Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Terpatahkan.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jam berdentang sebanyak sepuluh kali dan pada saat ini aku sudah rapi dengan setelan gamis navy dan jas seragam kami. Kembali tanganku membenarkan jilbab segi empat yang aku biarkan menjuntai kebawah tanpa embel embel bros saat kembali melewati cermin di depan kamar, lantas beralih meraih sepatuku yang tertata di depan pintu kamar.


Sunginggan senyum samar sedetik membingkai bibirku, begitu ku ingat akan kemana aku pergi. Dan dengan tujuan apa aku pergi. Lantas ku tarik kakiku dengan ringan menuruni tangga satu persatu dengan angan yang membumbung tinggi.


"Mau kemana. Jangan lama lama, nanti kita berangkat naik kereta api." Ucap Bia begitu berpapasan denganku di ujung tangga.


"Iya sudah tau. Aku hanya sebentar tidak sampai dua jam, janji." Jawabku ke Bia.


Bia membalikan langkahnya yang kini mengikutiku. "Mau kemana sih. Wangi, rapi, cantik, bahagia pula." Cerocos Bia tepat ketika aku hendak duduk guna memakai sepatuku.


"Bukannya bahagia itu wajib ya."Timpalku seraya memakai sepatuku.


"Tapi, kalau bahagianya mencurigakan perlu untuk aku ikuti."


"Maaf, aku sedang tidak narik ojek nyah." Balasku sekenanya dengan senyum makin melabar yang membuat Bia mencebikkan bibirnya ke arahku dan itu justru membuat senyum ku semakin melebar.


"Tenanglah, Bi. Aku akan lekas kembali, tidak akan lama. Hanya saja, aku tidak bisa mangajakmu. Sini tak sun." Lanjutku tanpa memerdulikan Bia dan lekas mencium pipinya lantas melangkah menuju pintu.


"Dihh, udah kayak ciuman kamu tuh mahal banget aja. Ini lihat tak usap sampai tak tersisa." Jawab Bia dengan muka di buat sok kesel padahal dari sudut bibirnya tengah terlihat tersenyum. "Awas pulang nanti malah nangis kalau bahagianya misterius gitu." Lanjut Bia lagi saat aku sudah menjangkau pintu.


"Haduh.... takut sama ucapan calon Bu Nyai." Candaku sembari mengedipkan sebalah mataku lantas segara berjalan keluar pintu Asrama dan tak mendengar lagi apa yang di ucapkan oleh Bia.


Meninggalkan gerbang Pesantren, aku memilih berjalan pelan melewati trotoar guna mencari tempat yang teduh untuk menyetop angkot. Dan tidak butuh waktu lama, angkot yang aku tunggu ahirnya datang juga, lantas membawaku meninggalkan Pesantren menuju pusat kota.


Setengah jam berkendara ahirnya sampai juga di terminal yang ku tuju, dan bergegas menuju tempat yang sudah Mas Karang katakan padaku lewat sms semalam. Itupun juga di ulanginya sekitar sepuluh menit lalu, ketika menelfonku untuk menanyakan keberadaanku.


Entah apa yang merasukinya, hingga sepertinya Mas Karang sangat tidak sabar menanti kedatanganku. Mas Karang hanya mengatakan bahwa itu kabar gembira baginya dan aku orang yang di ajak berbagi bahagianya.


Langkahku pada ahirnya sampai juga pada sebuah Caffe bercat putih bersih. Tepat di depan pintu kacanya terdapat bunga Melati Irian yang menjadi peneduh dari sinar matahari sehingga suasannya tanpak asri. Menjejakan kaki lebih ke dalam, pemandangan pertama yang aku temui adalah konsep homey begitu pintu kaca besar tergeser dan langsung menjumpai meja resepsionis sekaligus kasih di ujung ruangan.


"Selamat siang, selamat datang. Ada yang bisa kami bantu.?" Tanya salah satu pelayan dengan ramah kepadaku.


"Selamat siang. Saya sedang mencari dr.Karang." Jawabku sesuai dengan perkataan Mas Karang agar langsung menyebutkan namanya.


"Dengan Kak Mawar.?" Tanya pelayan tadi.


"Iya benar."


"Mari saya antarkan." Ucapnya seraya mengajakku untuk mengikuti langkahnya.


Naik ke lantai dua, mataku di manjakan dengan tempat tongkrongan yang cukup bagus bagi anak anak muda, juga tentunya bagus untuk memenuli galeri. Lanjut ke lantai tiga mataku semakin menganga, karena konsep di outdoor. Beberapa payung yang mekar di tepian pagar menambah kesan kekinian.


Dan tidak perlu lama lama mengedarkan pandanganku untuk mengaggumi tempat ini, ada yang jauh lebih menarik perhatianku. Yap, tentu saja dia yang tengah duduk dengan ponsel menempel di telinganya. Entah ini sebuah kebetulan atau memang telepati yang terjadi, karena Mas Karang juga tengah mengenakan kemeja waran Navy juga.


Setelah di mengucapkan terima kasih, akupun melangkah mendekat ke arah Mas Karang yang masih sibuk dengan poselnya, lantas segera tersenyum penuh arti begitu aku sudah berdiri di hadapanya. Tanpa membuat suara Mas Karang menyuruhku untuk duduk dan masih fokus mendengarkan ponselnya.


"Tidak perlu, Yah. Ayah tidak perlu menggunakan koneksi, aku lebih bangga dengan seperti ini. Bilang saja sama Ibu jangan terlalu merindukan aku saat jauh. Ya sudah, aku sedang ada seseorang." Ucap Mas Karang masih stay dengan senyum manisnya ke arahku.

__ADS_1


"Belum saatnya. Ya sudah, Assalamu'alaikum." Ucap Mas Karang lagi dan tak lama setelahnya segera menaruh ponselnya di atas meja.


Mas Karang tidak langsung berkata, malah justru menopang sebelah dagunya dengan intens memandangku, sementara aku yang mendapat tatapan seperti itu darinya tak semakin bingung dan sibuk merapikan bahkan sampai mengusap wajahku berulang ulang.


"Kenapa, apa ada yang salah dengan wajahku.?" Tanyaku bingung, karena sudah hampir lima menit Mas Karang masih asik berdiam diri dengan terus memandangku.


"Banget. Kamu tuh banyak salahnya." Jawab Mas Karang pelan dan masih tak mau memalingkan tatapannya dariku. Itu sukses membuatku risih serta duduk tak tenang.


"Agak kekiri sedikit Mawar." Ucap Mas Karang lagi. Dan tanpa pikir panjang akupun mengikuti perkataannya menggeser tubuhku agak ke samping kiri.


"Emm, coba agak ke kanan." Lanjut Mas Karang. Lagi lagi aku hanya mengikuti arahan Mas Karang tanpa tau maksudnya, dan begitu seterusnya hingga beberapa kali aku pindah posisinya tetap saja tidak ada yang benar.


"Mas Karang kenapa sih." Protesku.


"Cari yang pas. Ehh, ternyata emang tetep aja enggak ada yang pas, kelewat semua." Jawab Mas Karang santai.


Aku mengangkat bahuku bingung dengan perkataan Mas Karang. "Apanya yang kelewat.?" Tanyaku membeo.


"Cantiknya." Bluss, mendengar jawaban Mas Karang pipiku seketika memerah dan reflek saja ku lempar Mas Karang dengan tisu yang berada di depanku.


"Kok enggak percaya. Sumpah, kamu cantik banget hari ini. Apalagi pakai jilbab Navy gitu. Bikin hati abang meleleh, Dekk.." Jawab Mas Karang semakin ngaco.


"Mas...." Protesku, namun hanya satu kata panjang itu saja.


"Apa Dekkk.."


"Mas Karang, berhenti bercandanya. Aku ada hal serius yang mau di bicarakan." Ucapku dengan cepat guna untuk menutupi rasa maluku.


"Apa saja." Jawabku.


"Emm, kamu yang pilih deh. Biar aku ngikut kamu." Mas Karang menyodorkan buku menu ke arahku.


"Bukannya perempuan itu ikut laki laki yah." Ucapku dengan sepontan sembari cekikikan.


"Yakin, begitu.?"


"Entah, tergantung apa bisa di ikuti atau tidak." Kali ini wajahku benar benar memerah.


"Jika aku menyuruhmu untuk menunggu dua tahun lagi, apa kamu akan mengikutiku.?" Ku tatap wajah Mas Karang yang kini tengah terlihat serius.


"Aku mendapat beasiswa untuk spesialis di kota idaman, Mawar. Itu kurang lebih membutuhkan waktu dua tahun. Jadi, apa kamu akan menungguku." Aku membeku sesaat dengan ucapan Mas Karang, sekaligus teringat dengan ucapan Bu Mega kemarin malam sekaligus jawaban yang aku berikan untuk Bu Mega yang hendak aku bicarakan dengan Mas Karang.


"Katakan, kamu mau menungguku, Mawar." Pinta Mas Karang dengan menarik satu tanganku dalam gengamannya.


Hangat dan penuh perlindungan tangan Mas Karang sejenak membuatku lupa daratan bahwa itu sebuah dosa. Dan begitu tatapan kami bertemu, sebuah pengharapan tergambar jelas di matanya. Namun, itu hanya sesaat saja, karena bayangan Kak Melati juga Adit berbaur menjadi satu di pikiranku. Apa aku harus egois..?


"Mawar, katakan sesuatu." Ucap Mas Karang lagi.


Sebenarnya aku sangat malu jika harus mengatakan ini kepada Mas Karang, tapi aku tak punya pilihan lain selain dari mencoba dan meletakkan harga diriku untuk sesaat demi keegoisan agar diri ini berhagia.


"Maukah sampean datang ke rumah yang memberiku naungan dan memberi kejelasan atas hubungan ini.?" Pelan, ahirnya kata itu keluar juga dan tampak jelas wajah kaget Mas Karang.

__ADS_1


Aku sudah dapat menduga sebelumnya, hanya saja aku terlalu percaya diri dengan semua kata manis Mas Karang. Dan dengan kebisuan Mas Karang aku sudah tau, bahwa aku bukan tujuan ahir dari perjalanan cintanya.


"Aku belum siap, Mawar. Aku masih ingin mengejar cita citaku. Tapi, sungguh jika kamu mau menungguku dua tahun saja. Aku berjanji akan langsung melamarmu." Ucap Mas Karang dengan semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Mungkin aku akan bisa menunggu sampean, tapi tidak akan dengan keluargaku. Karena aku menanggung budi dari mereka."


"Jelaskan pada mereka, bahwa aku belum siap. Bahwa aku masih mengejar cita cita."


Ku hela nafasku dalam dalam lantas menarik tanganku pelan dari genggaman Mas Karang. "Jika tidak ada sampean di belakangku untuk menghadapi mereka, aku tidak bisa." Lirihku.


"Untuk bersama itu aku harus memiliki sesuatu dulu, Mawar. Sedangkan apa yang aku miliki saat ini masih punya orang tuaku."


"Aku tidak butuh memiliki, aku hanya butuh sampean datang ke rumah dan memberi nama hubungan ini. Jadi, kelak jika ada yang menekankan sesuatu dariku aku sudah memiliki nama dari sampean." Jawabku dengan nada bergetar. Sudah putuskah urat maluku, hingga aku berani memaksa kepada Mas Karang.


"Aku tidak bisa abai begitu saja. Terlebih mengingat dua bulan lalu kamu sakit dan bukan sakit biasa, aku tidak aka.."


"Aku hanya akan menjadi beban.." Ucapku lirih.


"Bukan seperti itu maksudku, Mawar. Ku mohon mengertilah, aku hanya belum siap mental sekaligus financial."


"Kalau begitu, maafkan aku. Aku juga tidak punya alasan untuk menunggu sampean." Ucapku lalu lekas berdiri dan berbalik dengan cepat, karena mataku sudah sangat panas.


"Mawar, jangan seperti ini. Ku mohon pikirkan lagi." Mas Karang berdiri menjulang di depanku guna mencegah langkahku.


Ku tatap wajah sedihnya, dan hal serupa pasti juga di lihatnya dari mataku, namun aku tak ingin bergeming dari keputusanku, karena ini jalan satu satunya yang bisa aku pergunakan untuk menolak Bu Mega. Tapi, jawaban yang di berikan oleh Mas Karang justru membuatku patah hati lebih dulu.


"Semua gadis memiliki mimpi di hormati dengan baik, di datangi di rumahnya dan di pinta baik baik. Aku juga punya mimpi seperti itu." Ucapku lirih. "Aku tidak bisa menunggu, bukan karena aku tergesa. Tapi, karena memang aku di gesakan oleh keadaan. Andai aku menyetujui dua tahun dari sampean, itu sama saja aku menipu diriku sendiri. Maaf aku tidak bisa, jadi akan lebih baik jika semua berahir hari ini saja." Ucapku dengan dada bak tercabik cabik.


"Kita punya waktu sehari semalam untuk berpikir. Aku akan menunggumu besok sore di terminal kota." Mas Karang ahirnya menyerah dan membiarkan aku pergi.


Pergi dengan perasaan yang tak pernah aku bayangkan akan sesakit ini. Ternyata seperti ini rasanya patah hati, terpatahkan karena ulahku sendiri. Bukankah sebelumnya aku sudah tau, bahwa setiap hati yang condong selain daripada Allah, maka rasa sakit yang jauh lebih parah akan di terimanya. Dan saat ini aku sedang menerima ganjaran itu. Bersyukur bagi mereka yang bersabar atas ketetapan Allah. Lalu Allahpun menjadikan hatinya ridho dengan keindahan takdirnya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu ...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2