
Dewi di kamarnya.
Setelah Johan keluar ia membuka matanya, bangun dari kasur berjalan ke balkon ingin mencari udara segar, hah! Dewi menarik nafas dalam dalam melapangkan dadanya yang sesak.
Dewi kembali ke dalam kamar meraih ponselnya yang tiba tiba berdering. Damien, gumam nya. "Hallo." Dewi menjawab panggilan.
"Dewi, kamu masukkan resume kerja ke group WJ, aku sudah bicara pada manager Arjit besok datanglah interview. Hanya formalitas, kamu diterima." suara Damien di ujung panggilan.
"A-apa, serius Damien?" tanya Dewi terlonjak senang.
"Hm, cepatlah. Dia butuh sekretaris, segera." jawab Damien.
"Oke Damien, aku buat sekarang segera, Terima kasih..."
"Dewi, apa kamu bahagia?" tanya Damien, sesaat sebelum Dewi hendak memutus sambungan.
"Ah." Dewi terperangah.
"Tentu saja, kamu nanya apa sih Damien." jawab Dewi.
"Syukurlah, karena kalau aku tau kamu tidak bahagia. Tunggulah, aku akan menculik kamu dari rumah itu."
Cis, "Baiklah. Ku buat resume dulu biar besok bisa interview, bye." Dewi menutup panggilan, jantungnya berdegub.
Damien, kamu datang di saat yang tepat. Aku memang lagi bersedih dan butuh pertolongan tapi bukan untuk pelarian.
Gumam dalam hati Dewi meraih tabletnya.
*
Di kamarnya.
Karunia makan dipandangi Johan dengan tatapan sayu yang membuat Niah jadi risih banget.
"Sudahlah, jangan diliatin Tuan. Saya sudah makan, Tuan boleh pergi sekarang." ujar Niah.
"Karena Dewi sudah tau status kita yang sebenarnya, aku akan memberitahu nya secara resmi dan segera mendaftarkan pernikahan kita ke catatan negara."
Mendengar itu, Karunia berhenti mengunyah. Sebagai perempuan Niah sangat tau pasti betapa itu tidak mudah bagi Dewi menerima nya. "Jangan Tuan, Nyonya masih lemah. Apa Tuan mau, beliau pingsan lagi kayak kemarin malam."
"Tapi siang tadi dia memanggil kamu membantu nya mandi, apa yang dikatakan nya. Apa dia memberi ide bagaimana bisa kabur dariku?" tanya Johan suara ketus.
Niah, susah payah menahan diri agar jangan terkejut. Gak mungkin kan Johan mendengar pembicaraan Nyonya di kamar mandi, bisa jadi dia asbak. Asal tebak.
"Hanya membicarakan rencana membawa Shopie ke rumah sakit." jawab Niah.
"Kamu jangan menyembunyikan apa apa dariku, bisa saja Dewi menghasut kamu agar meninggalkan ku. Aku benar benar tidak akan memaafkan nya, kamu jangan belain dia." Johan nada marah mencubit pipi Niah.
Aduh..gak dihasut juga gua yang pingin kabur.
"Tuan, tidak ada yang seperti itu. Aku perempuan paham apa yang dirasakan Nyonya, seandainya aku di posisi beliau sudah minggat dari Kemaren kemaren gak tahan." ketus Niah.
"Berani kau minggat! Aku pasti akan menemukan kamu, kemanapun kamu pergi." Sergah Johan mendelik pada Niah.
__ADS_1
Ck, "Aku bilang Nyonya, kalau dia marah pun wajar. Kalau Nyonya minggat, apa anda akan mencari nya?" tanya Niah.
"Tentu saja, dia masih istriku." jawab Johan.
Hm, "Sudahlah, aku kenyang." Niah beranjak dari kasur, ingin menyimpan piring nya ke dapur. Johan membiarkan nya, selanjutnya melamun sendirian di kamar Niah.
Melihat Johan belum keluar dari kamarnya, Niah duduk di sofa dapur bergabung dengan asisten rumah tangga baru. Para asisten rumah tangga merasa segan, segera masuk ke kamar mereka.
Hm, tinggallah Niah juga melamun sendirian. Pagi pagi Niah bangun, sama seperti sebelumnya dia sudah ada di kasur, di kamarnya.
Mana Johan? Syukurlah dia tidak tidur di sini.
Segera Niah membersihkan diri, mau solat masih halangan jadilah ia ke dapur mencari cari apa yang bisa di makan.
"Niah." suara Dewi memanggil nya, Niah menoleh.
Alhamdulillah, Nyonya sudah mau keluar dari kamar.
Batin Niah. "Iya, Nya?" jawab nya.
"Kamu ngapain di dapur, bukankah sudah ada asisten rumah tangga baru yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga." tanya Dewi melihat Niah sibuk mengorek ngorek kulkas.
"Maaf Nyonya, pingin buat sarapan sendiri gak ada bahannya. Saya mau nge-teh, apa Nyonya mau?" Niah menawarkan Dewi.
"Tidak Niah, aku minum air putih saja. Aku ada panggilan kerja, kamu jaga rumah ya sama si mbok."
Dewi mengambil gelas mengisi dengan air hangat lalu meminum nya.
"Baik Nya." angguk Niah.
Hm. "Aku naik dulu, Niah." ujar Dewi menarik ujung bibirnya berlalu dari hadapan Niah.
Johan tidak tidur di kamar, juga di ruang kerja. Jadi dimana, apa jangan jangan di kamar Niah.
Deg, batin Dewi berdegub kembali ke dapur. "Niah." panggil nya.
"Eh, iya Nya." Niah kaget melihat Dewi balik lagi.
"Kamu tau mas Johan tidur di mana?" tanya Dewi, dadanya berdebar menunggu jawaban Niah.
Hah, kenapa nanya gua. Tidak ada di kamarku jadi di mana?
Niah mengernyit. "Bukankah di kamar bersama Nyonya." jawab nya.
Hah, Dewi bernafas lega. "Oh ya sudah, gak apa Niah." jawab Dewi balik badan mau kembali ke kamar nya.
Jadi tidak di kamar Niah, kalau iya pun akankah dia menjawab jujur. Mungkin benar kata si mbok, aku harus pergokin mereka, mana ada maling mau ngaku kalau di tanya.
Dewi naik ke kamarnya mau manggil si mbok yang masih tertidur di sofa menemani nya semalaman.
*
Johan keluar dari kamar yang biasa dipakai Devan tidur, mencari Niah ke kamarnya. Saat membuka pintu tidak melihat ada Niah, Johan ke dapur.
__ADS_1
Benar saja Niah duduk melamun minum teh sendirian. Asisten baru juga sudah mulai beraktifitas, namun Johan tidak melihat mbok Senah.
"Tuan." sapa Niah melihat Johan menghampiri nya.
"Ayo ke kamar, bawa teh nya." ajak Johan suara pelan.
Aish..
Niah mengikuti Johan yang berjalan duluan, membawa gelas tehnya. "Ada apa, Tuan?" tanya Niah sesampai di kamar.
Johan mengunci pintunya, mengambil gelas teh Niah yang isinya tinggal separoh lalu meminum nya kandas.
"Ayo, duduk sini." Johan mengajak Niah duduk di kasur, memeluk tubuh kecil nya.
"Niah, aku rasa tidak akan bisa adil punya dua istri." Johan menatap Niah.
"Ya sudah, ceraikan saya." ujar Niah lega.
Akhirnya aku bebas, batinnya.
"Hm." Johan menggeleng. "Aku akan melepaskan Dewi."
Astaga! Ini tidak bisa terjadi, aku harus menghalangi nya.
Dalam hati Niah, gusar. "Tuan, setidaknya tunggu program dulu. Bagaimanapun biarkan Nyonya yang menggugat anda. Bukankah Nyonya juga menginginkan cerai." jelas Niah mencari alasan.
"Begitu?" Johan nada tanya sok lugu.
Hm, angguk Niah. "Saya hanya pendatang, tapi Nyonya sudah menemani anda bertahun tahun. Saya tidak ada apa apanya di bandingkan Nyonya, bisa jadi hanya kesenangan sesaat." lanjut dalam hati Niah.
"Kamu baik sekali Niah, kalau perempuan lain pasti sudah kesempatan menggodaku dan menyingkirkan Dewi." Johan mengusap wajah Niah, semakin sayang padanya.
"Sudahlah, sana keluar. Ntar Nyonya, nyariin Tuan." sergah Niah, teringat tadi di dapur jumpa Dewi yang mencari Johan.
Johan memandang Niah. "Baiklah aku siap siap mau ke kantor, cium dulu." Johan memajukan bibirnya.
Tentu saja kamu memilihku sekarang. Ibarat WC baru, kepingin duduk nanti lama lama juga biasa aja. Buktinya Shopie, dan Nyonya yang begitu cantik, kamu mau buang hah. Bagaimanpun aku harus kabur dari sini.
Batin Niah mengecup nya kilas, namun Johan memperdalam ciuman.
*
Di balik pintu kamar Niah, Dewi sesak nafas tidak jadi mendobrak.
"Kenapa gak jadi, Nyonya." tanya si mbok kecewa, padahal tadi dia sudah semangat saat Dewi mengajak nya mergokin Tuan dan Niah.
"Lain kali saja." jawab Dewi berjalan lunglai naik tangga menuju kamarnya diikuti si mbok dengan tatapan prihatin.
"Nyonya."
Panggil si mbok pada Dewi yang terduduk melamun di sisi tempat tidur, Dewi menoleh, ada air menggenang di sudut matanya.
"Katanya mau wawancara."
__ADS_1
*******♥️
jumpa lagi, 👍