Manisnya Madu

Manisnya Madu
116


__ADS_3

Hm, Iskan menghela nafas menyikapi Johan yang dari dulu memang wataknya agak sedeng. (agak cuek, hampir mendekati gila).


Entah sengaja gak taulah, masalahnya selain tampan Johan manusia cerdas. Karena itu juga banyak gadis yang rebutan one night dengannya yang membuat Iskan kesal pada Johan.


Beruntungnya Johan selalu milih cewek cewek bule yang memang hidupnya bebas urusan berhubungan badan.


Iskan selalu menasehati mahasiswi dari Nusantara agar jangan terjebak dengan pesona penampilan Johan.


Ternyata perempuan cantik ini yang menaklukkan hati Johan, Mahasiswi London juga. Apa mereka bertemu pas Johan diminta jadi dosen, sepertinya begitu. Jadi murid jatuh cinta pada guru judulnya, hm. Sial benget, akhirnya bercerai juga.


Dalam hati Iskan melirik Dewi kasihan, "Iya, silahkan saja. Makan sepuasnya, bila perlu restorannya kita beli." jawab Iskan menarik ujung bibirnya.


Cis, Johan tersenyum lebar, akhirnya ia diikut sertakan makan malam duduk di samping Dewi pula, gak perlu bayar lagi.


Hah, lega.


"Ayo sayang, duduk," Johan dengan lembut mempersilahkan Dewi, menarik bangku untuk mantan istrinya.


Semoga 4 bulan sandiwara ini cepat berakhir. Aku akan biarkan si Johan bersikap mesra seolah aku juga menginginkan nya, agar saat aku menggugat nya ia benar benar merasakan sakit hati.


Dalam hati Dewi menahan rasa kesal manut saja diperlakukan mesra oleh Johan.


Arjit gak bisa berbuat apa apa, Johan si gak tau malu itu dan Iskan ternyata saling kenal.


"Maaf Iskan ada gangguan teknis." ucap Arjit menyalam Iskan.


Cis, dengus Johan tau yang dimaksud Arjit itu dirinya.


"Tidak apa apa, silahkan duduk Arjit. Istrimu sangat cantik, hallo." jawab Iskan mengulur tangan pada Olive.


"Hallo juga, Tuan Iskan." jawab Olive menerima uluran tangan.


Hah, makan malam tetap ganjil karena Iskan tetap gak ada temannya, lihatlah si Johan sangat posesif pada Dewi.


Desah dalam hati Arjit menarik satu kursi mempersilahkan Olive duduk lalu menarik satu kursi lagi untuknya.


Dewi duduk diantara Johan dan Iskan, merasa tidak enak hati seketika ia berdiri menghadap Iskan.


"Maaf Senior, saya belum memberi hormat pada kakak angkatan." ucap Dewi menunduk pada Iskan.


Oh, buru buru Iskan berdiri mengulurkan tangan. "Nice to meet you, beautiful lady," ujar nya tersenyum semanis madu.


Dewi menerima uluran tangan, balas tersenyum. "Nice to meet you too, Senior." jawab Dewi.


Oh tidak, si Iskan kelihatan menyukai Dewi. Aku harus menghalangi nya.


Batin Johan mendelik gak senang melihat Iskan menggenggam tangan Dewi, hatinya sangat panas.


"Sayang, tidak usah terlalu formal kita bukan sedang dalam masa pendidikan," Johan menggenggam tangan Dewi satunya.


Mendengar itu Iskan tersenyum santai. "Benar Dewi, duduklah kita pesan makanan. Kamu tidak alergi seafood kan?" tanya Iskan sambil duduk.


"Tidak, Senior,"


Jawab Dewi, Johan menarik nya duduk belum mau melepaskan tangannya. Perlahan Dewi menarik nya tanpa menatap Johan.


Hah, Johan mendesah.


*


Lee dan Sabit yang baru datang ikut bergabung dengan Devan dan Barus tidak ketinggalan wakil ketua Seroja.


Melihat pemandangan meja sebelah, Lee menjadi gelisah.


Aih, mereka sama sama dari London. Jangan sampai terbongkar rahasia Dewi dan Johan sudah bercerai.


"Kamu ngapain nyusul?" Barus menegur Lee.


"Menjaga Dewi lah! Apa kamu tidak tau aku ini bodyguard from London yang diminta orang tuanya menjaga Dewi." ketus Lee, membalas ketidaksenangan Barus.


"Hm, kamu profesional bodyguard kan, gak ada niat ingin memiliki nya kan?" tanya Barus to the point, resah pake bingit dengan sikap Lee yang selalu mengejar kemana Dewi pergi.


"Itu bukan urusan kamu, kamu itu pengawal Yudi malah jagain Dewi. Jangan jangan kamu yang menyukai Dewi lalu merengek pada Yudi untuk mendekati Dewi," sinis Lee.


"Dewi sudah tau aku menyukai nya dan dia juga menyukai ku." jelas Barus.


"Hahaha," tawa Lee sumbang.

__ADS_1


"Pasti kamu ditolak kan, dia lebih memilih kencan dengan teman Arjit daripada kamu, hahaha." Lee mengejek Barus.


"Itu bukan kencan, hanya makan malam. Asal kamu tau, tadi Dewi sudah menawarkan card banknya pada ku tapi ku tolak. Kamu tau artinya apa, dia itu perduli padaku," jelas Barus gak mau kalah, gak senang pada Lee memandang rendah dirinya.


"Sudahlah, saatnya makan. Itu pesanan sudah datang." ujar Sabit menengahi guru nya yang sudah mulai emosi.


Devan tersenyum samar duduk di samping melihat dan mendengar perseteruan.


Johan benar, kedua mereka ini memang ada niat untuk memiliki Dewi.


"Kamu yang bayar, Barus!" ketus Lee.


"Jangan khawatir Tuan Lee, untuk menarik hati Nyonya Barus apa saja aku lakukan." jawab Barus santai.


"Apa? Nyonya Barus, mimpi!" Lee menjulurkan lidahnya.


"Biarin, ucapan adalah doa." jawab Barus.


Ck, decak Lee terpandang Devan dan wakil ketua Seroja yang senyum senyum menyaksikan perseteruan nya dan Barus.


"Anda berdua kenapa ikut gabung di sini?" tanya Lee jutek menatap Devan gak senang.


"Apa masalah anda? Tuan Barus tidak melarang, lagian kita lebih dulu yang duduk disini dari pada anda. Apa anda yang membayar makanan, kan enggak," sinis Devan.


"Aish,..." kesal Lee.


Sabit menggenggam tangan nya di bawah meja saat gurunya itu mau buka mulut agar jangan merendahkan dirinya lagi.


Lee menyentak tangannya risih, membuang muka.


Kenapa hati ku panas, ah!


*


Sementara acara makan di meja Barus dihiasi dengan ribut ribut akibat mulut Lee yang bising.


Di meja sebelah acara makan berjalan khidmat dan romantis untuk Arjit dan Johan tapi tidak untuk Iskan.


Merasa gak enak karena ada Johan padahal ia diajak makan malam untuk menemani Iskan, Dewi inisiatif melayani Iskan. Lagi pula dia senior mereka.


"Untuk senior," ujar Dewi memberi seafood yang disiapkan Johan untuk nya.


Johan berdecak gak suka. "Sayang, itu untuk kamu makan." tegur nya.


Dewi gak perduli pada Johan, Iskan tersenyum menyambut pemberian Dewi.


"Terima kasih Dewi," ucap Iskan.


"Kamu juga makanlah," Iskan balas memberi Dewi hasil kopek-an nya.


Jadilah mereka tukeran seafood. Dewi memakan hasil kopek-an Iskan, Iskan memakan kopek-an Johan.


"Hah,"


Desah Johan mulai gerah melihat Dewi menyantap seafood kopek-an Iskan lebih cantik daripada hasil kopek-an nya. Sekelebat bayangan saat jadi suami istri, Dewi yang mengkopek untuk nya.


"Apa enak?" tanya Iskan mencoba ramah pada Dewi.


"Enak Senior, terima kasih." ucap Dewi sambil makan daging kepiting kopek-an Iskan.


Lagi lagi Johan gak senang, bertambah muak. "Sayang, makanlah! Jangan ngobrol sama orang asing, nanti ke-sedak." tegur Johan lagi suara lebih keras.


Dewi gak senang ditegur Johan, dah lah dia gerah dengan kehadiran nya.


"Kamu bilang dia senior kita, berarti bukan orang asing dong! Dan satu lagi...Senior Iskan adalah orang yang keluar uang membayar makanan kita." jawab Dewi.


"Mas, mau?" lanjut Dewi memberi Johan kepiting pemberian Iskan. "ini gratis," senyum Dewi mengejek.


Johan merah padam, panas Dewi membantah nya di depan Iskandar ditambah lagi merendahkan nya.


"Jadi kalau dia yang bayar, diajak tidur juga kamu mau?! Hah, sudah lama aku tidak menyentuh mu jadi wajar kalau kepi..."


Plak!


Belum habis Johan bicara, tangan Dewi melayang ke wajah Johan. Semua yang hadir berhenti makan, memandang mereka.


Hiks.

__ADS_1


Dewi jatuh air mata segera berdiri, tidak sanggup lagi melanjutkan makan. Saat hendak beranjak, segera Johan menangkap tangannya.


"Lepaskan Aku." teriak Dewi menghempas tangan Johan.


"Ah!" pekik Dewi kesakitan.


Johan menahan tangan Dewi kencang jangan sampai lepas.


"Iya sayang, kita pulang sekarang." seketika Johan berdiri mengangkat Dewi ala bridal.


Ah! Pekik Dewi kaget.


Iskandar ikut berdiri, begitu juga Arjit dan semua orang di meja sebelah tidak terkecuali Barus, ia sangat geram pada kelancangan mulut Johan.


"Johan, aku tidak mau pulang dengan mu, turunkan Aku!" jerit Dewi menggebuki dada Johan.


Johan bergeming, saat hendak melangkah. "Johan, lepaskan Dewi." mohon Iskandar manahan langkah Johan, kasihan pada Dewi.


"Dia istriku, milikku! Aku harus menjaga nya dari orang orang yang ingin merebut nya dari ku, terutama kamu." jawab Johan, tatapan tajam pada Iskandar berbalik badan berjalan menuju ke arah pintu keluar.


"Mas, turunkan aku," Dewi menepuk nepuk lagi di dada Johan.


"Diamlah sayang! Biar aku menggendong kamu, kita pulang ke rumah sekarang."


Johan tidak perduli terus membawa Dewi terlihat wakil Seroja dan Devan. Teringat Dewi belum puas makan dan ledekan nya barusan.


Memangnya aku gak bisa beli, hanya untuk kamu aku bersedia membayar, Dewi sayang.


Seringai dalam hati Johan. "Bungkus makanan menu serupa," titah nya pada wakil Seroja.


"Baik, Tuan." ucap wakil Seroja bergegas ke dapur.


"Mas, aku gak mau pulang dengan kamu! Aku pulang dengan Barus ke rumah besar!" pekik Dewi, tak henti menggebuk Johan.


"Tidak ada rumah besar Wijaya, kita pulang ke rumah kita..."


"Permisi," suara Barus menghalangi langkah Johan.


Satu lagi kambing yang harus dijauhkan dari Dewi.


Dalam hati Johan melihat Barus, "minggir, kataku!" Johan menengking nya.


"Johan, aku mau pulang dengan Barus. Tolong turunkan aku." Dewi memukul terus di dada Johan.


"Tidak sayang, kamu pulang dengan ku." Johan mendelik Barus. "minggir!"


"Nyonya ini dalam pengawasan saya dan dia tidak mau pulang dengan anda." Barus belum mau minggir dari hadapan Johan.


"Silahkan turunkan Nyonya Dewi, Tuan Johan. Selagi saya meminta secara baik baik." lanjut Barus.


Johan bergeming sinis, melihat pada beberapa bodyguard Seroja yang siaga lalu memberi isyarat. Mereka segera tanggap mendekati Johan.


"Lewati mereka, baru kamu boleh mengambil Dewi." ujar Johan mundur.


Barus dihadang genk Seroja, seketika terjadi baku hantam antara Barus dan para geng Seroja.


Tamu tamu yang lagi makan di restoran kaget ikut berdiri, khususnya kaum wanita pada histeris segera berhamburan keluar dari kerusuhan.


Arjit meminta Sabit membawa Olive keluar, ia bergabung membantu Barus. Lee tidak mau ketinggalan memamerkan keahliannya.


"Hais,"


Iskandar menyingsingkan lengan begitu juga asistennya, mereka membantu Barus yang memang kalah jumlah dari geng Seroja.


Devan bingung mau bantu siapa, ia kabur ke dapur menemui wakil Seroja yang sedang menyiapkan seafood pesanan Johan.


"Cepatlah!" Devan memburu chef.


"Sabar Tuan," ujar wakil ketua Seroja mengintip perkelahian.


"Hah!"


Ketua Seroja mendesah, menonton restorannya hancur berantakan dari layar lebar di ruangannya. Segera ia menelpon wakilnya.


"Cepat hentikan perkelahian, apa kamu tidak tahu siapa Iskandar Leonard!?" bentak nya marah.


******♥️

__ADS_1


Jumpa lagi, do not miss to push the button like nya ya guys.👍


__ADS_2