Manisnya Madu

Manisnya Madu
81


__ADS_3

Barus membuka pintu mobil.


El masuk duluan disusul Dewi. "Auntie, Papa Dami?" tanya El menunjuk keluar jendela mobil, melihat Damien gak ikut masuk mobil Dewi.


Hm, gumam Dewi membuka kaca memberi waktu El pamitan pada Damien. "El ikut Aunti, papa nyusul bawa mobil El dari belakang. Nanti kita makan malam bareng Aunti, mau gak? " jelas Damien mengusap ujung kepala Farrel.


"Hem," El mengangguk. "Dah, papa." ucap nya melambaikan tangannya pada Damien.


Hm, Damien mengangguk pada Dewi, Dewi menutup kaca manual. Barus melajukan mobil menuju rumah sakit Bagus.


*


"Devan cepatlah," Johan memburu Devan yang lagi mengemudi.


"Sabarlah Johan, ini sudah paling cepat kondisi jalanan ramai gini!" sergah Devan kesal diuber uber sama Johan, entar nabrak panjang urusannya.


Padahal Johan sudah mendapat laporan dari intelnya bahwa Dewi belum terlihat keluar dari gedung WJ masih saja ia gelisah, Niah dipeluk nya erat takut terlempar saking kencangnya Devan mengemudi.


Kelihatan Johan sangat mencintai Dewi tapi kenapa tega selingkuh dengan Shopie? Hanya hak guna pakai, gimana dengan ku setelah bosan atau ada yang baru pastilah dibuang juga nantinya.


Batin Niah terdiam pasrah. Ponsel di sakunya bergetar, bahkan Johan dapat merasakan.


Niah meraba kantongnya mengeluarkan ponsel, nomor malaysia. Siapa gak ada nama, Niah memasukkan lagi ponselnya.


"Siapa sayang, kenapa gak diangkat?" tanya Johan, hidungnya menempel di pipi Niah gemas. Semenit saja pun rasanya gak sanggup berjauhan dari Niah.


"Tari dari Malaysia," jawab Niah asal, tersenyum pada Johan.


"Teman yang pernah aku ngantar ke bandara, ingat? Nanti aku telpon balik, paling mau nggosip," jelas Niah lagi melihat raut curiga Johan menatap nya.


"Hm," gumam Johan, menarik ujung bibirnya.


*


Mobil sampai di rumah sakit Bagus, "Saya akan menemani anda masuk, Nyonya," ujar Barus.


Hm, "Terima kasih, Pak." ucap Dewi keluar dari mobil.

__ADS_1


"Ayo, El." ajak Dewi mengulur tangannya pada Farrel, menggenggam jemari kecil El membawa nya masuk ke gedung rumah sakit Bagus.


Mobil Damien juga sudah sampai mengambil parkir agak jauh, setelahnya ia menyusul Dewi dan El.


Dewi ke ruangan dokter sebelum membesuk Shopie.


"Nyonya Dewi, laporan kesehatan Nyonya Shopie bagus tidak ada masalah. Perpaduan anda dan suami juga bagus, menghasilkan banyak embrio dan mereka semua kuat semoga saja langsung nempel dan berkembang dengan baik," jelas dokter.


"Dokter sudah 3 kali saya keguguran, apakah ada perawatan khusus untuk rahim agar bisa hamil awet sampai melahirkan," tanya Dewi teringat dirinya, mumpung ada dokter gak ada salahnya sekalian konsultasi.


"Bagaimana bisa, apakah anda terjatuh atau duduk terlalu buru buru?" tanya dokter.


"Tidak ada, dia luruh dengan sendirinya," jawab Dewi.


"Kandungan usia berapa?" tanya dokter.


"Telat haid antara 4 sampai 8 minggu." jawab Dewi.


"Saya sudah memeriksa anda tidak ada masalah dengan alat reproduksi, kalau anda ingin mencoba hamil lagi saya bersedia memantau dari awal sampai melahirkan kalau anda ingin program, masih ada sisa embrio," jelas dokter.


"Bolehkah?" tanya Dewi.


"Dokter boleh rahasiakan mengenai embrio sisa dari suami saya, saya ingin mencoba nya diam diam untuk kejutan," mohon Dewi.


Dokter mengerut dahi, meski begitu, "Baiklah, saya akan keluarkan dari daftar list biaya program. Nanti kwitansi nya akan langsung pada anda, gimana?"


"Iya, gitu aja." senyum Dewi pada dokter.


"Kapan mau program beritahu saya," ujar Dokter.


"Baiklah terima kasih dokter," ucap Dewi.


Segera ia keluar dari ruangan dokter, senyum mengembang di wajahnya.


"Ayo ke ruangan Shopie." ajak Dewi pada Damien yang menunggu nya dengan El, di bangku tunggu luar.


"Sepertinya ada kabar baik, wajah Kamu kelihatan senang." ujar Damien.

__ADS_1


"Hm, ada." jawab Dewi tersenyum, ringan.


*


Di gedung perkantoran WJ.


"Johan, Dewi tidak ada di gedung sudah pulang dari tadi," lapor Devan pada Johan saat diminta nanyain satpam.


"Apa!"


Johan menoleh pada dua intel yang tiba tiba pucat saling pandang satu sama lain, bagaimana mereka bisa gak melihat Dewi keluar dari gedung.


"Maaf Tuan." ucap Intel menunduk.


Arghhh.


Kesal Johan menendang kaki salah seorang intel kerena telah kehilangan Dewi.


"Cari sampai dapat!" titah nya pada dua intel.


"Baik Tuan," jawab intel bersamaan segera kabur dari hadapan Johan.


"Devan." panggil Johan.


"Iya, aku tau. Aku melihat ada nama Damien di buku tamu hari ini. Katanya melakukan Inspeksi keamanan data dan gedung tapi jelas jelas ia keluar dari lobby. Menurut Satpam, Damien datang bersama anak kecil tapi saat keluar ia sendirian." jelas Devan.


"Apa ada jalan lain selain 2 jalur keluar masuk gedung?" tanya Johan, mengitari pandangan nya.


"Apa aku pernah memberitahu kamu, bahwa Presiden Direktur dan asisten Yudi punya ilmu menghilang?" tanya Devan.


Ck, "Bicara yang jelas!" Johan hampir saja menendang Devan.


"Tentu saja ada, tapi bahkan satpam tidak tau di mana posisinya, kecuali kamu nanya pada arsitek yang dulu membangun gedung ini."


Jelas Devan, masalahnya Dewi gak pakai mobilnya. Kalau iya mudah saja bagi Johan dan Devan mengetahui posisi Dewi.


"Ayo kita ke mansion Damien." titah Johan.

__ADS_1


******♥️


Hi, jumpa lagi 👍


__ADS_2