
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Berbagai bunyi silih berganti, dari yang bernada panjang atau yang hanya sekedar berdenting sekilas saja, dan semua itu berasal dari alat alat yang berada di samping bangsal Aliena, sekaligus terhubung dengan tubuh kecilnya. Ini tidak asing buatku, karena aku pernah berada di posisi seperti ini saat Aliena baru saja lahir. Sedari awal hadirnya Aliena sudah penuh dengan perjuangan. Atau sesungguhnya aku yang memaksa Aliena berjuang demi menjadi obatku.?
Ruang dingin ICU ini mengembalikan seluruh ingatanku tentang perjuangan Aliena sekaligus tekatku untuk memilikinya. Dan semakin aku berpikir, maka aku semakin sadar semua terlalu aku paksakan baginya. Aku bersalah pada Aliena. Jika waktu itu aku tidak memaksa bertahan untuk menemaniku, hari ini Aliena tidak akan merasakan kesakitan yang begitu hebat demi menjadi pengobatku.
"Aliena bahagia, Aliena sudah tidak sakit lagi. Bunda jangan pernah menangis lagi." Serentenan kata kata Aliena sebelum kehilangan kesadarannya kemarin sore terus memutar di otakku. Hingga membuatku airmataku mengering dengan sendirinya, karena aku takut Aliena akan sedih saat tau bahwa aku diam diam masih menangis.
Diam terpaku tanpa bicara pada siapapun, aku memilih tetap berada di samping Aliena dengan tanganku yang tetap menaut di jari jari kecilnya. Perasaanku sama kacaunya dengan seseorang yang keluar masuk ke dalam ruangan ini untuk memastikan aku baik baik saja. Erik.
"Dokter ingin bicara dengan kalian berdua." Lirih Erik dengan menyentuh bahuku pelan. Seulas senyum tipis tak lupa Erik berikan pula untukku. "Aku akan menjaga Aliena, selama kamu menemui dokter." Lanjut Erik menyakinkanku.
Kembali tanpa sepatah katapun, aku memilih untuk lekas berdiri begitu Erik mengambil tempat di samping Aliena. Perasaan sedih ini jelas bukan punyaku seorang, karena seseorang yanhg ikut bangkit dan menyusul langkahku juga terlihat menekuk kepalanya. Bahunya yang biasanya terlihat terangkat sombong, tak kalah merosotnya sama sepertiku.
Keluar dari ruang ICU, langkah pelanku langsung di sambut dengan dua orang laki laki yang juga terlihat kwatir di rautnya. Jika Mas Karang terlihat berusaha untuk tenang, maka lain halnya dengan Rendi. Wajah Rendi seketika menegang begitu menelisik penampilanku yang terlihat tenang dari luar.
"War." Tangan Rendi langsung mengantung di udara, begitu aku menghindari tangan besar itu menyentuh kepalaku.
"Aku baik baik saja. Aku akan menemui dokter, Ren." Jawaban yang keluar dari bibirku cukup membuat kedua laki laki di sekitar kami memperhatikanku.
"Aku percaya padamu. Aku tunggu disini." Penuh kepastian ucapan itu keluar dari Rendi. Dan tak lupa ulasan senyum juga Rendi bubuhkan.
"Mawar." Lembut panggilannya masih sama seperti dulu, tapi sayangnya itu tidak mampu menyentuh dasar hatiku yang tengah tidak tenang memikirkan hal terburuk dari firasat yang aku rasakan.
"Adit baik baik saja kan dr.Karang. Saya lupa menanyakan hal itu dari semalam." Ucapku.
"Kamu tidak perlu risau soal itu. Fokuslah dengan Aliena saja." Jawabnya.
"Terima kasih." Tak berniat memberi lanjutan akan kata kataku, aku memilih melangkah menjauh menuju dimana tujuanku sebelumnya berada.
Walaupun tidak ada suara, aku tau Ayah Aliena juga terus berjalan mengikutiku. Hingga langkah kami sampai dimana ruangan dokter berada, dan aku berhenti beberapa saat untuk menyipkan mentalku.
"Kamu tidak sendiri. Ada aku." Pelan kata itu keluar ketika aku menutup mata sembari menarik udara dalam dalam, seakan akan tidak akan ada lagi udara di dalam ruangan sana.
"Jujur aku takut sekali, War. Andai aku menuruti ucapanmu, semua ini pasti bisa di minimalisir." Lanjutnya.
Aku tak memiliki jawaban untuk ucapannya, jangankan untuk dirinya. Jawaban untuk firasatku saja, aku tak berani memberi keberanian untuk hatiku. Benar, Mawar bisa jadi sangat terlihat anggkuh tanpa airmata. Tapi, sejatinya Mawar sangatlah rapuh di dalam sana. Hingga untuk memastikan menyemangati diri sendiri saja tidak mampu.
"Ayo." Ahirnya hanya kata itu saja yang bisa aku keluarkan sebelum tanganku mengetuk pintu kaca yang berada di hadapanku.
Tidak langsung bicara, dr.Ria malah sibuk membolak balik hasil laporan serta mengamati hasil scan dari Aliena. Gelengan kepala, serta kecapan dari bibirnya mampu membuat tanganku berkeringat dingin dengan pikiran jauh entah kemana saja, asal itu bukan kemungkian terburuk.
__ADS_1
"Yang kuat ya Bunda, Ayah." Beberapa kata yang keluar sebagai pembuka dari dr.Ria cukup membuat pergerakan tanganku beralih, dari yang awal hanya saling menaut, kini berubah cengkraman kuat.
"Kami tim dokter, sedang melakukan yang terbaik semampu kami. Dan saat ini harus saya katakan, bahwa Aliena sedang dalam keadaan kritis." Badai mengahantam kuat di dadaku, seperti sebuah pukulan yang langsung menghancurkan ke titik inti dari seluruh rasaku, hingga membuatku bergetar hebat dari ujung kaki hingga kepalaku yang terus saja menggeleng tidak ingin percaya.
"Bisa di sebut juga koma." Lanjut dr.Ria menjelaskan keadaan Aliena. Kadang kebenaran itu sangat menyakitkan untuk di dengarkan. Aku merasakan sendiri saat ini, seakan aku ingin dr.Ria berbohong untuk sekedar membesarkan hatiku.
"Dokter, lakukan yang terbaik untuk anak kami." Ucap Ayah Aliena. "Tolong." Itu terdengar seperti sebuah ratapan.
"Pak, saya hanya manusia biasa, saya memiliki keterbatasan. Semua tergantung dari peranan mukzizat Tuhan." Bisa ku artikan ucapan dr.Ria adalah kata kata menyerah secara halus.
"Maksud dokter.?" Nada ucapan Ayah Aliena naik sedikit dari sebelumnya.
Sebelum menjawab, dr.Ria memandang kami berdua bergantian, seolah memastikan bahwa kami siap mendengar apa yang hendak di utarakannya.
"Dengan berat hati harus saya katakan. Sebenarnya, Aliena bertahan hanya karena alat yang saat ini sedang menempel di tubuhnya." Apa kata seterusnya yang di utarakan oleh dr.Ria aku sama sekali tidak mendengernya, karena apa yang berbicara di pikiranku jauh lebih besar suaranya. Dan aku menolak mendengarnya. Aku tak ingin mendengarnya, tapi itu justru semakin keras bersuara.
"War, kamu mau kemana." Tanpa sadar aku sudah berada di samping pintu, dan sudah hendak membukanya.
"Heh." Jawabku linglung.
"War. Kamu jangan kwatir, aku akan mencari dokter terbaik." Ucap Ayah Aliena sembari mengguncang bahuku berulang ulang.
"Aku mau berpikir. Biarkan aku sendiri." Lirihku sembari menyingkirkan tangan Ayah Aliena dari bahuku.
Hidup itu sejatinya seperti buah kelapa, ada yang jatuh sedari bunga, ada yang jatuh saat buahnya masih kecil dan ada yang bertahan dari panas dan hujan agar sampai menua di pohonya. Tentu, semua atas campur tangan dari pemilik takdir. Aku mencintai Aliena, dan Allah lebih mencintai Aliena. Maka tidak ada yang bisa aku perbuat selain dari melepaskannya dengan cinta pula.
Aku menggulung sajadah yang sedari tadi menemaniku, dan melangkah keluar dari Masjid dengan perasaan ringan sekaligus berat. Aku tau, ini keputusan yang membutuhkan keberanian besar untuk mengambilnya, sama halnya ketika aku memilih meneruskan kehamilanku dengan resiko tanpa pendukung di sampingku.
"Sudah lebih lega." Sapaan Rendi membuatku menghentikan langkahku dan lurus memandangnya yang tengah berusaha memberiku kekuatan lewat senyuman. "Aku akan mendengarkan, apapun itu."
Kembali aku ayunkan langkah, tidak menuju ke ruangan Aliena, melainkan ku arahkan langkah pelanku menuju ke taman. Tepat berada di bawah pohon Jamblang dimana disana ada bangku panjang, ku dudukan diriku disana.
Semenit dua menit, aku masih diam. Ku buang pandanganku jauh ke arah jingga yang mengantung di mega mega. Mengulang kembali senyum Aliena kemarin di bawah lembayung senja, dan airmata sudah hendak merebak, namun seketika lekas aku susut saat aku ingat kata kata Aliena.
"Bunda jangan menangis lagi." Kata itu seperti mantra yang begitu sakralnya untukku.
"Menangislah, War. Setidaknya itu akan membuatmu lega." Lirih Rendi begitu menyadari bahwa mataku telah berkaca kaca dan siap untuk pecah.
"Aku terlalu memaksa Aliena."
"Hei, sama sekali tidak. Kamu adalah seorang wanita dan Ibu yang kuat." Jawab Rendi dengan langsung berpindah posisi berdiri didepanku, hingga tubuh tingganya menjulang menghalangi senja yang hendak menyentuh wajahku. "Aku percaya padamu, apapun keputusanmu pasti itu sudah kamu pikirkan dengan masak masak." Lanjut Erik.
"Pasti Aliena kesakitan sekali saat ini. Aku akan menjadi Ibu yang kejam dan tak berperasaan, dengan melepas seluruh alat yang sekarang menempel pada Aliena." Aku tertawa sumbang.
__ADS_1
"Kamu yang paling tau akan keputusan itu, War. Sebagai seorang dokter sekaligus temanmu, akupun juga akan menyarankan hal itu. Kamu telah berusaha, dan aku melihatnya. Setidaknya, sebelum kamu memilih jalan ini, kamu telah memberi warna baru bagi Aliena dengan menempatkan Ayah Aliena di sampingnya. Percayalah Aliena akan mengingatmu sebagai Ibu yang hebat." Kata Rendi dengan memegang kedua bahuku penuh kepercayaan.
"Ya, kamu benar. Setidaknya, aku tidak merebut bahagianya. Dan aku melihat senyumnya merekah. Aku akan menemui dan menemaninya." Jawabku pelan sembari melangkah dengan tergesa menuju kembali ke kamar Aliena.
Di depan kamar Aliena tengah berkerumun keluarga, baik itu keluarga dari Pak Agung dan Pak Bakti. Terlihat mereka bergantian masuk untuk menemui Aliena.
Tidak ada yang bersuara, hanya saja pelukan dan usapan tangan mereka, cukup menjadi wakil dari kata yang tak mampu mereka sampaikan kepadaku.
"War." Ucap Ayah Aliena begitu aku hendak masuk. Tarikan tangan dan gelengan di kepalanya, memberi isyarat bahwa aku harus mengikutinya. Tapi, keputusanku telah bulat. Bahwa ini bukan soal ego semata. Juga bukan karena menyerah di titik terahir. Ini karena aku Ibunya Aliena.
"Aku akan menemuinya." Jawabku pelan, lantas segera masuk ke ruangan Aliena.
Duduk di samping bansal Aliena, kembali ku raih jemari kecil yang telah lemas itu, sebelum aku puaskan mengecup pipi, kening dan juga tangannya. Aku menekan seluruh perasaan yang sedang bergemuruh di dadaku, lantas aku berbisik pelan di telinganya.
"Aliena, anak Bunda yang hebat. Aliena sudah berjuang keras untuk hadir menemani Bunda. Bunda janji sama Aliena, Bunda akan baik baik saja, Bunda tidak akan menjadi cengeng." Tak ingin terdengar bergetar, aku menjeda ucapanku dengan mengisi paru paruku dengan oksigen.
"Aliena sudah lelah bukan. Aliena bisa istirahat dengan tenang sekarang. Bunda ikhlas." Ucapku meski dengan berat hati, tapi seakan ada beban berat yang tiba tiba lepas dari pundakku. Dan tak lama setelah itu seluruh alat yang berada di dalam ruangan berbunyi nyaring di iringi dengan beberapa dokter dan perawat yang datang dan gelengan kepala itu membuat aku limbung. Limbung tak berdaya, namun aku cukup sadar dengan apa yang aku lakukan. Setidaknya, di ahir dari perjuangan Aliena menjadi obatku, aku meninggalkan bahagia yang di bawanya. Selamat jalan Alienaku, selamat jalan obatku.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
###
Kenapa sih harus ada part kayak gini. Sakit banget tau.
Like, Koment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi.
__ADS_1
@maydina862