Manisnya Madu

Manisnya Madu
52


__ADS_3

Selesai membantu nya mandi, Dewi memperkenankan Karunia keluar.


Cukup lama juga ritual mandinya, gosok sana gosok sini. Karunia menghitung ada lima kali ganti krim. Perasaan baru kemaren luluran gak heran juga kulitnya kinclong terawat.


"Terima kasih Niah." ucap Dewi.


"Iya, Nyonya jangan sungkan mau nyuruh saya apa saja." jawab Niah.


"Tidak Niah, aku tidak berani. Kamu lihat semalam bahkan Johan membentak ku saat aku menolak makan bersama dengan mu." ujar Dewi merendah.


Ck, jangan jatuhkan diri anda Nyonya, itu membuat saya eneg jadi gak simpatik. Jadilah Nyonya yang tegas.


Batin Niah tersenyum tawar. "Maaf Nyonya, saya janji akan segera hambus dari rumah ini." ucap Niah, dalam hati ia kesal.


"Hambus?" Dewi nada tanya mengerut dahi.


"Hambus artinya pergi Nyonya itu bahasa dari negri sebrang. Berhambus!" jelas Niah.


"Oh, jangan memaksakan diri Niah. Toh ini juga rumah kamu, rumah Johan ya rumah kamu juga." Dewi suara lembut.


Ck, "Baiklah Nyonya, saya permisi." ucap Niah segera keluar dari kamar Dewi tanpa permisi pada Bibi nya yang diam gak banyak bicara.


Mau kelihatan baik di depanku, tapi niat banget nyuruh aku kabur, hais. Ngamuk atau nampar kek, kayak malam kemaren lebih aku respek. Ini seperti muslihat, takutnya diri sendiri yang celaka, kan kasihan.


Batin Niah mengerut dahi, bertemu asisten rumah tangga baru di tangga bawah menunduk hormat padanya.


"Mbak, ada lihat Tuan Johan?" tanya Niah suara berbisik.


"Sudah pergi Nona, naik mobil di jemput cowok tampan." jawab si asisten rumah tangga baru malu malu, Niah mengernyit.


Cowok tampan! Dia ini datang mau kerja atau mau menggoda?


Batin Niah geleng kepala, merasa yakin itu pasti Tuan Devan. Mengetahui Johan pergi, kesempatan Niah juga keluar melihat lihat pekarangan rumah.


Benar benar ketat.


Batin Niah melihat memang ada beberapa orang pengawal bertambah, termasuk di pintu belakang bahkan ada dua orang.


Kalau ngikutin saran Dewi masih dua minggu lagi, kelamaan aku disini. Bagaimana caranya aku bisa keluar tanpa ketahuan dimana mana ada pengawal, dasar si Johan.


Karunia kembali ke dalam rumah menuju dapur, mengerut dahi melihat asisten rumah tangga baru lainnya, lagi lagi menunduk hormat padanya.


Hais, ya sudahlah.


Niah terhempas di sofa menyalakan TV, teringat si mbok. "Apa sekarang tugas bibi 24 jam menemani Nyonya di kamarnya, pasti bosan dia. Biasa selesai kerja, bisa istirahat bebas di dapur nonton drama ikan terbang." gumam Niah, merasa kasihan pada bibinya.

__ADS_1


Dewi mengakui aku anak perempuan Johan, tapi masih menawari kabur. Apa yang direncanakan Dewi sebenarnya, kalau ingin aku menyingkir bantu percepat dong bukan mengulur waktu.


Niah nonton TV sambil mengemil anggur hijau, ternyata di kulkas banyak banget.


"Niah." suara Bibinya.


"Iya, Bi." jawab Niah menoleh.


"Bibi, jadi bosan gak ada kerjaan." keluhnya duduk di samping Niah.


"Gak ada kerjaan atau karena Bibi gak bisa nonton drama." ketus Niah.


"Hehe, kamu tau aja." mbok Senah merengut, mengganti siaran acara dangdutan.


"Walaupun di dapur bertungkus lumus, karena ada hiburan jadi gak terasa jenuh dari pada di kamar Nyonya walaupun ada TV layarnya lebih gede tapi kan segan mau ngidupin." si mbok ngomel sendiri.


"Ngapa bibi kemari Nyonya siapa yang menemani?" tanya Niah.


"Lagi tidur, efek minum obat dianya ngantuk." jawab si mbok.


"Bibi, pintu pagar belakang dijaga dua orang tegap tegap." jelas Niah.


"Kamu kenapa gak mau ke Apart Niah?" tanya si mbok.


"Bi, apa Bu Dewi percaya kalau aku darah daging Tuan?" Niah balik Nanya.


"Tentu saja." jawab si mbok.


"Tapi kenapa di.....uph." Niah berhenti bicara si mbok membungkam mulutnya lalu menggeleng.


"Shut!"


Si mbok meletakkan telunjuknya di bibirnya sendiri. Niah mengangguk si mbok melepaskan bekapan nya dari mulut Niah.


"Jangan bahas apa apa di sini, dinding mendengar dan berbicara bisa ngadu pada Tuan." si mbok bicara pelan menunjuk CCTV dengan kerlingan matanya.


*


Devan membawa mobil masuk ke parkiran hotel WJ.


Tak ayal, Johan deg degan mengingat track record si asisten WJ. Dari mulai jadi tangan kanan Burhan sampai akhirnya jadi asisten presdir.


Menurut cerita Devan, asisten Yudi lebih menyeramkan dari atasannya presiden direktur Bramasta Wijaya.


Devan dan Johan masuk ke resto hotel tempat diadakan nya pertemuan dengan Arjit dan asisten WJ yang misterius.

__ADS_1


Johan mengitari pandangan nya, terlihat Arjit duduk dengan dua orang pria tampan lainnya. Salah satu Johan merasa pernah melihat nya, tapi dimana?


Lalu yang brewok, apakah dia asisten Yudi, kelihatan masih muda juga bahkan lebih muda dariku.


Dalam hati Johan mengikuti Devan yang berjalan di depannya seolah dia bosnya. Mereka menghampiri meja Arjit. "Maaf, Tuan tuan kami terlambat." ucap Devan, basa basi walaupun masih ada waktu 5 menit dari jadwal.


"Tidak Tuan Devan, kita yang terlalu cepat." jawab Arjit.


"Yudi, ini Tuan Johan dan asisten Devan yang saya maksud." Arjit memperkenalkan tamunya pada pria yang brewokan.


Si pria brewok berdiri dari duduknya mengulurkan tangan sambil menyebut nama. "Wahyudi." ucap nya.


"Johan. Senang bertemu anda Tuan, terima kasih sudah meluangkan waktu berharga anda." balas Johan tersenyum menatap Yudi lekat lekat.


Yudi kesempatan membaca pikiran Johan, menarik ujung bibirnya. "Sama sama." jawab nya.


Lalu gantian dengan pria satunya, Johan berjabat tangan. "Damien." ucap pria itu.


Seketika Johan ingat, pria ini adalah pemilik mansion dimana istrinya Dewi sering pergi. "Johan Alamsyah, saya suami Dewi pelangi." ucap Johan nada sinis.


Astaga, ngapa bawa bawa Dewi.


Batin Devan mengerut dahi, khawatir dengan sikap Johan lalu menyikut bosnya.


"Mari Tuan tuan, silahkan duduk." ujar arjit menyudahi sesi kenalan.


Ada apa dengan dua orang ini, batin nya.


*


Devan menyerahkan proposal pada Arjit, Arjit memberikan nya pada Yudi.


Kelihatan Yudi menghela nafas pelan. "Manager Arjit, bisa bicara berdua."


"Tentu, Yudi." jawab Arjit, bangun mengikuti Yudi pindah meja.


"Mereka berdua berseteru masalah wanita, apa manager yakin mau menggandeng mereka bekerja sama?" tanya yudi.


"Begitu, tapi Damien yang terbaik di bidangnya sementara Johan, bahkan Beno memakai jasanya melalui rekomendasi dari Hendra. Mereka berdua kompeten kalau memang WJ mau menggandeng pengusaha lokal." jelas Arjit tanpa banyak nanya bagaimana Yudi tau hal pribadi kedua calon partner padahal baru sampai dari Amrik.


Hm, "Baiklah, saya percaya pada Manager. Pastikan mereka profesional dalam bekerja, jangan bawa bawa masalah pribadi. Kalau yang namanya Damien menawarkan seorang wanita menjadi sekretaris anda, terima saja."


Saran Yudi menghela nafas berat jadi rindu pada istrinya Laras dan si kembar tiga baby Lara.


Tega benar si Laras, namanya semua yang disematkan pada nama anak anakku sementara namaku gak dianggap, hah!

__ADS_1


*******♥️


Jumpa lagi, 👍


__ADS_2