
Masih di Mall kota reklamasi.
Selesai Ashar di samping musholla khusus VIP, Yudi berpamitan pada Arjit mau kembali ke Hotel WJ.
"Manager Arjit segera email Johan, live meeting dengan Tuan muda tidak perlu lagi,"
"Baiklah Yudi, maaf karena aku WJ mengalami kerugian." ucap Arjit.
Hm, "Kita belum rugi hanya keuntungan berkurang 20%, bersyukur masih tertutupi dengan kehadiran Iskan. Karena ini yang pertama, Presdir memaafkan. Kita bisa apa bukan Johan yang melanggar kontrak, masalah pribadi mereka kita tak perlu ikut campur, hm." Yudi menghela nafas.
"Perintah Presdir hanya batalkan kerja sama dengan Johan," jelas Yudi, ia telah bicara dengan Bram via VCall sendirian di ruang kerja rumah besar Wijaya tadi pagi.
"Baiklah Yudi, terima kasih," angguk Arjit.
"Tidak perlu kembalikan deposit, minta bahan bahan yang ada pada Johan segera dikirim ke warehouse WJ," tegas Yudi lagi.
"Siap Yudi, laksanakan."
Hm, "Baiklah Manager, aku pergi." pamit Yudi pada Arjit.
Hais, Yudi geleng kepala. "Ayo Barus," ajak Yudi pada pengawal nya yang monyong memandang lurus ke arah Dewi yang lagi berdiri di sebelah Iskan agak jauh di taman pinggiran gedung.
Melihat Yudi hendak masuk lift Dewi mengejar nya, Yudi menunggu Dewi.
"Tuan, terima kasih sudah menghapus video tadi malam," ucap Dewi nafas besar besar.
"Iya, terpaksa saya hapus karena ada gambar Sabit sedang menggeplak tengkuk mantan suami anda." jawab Yudi.
Oh, begitu ternyata.
Dalam hati Dewi lega, "Apapun itu, saya tetap berterima kasih." Dewi menunduk hormat.
Hm, senyum Yudi kemudian ia masuk lift sudah ada Barus di dalam.
Barus memandang Dewi, gak rela meninggalkan nya bersama Tuan Iskan. Takutnya Dewi berubah pikiran.
Dewi, semoga program kamu berhasil dan aku bisa menikah dengan mu.
*
Di mobil Barus tidak bisa berhenti tersenyum. Sudah menghayal saja dia ingin segera membawa Dewi jumpa ibunya untuk diperkenalkan sebagai calon isteri.
"Apa kamu senang?" suara Yudi mengejutkan Barus.
Eh, "Iya, Bos. Dewi memilih saya menikah dengan nya setelah urusannya dengan mantan selesai." senyum Barus gak bisa ditahan.
"Hm, kamu sudah siap dengan segala konsekwensinya dibelakang hari."
"Inshaa Allah Bos, tolong dukung saya berikan semangat."
"Aku mendukung kamu dari awal Barus, lakukanlah dengan serius."
Walaupun pertama hanya manfaat.
Lanjut dalam hati Yudi teringat lagi bagaimana sejarahnya ia menikahi Laras, ya sama asas manfaat dan terdesak keadaan. Bisa juga berakhir cinta dan bahagia.
__ADS_1
"Saya ingin menolong Dewi Bos, ingin melindungi nya dari pengganggu seperti Johan. Kalau setelah urusannya selesai, Dewi ingin bebas hidup mandiri saya akan lepaskan asalkan dia bahagia," jelas Barus sedih.
"Silahkan saja Barus, kelihatan hidup kamu jadi lebih berwarna sekarang. Kamu pakai baju berbeda walaupun masih ada warna hijaunya tapi gak melulu hijau seperti kemarin kemarin."
Ujar Yudi melihat kemeja Barus senyum dikulum, pakai batik warna warni motif bunga bunga. Biasanya T-shirt hijau polos fit body dengan celana senada cuma warna lebih tua. Begitu terus sepanjang ingatan Yudi selama Barus jadi bawahan nya, kebayang kan lemari baju Barus isinya warna hijau semua.
Hah! Dasar Barus, masih ada pria sepolos Barus di zaman now.
*
Tinggallah Arjit dan Iskan yang menemani Dewi dan Dwi jalan jalan, diikuti Lee dan Sabit mengekor di belakang.
Mungkin sengaja, mereka kompak pakai hitam hitam ala Men in black lengkap dengan kaca mata hitam buat nutupin wajah Sabit, siapa tau semalam ada yang mengenali nya atau sempat melihat Videonya saat menggeplak tengkuk Johan.
Tak ayal mendapat tatapan kagum dari pengunjung khususnya SPG, histeris melihat dua cowok tampan pada minta selfi. Cis, Lee melotot dibalik kaca matanya, Sabit hanya tersenyum menolak dengan ramah.
Dewi tetap menggandeng Dwi bahkan Lee tidak berani mendekati mereka yang sibuk berdua ketawa ketiwi.
Apalagi Iskan lucu melihat Dewi seperti anak yang takut lepas dari ibunya, memegang Dwi sangat erat.
Arjit jadi teringat pada sekretaris Burhan suami Dwi, pengawal setia sampai mati Tuan Besar.
Tidak terasa sudah lewat setahun juga Pramudya dan Burhan meninggalkan WJ, hah!
Dalam hari Arjit masuk ke toko sepatu pria bersama Iskan, di sebelah dua orang perempuan juga masuk toko sepatu khusus wanita.
Selesai belanja Dewi dan Dwi rebutan bayar, akhirnya Iskan yang membayar sekalian dia juga membeli sepatu model sendal untuk dirinya kebetulan toko pemiliknya sama satu kasir.
Biasanya Iskan belanja di luar negeri langsung dari designer, disini hanya alasan agar Dewi tidak segan dibayari oleh nya.
"Sudah dibayarin masih menggerutu," Arjit mengomeli Dwi.
Hm, senyum Dewi melihat Dwi yang polos apa adanya. "Terima kasih, Tuan." ucap nya pada Iskan.
"Terima kasih, Tuan." ucap Dwi ikutan.
"Kalau masih ada yang disukai ya diambil saja lagi." Iskan menawarkan.
Dewi dan Dwi menggeleng bersamaan, terasa gak bebas jalan jalan dikawal lelaki yang bukan muhrim.
"Jadi pulang, neh." yakin Arjit.
Hm, angguk Dwi dan Dewi bersamaan lagi.
"Kita pulang Iskan, istri ku juga sudah ngomel karena gak diajak." ujar Arjit pada Iskan.
Dia sendiri gak belanja kerena sejak menikah dengan Olivia, istrinya itu yang mengatur semua apa yang dikenakan nya. Arjit suka itu, istri yang perhatian pada penampilan suami.
*
Di mobil, Iskan masih duduk di belakang bersama Dewi.
"Kamu bicara apa pada Barus, kelihatan nya dia senang bersama kamu dan merengut dengan kebersamaan kita." tanya Iskan.
Astagfirullah, Barus jangan baper dong, ah.
__ADS_1
Batin Dewi, serba salah. "Tidak ada, hanya memberitahu nya besok saya akan pulang ke rumah Johan dan jam berapa harus menjemput kerja." jawab Dewi.
"Kamu! Pulang ke rumah Johan?" Iskan gak percaya.
Hm, angguk Dewi.
"Untuk apa?"
"Ada urusan yang harus diselesaikan, sekalian mau mengambil surat nikah asli dan KK untuk kelengkapan proses menggugat cerai," jawab Dewi.
Hah! Kirain mau rujuk.
Iskan lega.
"Aku lagi nganggur, bagaimana kalau aku saja yang ngantar? Bukankah Barus sibuk dengan Yudi," tawar Iskan.
Hais ampun, bagaimana ini.
"Maaf Senior...lebih baik Barus yang ngantar, saya tidak mau cari gara gara dengan Johan. Kalau dengan anda takutnya dia ribut lalu mempersulit dan proses perceraian jadi makin lama," tolak Dewi alasan.
Hm, benar juga.
Dalam hati Iskan.
*
Sampai di rumah besar Dewi masuk ke kamarnya, masih sempat maghriban.
Selesai maghrib, Dewi meraih ponselnya.
Aku harus menghubungi Niah, memberitahu nya bahwa aku sudah bercerai dengan Johan...
Sehingga dia membatalkan niatnya meminta cerai pada Johan dan proses perceraian ku menjadi lancar. Baiklah kira kira sekarang di Amrik jam berapa ya.
Dewi melihat jam di dinding.
18.20 wib, artinya jam 07.30 waktu Amrik. Sudah pagi..
*
Karunia di kamar hotel Beno, baru keluar dari kamar mandi.
Tiba tiba ponselnya berbunyi.
Paling Johan lagi, kapan sih VCall si Ludwig. Kalau aku sendiri gak berani entar Johan merayu lagi, bisa bisa batal cerai aku dipanggil pulang.
Batin Niah mengabaikan panggilan terus saja ke lemari pakaiannya.
Ponselnya berdering 3 kali lalu diam kemudian terdengar lagi bunyi tanda pesan masuk, Karunia meraih ponselnya.
Nomor Jkt, nyonya Dewi. Ada apa dia menelpon pagi pagi.
*****❤️
Jumpa lagi, 👍
__ADS_1