah Niah.


"Gak mau dia," suara Johan nelangsa.


"Emang tadi dah pergi jemput?"


Hm, Johan menggeleng. "Di telpon hapenya gak aktif." jawab Johan.


"Datangi langsung lah, pura pura bertamu." saran Niah.


"Hm, begitu?"


"Hm," angguk Niah bergumam.


"Kalau dia gak mau."

__ADS_1


"Usaha terus, besok datang lagi. Tiap hari, sampai dia mau." jawab Niah.


"Niah, kalau perempuan lain pasti sudah senang kalau isteri pertama kabur dari rumah. Kamu malah nyuruh jemput sayang, kamu baik deh." Johan mengecup pipi Niah.


Itu karena kalau gak ada Nyonya, cepat atau lambat aku yang jadi santapan anda.


Batin Niah, "Tuan, aku lapar. Awas lah bentar, aku mau makan." Niah gerah mendorong Johan peluk peluk mulu 24 jam nonstop.


"Ya udah, kita makan di luar." ajak Johan langsung duduk, meraih ponselnya di nakas segera menelpon Devan.


"Ya ampun, Johan!!! Aku tuh masih di jalan belum sampai Apart sudah kamu panggil lagi." jerit Devan kesal di ujung sambungan.


Hais, Johan menjauhkan ponselnya menekan tombol mic.


"Ada apa, cepat katakan!" ketus Devan .


Ck, "Niah, ada ide. Kita bertamu bawa makanan kesukaan Dewi jadi cepat kamu kemari kita ke Rumah besar, gak pake lama. Siapa suruh tadi kamu disuruh nginap gak mau!" Johan menutup panggilan.


"Kamu yang nyetir, aku capek." Devan, mau gak mau putar haluan balik ke rumah Johan.


*


Johan nyetir ke Rumah besar setelah mereka makan, waktu menunjukkan pukul 22.30wib.


"Maaf Tuan. Waktu bertamu batas jam 18.00wib." ujar Satpam rumah Besar, mengusir Johan.


"Pak, kita titip ini ya. Untuk Bu Dewi dari Johan." ujar Johan gak mau putus asa menunjukkan penyesalan nya.


"Maaf Tuan, tidak diperbolehkan sembarangan menerima bungkusan." ujar Satpam lagi menolak Johan.


Ck, "Ya udah, ini untuk bapak deh. Besok kalau saya datang bukain pintu, ya."


"Maaf Tuan, tidak diperbolehkan menerima sogokan!" tegas Satpam, mendelik hampir hilang kesabaran.


Huh, desah Johan.


*******♥️

__ADS_1


Jumpa lagi, 👍


Jangan lupa selalu like ya, vote dan hadiah juga.


__ADS_2