Manisnya Madu

Manisnya Madu
57


__ADS_3

Johan di kantornya menerima laporan dari sekuriti rumahnya bahwa Dewi keluar nyetir sendiri, segera meminta Devan menyelidiki kemana Dewi pergi.


"Awas saja kalau kamu pergi menemui pria itu, aku benar benar akan mencekik lehermu." geram Johan, rahangnya mengetat memukul mukul pegangan kursi kerjanya.


Devan masuk ke ruangan. "Johan, Dewi diterima bekerja di kantor WJ, lebih tepatnya jadi sekretaris Manager Arjit." lapor nya.


Ha! Johan terperangah.


"Jadi dia sudah mempersiapkan dirinya, benar benar ingin bercerai." gumam Johan masih bisa di dengar Devan.


"Kamu bilang tidak akan menceraikan nya, Johan?" tanya Devan.


"Aku berubah pikiran Devan, kalau Dewi memang ingin cerai aku akan melepas nya kapan saja dia mau." jawab Johan.


"Gila kau! Dewi bahkan meninggalkan orang tuanya di London demi menikah denganmu. Nyonya Ambar juga semula tidak menyetujui pilihan mu, tapi kamu maksa. Kemana pergi rasa cinta kalian yang dulu!"


Johan terdiam, memang kenyataan pernikahan mereka tidak mendapat restu dari kedua belah pihak orang tua.


Apa yang terjadi padamu Johan, kenapa tiba tiba mati rasa pada Dewi.


Dalam hati Johan diliputi rasa penasaran. "Bagaimana Dewi bisa mendapat pekerjaan dari WJ, sangat cepat?" tanya Johan.


Apa perlu memberitahu Johan, takutnya perang dunia ke tiga di rumah hais sudahlah.


Dalam hati Devan mengangkat bahu tanda tak tau, walaupun ia dapat bocoran atas rekomendasi Damien.


*


Karunia di ruang dapur dengan mbok Senah. Mereka bengong berdua tidak ada yang bisa dilakukan, waktu pun jadi terasa lebih lama. Badan si mbok rasanya pegal semua, biasa sibuk gerak sana gerak sini.


"Niah, bibi mau cuti lebih awal. Kalau terus begini rasanya bosan gak ada kerjaan, toh Nyonya juga sudah mulai bekerja masa kita di rumah makan tidur, gabut." desah si mbok terduduk lemas.


Niah tiba tiba mendapat secercah harapan. "Saran Niah setelah lusa selesai Shopie dari rumah sakit ya bi. Biar Niah ngantar Bibi ke terminal." ujar Niah, mengedipkan matanya pada si mbok.


Si mbok mengerti maksud Niah, lalu mengangguk. "Bentar Niah, bibi bicarakan pada Bapak." jawab si mbok segera berdiri jadi semangat mencari suaminya.


Ah, semoga berhasil kali ini aku bisa kabur.


Batin Niah juga beranjak ke kamarnya.


*


Dewi pulang setelah sore, langsung ke kamarnya membersihkan diri. Turun ke dapur mencari makan, melihat dapur berantakan. Alat alat masak tidak pada tempatnya.

__ADS_1


Hm, makin banyak orang bukan nya tambah rapi.


"Nyonya." panggil si mbok keluar dari kamarnya.


"Mbok, kenapa gak bilangin pada asisten baru jangan merubah apa pun, barang barang diletakkan pada tempatnya."


Dewi ke ruang makan diikuti mbok Senah. "Maaf, Nyonya." ucap nya.


"Saya, mau minta cuti lebih awal boleh ya Nya." mohon si mbok, memelas.


Hm, Dewi memandang asisten setianya itu. "Ya, mbok terserah saja. Saya juga mau resign jadi Nyonya rumah gak lama lagi." jawab Dewi.


"Ck, Nyonya." si mbok berdecak.


"Mbok sudah makan?" tanya Dewi.


"Belum Nyonya, tadi banyak ngemil jadi malas makan nasi." jelas si mbok.


"Kita makan bareng mbok, saya mau cepat tidur biar besok tidak terlambat bangun." ajak Dewi.


"Baik Nya."


Mbok Senah segera mengambil piring makan meletak nya di depan Dewi.


*


Devan mengantar Johan pulang sebelum ia sendiri kembali ke Apartnya.


"Johan, meeting pagi di kantor WJ. Pakailah pakaian termahal kamu, kita akan live meeting dengan Tuan muda Bramasta Wijaya langsung dari Amrik. Aku dengar dia sangat tampan, jangan sampai kamu kalah tampan dari nya." Devan memberitahu Johan jadwal mereka sebelum turun.


"Baiklah, Devan." jawab Johan lemas.


Hm, "Aku pulang Johan, yuk dada babye." Devan coba menggoda Johan yang dari tadi manyun diam tidak ada semangat hidup.


Pasti galau, masalah Dewi dan Niah.


Batin Devan membawa mobil keluar dari pekarangan rumah Johan. Johan di ruang tengah melewati kamar Niah, tangannya reflek terulur nge-cek pintu apakah dikunci, tenyata dikunci.


Johan naik ke lantai dua menuju kamar nya, di kasur Dewi tertidur mbok Senah menemani nya duduk di sofa menonton TV.


"Tuan." sapa si mbok.


"Berapa lama Dewi tidur, Bi?" tanya johan, melihat dinding, jam 8.30wib.

__ADS_1


"Belum setengah jam Tuan, setelah makan Nyonya minum obat, gak lama tertidur." jawab si mbok.


Hm, "Kembalilah ke kamar Bi." ujar Johan.


"Baik Tuan."


Mbok Senah mematikan TV keluar dari kamar majikannya. Johan ke kamar mandi membersihkan dirinya, selesai memakai jubah tidur Johan baring di samping Dewi yang terpejam. Wajahnya bening, bibirnya pink.


"Hm, jadi kamu benar benar akan meninggalkan ku Dewi pelangi."


Gumam Johan, mendekatkan wajahnya menghirup di pipi Dewi, harum. Bibir lembab yang lama tidak dikulum nya, tiba tiba membangkitkan jiwa kelelakian Johan.


Dewi kaget, membuka matanya karena merasa sesak nafas. Bibirnya di sumbat sesuatu yang familiar, ada yang meremas remas dadanya.


Ahhhk!


Dewi mendorong Johan sekuat tenaga, panik mendapati atasan piyama kancingnya sudah terbuka. "Mas, mau ngapain?" sergah Dewi, menjauh menutup dadanya.


"Aku suami kamu Dewi, aku berhak atas setiap inci tubuhmu." Johan mendekati Dewi.


"Hah, aku pikir kamu sudah lupa. Aku baru operasi pengangkatan telur, lakukan saja pada istrimu yang lain Shopie atau Niah, terserah."


Dewi turun dari kasur ke lemari mengambil selimut baru, niat mau tidur di kamar tamu.


Johan mengekori nya. "Itu sudah lewat seminggu, aku tidak akan melakukan sampai ke situ, hanya peluk cium." Johan memeluk Dewi dari belakang.


"Apa kamu tidak kangen aku?" bisik nya.


Tidak ada waktu untuk kangen, jangan ganggu aku.


Batin Dewi melepaskan dirinya. Berlari cepat keluar dari kamar, Johan mengejar nya menangkap tangan Dewi.


"Mas jangan, aku gak mau!" teriak Dewi, menarik narik tangannya dari genggaman Johan.


"Aku mau." seketika Johan mengangkat Dewi ala bridal.


Karunia yang barusan dari dapur mau ngambil botol air minum melihat keributan di tangga, bertemu pandang dengan Johan segera buang mukanya masam.


Hah.


Desah Johan menggendong Dewi kembali ke kamar.


*****♥️

__ADS_1


Jumpa lagi, 👍


__ADS_2