Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Permainan Takdir


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Aliena menjelma menjadi gadis kecil yang di perebutkan banyak orang. Senyumnya tak lekang menghias bibir kecilnya. Bahkan untuk sesaat aku seakan tidak mengenali sosok Aliena yang tampak berseri seolah semalam dia tidak membuatku kwatir setengah mati.


Duduk di antara Bu Mega dan Pak Agung, Aliena benar benar menikmati momen yang sebelumnya dia tidak pernah dapati. Segudang pertanyaan juga tidak luput dia utarakan kepada kedua orang paruh baya di sebelahnya. Apa hubungan mereka dengan Aliena, harus seperti apa Aliena memanggilnya tidak luput di tanyaan oleh Aliena. Binar dimatanya terlihat semakin bercahaya saat Aliena mendapat jawaban yang tak di sangkanya.


"Wah, Aliena punya banyak keluarga. Alin bahagia sekali Oma, Opa." Tutur bibir kecil itu sembari memegangi tangan keduanya. "Aliena senang, Bunda banyak temannya." Lanjutnya dengan menambah ulasan senyum di bibirnya.


Aku meringis merasa bersalah, karena telah membuat Aliena mengkwatirkan hal yang sesungguhnya tidak perlu terjadi andai aku mau bersabar sedikit lagi dulu. Tapi, yang sudah berlalu telah menjadi pelajaran berharga untukku. Oleh sebab itu, aku akan berusaha sebisaku agar senyum Aliena tetap di tempatnya.


"Abang, ayo kita bermain." Dengan cepat Aliena sudah kembali kesisi anak anaknya.


"Jangan main di panasan ya." Ucapku pelan. "Bang titip Adik." Lanjutku dengan menambah ulasan senyumku untuk Adit dan hanya di balas anggukan kecil oleh Adit.


Keduanya melangkah meninggalkan ruang keluarga dengan saling bergandengan dan tidak hanya aku seorang yang tersenyum melihat itu, Pak Agung dan Bu Megapun juga sama sepertiku, begitupun dengan Ayah Aliena.


"Anak yang manis sekali." Ucap Pak Agung kala keduanya menghilang di balik tembok.


"Betul sekali. Keduanya bisa akrab begitu, mengingatkan Ibu sama kamu dan Melati." Sendu mata Bu Mega kala menyebut nama Kak Melati, dan kali ini aku bisa memahami perasaan itu, karena aku yang sekarang juga seorang ibu.


"Adit juga dapat di andalkan sebagai seorang Abang." Jawabku.


"Itu juga hasil didikanmu, War." Timpal Pak Agung.


Kembali aku hanya bisa meringis mendengar penuturan Pak Agung, hingga aku memilih untuk diam. Karena aku sadar, orang yang sedang duduk di di sebrangku pasti merasa tidak enak mendengar aku di puji puji, walau bagaimanapun Adit dan Aliena adalah anaknya.


Aku tak ingin dia merasa gagal menjadi seorang Ayah lantaran hubungannya dengan Adit tidaklah sebaik dengan yang lain. Andai sisi setan dalam diriku sedang aktif, jelas aku akan menertawakannya, karena pada ahirnya akulah pemenangnya. Tapi, aku tak ingin menjadi orang seperti itu. Justru aku ingin memperbaiki hubungannya dengan Adit. Setidaknya, ketika kesalahan pahaman di masalalu harus usai, dan aku kunci utama atas renggangnya hubungan Adit dan Ayahnya.


Cukup lama kami mengobrol di ruang keluarga, hingga sampai menjelang makan siang. Bu Mega mengajakku untuk menyiapkan makan siang, dengan senang hati aku mengikuti langkahnya menuju ke dapur.


Sebelumnya tidak ada pembahasan kusus antara aku dan Bu Mega, hanya berbicara mengenai masakan dan makanan yang boleh dan tak boleh dimakan oleh Aliena serta makanan apa yang paling di sukai oleh Aliena. Hingga, bahasan itu berubah ke arah yang sedikit pribadi serta tidak terbersit di otakku untuk saat ini.


"Ibu lihat waktu itu, hubunganmu dan salah satu dokter pribadi Aliena cukup dekat, War." Tanya Bu Mega.


"Dokter yang mana, Bu.?" Tanyaku balik dengan nada heran.

__ADS_1


Bu Mega mengulas senyumnya tipis ke arahku. "Dokter yang di panggil dokter Papa oleh Aliena."


"Oh, dokter Rendi." Jawabku singkat.


"Ibu melihatnya, War." Kini Bu Mega mengelus bahuku pelan, hal yang dulu sangat aku inginkan namun tidak pernah aku dapati. Kini perasaan hangat yang di berikan oleh Bu Mega terasa asing untukku, meski aku bisa melihat di balik tatapan matanya tersirat keikhlasan dan penuh keibuan.


"Terlambat sekali ya Ibu memperlakukanmu seperti putri Ibu sendiri." Nada sedih langsung ku dengar, ketika aku tak kunjung memberi jawaban atas pernyataan Bu Mega.


"Bukan seperti itu, Bu." Ku raih tangan Bu Mega dalam genggamanku. "Tidak ada yang terlambat, Bu. Maafkan Mawar. Mawar dulu belum mengerti rasanya menjadi seorang Ibu. Kini Mawar sadar betul, kekwatiran ibu terhadap Kak Melati sama persis dengan kekwatiran Mawar terhadap Aliena." Ya posisi kami hampir sama memang.


Bu Mega menangis tersedu sedu dalam pelukku, begitu aku usai dengan kataku. Dan airmata haru juga tidak luput ikut merebak di pelupuk mataku. Setiap peristiwa pasti akan memiliki hikmah setelahnya, dan kinilah hikmah itu aku dapat. Kehilangan di bayar oleh mendapatkan, aku telah mendapatkan jantung dari keluarga ini, yakni cinta Bu Mega.


"Kemanapun kamu pergi, ingatlah disinilah tempatmu kembali Mawar. Ini adalah rumahmu, kamu putri dari rumah ini." Ucap Bu Mega dengan serius sembari menangkup kedua pipiku.


Kami kembali fokus ke masakan yang sedang kami usahan buat, dan sesekali akan terlibat obrolan hangat, persis seperti dulu Kak Melati dan Bu Mega sedang mengobrol. Dan aku sangat menikmatinya.


"Iya, tadi Ibu tanya soal dokter Rendi bukan. Bagaimana hubunganmu dengan dokter itu.?" Ucapan Bu Mega membuatku menghentikan aktifitas tanganku yang tengah menuang masakan ke piring.


"Tidak perlu di jawab, Ibu sudah bisa menebak dari wajahmu, War." Bu Mega membuatku menganga dan mulutku yang sudah hendak terbuka kembali menutup kembali saat aku lihat Ayah Aliena yang telah berdiri di ambang pintu dengan raut yang entah harus bagaimana aku mengartikannya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Abang harus janji sama Aliena." Langkahku untuk menghampiri anak anak terhenti begitu aku mendengar ucapan bisik bisik Aliena terhadap Adit.


"Janji apa.?" Adit ikut memelankan suaranya seraya mendekatkan telinganya ke arah Aliena.


"Ini harus jadi rahasia di antara kita, ya." Kata Aliena lagi sembari menjulurkan jari kelingkingnya.


Adit menautkan kelingkingnya di jari kecil Aliena. "Janji, dan janji laki laki pantang di ingkari."


Aliena menyambut ucapan Adit dengan senyum yang semakin merekah. "Aliena sayang Abang." Di peluknya tubuh Adit dengan cepat, secepat mengurainya pula dan kembali duduk dengan fokus menatap ke arah Adit.


"Abang, kalau nanti Alin harus pergi jauh. Abang harus menjaga Bunda ya. Jangan sampai Bunda nangis karena kangen sama Alin." Aku sudah hendak melanjutkan langkahku begitu mendengar ucapan Aliena, namun seketika terhenti karena tanganku di tarik dari belakang.


Menggeleng kepalanya memberiku isarat agar aku tetap diam di tempatku. Dan sejurus kemudian dia mensejajari berdiriku dengan masih mengenggam erat tanganku. Entah kenapa, genggaman ini terasa menentramkan untuk sesaat. Mungkin, karena saat ini aku butuh tempat untuk membagi bebanku. Dan dialah yang berada di dekatku saat ini. Ahirnya kami berdua hanya terus berdiri sembari menguping bembicaraan mereka berdua.


"Sudah waktunya makan siang, Aliena juga harus meminum obatnya." Ucapku pelan setelah bembicaraan Aliena dan Adit kembali ke arah permainan.

__ADS_1


"War, kita bisa mempertimbangkan keinginan Aliena, agar anak anak akan tetap berasama." Ucapnya pelan.


Aku menghela nafasku dalam dalam, kemudian dengan tenang aku menarik tanganku dari genggamannya. "Pernahkan kamu memikirkan perasaanku.?" Wajah terkejutnya tidak bisa membohongi penglihatanku, begitu aku usai dengan kalimat yang aku pikir itu cukup berani.


"Iya benar, semua demi anak anak. Tidakkah kamu berpikir, bahwa aku juga pernah berada di posisi harus melakukan demi permintaan. Dan apa yang aku dapat.?" Membeku dia tanpa bisa mengalihkan tatapannya dariku.


Aku adalah Mawar. Mawar yang selalu di cari karena perasaan hangat yang tengah menyelimuti. Mawar yang kemudian layu setelah tak berarti. Selayaknya Mawar, bukankah aku juga memiliki duri. Salahkah jika aku menusukan duriku untuk melindungi diri.?


"Mereka tetap akan menjadi saudara, mereka akan tetap bersama sama." Lanjutku lirih dengan sengaja menjeda ucapanku, untuk memastikan bahwa dia benar benar mendengarnya. "Tanpa kita harus terjebak untuk berusaha saling nyaman, lantas menutupi dusta. Apa kamu tidak lelah terus berpura pura.?"


Pertimbangan, jelas banyak pertimbangan hebat sebelum aku berani mengambil keputusan ini, sekaligus harus siap dengan resiko yang bakal terjadi setelahnya. Tapi, bukankah semua kepastian dari Allah tidak bisa di tukar dengan apapun. Oleh sebab itulah, aku berani mengambil keputusan ini.


Jatah umur, jatah rezeki dan jatah jodoh sudah ada aturan akurat yang tidak akan bisa di ubah hanya karena satu perkataanku saja. Jika, pada ahirnya nanti Allah membuat hatiku tergerak demi kesembuhan Aliena lantas kembali bersama dengan Ayah Aliena lagi, aku tidak akan bisa berbuat apa apa. Hanya saja saat ini, detik ini, aku masih belum bisa menerima itu sebagai keputusan final dan menyebut sebagai permainan takdir. Aku hanya belum siap kembali terluka.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Komen dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2