
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Seminggu telah berlalu, Aliena luar biasa memberiku kejutan dengan kesehatan yang semakin membaik. Mungkin karena bahagia yang di rasakannya, sehingga itu menjadi obat tersendiri baginya. Andai aku tau bakal secepat ini hasilnya, mungkin akan sejak awal aku mempertemukan Aliena dengan ayahnya.
Karena kesehatan yang sudah semakin membaik itu pulalah, aku berani mengambil keputusan dengan menyetujui keinginan Aliena untuk ikut Ayahnya kemarin sore. Ya, aku rasa aku berhak memberi kesempatan bagi Ayah Aliena untuk bersama Aliena.
Menikmati sore dengan secangkir teh di teras depan sengaja sekali aku lakukan, karena tadi Ayah Aliena sudah menelfon hendak mengantar Aliena pulang. Sebenarnya tadi aku sudah bilang, kalau Aliena masih mau bersama Ayahnya, aku tidak akan keberatan. Toh, Ayah Aliena sudah tau kondisi Aliena, jelas dia akan peka sama sepertiku dengan kesehatan Aliena.
Tiga puluh menit berlalu, teh di cangkirku mulai mendingin, begitu pula dengan hawa yang juga ikut dingin seiring dengan matahari yang hendak kembali ke peraduan. Dan begitu aku masuk ke dalam rumah untuk kesekian kalinya guna melihat jam yang mengantung di dinding, terdengar suara deru mobil yang berhenti tepat di samping pagar.
Tegesa aku keluar hendak menyambut Aliena. Namun langkahku seketika memelan dan berhenti di ambang pintu begitu aku sadar siapa yang datang.
Dadaku berisik berirama sesukanya, menentang otak yang telah memberi peringatan. Peringatan bahwa tidak patut lagi bagi aku untuk mengikuti perasaan. Tiga puluh tahun, karena jumlah angka sekaligus status sudah selayaknya aku sadar diri, bahwa bukan lagi pada masanya dadaku berdetag karena seseorang. Apa lagi itu seseorang dari masalalu.
Tidak hanya sibuk menundukan kepalaku, aku bahkan mencabut senyum yang tadi sempat tersungging begitu dia semakin mendekat. Dan kini pandanganku aku pindahkan pada dua kresek besar mengantung di tangannya.
"Assalamualaikum." Ucapnya lirih dengan nada suara yang sama seperti dulu.
"Wa'alaikumussalam." Jawabku tak kalah lirih, mungkin saja itu ditelingannya persis seperti gumaman.
"Boleh aku masuk." Tidak menjawab secara pasti, aku hanya menunjuk tempat dimana aku duduk tadi. "Terima kasih."
"Aliena mana.?" Tanyanya setelah menaruh dua kresek yang di bawanya tidak jauh dari tempatku berdiri.
"Aliena berada di rumah Ayahnya." Jawabku.
"Oh ya. Aku tidak tau." Suaranya terdengar canggung sebelum jari jari panjanganya mengetuk ketuk meja kayi di hadapannya.
"Apa sampean mau bertemu Aliena.?" Ucapku ahirnya.
Terdengar helaan nafas dalamnya sebelum ahirnya menjawab tanyaku. "Mungkin akan terlihat kebohonganku jika aku jawab iya." Kembali nafas dalam di ambilnya setelah selesai dengan ucapannya dan aku lekas berdiri sebelum dia melanjutkan ucapannya yang pada ahirnya ucapannya akan membuatku ikut menghela nafas dalam sama sepertinya.
"Mawar, bisa ak.."
"Akan aku buatkan teh. Sekalian terima kasih untuk ini." Ucapku dengan wajah datar sembari mengangkat kresek yang berisikan makanan ringan dan mainan untuk Aliena.
Ku sandarkan tubuhku di tembok sedang tanganku sibuk mengelus dadaku yang di dalam sana tengah bercampur aduk jadi satu perasaan tidak menentu. Hingga air yang aku rebus mendidih, aku masih sibuk menenangkan perasaanku. Pantaskah aku seperti ini.?
__ADS_1
Tameng tenang kembali aku mainkan dengan membawa nampan berisi secangkir teh tanpa terlihat begetar sedikitpun hingga sampai meletakkan di depannya.
"Masih panas." Ujarku begitu tangannya hendak meraih cangkir yang baru saja aku taruh.
Terdengar kekehan pelannya begitu tangannya kembali ke tempat semula, hingga itu membuatku penasaran apa yang membautnya terkekeh.
"Kenapa.?" Kali ini ku tatap wajahnya yang masih memerah dengan senyum yang masih tertinggal di bibirnya dan dengan mudahnya senyum itu kembali terbit begitu tau aku menatapnya lekat.
"Alasan yang bagus." Jawabnya tak jelas dan itu membuatku mau tak mau masih bertahan untuk memandangnya. "Alasan untuk menahanku disini lebih lama."
Seketika aku membuang pandanganku darinya. "Aliena akan segera datang, sampean bisa menunggu atau pulang set.."
"Setelah teh ini habis." Jawabnya dengan nada santai.
"Terserah saja. Aku akan masuk." Kembali nada datar yang aku keluarkan dan lekas berdiri dari tempatku.
"Tidak baik meninggalkan tamu sendirian." Sungguh, kontrol dirinya bagus sekali. Hingga masih saja terlihat baik baik saja meski sudah sangat jelas aku menyukinya. "Duduklah sebentar saja. Aku janji akan lekas menghabiskannya."
Aku masih tak bergeming dari tempatku, tidak juga berjalan menjauhinya ataupun kembali berbalik menuruti inginnya, karena egoku terlalu naifnya untuk mengabaikanya sedang sisi lainnya aku tak ingin berada di dekatnya. Lantaran aku sadar, ini tidak akan mudah di lalui.
"Memang tidak pantas, kata janji aku ucapkan sedangkan aku orang yang tak bisa menepati janjiku padamu." Lirih ucapnya sampai di telingaku dengan jelas. "Kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya jika kita tidak mengusahakannya. Bukankah begitu, Mawar.?"
"Aku akan berusaha memperbaiki kesalahan di masalalu, Mawar."
"Sudah cukupkah ocehan sampean." Setelah perdebatan hebat dalam hatiku, ahirnya aku angkat bicara juga sembari membalikan tubuhku dan menatapnya langsung.
Raut tercengangnya jelas tergambar di wajahnya begitu aku usai dengan kataku. "Sampean adalah orang pintar, orang hebat. Dan ucapanku tempo hari itu sudah sangat jelas bukan bagi sampean."
"Iya, sudah sangat jelas sekali." Ucapnya dengan nada tegas sembari beranjak dari tempatnya dan kini sudah tinggi menjulang di depanku, hingga membuatku mundur selangkah.
"Ini bukan sekedar keputusamu seorang, tapi aku juga memiliki keputusan untuk andil hidupku, terlebih keputusan Allah untuk kedepannya yang tidak akan bisa untuk di tolak." Nada ini tak ingin di bantah di balik suara lembut yang keluar.
"Mungkin aku memang terlalu tergesa mengejarmu, sampai sampai aku lupa bahwa kamu butuh proses. Dan aku juga yang mengatakan padamu, bahwa sesuatu yang telah di lepas sekali waktu dia akan kembali pasti tidak akan sama lagi. Aku sadar betul soal itu, karena aku telah melewatinya." Rautnya berubah penuh penyesalan, namun matanya sama sekali tak mengijinkan aku untuk berpaling darinya.
"Sekarang, kamu single, aku single, seperti dulu awal awalnya kita bertemu. Jadi, jika aku putuskan untuk mengejarmu, maka tidak ada yang salah."
"Tapi aku tidak mau."
"Ya, aku terima keputusanmu. Tapi, kamu lupa. Allah belum memberi keputusannya bagi kita."
__ADS_1
"Apa maksud sampean."
"Aku akan berhenti mengejarmu, jika kamu telah benar benar bahagia dengan keputusanmu. Bukan sekedar karena tak ingin merasa sakit hati lagi. Caramu menghindariku sangat terlihat jelas Mawar, bukan karena kamu tak ingin aku mendekatimu, melainkan karena kamu memberi batasan atas hatimu agar tak tersakiti lagi." Merasa kalah dengan argument yang di sampaikan Mas Karang, aku membalikan tubuhku dengan cepat dengan nafas yang memburu menahan segala perasaan yang membingungkan.
"Jika benar Aliena adalah prioritasmu, maka memilihku juga bukan pilihan yang salah. Terlebih lagi untuk kembali kepada Bang Daffa juga adalah pilihan yang layak untuk di pertimbangkan. Tapi, dengan kamu menghindari kami berdua bukankah itu sebagai bukti kamu membatasi dirimu lay."
"Cukup, cukup. Sampean tidak memiliki hak untuk mengatakan semua ini padaku."
"Saat ini memang tidak. Tapi, aku mengatakan semua ini karena perempuan yang aku cintai telah pergi jauh tak mengenali dirinya, jauh dalam pengasingan yang terabaikan. Dan aku menyumbang atas pengasingannya."
Kembali aku membalikan tubuhku dan helaan nafas dalam kembali aku keluarkan sebelum ahirnya nada datar sekaligus dingin aku keluarkan. "Apa aku semenyedihkan itu. Coba tanya ulang pada diri sampean. Apa perasaan itu masih ada.? Atau itu sebenarnya hanya rasa bersalah serta rasa iba.."
"Kamu meragukan aku, Mawar.?"
Aku tak menjawab tanyanya karena berbarengan dengan itu Aliena tiba tiba meneriakan namanya dan tubuh kecil Aliena sudah merapat di kakinya. Bukan hanya Aliena saja, namun Adit juga sudah berada di sampingnya, hingga perbincangan ini berubah arah dengan tercetaknya senyum di bibirnya yang berbanding terbalik dengan wajah Ayah Aliena.
Suram wajahnya, bukan tipe suram saat memarahi aku dulu. Tapi, jika aku boleh mengartikan arti suram di matanya, arti sikap kesalnya, dan moodnya yang dengan mudahnya berubah arah, adalah perasaan cemburu. Mungkin cemburu terhadap anak anak yang lebih dekat dengan Om Affinnya akan lumprah. Tapi, ketika cemburu itu di tunjukan kepadaku dan Mas Karang, bukankah itu terlalu terlambat.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1