
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Duduk tenang di dalam mobil, aku tak henti hentinya terus menyungingkan senyumku untuk Adit yang berada dalam pangkuanku. Kebahagiaan ini semakin lengkap dengan pemandangan di luar kaca mobil yang menampakan indahnya pantai berpasir putih. Di tambah dengan sanda gurau Kak Melati dan Bang Daffa yang duduk di depan. Yap, tujuan kami hari ini adalah pantai. Tempat favorit Kak Melati.
Jika di tanya antara Gunung dan Pantai mana yang lebih aku sukai. Jawabannya Erik dan Bang Nusa yang paling tau. Gununglah tempat yang menjadi favoritku. Karena bagiku, acap kali berada di atas gunung dan di suguhi dengan pemandangan pucuk pucuk pepohonan di tambah dengan udara yang sejuk membuatku selalu teringat akan masa kecilku di desa. Dan hatiku selalu akan menyukai itu.
Tapi bukan berarti aku tidak menyukai pantai. Di pantai juga memyenangkan. Apa lagi jika bersama Kak Melati, itu akan jauh menyenangkan lagi.
Mobil berlahan memasuki halaman sebuah Villa dimana pantai pula yang menjadi latar belakangnya dan debur ombak yang menjadi musiknya. Membuka pintu mobil dengan segera Bu Mega sudah mengulurkan tangannya untuk mengantikan Adit untuk di gendong seraya berucap layaknya nada suara Bu Mega terhadapku.
"Angkat barang barang dari mobil Nusa." Ucapnya sambil berlalu.
"Siap, Buk." Ku bubuhkan sungingan senyum ku untuk Bu Mega meski tak di responnya.
Melangkah maju ke depan ku lihat Kak Risma yang juga tengah sibuk dengan kope bawaannya. Sementara Bang Nusa sibuk mengeluarkan kresek kresek besar berisikan bahan bahan makanan serta keperluan kami selama kurang lebih tiga hari di sini.
"Ini yang bagian dapur yang mana Bang.?" Tanyaku ke Bang Nusa.
"Semua kayaknya, War. Sisanya ada di mobil Daffa." Jawab Bang Nusa santai.
"Wokeylah, berangkat." Ucapku santai sembari meraih dua kresek penuh berisikan snack serta sayur sayuran.
"War." Panggil Bang Nusa membuat langkahku terhenti dan menoleh kembali ke arah Bang Nusa yang kini tengah berjalan ke arahku.
"Ada apa Bang. Nanti sisanya Mawar ambil lagi." Jawabku dengan cepat begitu Bang Nusa tak bersuara.
"Abang senang lihat kamu yang sekarang." Tangan Bang Nusa terulur membelai kepalaku yang terturup hijab coklat tua.
Ku lemparkan senyum manjaku untuk Bang Nusa. "Di larang keras cembur ya Kak Ima." Ucapku sembari menutup mulutku yang tengah tertawa lepas tanpa beban. Karena, Bang Nusaku telah kembali seperti dulu setelah berpincangan panjang kami semalam.
Kak Risma membalas tawaku dengan senyum cerahnya sembari memberikan satu jempolnya untuk kami. Ya, Kak Risma cukup bijak menilai kebaradaanku di rumah itu, meski ini baru pertama kali dia bertemu denganku dan mengenalku secara langsung yang sebelumnya hanya di dengarnya lewat cerita Kak Melati.
Entah sudah berapa kali aku keluar masuk untuk mengangkat barang barang kami, dan aku sama sekali tidak mengurai senyum ku begitu saja, lantaran begitu senangnya melihat semuanya berkumpul dengan bahagia di selingi dengan tawa Adit yang terus menggema.
Aku menggeleng gelengkan pelan kepalaku, begitu mendapati satu box besar berisikan Ikan Segar yang di beli sebelum sampai di Villa ini tadi. Dan itu rencananya akan di buat BBQ nanti malam. Menurut penuturan Pak Agung, akan ada beberapa tamu yang di undang, termasuk keluarga Kak Risma dan Bang Daffa. Makanya belinya cukup banyak.
Aku masih mengutak atik box yang tak mau berpindah dari tempatnya meski aku sudah berusaha cukup kuat untuk menggesernya. Lantas sembari mengelap peluhku dengan ujung jilbabku aku masih berpikir bagaimana caranya memindahkan ikan ikan ini ke dapur.
__ADS_1
"Sini biar gua saja." Aku terperanjat dengan suara juga seonggok tubuh yang tiba tiba sudah berada di dekatku, tanpa menyadari kapan kedatangannya. "Loe tutup bagasinya." Lanjutnya begitu box sudah di angkatnya dan berjalan meninggalkan aku yang masih kebingungan.
Ku edarkan pandanganku ke seluruh halaman Villa dan mendapati mobil Erik yang sudah terparkir rapi di belakang mobil Bang Nusa. "Tumben bener bawa mobil." Gumamku sembari menutup pintu bagasi, lantas mengukuti langkah lebar Erik.
"Loh, udah dateng Rik. Katanya mau ke Gereja dulu." Ucap Bang Nusa begitu melihat Erik mengangkat box melintasi keberadaan mereka semua.
"Mana betah nunggu nanti. Aku mah enggak ikut ikut yah." Timpal Kak Melati sembari menatapku.
"Langsung nyusul kesini gua, Bang." Jawab Erik santai sembari melangkah menuju dapur dan masih aku ikuti ke dapur. Meski Erik seolah tidak perduli denganku.
"Terima kasih, Rik." Ucapku dan hanya di balas dengan anggukan oleh Erik kemudian cepat berlalu dari dapur.
Sepeninggal Erik dari dapur. Giliran aku dan Risma yang berkutat di dapur. Jika Kak Risma berkutat dengan bawang, cabe dan penggorengan maka aku berkutat dengan Ikan untuk membersihkannya. Hingga semuanya usai tepat pas jam makan siang.
"War, Aditnya biarkan tidur di box. Sini makan bareng bareng." Panggil Kak Melati.
"Iya Kak Mel, gantian aja. Kasian si ganteng enggak ada teman. Iya kan cayang." Jawabku.
"Ah, Adit di temani sama TV juga diam. Ayo ah." Ucap Kak Melati segera menarik ku hingga sampai di meja makan dan menarikkan aku sebuah kursi tepat di samping Erik.
Acara makan siang kali ini cukup hangat dengan berbincangan menyangkut rencana setelah ini akan melakukan apa saja. Serta, agenda apa saja yang sudah di siapkan untuk tiga hari ke depan.
"Jadi gimana Rik, kamu dapat cuti dari kantor.?" Tanya Bang Nusa kepada Erik.
"Itu juga sudah bagus." Timpal Bang Daffa.
"Setidaknya itu juga sudah puaslah ya. Iyakan Rik." Erik langsung tersedak oleh makanan yang baru di suapkannya.
"Ini." Kataku mengangsukan air putih yang memang lebih dekat jika aku yang menjangkaunya.
"Terima kasih." Ucap Erik pelan.
Usai makan siang, aku memilih masuk ke dalam kamarku seperti yang lainnya. Istirahat. Dan aku baru kembali menemukan kesadaranku begitu terdengar suara tawa Bang Daffa dan Kak Melati.
Berjalan pelan ke arah balkon lebar dimana itu saling berhubungan dengan kamar di sebelahnya. Aku memilih berdiri di samping pagarnya dan menilik ke bawah dimana Kak Melati tengah di gendong oleh Bang Daffa dan melompat ke dalam kolam secara bersamaan. Dan tawa keduanya ikut lepas seiring dengan percikan air yang muncrat ke atas.
"Apa kabar, Loe.?" Lagi lagi aku tidak menyadari kapan Erik tiba tiba ada sampingku. Dan itupun lagi tanpa menatapku saat menanyakan kabarku. Malah tatapan Erik fokus dimana Kak Melati dan Bang Daffa berada.
"Baik." Ucapku singkat. "Kamu apa kabar.?" Tanyaku balik setelah cukup lama tidak ada kata keluar dari Erik.
__ADS_1
"Seperti yang loe lihat, gua cukup baik." Jawab Erik dan memutar badannya hingga kini punggungnya bersandar di pagar besi dari balkon.
"Aku senenng dengernya." Jawabku singkat saja, menyebabkan suasana canggung begitu kental terasa lagi.
"Apa kabar sama hati, loe. Melihat kebahagiaan mereka.?" Ucap Erik lagi sembari menunjuk Kak Melati dan Bang Daffa dengab dagunya.
Aku menyungingkan senyum ku untuk Erik. "Baik, sangat baik. Justru aku ikut bahagia melihat mereka bahagia." Jawabku degan tulus. tanpa ku buat buat. Karena memang itulah yang aku rasakan saat ini.
Mungkin, pada saat aku belum pulang dari pesantren itu terasa berat. Tapi, begitu aku sudah melihat kebahagiaan Kak Melati, bahagia itu ikut menukar kepadaku.
"Karena kamu ikut andil dalam bahagia mereka."
"Rik, aku tidak mau dengar hal itu." Kataku penuh penegasan.
"Itulah kenyataannya."
Ku hela nafasku dalam lalu kembali melihat ke bawah, lantas ku alihkan lagi menatap Erik yang juga tengah menatap intens kepadaku. "Ada tiga hal yang tidak bisa di paksakan dan itu sudah di catat jauh sebelum aku lahir, menurut agamaku. Rizki, mati dan jodoh. Karena, sekeras apapun aku meminta dia menjadi jodohku, ketika catatan yang sebelumnya aku setujui bukan dia jodohku, maka tetap hasilnya bukan dia." Ku tambahkan ulasan senyum di bibirku untuk Erik.
Kini gilaran Erik yang menghela nafas dalamnya seakan menyelami ucapanku. "Kalau begitu kenapa Tuhanmu tidak menunjukannya."
"Itu agar aku menjadi orang yang bergantung kepadanya, dan senantiasa mengingatnya dengan terus berdo'a." Jawabku sesimpel yang di pahami oleh Erik. "Kamu tau Rik. Hal yang paling indah itu ketika kita mampu mengambil hikmah di balik sebuah rencana yang tidak selalu mulus dan menerimanya dengan lapang dada. Karena, aku yakin pasti ada rencana yang jauh lebih indah sedang di siapkan untuk ku." Ku tinggalkan Erik seiring dengan panggilan di balik pintu kamarku oleh Kak Risma.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862