Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Aliena Anakku.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Empat bulan berlalu, semua aku jalani dengan penuh nikmat yang luar biasa. Tidak juga pikiran dan tenaga yang terkuras, tapi juga tabungan yang tersisa hanya beberapa saja. Mungkin yang terparah adalah uang konpensasi yang selalu aku jaga agar jangan sampai terpakai, justru itu yang menjadi tujuan terahirku saat tidak ada lagi yang aku bisa toleh.


Hari ini, kembali saatnya kami kembali ke rumah sakit dan lagi hanya sisa uang dari konpensasi yang bisa aku andalkan, itupun sudah pasti akan kurang. Ingin sekali aku mengeluh kepada Erik, tapi sejak hari itu aku berdebat dengan Erik soal Ayah Aliena, Erik sedang melakukan perjalan bisnis. Jadi, aku tak ingin mengaggu Erik dengan keluh kesah, dia sudah cukup banyak membantuku.


Maju mundur ulang dan terus menimbang ahirnya sampai juga langkahku di depan kantor Notaris milik Ayah Aliena. Berdiri memandang bangunan yang kini kian besar dan kian banyak lalu lalang orang, pikiranku justru kembali disaat tempat ini belum seramai sekarang.


Aku kira, sepuluh hari waktu itu akan cukup bagiku dan tidak akan membuatku kembali lagi kesini, tapi nyatanya aku tidak pernah tau jika nasib akan sebercanda ini. Waktu itu, meski aku di abaikan hingga beberapa hari, aku tetap datang dengan harapan kehadiran janin di rahimku akan mengubah jalan kami, tapi pada ahirnya hanya penolakan yang aku dapati dan membuat aku menyerah bahwa kami tidak di inginkan. Akankah kali ini terulang kembali.?


Menunggu di ruang tunggu yang sama seperti dulu, perasaan yang aku rasakanpun sama seperti dulu, hingga membuatku hampir saja melangkah pergi andai aku tidak ingat ada Aliena yang sedang terbaring di bangsal rumah sakit.


Setengah jam berlalu, masih tidak ada yang memanggilku dan itu sukses membuatku gelisah hingga aku memutuskan untuk keluar dari ruangan. Baru melangkah beberapa langkah dari ruangan tersebut, langkahku terhenti karena tepat berada tidak jauh dariku sedang berjalan pula seseorang yang aku tunggu sedari tadi.


Dia sedang berjalan pelan bersisihan dengan seorang wanita, yang membuatku semakin kaget adalah parasnya yang mirip dengan Kak Melati. Andai saat itu aku tidak menyaksikan sendiri, bahwa Kak Melati telah tiada, pasti saat ini aku akan langsung berlari memeluknya dan mengira bahwa itu adalah Kak Melati.


Bukan aku seorang yang kaget, Ayah Aliena juga kaget melihat kehadiranku. Kalau di pikir siapa yang tidak akan kaget, seseorang yang tak di harapkan kehadirannya tiba tiba datang dengan tujuan yang mungkin akan membuatnya lebih kaget lagi.


"Terima kasih untuk makan siangnya, Mel." Aku memilih tetap diam di tempatku dengan kepala tertunduk lurus menatap ujung sandalku yang berbanding terbalik dengan sepatu mengkilap yang di kenakannya. Kesenjangan ini begitu terlihat jelas saat mata menjelajah semakin keatas dengan apa yang aku kenakan, daster usang.


"Jika kamu suka, aku akan sering mengantar makan siang kemari." Balas wanita di samping Ayah Aliena dengan nada yang luar biasanya gerah di telinga, apa akh cemburu.? Tentu saja tidak.


"Tentu, asal itu tidak merepotkanmu."


"Repot sama sekali tidak, apa sih yang tidak untuk kamu." Selayaknya anak ABG yang sedang di mabuk asmara mereka berdua seolah tidak menyadari keberadaanku, atau memang mereka sengaja tidak perduli dengan keberadaanku karena aku tidak penting.


Basa basi panjang itu ahirnya berahir juga, dan Ayah Aliena kembali menyimpan kata ramahnya dengan berganti nada sinis yang di tujukan kepadaku. "Ada perlu apa, hingga kamu sampai datang kemari.?"


Menghela nafas dalam aku beranikan diri untuk berbicara. "Ada yang perlu aku bicarakan."


"Kalau itu soal uang, aku akan mentranfernya. Katakan berapa.?" Dadaku seperti di tikam belati, haruskah aku mengatakan soal Aliena sekarang.? Aku rasa kebranianku datangan kemari salah.


"Bisa aku pinjam uang.?" Bukankah dia menyebut uang, lalu apa salahnya jika aku mengalihkan ke arah itu sekarang. Katakan aku bodoh, iya aku memang bodoh. Dan kebodohanku adalah dengan datang kemari membawa harapan dapat berbicara mengenai Aliena.


Senyum remeh langsung tersunging jelas di wajahnya begitu sebaris kalimat meluncur dari bibirku dan lebih meremehkan lagi kata katanya. "Dalam empat bulan, sekejap sekali. Itu tidak sepadan dengan gaya hidupmu."


Dadaku kembang kempis menahan sesak, entah sesak karena apa yang tiba tiba menghantam dadaku, yang pasti itu adalah karena ucapannya. Tapi aku memilih tetap diam, karena aku tau posisiku saat ini sedang butuh bantuannya.


"Berapa yang kamu butuhkan.?" Ulangnya.

__ADS_1


"Sekitar sepuluh sampai lima belas juta. Aku akan mengembalikannya dalam waktu sebulan." Lirihku.


"Meski uang tidak gugur seperti daun, tapi aku lebih senang cepat memberikan kepadamu jika itu membautmu tidak perlu lagi terlibat denganku." Tanganku mengepal mendengar perkataannya.


"Terima kasih."


"Pergilah, aku sudah mentranfernya." Ucapnya sembari memperlihatkan layar ponselnya kepadaku.


"Terima kasih, nanti kamu tidak akan berhak meminta jaminan atas uang itu." Aku berbalik dengan cepat meninggalkan tempatku, dengan membawa segudang perasaan kecewa dan marah yang jauh lebih besar dari apa yang aku rasakan dulu. Kembali kami tak di inginkan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hampir sebulan telah berlalu, pipi Aliena yang semula gembil sekarang berangsur angsur menghilang sama seperti rambutnya yang sama sekali tidak tersisa. Perih memeang, tapi inilah kenyataan. Tapi, beruntungnya Aliena adalah anak yang penuh semangat meski untuk saat ini dia sudah benar benar tidak bisa bermain di bawah sinar matahari langsung.


Setelah memastikan Aliena bermain di teras dengan aman dan nyaman, aku kembali masuk ke dalam rumah guna menyelesaikan jahitan baju pelanggan. Belum ada sepuluh menit dari terahir kali aku melihat Aliena di teras, Aliena sudah berteriak memanggilku dan serta merta aku tinggalkan pekerjaanku untuk menghampiri Aliena.


"Bunda, Bunda cepat kemari." Nada suara Aliena terdengar girang dari biasanya, akupun mempercepat langkahku sembari menyahutinya.


"Iya sayang, Bunda sedang berjalan." Jawabku dengan memacu langkahku. Begitu aku sampai di ambang pintu, langkahku langsung tercekat dan aku membeku di tempatku begitu melihat siapa seseorang yang tengah memeluk Aliena.


"Bunda Ayah datang." Kata Aliena begitu rengkuhan itu di lepaskannya.


"Ayo, ayo Yah masuk." Kata Aliena sembari menarik tangan Ayahnya agar lekas mengikuti Aliena.


Ikatan darah itu lebih kental dari air, aku setuju dengan apa yang pernah di ucapkan Ayah Aliena, dan itu terbukti dengan keintiman mereka berdua yang langsung tidak memberi tempat bagi keberadaanku. Padahal ini kali pertamanya mereka bertemu. Mungkin, karena apa yang begitu di inginkan Aliena ahirnya terkabul hari ini.


Aku masih tak ingin bersuara, sama seperti dia yang masih tak menanyakan apa apa terhadapku, meski dari tatapan matanya aku tau begitu banyak hal yang ingin dia ketahui. Hingga ahirnya Aliena tertidur setelah meminum obatnya, itupun minta di suapi Ayahnya, bahkan tidur juga di pangkuannya.


"Dia anakku.?" Kata pertama yang keluar begitu dia keluar dari kamar Aliena.


"Tidak, dia anakku. Hanya anakku.!" Desisku, jujur ini sakit sekali, setelah perjuangan panjang, dengan mudahnya dia datang sehari dan mengakuinya tanpa mempertimbangkan aku ataupun memberi tauku terlebih dulu.


"Sekali lagi aku tanyak, Mawar. Aliena anakku.?"


"Tidak, dia anakku." Kekeh, aku menjawab katanya dengan nada penuh emosi yang tertahan.


"Kenapa kamu menyembunyikannya dariku. Kenapa.?" Tanyanya dengan nada frustasi.


"Kenapa.? Coba tanyakan kembali pada dirimu.!" Ku balikan tubuhku dan berjalan pelan menuju ke arah pintu depan. "Pergilah.!"


"Kamu tidak berhak memisahkan aku dan Aliena, Mawar.!"

__ADS_1


"Hak, kamu mengatakan hak untuk Aliena. Saat aku datang kesana sepuluh hari berturut turut dimana kamu, dan berahir kamu tak menginginkan kami, masihkah kamu bertanya tentang hak. Saat aku harus mempertahankan Aliena dengan keluar rumah sakit, dimana hak mu itu.? Saat Aliena harus lahir lebih cepat dari perkiraannya dimana hak mu itu."


"Karena kamu tidak memberi tauku soal itu, andai kamu ma.."


"Aku mau, tapi kamu tidak memberi kesempatan bagiku. Jadi sekarang itu salahku.?" Ku jeda ucapanku guna menghela nafas dalam dalam agar aku tetap waras menghadapi orang egois seperti Ayah Aliena. "Pergilah, aku tak ingin berdebat denganmu."


"Kamu menyabotase hak Aliena juga, Mawar." Tak ingin meladeni ucapannya aku memilih menggerakan tanganku untuk mempersilahkan Ayah Aliena keluar dari tempat tinggalku.


"Kamu telah membuang kami waktu itu. Dan sebagai orang yang terbuang, sudah selayaknya jika di lupakan. Pergilah, lupakan kami seperti lima tahun ini, seperti sampah yang kamu buang dari rumahmu." Berjalan melewatiku tampak rahangnya mengeras dan berhenti tepat di depan pintu.


"Aku akan mengajukan hak asuh atas Aliena." Ku tatap dia yang penuh kepastian kembali menindas ketidak mampuanku jika itu benar di lakukannya. "Kamu ibu yang egois, Ma."


"Plak.." Ahirnya tanganku ternoda dengan menampar wajahnya. Aku tau, aku egois. Tapi, kenapa saat dia yang mengatakan itu terasa sakit. Apa karena aku tau dia jauh lebih egois daripada aku.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


####


😭😭😭😭😭😭 Syedih bingit aku tuh.


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2