
Selesai program Shopie kembali ke ruangannya, terbaring lemah.
Walau kesal tidak menggubris perkataannya, Damien masih menunggui Shopie karena kasihan sendirian gak ada yang menemani. Jadilah ia seperti suami yang nungguin istri periksa kandungan.
Dokter Bagus memperhatikan mereka, ragu-ragu mau memberi tahu Johan.
Hais, terserahlah.
"Bukan urusanku, sebaiknya jangan ikut campur kalau gak ditanya lebih baik diam." gumam Bagus, duduk di depan komputernya walaupun pikirannya gak bisa fokus.
"Damien, bagaimanapun terima kasih. Aku takut sebentar lagi Johan datang, sebaiknya kamu pergi. Aku gak mau dia melihat kamu disini, kamu bisa menggagalkan rencanaku." Shopie suara lemah mengusir Damien.
"Kamu tidak mendukung rencanaku, biar saja dia melihat ku disini." jawab Damien santai, membuka laptopnya kembali bekerja.
"Perlu dukungan apa lagi, kan Dewi sudah cerai. Lebih baik kamu mepetin dia aja daripada kamu disini, apa jangan jangan kamu kangen aku."
Shopie menyindir Damien, menahan dirinya jangan terpancing emosi agar embrio tertanam dan menempel sempurna di rahimnya, ah.
Shopie memegangi perutnya, menutup mata berdoa dalam hati agar programnya jangan sampai gagal gara gara Damien.
Hm, Damien menarik nafas pelan memandang Shopie gak banyak berubah.
"Asistenku menunggu di bawah, kalau si Johan datang aku pergi. Bukankah sore kamu sudah boleh pulang, emang kamu bisa sendiri." Damien suara pelan, khawatir Shopie kepikiran.
Hm, Shopie memicing mata menatap Damien, tersentuh atas perhatian nya.
Kalau anak kami hidup pasti sudah besar sekarang, apa dia akan setampan Farrel si anak bule. Kayaknya wajahnya asia deh, serupa Damien.
Dalam hati Shopie masih memandangi Damien. Makin tampan, enggak nyangka bisa berjumpa lagi.
Ponsel Shopie berbunyi, masuk panggilan dari Dewi. "Hallo, Dewi." jawab Shopie, Damien menoleh.
"......."
"Iya sudah, dua minggu lagi cek up. Sore juga sudah bisa pulang." jawab Shopie.
"......"
"Baiklah, aku tunggu." sambungan ditutup pihak Dewi.
"Dewi akan kemari, sore." Shopie memberitahu Damien.
Hm, Damien hanya bergumam memandang wajah Shopie yang agak pucat.
__ADS_1
Selalu perempuan ini jadi penghalang aku untuk mendapatkan Dewi.
"Istirahatlah, kamu mau makan apa. Aku minta asistenku membeli nya untuk Kamu."
"Boleh?" tanya Shopie.
Hm, angguk Damien.
"Aku mau susu kerbau," jawab nya mata terpejam.
*
Devan membawa Mobil keluar dari halaman sebuah restoran, mereka baru makan siang. Johan duduk di belakang terbengong mengingat ciumannya tadi dengan Dewi.
Apa aku keterlaluan, tapi tadi agak berbeda seperti ada candunya, susah mau dilepas ah Dewi.
"Johan, Shopie berkirim pesan. Katanya Sore sudah boleh pulang." Devan membuyarkan lamunan Johan.
"Apa jadwal selanjutnya?" Johan balik nanya.
"Ke Jaguk jumpa Hendra memastikan bahan untuk Bed dan Sofa." jelas Devan.
"Ke tukang kayu, apa mau langsung?" lanjut tanya devan.
"Baiklah, artinya selesai bertemu Hendra langsung ke rumah sakit."
Devan memutar mobil masuk parkiran Jaguk Deptstore.
*
Sore hari Dewi sebelum pulang dipanggil ke ruangan Arjit. Arjit telah diberitahu Yudi tentang Lee seo jin.
"Tuan," sapa Dewi berdiri di hadapan Arjit.
Hm, "Dewi, apa kamu tau kalau Lee si koki baru menyusup masuk WJ demi bertemu kamu."
"Tidak tau Tuan, saya tidak mengenal nya." jawab Dewi.
Jadi dia menyusup, jangan jangan dipenjarakan lagi sama Yudi.
Batin Dewi, menciut di hadapan Arjit takut dikira bekerja sama dengan Lee memata matai WJ.
"Asisten Yudi berpesan, kalau mantan suami kamu meminta kamu pulang ke rumah. Kamu jangan pergi sendiri, bawa Lee. Katakan sebagai bodyguard from London, karena Ayah kamu sudah mengetahui perceraian kamu," jelas Arjit.
__ADS_1
Yang membuat heran adalah darimana asisten Yudi tau aku sudah bercerai, apa Damien memberitahu nya. Bagaimana Yudi banyak tau tentang diriku.
Dalam hati Dewi sedang berpikir pikir, menoleh ke pintu.
Cekklekk.
Ada Lee berdiri dengan tersenyum. "Sudah siap pulang?" tanya nya.
Ha, Dewi menatap Arjit.
"Dewi pulanglah bersama Lee, saya masih mau menunggu Yudi." ujar Arjit, mempersilahkan Dewi pulang.
"Terima kasih Tuan,"
Dewi mengangguk, di luar ruangan Arjit Dewi menahan langkah Lee.
"Aku mau ke rumah sakit, dulu. Kamu pulang lah." Dewi pada Lee.
"Aku antar kamu, my dear." ujar Lee, tersenyum genit.
*
Selesai bertemu Hendra, Devan membawa mobil ke rumah sakit Bagus.
"Johan, Jet pribadi yang membawa Niah mendarat di NYC."
Hm, Johan memandang Devan. "Aku sudah meminta intel menyelidiki keberadaan nya." lanjut Devan.
"Semoga Niah, menggunakan card banknya." Johan berharap.
"Apa mungkin mengingat pria yang membawa nya sangat kaya, kalau mau sembunyi sudah pasti dia melarang Niah menggunakan nya."
Ck, Johan berdecak kesal teringat Niah jadi kangen pada Dewi.
"Dari rumah sakit Bagus kita ke rumah besar Wijaya. Aku akan mempercepat kedatangan Shopie ke rumah agar Dewi bisa segera mempersiapkan kepulangan dirinya," ujar Johan.
"Gimana kalau program Shopie gagal?" tanya Devan.
"Tinggal suruh dia keluar dari rumah, aku akan mencari cara rujuk dengan Dewi."
******♥️
Hi, jumpa lagi.👍
__ADS_1