Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Pilihan.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Tenda yang baru saja hendak akan di pasang menyambut kedatanganku di halaman luas rumah Pak Agung. Para pekerja masih hilir mudik menyiapkan segala sesuatunya sesuai tugas masing masing. Kakiku baru saja menapak di depan pintu rumah yang tengah terbuka lebar, menggiring mataku menatap sebuah dekorasi kecil yang berada di sudut ruang tamu, dimana sofa dan barang barang lain sudah di pindah tempatkan.


Engagement Daffa & Melati. Begitulah tulisan yang tertera di dekorasi serba putih dengan Bunga Bunga mawar putih kesukaanku. Senyum Kak Melati yang berada di samping dekorasi itu juga tidak kalah menawan dengan dekorasi simple yang elegant sesuai karakter Kak Melati. Harusnya, tidak ada perih di dadaku. Tapi, nyatanya itu sulit untuk aku tampik. Dan denyutannya semakin terasa tatkala di bibirku harus tersunging senyum manis seiring dengan pekikan Kak Melati saat menyadari kehadiranku.


"Mawar..!" Kak Melati berlari menyongsongku dan menghambur memeluk ku. "Kejutan sekali kan.?" Ucap Kak Melati dengan kebahagiaan yang tak di buat buat.


Ku urai pelukan Kak Melati dan berdrama seolah aku menjadi orang yang paling berbahagia dengan kebahagiaan Kak Melati. "Kak Melati jahat." Ucapku.


Kak Melati terkekeh sejenak, dan merangkul ku masuk ke dalam rumah. "Ehh, kamu kurusan deh. Masak tulang semua." Begitu tangan Kak Melati menyentuh bahuku. "Ujiannya begitu kejam yah." Lanjutnya sembari menelisik wajahku dimana tulang pipiku juga menonjol.


"Seperti itulah, Kak Mel." Jawabku. "Sebentar lagi, Mawar akan kembali tambun. Itu semua gara gara Erik yang meninggalkan Mawar dalam nestapa." Lanjutku sembari menarik tangan Kak Melati dari wajahku.


"Hemm. Lha Erik baru sampai sini barusan. Dia enggak bilang apa apa, kalau kalian marahan." Ucap Kak Melati.


"Takut dia kena damprat dari Kak Melati, ckckck." Lanjutku.


"Mas tolong angkatkan koper adik saya, yah." Ucap Kak Melati kepada salah seorang pekerja yang sedang melintas, dan dengan cepat Kak Melati sudah menarik ku agar mengikuti langkahnya yang kini sudah bisa bergerak gesit, berbanding terbalik dengan ku.


Kak Melati tersenyum penuh arti kepadaku, saat kami tiba di depan dekorasi minimalis tersebut. Dan gengaman tangan Kak Melati terurai begitu saja beserta dengan beberapa kata yang meluncur tanpa sedikitpun kecurigaan bahwa aku terluka oleh ucapnya. Kenapa..? Cukup pantaskah itu aku lakukan.? Bukankah, aku telah mendeklarasikan bahwa cinta itu akan bahagia ketika melepas dan mengorbankan agar seseorang yang di cintai bahagia.


Bodoh, itulah yang di lihat dan di rasakan orang lain. Tapi, itulah cinta. Sekuat apapun ingin kita untuk tak mencintai ataupun membenci, kita tidak pernah punya kuasa menentukan bagaimana hati kita bergerak mengikuti otak kita. Perasaan itu datang dan pergi tanpa undangan. Seperti rasa sayangku terhadap Kak Melati.


"War, kok jadi melamun." Teguran Kak Melati membuatku tergagap dan berupaya mengalihkan perasaan sentimentil ini dengan pembahasan lain. Namun, belum sempat aku mengeluarkan kata kataku Bu Mega telah berada di tengah tengah antara kau dan Kak Melati.


Dari awal aku masuk dalam keluarga Pak Agung, memang tatapan tidak suka selalu Bu Mega layangkan kepadaku. Tapi, tidak semenyakitkan kali ini. Ini, seolah olah aku adalah barang yang begitu kotor dan menjijikan bagi Bu Mega. Hingga, dengan begitu cepatnya Bu Mega membuang pandangannya dariku, lantas sengaja sekali menghindari tanganku yang hendak menyalaminya.


"Mel, sudah sore. Lekaslah berhias." Ucap Bu Mega pelan kepada Kak Melati.


"Iya Mamaku sayang. Bridesmaidnya juga harus dandan. Ayo." Jawab Kak Melati sembari meraih tanganku.


"Tunggu, Mama perlu bicara sebentar sama Mawar. Kamu duluan saja ke kamar." Ucapan Bu Mega sederhana saja. Tapi, entah mengapa itu terdengar begitu dingin. Pasti ini karena ada sangkut pautnya soal masalah seminggu lalu. Bang Nusa benar benar sudah melibatkan Pak Agung dan Bu Mega.

__ADS_1


"Jangan lama lama, Ma." Tersenyum penuh arti Kak Melati segera meninggalkan aku dan Bu Mega. "Baju kamu ada di atas ya, War. Kak Mel tunggu. Gak pakai lama." Teriak Kak Melati. Dan sikap Kak Melati yang seperti ini, menunjukan betapa Kak Melati begitu bahagia dan tentu saja kesehatannya yang juga sangat membaik.


"Keruangan Bapak sekarang, War." Dengan cepat Bu Mega melangkah begitu selesai dengan ucapannya. Dan aku hanya terus mengintili Bu Mega yang sembari menyapa orang yang lalu lalang dengan ramah.


Pintu tertutup rapat begitu aku memasuki ruang kerja Pak Agung, dan disana dapat ku lihat Pak Agung juga Bang Nusa yang tengah menatapku dengan pandangan yang tak dapat ku pahami. Bang Nusa, Abang yang aku banggakan kini menatapku dengan pandangan tak senang. Sedang, manik teduh milik Pak Agung, tersirat kekecewaan yang mendalam menatap sendu kearahku.


"Duduklah, War." Helaan nafas dalam Pak Agung terdengar berat dan dalam. Dan dari cara menghela nafas tersebut, dapat ku simpulkan bahwa apa yang akan di utarakan Pak Agung adalah hal yang sulit baginya.


"Pa, langsung saja pada intinya." Potong Bu Mega yang sekarang sudah duduk di sebrangku.


"Apa penjelasanmu, War.?" Ucap Pak Agung dan dengan cepat segera di potong kembali oleh Bu Mega, tanpa memberi kesempatan Pak Agung untuk menjelaskan.


"Apa gunanya penjelasan itu, Pa. Akan percuma saja, karena kepercayaan yang sudah rusak tidak akan kembali seperti sedia kala." Ucap Bu Mega.


"Ma, biarkan Mawar bicara sebentar." Tegas nada yang keluar dari Pak Agung. "Jadi, katakan, War. Apa yang bisa kamu jelaskan kepada kami."


Ku angkat kepalaku pelan dan menatap ke tiga orang yang ku beri tempat istimewa di hatiku. Namun, tidak ku dapati kepercayaan disana apa lagi ketenangan. Dan akan sia sia saja jika aku memberi mereka alasan sakit, karena tidak ada gunanya menjelaskan kebenaran kepada orang yang tak ingin percaya. Maka menggelengkan kepalaku pelan dan menutup mulut rapat mulutku adalah cara terbaik agar tak terlihat membela diri.


"Kamu tau, apa hukuman yang harus kamu terima, War.?" Kembali nada tegas Pak Agung terdengar mendominasi, hingga membuat nyaliku menciut. Karena, selama kurun waktu hampir sepuluh tahun kau tinggal bersama dengan keluarga Pak Agung, baru kali ini aku mendapati Pak Agung tengah marah.


"Pa, itu tidak akan membuatnya jera. Asingkan dia beberapa tahun biarkan dia belajar dari kesalahannya.!" Kata Bu Mega.


Dan aku hanya terus saja menunduk mendengarkan perdebatan mereka bertiga, dan tak satupun menanyai pendapatku terlebih inginku. Hingga, mereka memutuskan sepihak tanpa bertanya apakah aku sutuju akan hal itu.


"Bolehkan Mawar memilih un.."


"Berani kamu meminta pilihan.!" Potong Bu Mega.


"Ma.!" Pak Agung menengai Bu Mega yang tengah mendelikan matanya kepadaku, hingga biji matanya terlihat membulat sempurna. "Katakan apa, War. Selama itu bisa kami pertimbangkan."


"Mawar mau mengulang Sekolah lagi, asalkan Mawar Sekolah di Pesantren." Ucapku datar. Sebenarnya aku sama sekali tidak tahu menahu soal Pesantren, hanya saja tiba tiba terbersit pikiran seperti itu. Dan aku rasa di Pesantren akan jauh lebih baik daripada aku harus tinggal di Asrama seperti keputusan yang mereka paksakan terhadapku.


Mereka bertiga sama sama tercengang mendengar keinginanku. "Sama, dalam kurun waktu dua tahun, Mawar tidak akan kembali ke rumah." Lanjutku.


"Sepertinya itu baik untukmu, dengan begitu kamu bisa intropeksi diri dari dosa yang telah kamu lalukan." Pelan Bu Mega bersuara.

__ADS_1


"Pesantren mana yang hendak kamu tuju.?" Tanya Pak Agung.


"Mawar belum tau, Pak. Nanti Mawar coba cari tau." Jawabku.


"Seminggu dari sekarang sampai habis resepsi pernikahan Melati di gelar. Usai itu kamu harus sudah berangkat ke Pesantren yang mau kamu tuju. Karena aku tidak mau, Melati tau soal masalahmu, hingga dengan begitu Melati tidak perlu terganggu." Ucapan Bu Mega, benar benar ucapan seorang Ibu yang menghawatirkan kebahagiaan putrinya, apa lagi di saat pengantin baru.


"Mawar janji, Kak Melati tidak akan tau soal ini Bu." Jawabku.


"Bagus kalau kamu tau diri."


Terdengar seolah tanpa perasaan ucapan Bu Mega. Dan itu membuatku tersadar akan satu hal. Bahwa selamanya kepalsuan tidak akan pernah bisa abadi. Juga, sekaligus mengingatkan aku akan posisi seperti apa diriku di dalam rumah ini.


Semua bermula dari Kak Melati, dan mereka berupaya menerima kehadiranku. Kini, Kak Melati telah menemukan cintanya dan akan meninggalkan rumah ini, secara tak langsung tempatku bukan lagi disini. Karena alasanku untuk tetap tinggal tidak ada lagi.


Ini hanya soal waktu saja. Sekarang, besok, atau bisa nanti. Pelan pelan aku harus menghilangkan ketergantunganku akan rumah ini. Lantas meninggalkan segalanya yang sudah selayaknya keluarga bagiku. Meski, yang terjalin antara akrab dan tidak akrab keberadanku bagi mereka. Karena, aku tetaplah orang luar bagi mereka.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Like, Coment dan Votenya di tunggu.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz Kopi


@maydina862


__ADS_2