
Johan di kantornya uring uringan, Karunia tidak menjawab panggilan nya.
Menurut laporan anak buah yang membuntuti mereka, ternyata ketiga perempuan yang berstatus istri Johan itu, lagi mukbang di kota wisata pulau reklamasi.
"Ayo Devan, cepatlah!" Johan menendang Devan yang lagi nyetir dari belakang.
"Ini sudah cepat, Johan. Kamu mau kita nabrak!" sergah Devan jadi emosi, memutar mobilnya masuk gerbang pulau.
Cis, dengus Johan.
"Johan, semakin tua kau benar benar semakin menyebalkan." Devan mengomeli Johan, lalu memarkir mobil di parkiran salah satu tempat makan viral di kota reklamasi.
Johan langsung turun bahkan Devan belum sempurna meletakkan mobilnya. Dengan mengikuti GPS dan petunjuk dari intel yang diperintah mengikuti istri istrinya, Johan pun kejar gak sabar mencari posisi Karunia.
Dari jauh, Johan melihat hanya ada Dewi dan Shopie di pondok makan.
Mana Niah?
"Johan, kenapa berdiri di tengah jalan." panggil Devan menghampiri Johan yang terdiam mematung.
"Aku tidak melihat Niah." ujar Johan mengitari pandangan nya.
"Kamu hampiri Dewi, aku mau cari Niah."
"Johan, Johan!" tahan Devan.
"Apa!" sergah Johan gak senang tangannya dicekal Devan.
"Jangan terlalu kelihatan sekali, kau terobsesi pada Niah. Lebih baik hampiri dulu Dewi, bagaimanapun masih dia istrimu yang tercatat pada negara."
Ck, Johan berdecak.
"Ayo." Devan menyeret Johan.
~
Johan duduk di samping Dewi yang menatap heran padanya.
"Kita ada bisnis dengan WJ grup, di proyek tahap dua mengisi design interior." jelas Johan tanpa ditanya, memandang Dewi canggung.
Hm, gumam Dewi. "Tapi kita sudah selesai makan, nunggu Niah lagi beli oleh oleh martabak katanya." jelas Dewi juga, tersenyum canggung.
"Sepertinya banyak yang ngantri, coba lihat Devan apa masih lama?" titah Johan, akhirnya lega melihat Niah lagi berdiri di tukang martabak.
__ADS_1
Devan berdiri menghampiri Niah, kelihatan mereka berbincang lalu Devan kembali ke pondok makan, "Nomor 37, masih ada 15 lagi ngantri sebelum nya." lapor Devan pada Johan.
"Kalian mau pulang, pulang saja biar kita yang nunggu Niah." ujar Johan.
Hm, dulu gak boleh nyetir sekarang ngusir.
Batin Dewi, sudah yakin bahwa pernikahan ini tidak bisa dipertahankan lagi. "Kamu mau pulang, Shopie?" tanya Dewi.
"Enggak kok, aku bebas gak ada yang nunggu di rumah." jawab Shopie.
"Tapi aku mau pulang, kamu pulang dengan Johan ya." ujar Dewi lalu berdiri, menyambar kunci mobil yang ia letak di meja.
Aku nyetir, mas. Mana rasa khawatir yang beberapa minggu lalu masih kau tunjukkan padaku.
Ha! Shopie melongo, menyadari sesuatu. "Dewi, tunggu! Aku ikut sampai kantor ambil mobil." Shopie mengejar Dewi yakin, kayak gak mungkin Johan mau ngasi tumpangan padanya.
Sepeninggal Dewi dan Shopie, Johan menghampiri Karunia.
"Tuan." Karunia kaget melihat Johan berdiri di sampingnya bahkan memeluk nya.
Ehm, Johan menggeram. "Kenapa aku telpon kamu gak angkat?" Johan melotot kesal.
"Saya ikut perawatan diajak Nyonya, gak bisa angkat telpon." jawab Karunia jengah, melihat ke pondok gak ada Dewi juga Shopie.
Batin Johan, "Ayo, ikut aku." ajak nya menarik tangah Niah.
"Tuan, nanti Nyonya nyariin saya." Karunia menghempas tangannya, gelisah.
"Nyonya kamu sudah pulang, Niah." Johan maksa kembali menarik tangan Niah.
"Martabak." jerit Niah, menunjuk stand gerobak.
"Ada Devan." ujar Johan, terus menyeret Niah.
Setelah sampai, Johan membawa Niah masuk ke dalam mobil. "Tuan, ngapain kita di sini?" suara Karunia gelisah.
"Aku kangen." Johan menarik Niah mendekat.
Ck, "Tuan beneran ayah biologis aku bukan, sih?" tanya Karunia.
"Kenapa?" Johan balik nanya.
"Ayah mana yang melecehkan anak gadis nya."
__ADS_1
Hehe, "Ada banyak, tapi kamu istriku Niah. Aku katakan terus terang, untuk sementara ini yang bisa aku lakukan agar kita bisa bersama." jelas Johan.
"Maksudnya?" tanya Karunia tak paham.
"Aku merekayasa hasil test DNA, aku bukan ayah biologis kamu. Pernikahan kita masih sah, kamu istriku sayang."
Geram Johan menangkup wajah Niah, mengecup bibirnya. "Gimana semalam, enak kan?" Johan membawa Niah ke pangkuannya.
"Arhg." Karunia mendorong wajah Johan yang hendak mencium nya.
*
Di mobil Shopie melihat heran pada Dewi. Suaminya bersama gadis belia, gak ada rasa khawatir.
"Dewi, kenapa kamu biarkan Niah bersama Johan?" tanya Shopie, akhirnya gak tahan menahan rasa penasaran.
"Kenapa, Niah itu darah daging Johan." jawab Dewi.
"A-apa!" Shopie membelalak. "Johan punya anak, untuk apa lagi program?"
"Kenapa, apa kamu mau berubah pikiran?"
Hah! Tidak akan.
"Tentu saja tidak. Kan aku mau nolong, biar kamu ada tanda ikatan cinta bersama Johan." jawab Shopie, tersenyum tawar.
Ikatan yang akan putus, setelah anak lahir.
Dalam hati Dewi menghela nafas pelan.
"Apakah Johan menikahi ibunya Niah?" tanya Shopie.
Hm, Dewi menggeleng. "Dia baru tau kemaren kalau dia punya anak. Niah melalukan test DNA dan hasil nya akurat hampir seratus persen Johan bapak biologis Niah." jelas Dewi.
Cih, "Kan benar aku bilang, Dewi. Niah itu ada maksud datang ke rumah kamu." Shopie mulai mengeluarkan tanduknya.
Sebelum Dewi, Niah dulu yang harus aku singkirkan tapi dengan cara apa mengingat anak itu gak ada takut nya. Bahkan pada Dewi dan Johan, gleg.
Dalam hati Shopie, seketika nyalinya menciut mengingat ancaman Johan.
******♥️
Jangan lupa like, vote dan juga hadiah ya guys, jumpa lagi.👍
__ADS_1