
Dewi di rumah besar, setelah membersihkan diri ia ke dapur mau jumpa Ibu Dwi.
"Mana Nyonya Alisha, Bu?" tanya Dewi basa basi pada Dwi yang duduk di sofa sedang menonton TV.
"Hanya mampir makan siang, lihat lihat rumah dan kebun bunga sebentar lalu pergi," jawab Dwi.
"Kamu sudah lapar, mau makan malam sekarang?" lanjut tanya Dwi.
"Belum terlalu lapar sih, tadi di resto hotel banyak cemilan Bu." jawab Dewi, duduk di samping Dwi jarak satu bangku.
"Ya sudah, bentar lagi aja. Saya juga siang tadi banyak makan bareng Nyonya," ujar Dwi.
"Sabit gak kelihatan, kemana?" tanya Dewi lagi, semakin merasa sepi.
"Ikut Nyonya Alisha, besok mau ke kantor belajar membantu Yudi." jelas Ibu Dwi.
Hm, "Ibu sendirian dong besok di rumah," ujar Dewi.
Hm, Dwi hanya tersenyum.
Dewi mengeluarkan ponselnya menekan tombol on, dari kemaren gak dibuka sengaja. Benar saja banyak panggilan dari Johan, ada juga dari mbok Senah.
Ada apa ya tadi Johan buru buru pergi,
Batin Dewi ingin menelpon si mbok cari tahu, ya sudahlah gak usah nambah nambahin pikiran.
"Ayo makan Bu, saya lapar," ajak Dewi pada Dwi biar cepat selesai urusan makan malam, ia ingin segera baring di kamar meluruskan pinggang.
Hm, Dwi mengangguk walaupun penasaran dengan kehidupan Dewi namun Dwi memilih diam. Mereka makan sambil ngobrol memang, namun hanya seputar masakan. Baru tau Dewi kalau Dwi pengusaha kateringan, pantes saja masakannya enak dan kerjanya cekatan.
Selesai makan di kamarnya Dewi termenung, meraih ponsel jadulnya. Ingin menekan tombol on diurungkan nya niat, dilema antara ingin menelpon ibunya apa enggak.
Dewi teringat sepuluh tahun yang silam karena kasihan pada orang tuanya yang baru merintis usaha di London, Dewi hampir hampir DO kuliah.
Johan yang waktu itu menemukan nya sedang menangis di samping toko tempat ia kerja, menawari nya bantuan tanpa pamrih cukup buatkan kopi dan sepotong cake tiramisu tiap pagi.
__ADS_1
Saat Dewi menolaknya, Johan bilang nya, "ya udah pinjam," ternyata modus Johan untuk mendekati Dewi.
Dewi merasa nyaman karena Johan sangat baik dan gak mau pegang pegang hanya sebatas jalan kalau Dewi kebetulan libur kerja dan kuliah bersamaan.
Lama lama hati Dewi luluh juga, akhirnya diam diam tanpa sepengetahuan orang tuanya Dewi menerima tawaran Johan membayar separoh uang kuliahnya.
Tapi anehnya setelah empat tahun lebih ia wisuda orang tuanya tidak menyetujui Johan saat ingin menikahi nya walaupun Dewi sudah membuka rahasia tentang Johan yang membantu nya membiayai kuliah.
Mereka gak percaya, menduga itu hasil kerja keras Dewi. Apa gak mikir walaupun kerja, gak mungkin Dewi mampu bayar kuliah di London University ditambah biaya hidup kampus dan Apart yang gak murah.
Kan aneh, ternyata rekan kongsi usaha ayah Dewi ingin melamar Dewi yang usianya seumuran ayah, namun ayahnya tidak tau cara menolak nya karena kebaikan nya pada keluarga Dewi, akhirnya Dewi kabur ikut Johan yang memang lebih tampan kemana mana.
Sampai di Jkt setelah pujuk sana pujuk sini, Nyonya Ambar tak juga memberi restu pada Johan dan Dewi. Karena Ambar sudah mempunyai calon untuk Johan yaitu anak perempuan dari Abang Nyonya Ambar sendiri.
Akhirnya Johan menikahi Dewi secara agama, sebelum akhirnya dibuat pesta kecil kecilan sekedar makan malam yang hanya dihadiri oleh Papa dan keluarga dari pihak Papa Johan.
Dulu Johan sangat baik padaku tapi sekarang kenapa kamu jahat mas.
Memikirkan itu, air mata Dewi mengalir gak lama ia tertidur.
*
"Hah!"
Terbit rasa kasihan di hati Devan melihat Johan ditinggal dua orang yang dicintainya, sekaligus.
Johan masuk ke kamar Niah, duduk termenung di tepi ranjang lalu berbaring memeluk bantal yang biasa dipakai Niah.
Arghhh.
Keluh Johan, keluar air mata. Hatinya kesal melihat kenyataan memang Niah kabur bersama pemuda yang masih muda dan tampan pula.
Setelah dicari tahu, ternyata pemuda itu anak pertama dari mantan suaminya yang di malaysia. Punya jet pribadi dan usaha sendiri di London. Belum lagi, super mall keluarganya yang menggurita se-asia.
Benar benar sukses, bagaimana aku bisa menandingi nya? Niah, kamu minta aku menjemput Dewi untuk ini, agar kamu ada waktu kabur dariku. Tapi Niah kamu masih istriku, tunggulah aku akan menjemput kamu.
__ADS_1
Batin Johan semakin memeluk bantal Niah. Devan mengintip di pintu kamar, si mbok menghampiri nya. "Tuan Devan, kenapa Niah gak ikut pulang?" tanya nya takut takut.
"Semua ini salah saya, karena membiarkan Niah keluar rumah, hiks hiks."
"Enggak apa mbok, Niah baik baik saja. Jangan khawatir," Devan memujuk mbok Senah yang sudah mulai menangis.
"Johan aku pulang, apa kamu baik baik saja?" tanya Devan, masuk ke kamar menghampiri Johan.
"Apa matamu buta, bilang aku baik baik saja!" sergah Johan, masih telungkup di bantal Niah.
"Kan aku nanya goblok," lanjut dalam hati Devan, jeda.
"Kamu umur berapa harus bersikap seperti ini, enggak pantes Johan!!! Kamu bukan anak kecil, ah iya abege tua jangan norak deh." Devan mengomeli Johan.
"Kenapa kamu berisik sekali, sana lah kalau mau pulang!" bentak Johan melotot pada Devan, terduduk lemas gak semangat di kasur Niah.
"Iya, ini juga mau pulang. Bagaimana urusan dengan Dewi?" tanya Devan.
"Besok saja aku pikirkan." Johan kembali tengkurap.
"Ya udah kalau gitu, aku Pulang. Jangan bunuh diri, besok ada meeting pagi dengan WJ. Hahaha,"
Devan tertawa keluar dari kamar saat Johan melempari nya bantal.
*
Keesokan pagi Dewi bangun, ia sarapan siap siap mau pergi ke kantor. Kemaren semua laporan mingguan sudah selesai, Dewi memeriksa Email.
Ada meeting pagi dengan partner Johan design interior. Hah, jumpa lagi dengan Johan. Tapi apa kabar dengan Shopie? Siapa yang menemani nya di rumah sakit, hari ini transfer embrio, hm.
Di mobil, Dewi membuka ponselnya ingin menelpon Shopie.
*******♥️
Jumpa lagi, jangan lupa selalu like ya guys. Vote dan hadiah juga, terima kasih 👍
__ADS_1