Manisnya Madu

Manisnya Madu
121


__ADS_3

Di mobil Arjit.


Dewi duduk di sebelah Iskandar sepanjang jalan memandang ke jendela.


"Apa kamu tidak rindu pulang ke London?" suara Iskan bertanya.


Dewi menoleh. "Tidak juga. Saya lahir disini, ya disinilah kampung saya Tuan," jawab Dewi.


Hm, kenapa malah manggil Tuan, seolah ingin menjaga jarak.


"Aku dengar, ayah Ibu kamu berada di London?" tanya Iskan lagi mencoba lebih akrab.


"Hm," angguk Dewi.


Iskan tersenyum sedikit. "Kabarnya kamu sudah lama tidak menemui mereka, aku juga sudah lama tidak ke London. Mau gak kita pergi bersama?" ajak Iskan gak yakin juga Dewi mau hanya iseng iseng siapa tau mau.


"Saya tidak akan balik ke London walaupun itu untuk ayah dan ibu kecuali mereka datang ke Jkt baru saya akan menemui nya." jelas Dewi.


Sepertinya Dewi belum mau membuka hatinya.


Hum, desah dalam hati Iskan berpikir pikir bagaimana membuat Dewi menerima niat baiknya.


"Dewi, apa kamu tau mata mata Johan mengikuti mobil ini? Setelah ini aku yakin Johan pasti mengikuti kita."


Dewi reflek menoleh kebelakang tatapan nanar lalu kembali pada Iskan, hah!


"Biarkan saja maunya apa itu urusan dia. Sebelum bercerai dia selalu mengawasi ku, semula aku pikir karena dia takut kehilangan ku. Ternyata begitu mudah lafaz talak keluar dari mulutnya." ujar Dewi sedih.


"Aku tau kamu belum bisa membuka hatimu untuk orang baru tapi Johan menjadi kegeeran dikira nya kamu belum bisa move on. Kalau kamu tidak mau diganggu Johan carilah seseorang yang lebih hebat darinya, aku bersedia membantu tanpa pamrih. Manfaatkan saja aku Dewi, aku akan membuatnya tidak berkutik dan pergi sejauh jauhnya dari hidup kamu." Iskan bersungguh sungguh.


Memanfaatkan seseorang yang berkuasa seperti Iskan sama saja masuk ke sarang Harimau. Lama lama nanti juga si Johan bosan, yang penting hatiku tidak goyah.


Batin Dewi. "Ah, tidak perlu lah sampai segitunya." jawab Dewi.


"Apa kamu mau kejadian di mobil terulang kembali?" tanya Iskan, Dewi terperangah.


Apa maksudnya ciuman itu.


"Dari mana Tuan tau?" tanya Dewi.


"Dewi, sekarang zaman teknologi. Video antara kamu dan Johan di mobil tadi malam sempat jadi trending, pihak WJ menghapus nya."


Suara Iskan sangat jelas ditelinga nya, oh. Dewi menutup mulut kaget.


"Ya Tuhan."


Dewi memandang belakang kepala Arjit yang sedang nyetir. "Maafkan saya Tuan Manager Arjit." ucap Dewi suara pelan.


Dari pantulan cermin spion depan Arjit menatap Dewi. "Dewi, ini bukan salah kamu. Sabit ada di sana jadi saksi dan Yudi yang menghapus nya." jawab Arjit.


Lagi lagi Yudi sebagai penyelamat. Mungkinkah karena Barus menyukai ku sehingga Yudi memberi pengawal pribadinya itu menjadi supirku kesana kemari agar kami menjadi dekat.


*


Di proyek.


Iskan pandang pandangan dengan Arjit melihat sikap Dewi yang tidak pernah mau melepaskan genggamannya di lengan Dwi. Seolah jaga jarak dan tidak memberi kesempatan pada Iskan untuk mendekati nya.


"Iskan." tepuk Arjit di bahu Iskan merasa gak enak hati.


"Apa terlalu parah Johan menyakiti nya, sehingga dia menutup diri terlalu rapat. Kalau wanita lain bertemu pria yang lebih hebat dari mantan pasti langsung mau tanpa pikir panjang apalagi kalau ingin balas dendam."


Hah.


"Sekali aku tertarik pada satu perempuan, dia pula tidak menyukai ku." keluh Iskan.


"Bukannya tidak suka tapi karena dia baru saja kecewa, sabarlah." Arjit menenangkan temannya.


Hm, desah dalam hati Iskan.

__ADS_1


Mungkin saja ini hanya rasa simpati bukan rasa suka, mana ada orang langsung jatuh hati pada pandangan pertama terutama aku orang yang berpikiran realistis.


Kedatangan Yudi membuat Dewi sedikit lega dari rasa ngap yang selalu menempel pada Dwi.


Kemungkinan Bu Dwi juga ngap ditempeli oleh ku, hah!


Batin Dewi melihat Yudi, sangat wibawa dan semakin tampan saja di matanya.


Kalau salah mengartikan kebaikan Yudi adalah karena rasa suka, bisa saja aku sudah jatuh hati pada nya. Tapi siapa lah aku..hum.


Desah Dewi membuang jauh pikirannya teringat ketiga bayi kembar nan lucu dan istri Yudi yang muda belia dan cantiknya alami tanpa polesan make up.


Ketiga Yudi, Arjit dan Iskan melakukan pembicaraan serius. Sedikit Dewi bisa mendengar pembicaraan, sepertinya Iskan akan bergabung sebagai pengganti Johan karena tersangkut urusan dengan Bernard.


Hm, gumam Dewi menarik nafas pelan.


Apa WJ akan mengakuisisi perusahaan Johan sesuai perjanjian kontrak.


"Dewi," sapa Barus duduk di samping wanita pujaannya itu.


"Kamu sangat tampan hari ini, Barus." puji Dewi balas tersenyum pada Barus.


Barus tersipu sipu. "Terima kasih atas pujiannya. Apa kamu akan jadian dengan Tuan Iskan, aku dengar dia menyukai mu?" tanya Barus membuang rasa malunya walaupun Ibu Dwi bisa mendengar karena hanya jarak satu dudukan pantat dari Dewi.


Dewi tersenyum semakin lebar. "Sebentar ya, Bu." Dewi permisi pada Dwi.


Hm, angguk Dwi.


"Ayo Barus, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ajak Dewi.


Deg.


Jantung Barus berdebar lebih kencang dari normal segera ia mengikuti Dewi.


Apakah Dewi sudah memutuskan menerima Iskan, ah.


Dewi berhenti di luar ruangan rumah contoh, mengitari pandangan nya ada dua mobil agak jauh. Salah satu mobil serupa mobil Johan, hah.


Hm, "Biar saja," jawab Dewi menoleh ke Barus menatap nya lekat, menghela nafas.


"Barus, aku belum kepikiran mencari pasangan dalam waktu dekat. Kalaupun berubah pikiran aku akan bertanya pada kamu duluan dan kalau saat itu tiba kamu menolak ku barulah aku mencari orang lain." jelas Dewi


Hm, perasaan Barus senang karena Dewi tidak akan dimiliki orang lain sebelum bertanya pada dirinya namun begitu dia juga sedih apakah ini cara Dewi menolak nya.


Aku akan pulang ke rumah Johan demi ayah dan ibu. Aku takut, manager Arjit akan memaksa ku menerima Iskan dan itu akan menyakiti hati Barus. Kalau aku menerima Barus, kasihan juga jika aku tidak bisa memberi nya keturunan...


Sejarah kemungkinan akan berulang, dibenci mertua lalu berakhir dengan perceraian...hah!


Desah hati Dewi serba salah.


"Tapi aku ingin sedikit egois, maukah kamu menolongku?" tanya Dewi menatap Barus.


"Apa saja Dewi, katakan. Aku pasti akan menolong kamu semampu ku." jawab Barus gak sabar.


"Pasti?" yakin Dewi.


"Pasti, walaupun itu harus terjun ke dasar jurang." yakin Barus.


Cis, "Lebay, kalau kamu masuk jurang bagaimana bisa menolong ku."


Hehe, "Kan umpama." gelak Barus.


Dewi melihat lagi ke mobil yang parkir, apakah pembicaraan juga bisa mereka dengar dengan jarak yang begini jauh.


"Baiklah Barus berikan ponsel kamu, aku akan menuliskan nya." bisik Dewi di wajah Barus.


Meski bingung, Barus memberi ponselnya.


Dewi menerima, "tidak dikunci." ujar nya lalu menulis.

__ADS_1


Dewi : "Aku dan Johan melakukan program bayi tabung yang ditanam ke rahim pengganti wanita yang bernama Shopie. Ada sisa embrio selusin lebih lagi di Lab, aku ingin sisa embrio itu ditanam di rahimku sebagian. Kalau aku hamil maukah kamu menikahi ku untuk menutupi aib, karena aku janda pasti orang akan berpikiran buruk." tulis Dewi di pesannya


Barus terperangah.


Apa aku tidak salah baca, Dewi ingin menikah dengan ku. Jadi dia memilih ku.


Senyum Barus lalu mengetik di ponselnya.


Barus : "Maksud kamu menikah beneran ke penghulu?"


Barus memberikan lagi ponselnya pada Dewi.


Dewi : "Ya iyalah ke penghulu tapi itupun kalau aku hamil." jelas Dewi lagi memberikan ponsel pada Barus.


Barus : "Kapan kamu akan melakukan nya?" tanya Barus deg degan, memberikan ponselnya.


Dewi : "Tunggu waktu empat bulan saat urusanku dengan Johan selesai tapi program sebaiknya lebih awal. Nanti saat Tuan Yudi dan Manager Arjit ke Amrik, aku niat konsultasi dengan dokter kapan waktu yang paling cepat. Ingat! Ini rahasia, aku ingin seumpama hamil orang orang tau itu anak kita, khususnya Johan."


Yes.


Pekik Barus dalam hati : "Saat Tuan Yudi ke Amrik aku banyak waktu lapang, apa kamu mau aku mengantar kamu?"


Dewi : "Tentu saja boleh kalau tidak merepotkan kamu."


Barus : "Tidak repot, lakukan lah Dewi. Aku akan mendukung kamu, semangat."


Barus berkaca kaca menatap Dewi, Dewi mencibir membaca pesan.


Segitu sukanya pada ku, mirip Johan waktu belum dapat. Sesudah dapat ternyata selingkuh juga, dasar lelaki air mata buaya...maaf Barus aku memanfaatkan kamu seperti kata Iskan.


Hm, "Baiklah Barus, terima kasih." ucap Dewi dari mulutnya memberikan ponsel Barus.


Barus dan Dewi masuk kembali ke ruangan senyum senyum sambil cerita mereka tertawa bercanda gurau.


Iskan memandang mereka berdua, menghela nafas.


Tenyata Dewi lebih nyaman dengan si hulk.


Arjit jadi gak enak hati pada Iskan tapi mau bagaimana lagi masalah hati tidak boleh dipaksakan.


Yudi menarik ujung bibirnya membaca Dewi lalu...


Selamat ya Barus.


Ucap nya dalam hati.


*


Di Mall reklamasi


Saatnya makan siang yang telat, Lee dan Sabit tiba tiba muncul ikut bergabung.


Lee melihat Dewi duduk diapit Ibu Dwi dan Iskan, lalu melihat wajah Barus yang senyum senyum, sumringah.


Apa dia gila gara gara Dewi, aigo Barus kasihan sekali nasib kamu. Cinta ditolak jadi stress.


Batin Lee, selesai makan ia berdiri hendak mencari angin bentar menghampiri Barus yang juga berdiri menyepi di pagar pembatas masih senyum senyum.


"Barus, lupakanlah Dewi. Baik untuk kesehatan jiwa mu." Lee pasang tampang prihatin pada Barus, sok akrab.


"Apa sih! Kamu pikir aku gila?" sengit Barus menatap Lee.


"Hm, kamu gak nyadar senyum senyum sendirian dari tadi." jelas Lee.


Oh, astaga! Apa kelihatan...


"Aku tidak gila tapi bahagia, you know." Barus ketus menepis tangan Lee di pundaknya.


*

__ADS_1


Jumpa lagi, 👍


__ADS_2