
Di kamarnya Dewi termenung.
Tadi setelah Shopie pulang buru buru ia naik ke lantai dua, penasaran dengan apa yang dilakukan Niah bersama Johan di ruang kerja.
Namun saat di tangga melihat pintu ruang kerja suaminya itu terbuka lebar, langkah Dewi berbalik arah. Harus nya ke kiri ke ruang kerja Johan, akhirnya ia ngambil langkah kanan masuk ke kamarnya.
Terdengar pintu kamar dibuka, Dewi memejamkan matanya balik badan tidur menyamping memunggungi tempat Johan.
Gak lama sebuah pelukan hangat melingkari tubuhnya. Johan memeluk nya, menghirup pundaknya yang terbuka.
"Bagaimana hasil nya, apa Shopie setuju?" tanya Johan berbisik di telinga Dewi.
Dewi bergeming tak bersuara, ia sedang menahan dirinya. Johan semakin memeluk Dewi, "Mas, tolong lepaskan aku." Dewi suara bergetar.
"Sayang, kamu menangis?"Johan memutar tubuh Dewi menghadap nya.
"Kenapa, memangnya gak boleh!" Dewi suara ketus.
"Ya sudah kalau mau nangis sini mas peluk."
Johan memeluk Dewi, istrinya itu pun menangis di pelukannya. Setelah tangisan nya reda. "Mas, menyukai Niah." suara Dewi, Johan mengurai pelukan memandang Dewi.
"Sayang kalau kamu sudah tidak mencintai ku, aku akan melepas mu tapi kalau hanya karena cemburu jangan harap kamu bisa lari dariku. Aku tau kamu mencintai ku dan aku sangat mencinta mu. Kita bersama sudah sepuluh tahun kalau dihitung sejak kita mulai berpacaran. Jangan hanya karena emosi sesaat, rumah tangga kita hancur. Niah itu istriku, kamu yang menikahkan aku dengan nya. Sebentar lagi kamu nikahkan juga mas dengan si Shopie, semua ini maunya kamu yang aku turuti."
"Aku minta mas menceraikan karunia, kenapa nunggu satu tahun?"
__ADS_1
Jakun Johan menggulung. "Kan mas sudah bilang hanya cadangan, tunggu sampai anak kita lahir. Kalau saat itu kamu juga masih mau lepas, maka kamu pun mas akan lepaskan. Tadi Niah juga minta agar mas menceraikan nya karena sudah ada Shopie dan akan pergi dari rumah ini. Bagaimana kalau si mbok cuti, kamu siapa yang bantuin." jelas Johan.
"Mas, tidak akan menuntut hak mas sebagai suami pada Niah?" tanya Dewi menatap Johan.
Hm, tidak sekarang.
"Mas orangnya tidak suka memaksa, dan Niah tidak menyukai mas. Lagian ada kamu yang udah mahir, ngapain pusing sama anak bau kencur yang gak tau apa apa."
Cis, "Kalau kedapatan, mas harus melepaskan aku."
"Sayang, lakukan sesuatu agar mas bisa tidur. Besok mas ke kantor harus fresh, agar ketampanan mas selalu terjaga. Jangan buat mas stress mikirin yang gak penting, ehm."
Hm, Dewi mengecup bibir Johan, Johan membuka mulutnya. Selanjutnya, terbuka semua apa yang melekat di tubuh mereka.
*
Tunggu Tuan Johan berangkat kerja baru aku akan mengepel lantai dua.
Semalaman Karunia berpikir pikir mengenai tes DNA, apalagi tenyata Johan tidak mau menceraikan nya maka tes DNA diperlukan.
Kalau terbukti aku anak Johan, mau gak mau dia harus menceraikan aku.
Sekarang yang jadi masalahnya adalah bagaimana cara mengambil sampel Johan, tapi tidak ketahuan, hm.
~
__ADS_1
Di ruang makan, Dewi menemani Johan sarapan.
"Mas, nanti aku mengantar Shopie medikal cek." ujar Dewi.
"Kalau Shopie lulus medikal, kita langsung program ya." lanjut nya.
"Iya sayang, kamu atur saja." jawab Johan. "Tapi kamu jangan pergi sendiri, ajak Niah atau si mbok "
"Baik mas." jawab Dewi.
Setelah mengantar Johan pergi bekerja, Dewi memanggil Karunia.
"Iya, Nya." jawab Niah.
"Jam sebelas kamu bersiap, temani aku ke dokter. Kamu bisa nyetir kan."
"Bisa, Nya." jawab Niah.
"Nanti kamu nyetir bawa mobil aku." tegas Dewi.
Sialan ini perempuan, gua bilang malas nyetir jalanan Jkt semraut masih maksa.
Tapi, "Baik, Nya." jawab nya juga.
*****♥️
__ADS_1
Jumpa lagi, jangan lupa like nya ya, 👍