Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Senyummu Melanggar Hukum.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Menggeliat pelan untuk memulihkan kesadaran dari tidur ternyeyak yang serasa baru kali aku rasakan. Jika tidak ingat bahwa subuh akan segera datang, maka aku akan lebih memilih untuk medekat ke sumber hangat yang memberiku kenyamanan.


Mataku yang enggan terbuka semenit yang lalu, kini langsung saja membola sempurna, begitu tangganku menyentuh lengan keras yang telah memeluk ku erat dari belakang. Dan lebih kaget lagi, ternyata lengan itu juga berada di bawha kepalaku.


Memutar badanku pelan agar jangan sampai membangunkan pemilik tangan, justru aku yang harus terjebak dengan langsung berhadapan dengan wajah Bang Daffa yang tengah nyenyak dengan tidurnya. Apa yang aku pikirkan sebelumnya ingin lekas bangun justru hatiku telah terkena rayuan setan dengan terus menatap Bang Daffa.


Dan pipiku langsung menghangat begitu teringat kejadian semalam yang membuatku tak bisa langsung tertidur hingga hampir tengah malam. Benar, semalam bukan kali pertama Bang Daffa menciumku. Tapi, ciuman Bang Daffa semalam adalah yang pertama di lakukannya dengan sangat lembut, dan membuat dadaku berdebar hebat setelahnya.


Hingga cukup lama aku membenarkan konsentrasiku agar segera tidur, namun ketika sudah tertidur aku justru tidak terbangun dan tak menyadari kapan Bang Daffa masuk ke tenda. Yang sekarang justru sedang memelukku erat. Aku yakin seratus persen, saat dia bangun dan menyadari posisi kami saat ini, pasti pagi kelabu akan kembali terulang lagi.


"Tidur saja tidak bisa diam. Diamlah sebentar saja, aku baru tidur beberapa jam." Gumam Bang Daffa saat aku baru saja hendak memindahkan tangannya dari pinggangku.


Mencari aman, aku langsung menutup mataku pura pura tidur. Hingga sentuhan hangat Bang Daffa yang mendarat di pipiku membuat mataku tak bisa di ajak untuk berbohong.


"Selamat pagi.." Lirih Bang Daffa.


"Pagi." Jawabku dengan nada kaku.


"Rencananya sampai kapan kamu akan bantalan tanganku, War.?"


"Maaf, maaf." Aku bergegas duduk.


"Tidurmu sudah kayak main sebak bola saja, War. Sepak sana, sepak sini, tidak ada anggun anggunnya sama sekali." Bang Daffa mengomentari cara tidurku yang memang lumayan pecicilan. Biasanya dulu yang sering komen kayak gitu adalah Erik, karena Erik yang sering menjadi korbanku.


Aku nyengir kuda. "Kamu mau kemana.?" Tanya Bang Daffa yang melihatku hendak beranjak.


"Ke kamar mandi." Jawabku.


"Serius, War. Ini pasih gelap."


"Memang kenapa sama gelap." Aku menjeda ucapanku dan menoleh kembali ke belakang. "Jangan bilang Bang Daffa takut sama hantu." Lanjutku.


"Sembarangan kamu." Bang Daffa segera memotong ucapanku dengan nada tidak yakin.


"Iya, yah. Mana mungkin laki laki takut sama yang kayak gituan." Aku menggedikan bahuku ke atas menandakan bahwa aku juga tidak yakin dengan perkataanku. Bukan berarti aku percaya begitu saja dengan Bang Daffa.


"Mukamu mengejekku, War." Protes Bang Daffa lantas segera menyibakan selimut yang masih membungkus tubuh bawahnya.


"Tidak, mana ada seperti itu. Bang Daffa saja yang perasan." Aku segera keluar begitu usai dengan ucapanku.


"Tapi itu terlihat jelas di wajahmu." Triak Bang Daffa sembari menyusulku.

__ADS_1


"Terserah Bang Daffa saja." Jawabku masa bodoh begitu Bang Daffa berhasil menyusulku.


Kami berjalan beriringan menuju kamar mandi umum sembari berbincang bincang ringan dan sesekali aku akan tertawa lebar saat berhasil mengerjai Bang Daffa yang sebenarnya memang penakut, hingga kami sampai di kamar mandi Bang Daffa masih saja jadi sasaran keusilanku.


"Sumpah, War. Enggak lucu banget." Potong Bang Daffa dengan cepat saat aku mulai betcerita horor dan aku semakin melebarkan tawaku.


Tidak lama tawaku bertahan dan berganti dengan kaget yang di selingi taluan dadaku, karena kedua tangan Bang Daffa yang menangkup pipiku. Terbawa netra kelam Bang Daffa yang misterius aku membeku di tempatku, apa lagi saat kata kata Bang Daffa yang susah untuk ku artikan bergema di gendang telingaku.


"Senyummu melanggar hukum, Mawar." Kakiku seakan terpaku dengan tanah begitu Bang Daffa selesai dengan ucapannya, jangankan bertanya kepada Bang Daffa arti dari ucapannya, bahkan aku sampai kehilangan kata kataku yang sudah aku susun rapi.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hari hari berlalu dengan kami yang semakin dekat dan akrab. Tidak ada lagi hari penuh pertengkaran, suara keras, derai airmata dan sakit hati berlebih untuk Bang Daffa. Dan jika aku boleh lupa diri sekaligus ingkar akan janjiku, aku ingin hari hari seperti ini terus kami lalui bersama.


Semakin hari semakin dekat dengan pertunangan Mas Karang, dan aku juga sudah menyipakan segalanya, baju bajuku, barang barangku yang tak seberapa, dan yang terpenting adalah dokumen yang mungkin saja akan di butuhkan oleh Bang Daffa. Semua telah tertata rapi, tanpa ada siapapaun yang tau bahwa aku telah menyiapkan segalanya termasuk dengan hatiku.


"War." Suara lirih Bang Daffa dari luar kamar membuatku tersentak dan bergegas berjalan ke arah pintu.


"Iya, Bang.?" Aku membuka pintu kamarku hanya separuh dan menyumpalkan kepalaku keluar, karena aku belum menyembunyikan barang barangku dan aku takut Bang Daffa akan melihatnya.


"Kamu, kenapa hanya kepalamu yang keluar.?" Tanya Bang Daffa.


"Tidak apa apa, Bang Daffa mau apa.?" Tanyaku dengan segera keluar dari kamarku sekaligus menutupnya dan dengan segera mendorong Bang Daffa agar jangan sampai menoleh ke belakang.


Aku menggeleng dengan yakin. "Tidak penting dengan itu, Bang Daffa kenapa mencariku. Lagian kenapa juga jam segeni Bang Daffa sudah ada di rumah.?" Ganti aku yang mencecar Bang Daffa dengan pertanyaan.


"Itu dia. Tapi kasih air dulu haus banget." Aku berjalan ke dapur dan kembali lagi ke ruang keluarga dengan Bang Daffa yang tengah sibuk dengan ponselnya.


Dari pembicaraan yang terjadi dan aku tangkap, sepertinya itu telfon dari Bu Mega. Karena Bang Daffa memanggilnya dengan sebutan Mama.


"Mama mau kesini." Kata Bang Daffa dengan cepat.


"Terus..?" Tanyaku.


"Kenapa malah terus yang kamu tanyakan."


"Habisnya apa.?".


"Barang barangmu lekas bawa ke atas." Perintah Bang Daffa selepas menenggak habis air yang aku berikan.


"Males ah, Bang." Bang Daffa melotot ke arahku. "Maksudku, kan Bu Mega belum tentu nginap disini."


"Bener juga katamu, soalnya kayak rame rame kesininya." Kata Bang Daffa dengan manggut manggut.


"Ya sudah aku bereskan saja. Untuk persiapan." Aku langsung bangkit dari dudukku.

__ADS_1


"Tunggu." Bang Daffa mencegahku dengan langsung mencekal tanganku. "Kita masak dulu saja, karena mereka sudah dekat dekat sini." Lanjut Bang Daffa dengan langsung berdiri sekaligus menyeret tanganku.


Tidak butuh waktu lama, beberapa masakan sudah selesai aku dan di bantu oleh Bang Daffa sajikan di meja makan. Sementara Bang Daffa pergi mandi, aku memilih untuk merapikan kamarku yang memang sudah rapi. Dan menyiskan satu koper kecil yang sengaja aku biarkan di tempatnya, untuk alasan jika seminggu lagi kami akan pergi di acara Mas Karang.


Dan begit bel berbunyi, aku langsung bergegas menuju pintu yang ternyata Bang Daffa dan Adit sudah berada di ruang tamu. Tawa riang serta bahagia langsung terasa begitu pintu ku buka dan membawa masuk keluargaku yang sebenarnya bukan milikku.


Tawa itu tetap berlanjut hingga sampai ke meja makan. Pak Agung, Bu Mega, Bang Nusa dan Kak Rima semua tampak begitu antusias menceritakan keseharian mereka. Bahkan saat suasan makin larut dan kami kembali ke ruang keluarga, tawa itu masih saja menemani obrolan kami. Hingga saat Pak Agung meminta waktu untuk berbicara seriuslah yang membuat tawa itu terasa canggung.


"Hanya dua tahun, Fa. Setelah itu kami akan mengembalikan Adit kepada kalian." Imbuh Bu Mega saat permintaan Pak Agung yang hendak membawa Adit ikut serta pindah bersama mereka.


"Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar, Pa, Ma." Lirih Bang Daffa, sementara aku hanya diam karena menurutku aku tidak memiliki hak berbicara soal ini.


"Fa, tolonglah kami. Kami sudah kehilangan Melati, jadi biarkan sejenak saja Adit menjadi penawar rindu kami di saat kami tidak bisa mengunjungi makam Melati setiap harinya." Mohon Pak Agung.


"Tapi ini ke Luar Negri Pa.!" Suara Bang Daffa sedikit meninggi hingga membuatku reflek memegang tangannya agar jangan sampai dia terbawa emosi.


Semuanya kini diam, dan Bang Nusa yang aku tau biasanya akan memilih jalan tengah saat ini juga memihak kepada Pak Agung, dengan alasan kesehatan Bu Mega. Dan oleh karena pembicaraan ini yang seakan hanya terus tarik menarik, aku memilih untuk ikut bersuara.


"Beri kami waktu untuk berpikir, Pak, Buk." Ucapku pelan dengan mengeratkan genggaman tanganku ke Bang Daffa agar Bang Daffa tidak memprotesku lebih dulu.


"Baiklah, kami berharap banyak padamu, War." Sekak Bu Mega seolah memojokan aku. Dan seketika tangan Bang Daffa mengepal di dalam genggamanku. Aku tau sekarang Bang Daffa sedang sangat menahan amarahnya, karena itu aku memilih mengusir mereka semua dengan halus, agar tidak terjadi bencana di rumah kami yang ujung ujungnya aku yang akan menjadi korbannya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2