
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sebelum bunga bunga bermekaran, terlebih dahulu akan tumbuh tunas muda yang kemudian akan hadir kuncup di puncak tunas. Dan dari serangkaian proses hingga bunga mekar sempurna, maka yang menuai pujian terbesar adalah saat bunga telah mekar dengan membawa semerbak wewangiannya. Begitupun proses yang terjadi dalam hidup.
Dua bulan berlalu, dan aku sudah nyaman dengan perombakan besar dalam hidupku. Dan sedikit demi sedikit pula mulai menata hati, menyimpannya dengan rapi. Kesibukanku dengan ujian ujian yang terus di lakukan menjelang ujian ahir tiga bulan lagi, mampu sedikit mengalihkan perasaan sentimentil yang sering kumat kumatan datang.
Bukan aku tidak ingin melupakan cinta sendiri itu, hanya saja karena seringnya Kak Melati menceritakan kesehariannya dengan Bang Daffa membuatku kembali dan kembali mengingat perasaan yang tidak tau diri ini. Ini sudah dua minggu Kak Melati sama sekali tidak memberiku kabar, entah karena Kak Melati tau jika aku mulai di sibukan dengan ujian prakerin ku atau karena Kak Melati yang sedang sibuk dengan Wisudanya. Entahlah.
Jika boleh jujur, aku sedikit lega kala Kak Mealti tak menghubungiku beberapa waktu ini, meski itu terdengar jahat. Namun, akan wajar bagi orang yang patah hati sepertiku. Ingin aku menjadi seorang yang benar banar berhati lapang, seperti Kak Melati, yang rela membagi cintanya denganku. Tapi, aku hanya manusia biasa yang masih berlumuran dengan dosa dan terkungkung dengan hawa ***** semata.
Juah di dalam hati aku merasa bersalah kepada Kak Melati, namun aku juga tidak bisa menghalangi hatiku untuk berhenti saat ini pula, agar tak mencintai Bang Daffa. Bahkan aku berusaha sangat keras agar rasa suka ku ke Bang Daffa tidak terbaca oleh orang lain. Erik, sebagai tempat sampahku selama ini, sampai harus menerima ancaman keras dariku agar tetap diam.
"Belum kelar, War." Suara berat Erik mengembalikan kesadaranku, dan menggiring mataku ke arah Erik yang tengah berdiri di ambang pintu kamarku. "Boleh masuk..?" Lanjut Erik. Ya, sejak aku memutuskan untuk merubah penampilanku. Erik, selalu menghargai itu. Dan kami tidak lagi seperti dulu yang akan masuk ke kamar masing masing dengan seenaknya saja.
Ku tutup buku di hadapanku yang sedari tadi terbuka tanpa aku membacanya. "Di luar saja." Ucapku dengan santai sembari berdiri dari tempatku duduk dan melangkah mendekat ke arah Erik.
"Cuma sebentar doang." Ucap Erik datar.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu, Rik." Jawabku, lantas sudah mendahului Erik melangkah menjauh dari kamarku lebih dulu.
Langkah pelan kami, sampai juga di Gazebo depan rumah Bu Gina yang rindang dengan pohon Kelengkeng besar tepat berada di samping Gazebo. Dahan besarnya yang tepat berada di atas Gazebo menambah hawa sejuk, dan akan bertambah syahdu lagi saat musim buah tiba.
"Kita seperti orang asing saja, War." Ucap Erik pelan, sembari menyodorkan secarik kertas kepadaku. "Aku, kamu. Karena, kata sebutan itu kita seperti menjadi orang lain." Lanjut Erik.
"Sebenarnya tidak juga, Rik. Kamu saja yang merasa seperti itu." Ku raih kertas dari tangan Erik dan membacanya sekilas. "Eh, makasih banyak, Rik. Aku akan mulai bersiap siap untuk ikut seleksi nasional."
"Gua berharap loe bisa masuk lewat jalur undangan, War." Ucap Erik dengan tulus. "Dan, sorry, gua enggak bisa ngepantu loe. Gua udah dapat kerjaan."
"Serius, Rik. Wah, seneng sekali tau aku dengarnya. Dapat kerjaan dimana.?" Dengan mata berbinar tulus aku terus menanti penuh harap jawaban Erik.
Aku tau, dari cara Erik membuang nafas dan memalingkan wajahnya dariku, jelas ada sesuatu yang mungkin kurang mengenakan bagi Erik untuk di sampaikan kepadaku. Satu dekade kami saling dekat, cukup tau karakter masing masing dengan hanya hembusan nafas kasar saja.
"Ada apa..?" Tanyaku lagi.
"Tempat kerja gua jauh dari sini. Dan kayaknya gua mesti pindah dari sini." Ucap Erik pelan.
"Pindah ya pindah aja kali, Rik. Kan itu juga demi kerjaan juga." Jawabku santai.
__ADS_1
"Nanti, elo sama siapa disini.."
Aku tertawa mendengar ucapan Erik. Ini lucu menurutku, karena nada kwatir yang di lontarkan Erik terdengar menggelitik sekali. Pertama, Erik sama sekali tidak pernah bicara lembut dengan ku. Kedua, pemilihan kata yang di ambil Erik, seolah olah kami adalah sepasang kekasih yang akan menjalani LDRan saja. Dan yang terahir, aku bukan anak kecil lagi dan Erik tidak perlu separno itu terhadapku.
"Napa loe malah cengengesan." Timpal Erik begitu melihat aku yang masih asik tertawa sendiri.
"Kiakk, mukamu lucu banget, Rik." Kataku dengan masih tertawa tanpa bisa berhenti.
"Gua serius, War."
"Aku juga serius, Rik. Seumur umur baru kalu ini aku lihat mukamu lucu banget. Kayak, siapa gitu." Ucapku tanpa memerdulikan wajah Erik yang tengah memerah.
"Karena gua perduli sama loe, War." Kembali Erik memandangku dengan intens.
Tawaku mereda sebentar kemudian tertawa kembali, saat ku tatap Erik yang tengah menatapku. Sungguh, melihat bentuk mata Erik yang seperti dalam film film kartun, membuatku tidak sanggup untuk tidak tertawa. Karena ini aneh bagiku. Setelah sekian tahun bersama Erik, sama sekali aku tidak menyangka Erik akan bisa seimut itu.
"Hemm, baiklah aku faham, Rik. Tapi, aku rasa pekerjaan mu lebih penting. Mengingat ini pekerjaan pertamamu. Aku akan baik baik saja disini." Jawabku.
"Gua hanya sedik.." Aku segera mengangkat tanganku agar Erik bicara seing dengan berbunyinya poselku dan tertera nama Bu Mega disana. Karena tumben tumbenan Bu Mega menelfonku.
"Bu Mega." Ucapku pelan ke Erik, dan Erik yang faham dengan hubunganku yang kurang begitu baik dengan Bu Mega segera diam. "Assalamu'alaikum, Buk." Sapaku begitu ponsel menempel di telingaku.
"Baik, Mawar akan segera kesana." Ucapku dengan raut penuh kekwatiran. "Rik, tolong antarkan aku." Tanpa menunggu jawaban Erik, aku langsung berdiri dari tempatku dan berjalan tergesa kembali ke kamarku.
"Ada apa, War. Apa semua baik baik saja." Ucap Erik sembari terus membuntutiku.
"Kak Melati, Rik. Kak Melati tidak baik baik saja."Jawabku dengan cepat dan langsung mengemasi barang barangku begitu sampai di kamarku.
"Oke, aku tunggu di depan." Jawab Erik langsung melesat keluar dari kamarku.
Tanganku terus saja bergetar meski sedang mencengkram erat jaket kulit Erik. Sesekali airmata menetes dari pelupuk mataku, yang kemudian terbang bersama angin kencang yang bertabrakan dengan motor besar Erik yang melaju dengan kecepatan di atas rata rata.
Jika, biasanya aku akan marah saat Erik mengendari kuda besi ini dengan kecepatan edan. Maka, hari ini seluruh ketakutanku lenyap seketika, karena ada hal yang lebih menakutkan lagi bagiku. Yakni, keadaan Kak Melati.
Setelah kurang lebih satu jam berkendara, motor Eirk memasuki sebuah rumah sakit besar. Pilar pilar kokoh di depan Rumah Sakit langsung menyambutku dan Erik, dan tanpa memerdulikan penampilanku yang amburadul lantaran naik motor, aku langsung berlari ke arah pusat informasi begitu motor Erik berhenti.
"Tenanglah, War. Melati pasti akan baik baik saja." Ucap Erik saat tanganku yang tak bisa diam terus terusan mengetuk meja besar di depanku sembari menunggu bagian informasi mencari tau pasien yang aku tanyakan.
"Melati Kartika Devi.?" Tanya salah seorang suster kepadaku, dengan ponsel masih menyambung di telinganya.
__ADS_1
"Benar, Sus." Jawabku dengan cepat.
"Paviliun Anggrek, kamar VIP 1." Kembali suster itu berkata.
"Terima kasih, Sus." Kembali jawaban cepat aku lontarkan, dan sudah hendak berlari namun tanganku segera di raih oleh Erik.
"Rik," Lirihku sembari berusha untuk melepaskan tanganku yang di genggam erat oleh Erik.
"Sus, Paviliun Anggrek, letaknya dimana.?" Tanya Erik kepada suster yang lainnya.
"Dari sini lurus masuk dan naik ke lantai 4. Dari sana ambil arah kekiri." Jawab Suster dengan ramah.
"Terima kasih, Sus." Kata Erik, lantas segera menarik ku ke dalam, hingga sampai masuk ke dalam lift. "Jangan terlihat panik. Melati tidak akan suka itu. Kontrollah emosimu, War." Ucap Erik tanpa melepas genggaman tangannya dariku.
Aku tau ini kesalahan dengan bersentuhan, apa lagi bagi diriku yang baru saja mantap untuk berhijrah. Tapi, sekali lagi aku hanya manusia biasa yang juga butuh manusia lainnya untuk bersandar. Meski, aku sadar cara terbaik berkomunikasi adalah tengadahan tangan untuk berdo'a. Namun, tangan hangat Erik tak mampu untuk aku lepaskan.
"Ting." Suara pintu lift yang terbuka. Sebuah kaca besar langsung menyambutku, begitu kaki ku jejalkan untuk keluar. Dan sesuai arahan suster tadi aku terus di seret oleh Erik dan langkah tergesa kami terhenti tepat saat beberapa orang yang kami kenal tengah berdiskusi di depan sebuah kamar dan salah satu dari mereka mengenaliku.
"Mawar.."
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1