Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Kepergian Kak Melati.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Jika memang bukan lagi Daffa yang kamu sukai, setidaknya jangan menyukai seseorang yang memiliki kemiripan dengan dia." Kata kata Erik tadi pagi sebelum pergi terus terngiang di ingatanku.


Dan setelah aku ingat ingat wajah Mas Karang dengan seksama, memang ada sedikit kemiripan dengan Bang Daffa. Apakah itu artinya sebenarnya aku masih belum bisa move on dari Bang Daffa. Lalu, perasaan apa yang aku punya untuk Mas Karang sesungguhnya.?


Tidak, tidak. Itu hanya kebetulan semata. Aku sama sekali tidak merencanakan perasaannku kepada Mas Karang karena ada kemiripannya dengan Bang Daffa. Dan apa yang di ucapkan Erik tidak akan mempengaruhiku sama sekali.


Mencoba melupakan hal pribadi tentang hati, ku pacu langkahku untuk bergegas agar segera sampai dimana Kak Melati berada. Dan dadaku langsung terasa sesak, saat ku dapati semua anggota keluargaku serta beberapa keluarga dari Bang Daffa juga berkumpul di depan ruang ICU dengan berlinang airmata.


Langkahku berubah menjadi larian kecil, dan langsung menerobos beberapa orang yang tengah berdiri di samping kaca besar dimana Kak Melati tengah di tangani oleh Dokter.


Sesekali nafas Kak Melati akan tersengal yang akan di ikuti dengan suara mesin mengiang panjang di sampingnya. Tampak juga dokter berusaha sangat keras, agar Kak Melati kembali stabil.


Tanpa tau kapan itu bermula pipiku telah basah oleh airmata. Dan ini sama persis seperti saat kabar kematian kedua orang tuaku tiba tiba ku dengar. Bedanya, saat itu Kak Melati yang merangkulku, menguatkan aku. Kini ketika seseorang yang menguatkan aku terbaring tak berdaya, kepada siapa aku merebahkan kepala ini.


"Kak Melati harus kuat, Kak Melati masih punya hutang sama Mawar." Lirihku di sela sela tangisku.


Tangan kananku menempel rapat di kaca, dan dalam hatiku tak henti hentinya terus merapal do'a, agar sesuatu yang buruk tak menimpa Kak Melati. Syukur setelah itu, tak lama dokter yang sedari sibuk kembali menyungingkan senyumnya kepada kami semua, yang kemudian di ikuti senyum lega oleh semua keluarga.


"Adakah salah satu anggota keluarga yang bernama Mawar.?" Tanya dokter begitu keluar dari dalam ruangan. Semua langsung memandang ke arahku dan aku tanpa perduli tatapan tanya semuanya langsung mendekat ke arah dokter berada.


"Saya dokter."


"Iya benar, dia yang bernama Mawar, dokter. " Timpal Bu Mega dengan mendekatiku tak lama setelahnya ku rasakan tangan hangat Bu Mega mengelus punggungku.


"Sempat terdengar samar nama adek di sebut oleh pasien, sebelum ahirnya koma kembali. Coba masuk dan ajak berbincang. Dan mari salah satu ikut ke ruangan saya untuk kejelasannya." Jelas dokter dan kemudian langsung beranjak yang di ikuti oleh Pak Agung dan Bang Daffa.


"Masuklah War." Ucap Bu Mega seraya mengelus bahuku di sertai dengan setitik airmata yang luruh.


"Kak Melati akan baik baik saja, Bu. Karena Kak Melati punya hutang penjelasan sama Mawar." Jawabku sembari mengusap airmata di pipi Bu Mega.


"Tinggal kamu harapan kami, War. Lekas masuklah, suruh Melati cepat bangun."


Ku ulas senyumku, dan tak lupa juga ulasan senyum juga ku sunggingkan kepada Ibu dan Bapak Bang Daffa yang tengah menatapku dengan penuh pengharapan juga. Sekilas saja, aku seperti tidak asing dengan wajah Bapak Bang Daffa, padahal ini kali pertama aku bertemu dengannya. Namun, sungguh. Senyumnya tidak asing bagiku.


Masuk kedalam, ku dapati Kak Melati yang tengah pulas dalam tidurnya dan sesekali akan terdengar suara nafas seperti mendengkur di balik alat bantu pernafasannya. Ku dudukan diriku di kursi samping Kak Melati, lantas mengelus tangannya pelan.

__ADS_1


"Kak Mel, ini Mawar. Kak Mel dengar Mawar kan.?" Ucapku lirih tepat di samping telinga Kak Melati. "Kak Melati harus lekas sadar, karena Kak Melati punya hutang penjelasan sama Mawar."


Aku terus melanjutkan ucapanku, meski tanpa ada reaksi dari Kak Melati. Dan entah sampai darimana saja rangkaian ucapanku, karena semua ku ucapkan termasuk dengan keseharianku di Pesantren, bahkan sampai Mas Karang juga aku sisipkan disana.


"Kak Mel harus tau. Soal ginjal, Mawar sama sekali tidak terbebani, dan itu bukan karena Bang Daffa juga. Mawar melakukan itu karena Kak Melati. Karena Kak Melati sejatinya cinta Mawar. Jadi, Kak Melati sama sekali tidak berhutang bahagia sama Mawar. Dengar kan. Pokoknya besok pagi, Kak Melati harus bangun. Mawar tidak mau tau." Ucapku panjang sebelum mengahirinya.


Tak lama setelah aku mengucapkan itu, alat alat di samping bangsal berbunyi serentak di sertai dengan tubuh Kak Melati yang mengejang, hingga tangan yang sedari tadi aku genggam ku mencengkram erat.


Aku panik, sama dengan orang orang yang berada di luar sana. "Dokter, dokter." Teriakku, namun tak dapat berpaling sedikitpun dari tubuh Kak Melati yang berangsur angsur melemas.


"Tittttttt......" Suara mesin panjang bertepatan dengan Bang Daffa dan dokter masuk ke dalam ruangan. Dan setelahnya dokterpun menggeleng pelan ke arah Bang Daffa.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Suasana duka masih sangat terasa, bahkan langit sore juga seakan ikut berduka dengan menangis tipis, usai kepergian Kak Melati siang tadi. Aku juga tidak henti hentinya terus menangis, meski aku tau yang di butuhkan Kak Melati saat ini bukan lagi tangisku, bukan lagi rasa menyesalku, melainkan do'a do'aku.


Tapi, aku hanya manusia biasa. Aku hanya wanita yang sedang berusaha untuk sholihah, jadi untuk bersedih selain dari pada menangis belum bisa aku lakukan. Apa lagi, aku sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk ikut serta merawat jenazah Kak Melati, lantaran Adit yang demam dan rewel hanya mau kepadaku.


Bukan aku tak ingin keluar dari kamar untuk mengantar Kak Melati ke peristirahatannya yang terahir kali. Sekali lagi, semua karena Adit, juga karena Kak Melati yang menitipkan Adit kepadaku.


Masih dalam dekapanku Adit tertidur pulas, dan akan lekas bangun disertai dengan tangis saat tanganku yang mengelus bokongnya berhenti. Dan itu sudah dari siang tadi sejak Kak Melati menghembuskan nafas terahirnya.


Ku tatap dalam Bu Mega yang masih sembab. "Tidak apa, Bu. Apa Ibu sudah makan.?" Tanyaku balik. Bu Mega menggeleng sembari ikut duduk di sampingku.


"Ibu tidak lapar." Jawab Bu Mega, dan tak lama suara tangis Bu Mega sudah pecah. Ku peluk tubuh Bu Mega dengan satu tanganku, dan aku tak bisa berucap apa apa selain hanya terus ikut terisak bersama Bu Mega.


Jujur, aku bingung hendak menghibur seperti apa. Karena, jelas keterpukalan Bu Mega jauh di atas diriku. "Kenapa secepat ini. Harus secepat ini, saat Melati sedang dalam keadaan baik baik saja. Saat dia sedang berada dalam puncak bahagianya menikmati peranan sebagai seorang Ibu."


"Semua sudah ada tulisannya, Bu."


"Bagaimana dengan Adit. Adit menjadi anak piatu saat ini." Ucap Bu Mega, sembari mengelus kepala Adit.


"Adit akan baik baik saja, disini ada Ibu, ada Ibunya Bang Daffa, ada Kak Ima juga ada Mawar. Semua sayang sama Adit."


Bu Mega menengadah dan menatapku dalam dalam, sebelum ahirnya mengelus pipiku pelan. "Maafkan Ibu. Maafkan Melati. Maaf.."


"Sheeetttt, tidak Bu. Tidak ada yang perlu di maafkan. Seharusnya Mawar yang berterima kasih kepada kalian."


"War,." Terdengar nada ragu di ucapan Bu Mega.

__ADS_1


"Apa Bu,.?"


"Tidak, tidak. Ibu hanya minta maaf mewakili Melati."


"Bu, sudah Mawar bilang. Tidak perlu meminta maaf kepada Mawar, harusnya Mawar yang minta maaf lantaran Mawar tidak bisa mengangkat panggilan Kak Melati, hingga menyebabkan Kak Melati kecelakaan." Jawabku dengan penuh pasti kedapa Bu Mega.


"Andia, kamu tau semuanya, apa kamu akan memaafkan kami.?" Tanya Bu Mega.


Aku diam sesaat, bingung mencerna ucapan Bu Mega. Maaf, maaf untuk apakah yang sebenarnya Bu Mega ingin katakan. Jika itu maaf atas sikap Bu Mega selama ini terhadapku, aku sama sekali tidak masalah.


"War, penyebab Ayah dan Ibumu meninggal karena menyelamatkan Melati. Mereka mengorban diri mereka, dengan menerjang mobil yang hendak menabrak Melati." Tubuhku kaku mendengar ucapan Bu Mega.


Nafasku yang tadinya teratur, berubah memburu dan mataku ikut mengabur bersama dengan di lanjutkan kata kata Bu Mega. "Andai mereka tidak mengorbankan diri mereka saat itu, maka Melatilah yang tewas di tempat. Dan sekali lagi, kamu memberi kesempatan Melati untuk hidup dengan memberikan ginjalmu kepadanya." Bu Mega menjeda ucapannya.


Di tatapnya aku dalam dalam yang masih diam seribu bahasa. Diamku kali ini, karena benar benar tak menyangka harus mendengar semua kebenaran saat ini, di saat seseorang yang aku anggap sebagai penyelamatku ternyata adalah penyebab dari segala cerita yang harus aku lalui sebagai anak adopsi.


Sedih, marah, kecewa berbaur menjadi satu dalam dadaku, hingga aku hanya bisa diam tanpa mendegar lagi apa yang Bu Mega ucapkan. Karena pikiranku, sibuk membuat spikulasi sendiri. Di mana letak ketulusan di dalam hubungan ini, jika pada ahirnya di balik kebaikan Kak Melati ternyata untuk sebuah penebusan perasaan bersalah.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2